Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 56 Restu


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Hani teringat akan keinginan Abhiyasa yang menginginkan untuk melihatnya memakai gamis putih dan berhijab seperti kemarin.


Tiba-tiba dia teringat akan foto dirinya ketika memakai gamis tersebut sebelum melepasnya.


Hani mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja dan berkata,


"Untung saja aku sempat mengambil foto kemarin. Ini saja aku kirimkan pada Abhiyasa."


Jemari lentik Hani pun bergerak mengirim beberapa foto selfie Hani ketika memakai gamis putih pemberian Umi Halimah kemarin.


"Semoga Abhi suka," ucap Hani sambil tersenyum sambil menatap layar ponselnya.


Di tempat lain, Abhiyasa sedang berbicara serius dengan ibunya mengenai keinginannya untuk melamar Hani. 


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Abhiyasa. Dengan segera dia mengambil ponsel dari saku celananya. 


Bibirnya melengkung ke atas ketika tertera nama kekasihnya yang mengirim pesan padanya. Dibukalah pesan tersebut dengan hati yang bahagia.


Seketika mata Abhiyasa terbelalak melihat layar ponsel yang menampilkan pesan dari Hani. Dia pun berkata,


"Masya Allah Tabarakallah…."


"Ada apa Yasa?" tanya ibu Abhiyasa penasaran.


Abhiyasa memperlihatkan ponselnya pada ibunya. Seketika bibir ibu Abhiyasa melengkung ke atas ketika melihat beberapa foto Hani menggunakan gamis dan hijab putih pada layar ponsel Abhiyasa.


"Cantik sekali Hani. Pintar sekali putra Ibu ini mencari pasangan," goda ibu Abhiyasa pada putranya.


"Anak siapa dulu dong," sahut Abhiyasa menanggapi candaan ibunya.


"Ya sudah, kita beli barang-barangnya saja sekarang meskipun belum ditentukan kapan melamarnya," ujar ibu Abhiyasa sambil beranjak dari duduknya.


Dengan riangnya Abhiyasa mengikuti ibunya. Mereka segera berangkat dengan meninggalkan neneknya yang masih tertidur.


"Bik, tolong jaga Nenek ya. Ibu sama Yasa mau keluar sebentar," tutur ibu Abhiyasa pada pembantu rumah tangga mereka.


"Baik Bu," jawab Bik Nunung sambil menundukkan kepalanya.


Abhiyasa bersama dengan ibunya berkunjung dari satu toko ke toko lain untuk membeli perlengkapan lamarannya.


"Kurang apa lagi Bu?" tanya Abhiyasa yang lelah mengikuti ibunya berbelanja.


"Kamu lupa jika kita belum membeli cincin untuk kalian berdua?" ibu Abhiyasa berbalas tanya pada putranya.


Seketika Abhiyasa menepuk dahinya seraya berkata,

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim… Yasa lupa Bu."


"Semangat sih semangat, tapi jangan dilupakan hal terpentingnya. Lamaran tanpa cincin, lucu kan?" ucap ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


Abhiyasa pun ikut terkekeh mendengar perkataan ibunya. Dia juga membayangkan jika hal itu terjadi pada saat acara lamaran berlangsung.


Di toko perhiasan terbesar di salah satu Mall terlengkap di kota tersebut, Abhiyasa dan ibunya sibuk memilih cincin untuk pertunangan Abhiyasa dengan Hani. Banyak waktu mereka yang tersita hanya digunakan untuk memilih cincin saja.


"Sudah Bu yang ini saja. Modelnya simpel dan tidak terlalu mencolok. Yasa yakin Hani pasti juga akan suka," ujar Abhiyasa sambil memberikan cincin yang dipegangnya pada ibunya.


"Ya sudah Mbak, yang ini saja," ucap ibu Abhiyasa sambil memberikan cincin tersebut pada pegawai toko perhiasan yang sedang berada di hadapan mereka.


Setelah beberapa waktu yang mereka habiskan di toko perhiasan tersebut, mereka segera menuju parkiran mobil mereka berada.


"Huuuffftttt… Capek juga ya ternyata," keluh ibu Abhiyasa ketika sudah duduk di dalam mobil.


"Kalau begini caranya, mending Yasa di rumah saja Bu," timpal Abhiyasa sambil terduduk lemas di dalam mobil.


"Tenang saja Yasa, sebentar lagi Ibu punya menantu. jadi, ibu belanjanya sama Hani saja. Kamu ditinggal saja di rumah," tukas ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


Abhiyasa tersenyum mendengar perkataan ibunya dan melihat senyuman ibunya itu. Dia bahagia karena kehadiran Hani bukan saja menjadi kebahagiaan dirinya saja, melainkan keluarganya pun turut berbahagia. Dan Abhiyasa sangat bersyukur sekali atas hal itu.


Selang beberapa saat, mobil mereka pun memasuki halaman rumah orang tua Abhiyasa.


Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ponsel Abhiyasa. Segera diletakkannya barang-barang yang ada di tangannya dan diambilnya ponsel miliknya dari saku celananya.


Bibirnya melengkung ke atas tatkala melihat nama kekasih hatinya pada layar ponselnya.


Halo, Abhi. Umi Halimah menyuruhku agar makan malam di rumahnya. Apa kamu mau ikut denganku? Semua pekerjaanku sudah selesai dan aku akan berangkat ke rumah Umi Halimah sekarang, ucap Hani ketika Abhiyasa baru saja mengangkat teleponnya.


 "Assalamualaikum… Salam dulu Honey," sahut Abhiyasa sambil terkekeh.


Wa'alaikumussalam… Maaf Abhi aku terburu-buru, tukas Hani yang terdengar sungkan pada Abhiyasa.


"Gak masalah Honey. Aku hanya ingin mengingatkan saja," ujar Abhiyasa sambil terkekeh.


Abhi, aku akan menunggumu di kantor. Jangan lama-lama ya, tutur Hani melalui telepon.


"Emmm… Hani, sebaiknya kita bertemu di rumah Umi Halimah saja. Berikan saja alamatnya. Aku akan segera ke sana," tukas Abhiyasa pada Hani.


Kenapa Abhi? tanya Hani seolah keberatan jika mereka berangkat sendiri-sendiri ke rumah Umi Halimah.


"Aku akan membawa seseorang ke sana. Kamu tunggu di sana saja ya. Hati-hati di jalan Honey. Jangan ngebut. Assalamualaikum…," tutur Abhiyasa mengakhiri perbincangan mereka.


Wa'alaikumussalam…, sahut Hani lirih dan tidak bersemangat.

__ADS_1


Setelah panggilan mereka berakhir, Abhiyasa seolah mempunyai tenaga baru. Dia tersenyum senang dan berkata,


"Ibu, apa Ibu mau ikut ke rumah Umi Halimah untuk makan malam bersama? Kebetulan Umi Halimah mengundang Hani untuk makan malam di rumahnya. Dan Hani baru saja menghubungiku untuk mengajakku ke sana. Bagaimana Bu?"


"Benarkah? Ya sudah kita ke sana bersama Ayah dan Nenek juga sekalian. Pasti mereka semua senang jika bertemu," ujar ibu Abhiyasa dengan mata yang berbinar.


Saat itu juga ibu Abhiyasa menghubungi suaminya agar secepatnya pulang. Dan kebetulan sekali, ternyata mobil ayah Abhiyasa sudah masuk ke dalam halaman rumah mereka.


Ibu Abhiyasa segera menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya. Kemudian dia berkata,


"Yah, sebaiknya Ayah cepat siap-siap. Kita akan ke rumah Umi Halimah bersama dengan Abhiyasa."


Dahi ayah Abhiyasa mengernyit dan dia pun berkata,


"Umi Halimah? Apa Umi Halimahnya Abi Farhan?" 


"Iya, benar Yah. Panjang ceritanya. Nanti Ibu dan Abhiyasa akan jelaskan," ujar ibu Abhiyasa sambil menarik tangan suaminya berjalan masuk ke dalam rumah.


Setelah beberapa saat, mereka semua sudah siap. Nenek Abhiyasa pun sangat antusias bertemu dengan Umi Halimah. Selain ibu Abhiyasa adalah sahabat Umi Halimah, ternyata mereka juga bertetangga, sehingga semua keluarga mereka saling mengenal.


Di dalam mobil Abhiyasa menceritakan apa yang terjadi dengan Hani sehingga kini mereka terhubung kembali dengan Umi Halimah.


"Jadi, kapan kamu akan melamar Hani, Yasa?" tanya ayah Abhiyasa penasaran.


"Apa Ayah merestuinya?" tanya Abhiyasa sambil terkekeh.


"Kamu ingin Ayah tidak merestui hubungan kalian?" tanya ayah Abhiyasa ikut terkekeh.


"Ibu sudah membeli barang-barang untuk lamarannya Ayah. Kalau tidak jadi, sayang dong semuanya," sahut ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


"Nenek sangat senang Yasa, akhirnya kamu bisa bersama dengan Hani. Nenek akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian," tutur nenek Abhiyasa sambil tersenyum memandang cucu kesayangannya.


"Terima kasih Nek," ucap Abhiyasa sambil tersenyum bahagia pada neneknya.


Setelah beberapa saat, mobil mereka melewati gerbang dengan tulisan 'Pondok Pesantren Al-Mukmin' yang merupakan pondok milik Abi Farhan, suami Umi Halimah.


"Assalamualaikum…," ucap ibu Abhiyasa ketika berada di depan pintu rumah Umi Halimah.


Abhiyasa tersenyum melihat mobil milik Hani yang sudah terparkir di sana sebelum kedatangan Abhiyasa.


"Wa'alaikumussalam…," jawab seorang perempuan dari dalam rumah berjalan mendekati pintu rumah tersebut.


Pintu pun terbuka. Umi Halimah yang membukakan pintu tersebut memandang ibu Abhiyasa sambil mengerutkan dahinya dan berkata,


"Kalian…."

__ADS_1


__ADS_2