Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 8 Tolong aku


__ADS_3

Setelah pulang dari mengembalikan mobil pick up ke rumah orang tuanya, Abhiyasa segera masuk ke dalam rumahnya.


Entah mengapa pikirannya masih saja tertuju pada tetangga baru yang rumahnya tepat berada di sampingnya.


Gadis pemilik rumah tersebut mampu menyita semua pikirannya. Bahkan wajah dari gadis cantik itu membuatnya tidak bisa memikirkan hal lainnya.


Senyuman gadis itu pun membuatnya tersenyum tanpa sadar. Sayangnya semua itu hanya menjadi kesenangan hatinya semata. Mereka sama-sama tidak berani mengambil resiko dalam hubungan mereka nantinya jika mereka memutuskan untuk bersama.


Kini Abhiyasa hanya bisa melamun dengan pandangan matanya yang seolah sedang melihat acara televisi di hadapannya. 


Namun, televisi tersebut hanya menyala tanpa dilihat ataupun didengar oleh Abhiyasa. Dia masih saja larut dalam lamunannya.


Tiba-tiba lamunan Abhiyasa dihancurkan oleh suara dering telepon yang berasal dari ponselnya.


Dia segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat nama si penelpon yang tertera pada layar ponselnya.


"Abhi…! Tolong aku!" 


Suara seruan dari Hani mampu membuat Abhiyasa seketika berdiri dari duduknya. Kemudian dia berkata,


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Tolong aku Abhi!" seru Hani kembali yang terdengar sangat panik.


Tanpa menunggu lama, Abhiyasa segera berlari keluar rumah dan menuju rumah Hani yang terletak di sebelah rumahnya.


Tok… tok… tok…


"Hani… buka pintunya!" seru Abhiyasa sembari mengetuk pintu rumah Hani.


Abhiyasa masih saja mengetuk pintu rumah Hani dengan paniknya hingga pintu itu pun terbuka.


"Abhi!" seru Hani ketika membuka pintu tersebut dan berhambur memeluk tubuh Abhiyasa.


Abhiyasa yang berdiri di depan pintu, seketika membelalakkan matanya saat Hani tiba-tiba memeluknya dengan erat dan terasa jelas jika saat ini dia sedang ketakutan.


"Hani, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Abhiyasa tidak kalah panik dengan Hani.


"Itu," jawab Hani sambil menunjuk ke sudut ruangan ruang tamunya.


Abhiyasa mengikuti arah telunjuk tangan Hani. Dia mengerutkan dahinya ketika melihat pojok ruang tamu itu yang terdapat beberapa kecoa seolah sedang berpesta di sana.


"Apa kecoa-kecoa itu yang membuatmu takut?" tanya Abhiyasa sambil menunjuk ke arah kecoa-kecoa tersebut.


Hani yang masih dalam posisi memeluk tubuh Abhiyasa itu menganggukkan kepalanya untuk membenarkan pertanyaan dari Abhiyasa.


Seketika Abhiyasa terkekeh. Dia mengacak-acak rambut Hani yang masih tetap memeluknya dengan erat seraya berkata,


"Aku kira telah terjadi sesuatu padamu. Tidak taunya hanya kecoa."


Merasa ditertawakan oleh Abhiyasa, Hani melepaskan pelukannya pada Abhiyasa dan berkata,

__ADS_1


"Bagiku kecoa sangat menakutkan daripada laki-laki seperti kamu."


Seketika Abhiyasa mengerutkan dahinya mendengar perkataan Hani tentang kecoa dan dirinya.


"Hah?! Aku?!" celetuk Abhiyasa sambil menunjuk dirinya sendiri.


Hani melangkah mundur dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya. Bagiku kecoa-kecoa itu lebih menakutkan daripada laki-laki mesum seperti kamu."


"Aku? Mesum?" tanya Abhiyasa seolah tidak terima.


Hani menganggukkan kepalanya dengan antusias membenarkan perkataannya.


"Sepertinya kamu salah orang. Aku ini seorang polisi yang sangat menghormati serta siap membantu wanita cantik dan orang tua," ujar Abhiyasa sambil tersenyum dengan bangganya memperkenalkan dirinya.


"Bagus. Kalau begitu kamu harus menghormati ku, karena aku salah satu dari mereka yang harus kamu hormati," tukas Hani seolah memerintah pada Abhiyasa.


Abhiyasa memicingkan matanya pada Hani dan berkata sambil tangannya menunjuk tubuh Hani dari atas hingga bawah,


"Kamu salah satu dari mereka? Apa kamu yakin?" 


"Maksudku orang tua!" sahut Hani dengan kesalnya.


Seketika Abhiyasa tertawa mendengar perkataan Hani. Dia sungguh terhibur dengan gadis cantik yang kini menjadi tetangga dekatnya.


"Baik Nek, saya akan mengenyahkan kecoa-kecoa nakal itu," ucap Abhiyasa sambil terkekeh.


Abhiyasa mencari alat yang bisa digunakan untuk mengenyahkan semua kecoa tersebut. Sedangkan Hani hanya berdiri mengawasinya dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Setelah Abhiyasa berhasil mengenyahkan semua kecoa-kecoa tersebut, dia tersenyum dengan bangganya pada Hani dan berkata,


"Bagaimana? Hebat bukan?"


Hani mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata,


"Lumayan."


Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Abhiyasa sendiri berdiri tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Hani padanya.


"Lumayan?" celetuk Abhiyasa sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Hani yang sedang sibuk menata barangnya di ruang lainnya.


"Wah…ternyata kamu sangat perkasa. Aku kira kamu hanya perempuan lemah yang tidak kuat mengangkat semua barang-barang itu," ujar Abhiyasa sambil duduk dan mengangkat sebelah kakinya, serta tangannya menunjuk ke arah beberapa box yang dipindahkan oleh Hani.


Hani berdiri sambil menatap kesal pada Abhiyasa dan meletakkan kedua tanggannya pada pinggangnya, seraya berkata,


"Dosa gak sih menyumpal mulut laki-laki yang bawel?" 


Abhiyasa tampak berpikir sejenak, kemudian dia berkata,


"Mmm… sepertinya kamu akan dipenjara. Terlebih lagi jika laki-laki itu adalah seorang polisi."

__ADS_1


Hani menghela nafasnya dengan kesal. Kemudian dia berjalan menuju pintu rumahnya.


"Hani, mau ke mana kamu? Ini sudah malam," seru Abhiyasa dari tempat duduknya.


Hani menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Abhiyasa. Lalu dia berkata dengan nada kesalnya,


"Mau ke dukun. Mau nyantet tuh orang biar aku gak dipenjara."


Seketika Abhiyasa tertawa mendengar jawaban dari Hani. Dan hal itu membuat Hani semakin kesal.


"Jangan, nanti kamu pasti akan kesusahan jika kecoa-kecoa yang tadi itu membawa keluarga, saudara dan teman-teman mereka datang ke tempat ini," tutur Abhiyasa dengan gaya bijaknya.


Hani menatapnya dengan kesal. Dia meraih botol mineral water yang berada di atas meja tidak jauh darinya dan meneguknya dengan sekali tenggak, seolah memperlihatkan kekesalannya.


"Haus?" tanya Abhiyasa sambil berjalan mendekati Hani.


Hani meletakkan botol mineral water yang sudah habis diminumnya itu dengan kerasnya di atas meja dan menatap kesal pada Abhiyasa, seraya berkata,


"Panas. Kesel banget sama seseorang yang super duper nyebelin. Jadi ingin hajar itu orang."


Seketika Abhiyasa berlindung di belakang kursi dan mengintip Hani seraya berkata,


"Jangan galak-galak jadi perempuan. Nanti gak laku loh."


Hani tertawa melihat tingkah konyol Abhiyasa. Bahkan ucapan Abhiyasa tidak membuatnya kesal sama sekali. Dia berjalan melewati Abhiyasa dan berkata,


"Cepat bantu aku agar cepat selesai."


Abhiyasa tersenyum dan beranjak dari tempat persembunyiannya mengikuti Hani dan membantunya membereskan barang-barangnya.


Malam itu mereka lewati dengan kesibukan menata barang disertai candaan dari mereka berdua.


Setelah semua selesai, Abhiyasa kembali ke rumahnya dan mereka berdua beristirahat dengan kelelahan yang menyertai mereka.


...----------------...


Keesokan harinya, Abhiyasa yang sudah rapi dengan seragamnya, bersiap di atas motornya untuk berangkat bekerja.


Pas sekali pada saat itu Hani juga keluar dari rumahnya dengan pakaian seragamnya yang sudah melekat rapi di badannya.


"Perlu Abang kawal Neng?" tanya Abhiyasa dari tempatnya saat ini.


Hani menoleh ke arah sumber suara dan dia tersenyum ketika melihat Abhiyasa dengan gagahnya sudah bersiap di atas motornya.


"Aku bukan orang penting yang harus dikawal seorang polisi," jawab Hani sambil terkekeh.


"Tapi kamu sangat penting bagiku," ujar Abhiyasa yang lagi-lagi menggoda Hani.


Seketika hati Hani berbunga-bunga. Bahkan terlihat semburat merah pada wajah Hani. Tidak ingin diketahui oleh Abhiyasa, Hani segera masuk ke dalam mobilnya tanpa berkomentar apa pun.


Dia melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya menuju kantornya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

__ADS_1


"Apa dia mengikutiku?" gumam Hani sambil melihat kaca spionnya.


__ADS_2