
Abhiyasa masih saja terngiang dengan pertanyaan Hani saat berada di taman tadi. Bahkan sekarang matanya tidak bisa terpejam. Dia masih saja mencari jawabannya.
Seandainya… Seandainya… Dan seandainya… Kata seandainya terus terpikirkan oleh Abhiyasa.
Dia berharap kata seandainya itu bisa membawanya dan Hani dalam hubungan pernikahan.
Sejak di taman, Hani dan Abhiyasa lebih banyak terdiam. Mereka sama-sama larut dalam pikiran mereka.
Mereka berdua saling mencintai dan mereka berdua pun sama-sama merupakan cinta pertama. Mereka tidak menginginkan perpisahan. Dan mereka menginginkan bisa bersama dalam ikatan pernikahan.
Hani berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Abhi, aku harus bagaimana?"
Tiba-tiba dia teringat akan Umi Halimah. Segera diambilnya ponsel dari atas meja dan dia segera mengirim pesan padanya.
Kini pandangan matanya tertuju pada tumpukan buku-buku yang dibelinya kemarin. Segera diambilnya salah satu buku yang belum dibacanya.
Halaman demi halaman dibacanya dengan pelan-pelan dan dipahaminya hingga dia benar-benar mengerti. Jika dia tidak mengerti, dia menulisnya pada selembar kertas dan akan menanyakannya pada Umi Halimah besok ketika mereka bertemu.
Dia merasa sangat bersemangat saat ini. Entah apa yang mendasari semangatnya itu. Dia hanya merasa jika apa yang ingin diketahuinya saat ini harus bisa diketahuinya.
Berjam-jam dia hanya bisa membaca sebuah buku saja. Bahkan berkali-kali dia membacanya hingga bisa mengerti dan memahami isinya.
Tak terasa dia pun tertidur dengan berbantalkan buku tersebut. Rasa keingintahuannya yang sangat keras itu membuat dirinya tidak menyerah hingga dia merasa puas mengetahui semuanya.
Abhiyasa juga masih saja memikirkan tentang hubungan mereka. Dia mencari jalan keluar yang terbaik bagi mereka berdua. Dan tetap saja dia tidak ingin melepaskan Hani begitu saja.
Egois. Dia memang merasa egois. Tapi semua itu bukan hanya keinginannya. Hani pun mempunyai keinginan yang sama sepertinya.
Hari-hari berlalu. Hubungan mereka masih tetap sama. Dan Hani pun masih mencari tahu tentang keinginan hatinya.
Dia masih membaca buku-buku tentang agama islam. Dia juga mencari artikel tentang agama islam yang ada di internet.
Kadang dia memperhatikan dan mendengar percakapan teman-temannya yang menyangkut agama islam. Dan yang terpenting, dia sudah mulai bertemu dengan Umi Halimah untuk bertanya-tanya tentang agama islam padanya.
Akhir pekan ini Hani bisa bertemu dengan Umi Halimah tanpa mencari alasan pada Abhiyasa. Kali ini Abhiyasa sedang bertugas ke luar kota bersama dengan timnya. Hal ini menjadi kesempatan bagi Hani untuk bertemu dengan leluasa bersama dengan Umi Halimah.
Dia sudah menceritakan semuanya pada Umi Halimah. Dan Umi Halimah sangat mendukung apa pun pilihan Hani.
__ADS_1
Umi Halimah tidak memaksakan kehendaknya. Dia hanya ingin Hani mengikuti kata hatinya.
Hani mendapatkan banyak informasi dari Umi Halimah. Bahkan dia mempelajari buku tentang Nabi-Nabi dan sahabatnya.
Hani menyembunyikan fakta tentang dirinya yang sedang mempelajari agama islam dan bertemunya dia dengan Umi Halimah. Dia tidak ingin Abhiyasa tahu dan terlalu berharap padanya.
Untuk sekarang ini dia hanya mencari tahu saja. Dia belum memutuskan keinginannya untuk tetap pada keyakinannya atau berpindah keyakinan.
Seperti yang dikatakan oleh Abhiyasa ketika mereka berdua sedang membahas tentang perbedaan keyakinan mereka. Abhiyasa tisak mau menekan atau pun memaksa Hani untuk mengikuti keyakinannya. Jikalau Hani memutuskan untuk berpindah keyakinan yang sama dengannya, dia ingin Hani berpindah karena keinginan hatinya, bukan karena paksaan.
Umi Halimah pun membenarkan hal itu. Selama ini Hani selalu mencurahkan semua isi hatinya pada Umi Halimah, sehingga hubungan mereka kini sangat dekat layaknya seorang ibu dan anak.
Ternyata saat ini Abhiyasa masih ada waktu sebelum dia berangkat ke luar kota. Dia menyempatkan dirinya yang berada di kantor untuk berkunjung ke rumah Hani dan mengajaknya makan bersama.
"Honey… Honey… Buka pintunya…," seru Abhiyasa sambil mengetuk-ketuk pintu rumah Hani.
Berkali-kali dia mengetuk pintu tersebut. Sayangnya tidak ada yang menyahutnya.
"Ke mana kamu Hani? Bukannya kamu tadi bilang ada di rumah? Ck, aku gak bawa kunci rumahnya. Kuncinya ada di dalam rumahku lagi," gerutu Abhiyasa sambil mengetuk-ketuk pintu tersebut.
Diambilnya ponsel dari sakunya. Dengan cemasnya dia segera menghubungi nomor Hani.
"Halo, Honey kamu di mana?" tanya Abhiyasa yang terdengar cemas di telepon.
Aku sedang di…, Hani menggantungkan ucapannya.
Dia merasa ada yang tidak beres dengan suara Abhiyasa. Sayangnya ketika dia hendak bertanya, Abhiyasa tidak memberinya kesempatan.
"Jangan berbohong Honey," sahut Abhiyasa seolah tahu akan keraguan Hani ketika menjawab pertanyaannya.
Hani menghela nafasnya. Dia tidak bisa berbohong. Dan Abhiyasa pun tidak mau jika dibohongi.
Aku sedang berada di rumah teman Abhi. Ada apa? tukas Hani dengan suara yang lebih tenang agar Abhiyasa percaya padanya dan tidak mengkhawatirkannya.
Terdengar helaan nafas Abhiyasa di telepon tersebut. Dia merasa kedatangannya ke rumah Hani hanya sia-sia saja. Kemudian dia berkata,
"Aku berada di depan rumahmu Honey. Aku menyempatkan waktuku yang tinggal satu jam lagi akan berangkat ke luar kota hanya untuk makan bersamamu."
Seketika Hani merasa ingin berlari menghampiri kekasihnya itu. Dia beranjak dari duduknya dan berkata,
__ADS_1
Tunggu aku Abhi. Aku akan ke sana sekarang.
"Tapi Honey, sekarang sudah jam–"
Ternyata Hani sudah mematikan panggilan teleponnya. Dia meminta ijin pada Umi Halimah untuk pergi sebentar menemui kekasihnya yang sedang menunggunya.
Dengan segera Hani mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang sedikit padat. Berkali-kali dia membunyikan klakson mobilnya seolah tidak sabar menunggu.
Abhiyasa sudah tidak bisa menunggu lagi. Waktunya hanya tinggal beberapa puluh menit saja untuk kembali ke kantornya.
Dengan lemas Abhiyasa berjalan sambil menundukkan kepalanya menuju motornya. Dia menghela nafasnya yang terasa sangat berat karena rasa rindunya pada kekasih hatinya belum terobati.
Beeep… beeep…
Tiba-tiba ada suara klakson mobil yang mengagetkannya.
"Abhi!" seru Hani dengan kepalanya yang sedikit keluar dari jendela kaca mobilnya yang terbuka.
Seketika Abhiyasa mendongakkan kepalanya mendengar suara yang sangat dirindukannya.
"Hani?!" celetuk Abhiyasa dengan bibirnya yang menyungingkan senyuman dan mata yang berbinar menyiratkan kenahagiaan.
Hani segera keluar dari mobilnya setelah memarkirkan mobil tersebut. Dia berlari sambil tersenyum menghampiri Abhiyasa yang sedang berdiri seolah menyambutnya.
Dipeluknya dengan erat tubuh Abhiyasa oleh Hani dan dia berkata,
"Cepat kembali Abhi. Aku menunggumu."
Abhiyasa yang sedang mematung karena terkejut mendapatkan pelukan dari Hani, seketika tersadar ketika mendengar permintaan kekasihnya itu.
"Aku akan segera kembali Honey. Tunggu aku," ujar Abhiyasa sambil membalas pelukan Hani.
Mereka berdua masih berpelukan seolah menyalurkan kerinduan yang mereka rasakan saat ini. Mereka tidak sadar jika saat ini mereka sedang berada di depan rumah yang siapa saja bisa melihatnya.
Tanpa mereka ketahui, ada beberapa orang yang melihat mereka sedang berpelukan.
"Apa sebenarnya hubungan mereka?"
"Apa mereka berpacaran?"
__ADS_1
"Atau mungkin mereka sudah menikah diam-diam?"