Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 53 Kejutan


__ADS_3

Dua orang laki-laki yang merupakan tetangga Hani dan Abhiyasa itu kebetulan sedang berjalan mengelilingi wilayah mereka untuk memeriksa keamanan wilayah tersebut.


Mereka melihat Abhiyasa yang membuka pintu rumah Hani dan masuk tanpa permisi.


"Eh siapa itu? Kenapa dia sepertinya memaksa masuk tanpa permisi?" tanya salah satu dari mereka.


"Ayo kita ke sana. Kita lihat apa yang terjadi," ajak orang yang satunya lagi.


Mereka berdua berjalan mendekati rumah Hani dan masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka terkejut melihat Abhiyasa yang sedang menggendong Hani. Apa lagi Hani yang saat ini sedang memakai pakaian sangat minim sehingga menambah kecurigaan mereka berdua pada Abhiyasa.


"Sepertinya kalian harus menikah," ucap salah satu dari laki-laki tersebut.


Sontak saja Abhiyasa dan Hani menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka pun berkata secara bersamaan.


"A-apa?"


"Menikah?"


"Kalian sudah tertangkap basah sekarang. Lagi pula kami sering melihat Abhiyasa keluar masuk rumah ini dengan seenaknya. Kami sebagai wakil dari warga sekitar menentang hubungan tanpa status ini," ucap salah satu dari kedua laki-laki itu.


"Tapi Pak… Kami tidak berbuat apa-apa. Dan kami memang sudah sejak lama berpacaran," sahut Abhiyasa yang masih dalam posisi menggendong Hani.


"Itu, buktinya kalian main gendong-gendongan. Dan Mbak ini juga udah melepas pakaiannya tinggal pakai baju gitu aja. Jangan-jangan kalian mau berbuat mesum ya?" tuduh salah satu dari kedua laki-laki itu.


"Jangan harap kamu bisa seenaknya saja karena kamu seorang polisi," sahut laki-laki yang satunya lagi.


Abhiyasa menurunkan Hani. Dia maju satu langkah mendekati kedua orang laki-laki tersebut dan menatap marah pada laki-laki yang baru saja menyindirnya.


"Maaf Pak, jangan sangkut pautkan profesi saya dengan masalah ini. Lagi pula saya dan Hani tidak pernah melakukan hal yang seperti bapak tuduhkan pada kami. Kami hanya berpacaran, tidak lebih dari itu," ujar Abhiyasa dengan tegas.


Kedua orang laki-laki tersebut menyeringai mendengar apa yang dikatakan oleh Abhiyasa. Kemudian salah satu dari mereka berkata,


"Lalu… apa yang kami lihat sekarang ini? Kalian sudah tertangkap basah dan tidak bisa memungkirinya lagi."


Terlihat Abhiyasa akan menjawab perkataan orang tersebut. Dengan cepatnya Hani mencegahnya. Dia memegang tangan Abhiyasa seolah mengatakan jangan padanya.


Abhiyasa menengok ke arah Hani yang menggelengkan kepala padanya. Abhiyasa pun mengurungkan niatnya untuk berbicara.


"Kami memang sudah berencana menikah Pak. Insya Allah tidak lama lagi kami akan menikah. Tinggal menunggu waktunya saja," ucap Hani dengan tenang dan tersenyum.

__ADS_1


Kedua laki-laki tersebut melihat Hani seolah tidak percaya. Merasa sedang dilihat oleh kedua laki-laki itu, Hani melihat dirinya sendiri.


Betapa terkejutnya dia melihat dirinya yang sedang memakai pakaian minim. Hani segera berlari menuju gorden. Dia bersembunyi di balik gorden  dan hanya memperlihatkan wajahnya saja di hadapan tiga laki-laki yang ada di ruangan tersebut, termasuk kekasihnya, Abhiyasa.


Mereka semua melongo melihat tingkah Hani. Tak terkecuali Abhiyasa yang sedari tadi ingin menutupi tubuh kekasihnya itu agar tidak terlihat oleh kedua laki-laki yang sedang berbicara pada mereka.


"Emmm lalu… kapan kalian akan menikah?" tanya salah satu dari kedua laki-laki tersebut.


"Tunggu aja Pak kabarnya," sahut Hani dengan yakin.


"Hani, tapi–"


"Insya Allah secepatnya Pak," sahut Hani.


Kata Insya Allah yang diucapkan oleh Hani membuat Abhiyasa terperangah. Dia tidak pernah mendengar kata itu keluar dari mulut kekasihnya itu.


"Akan kami tunggu. Dan kami harap secepatnya. Jika tidak ada kepastian, kami akan bertindak untuk menikahkan kalian," tutur salah satu dari laki-laki yang ada di sana.


Seketika mata Abhiyasa terbelalak. Kini tubuh Abhiyasa seolah tidak bertulang. Tubuhnya lemas memikirkan pernikahannya yang berbeda keyakinan.


Bagaimana bisa kami menikah jika kami belum mendapatkan jawaban dari perbedaan kami? Abhiyasa berkata dalam hatinya.


Kedua laki-laki itu saling menatap. Kemudian salah satu dari mereka berkata,


"Baiklah. Akan kami tunggu kabar pernikahan kalian. Sekarang kami permisi dulu. Dan untuk Abhiyasa, kami sarankan agar cepat pulang. Jangan terlalu malam berada di rumah seorang perempuan."


Setelah itu kedua laki-laki tersebut keluar dari rumah Hani. Mereka meninggalkan Abhiyasa dan Hani yang masih berada di dalam rumah.


"Honey… kamu ngerti kan dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Abhiyasa dengan wajah sendunya.


Hani keluar dari gorden yang menutupi tubuhnya. Dia duduk di sofa dan tersenyum pada kekasihnya itu. Kemudian dia menepuk sofa yang ada di sebelahnya seraya berkata,


"Duduklah Abhi. Aku akan memberitahu sesuatu padamu."


Abhiyasa mengernyitkan dahinya. Dia merasa ada hal aneh yang tersirat dalam senyuman Hani saat ini.


Duduklah Abhiyasa di dekat Hani. Kemudian dia berkata,


"Lalu, apa rencana kamu Honey?"

__ADS_1


Hani mendekatkan wajahnya pada telinga Abhiyasa. Kemudian dia berbisik di telinganya,


"Aku sudah mengikrarkan dua kalimat syahadat."


Sontak saja mata Abhiyasa terbelalak. Dia menatap Hani dengan tatapan tidak percaya. 


"A-apa?" tanya Abhiyasa dengan gugup.


Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bahkan dia berusaha meyakinkan Abhiyasa dengan matanya dan senyumannya.


"Hani kamu…," Abhiyasa tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


Hani menganggukkan kepalanya kembali. Kemudian dia berkata,


"Kita sudah memiliki keyakinan yang sama Abhi. Jadi untuk menikah…."


"Benarkah? Sejak kapan?" sahut Abhiyasa dengan tidak sabaran.


Hani menatap intens manik mata Abhiyasa. Kemudian dia berkata,


"Ceritanya panjang Abhi. Nanti akan aku ceritakan. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Sebaiknya kita makan dulu."


Abhiyasa masih saja menatap kekasihnya itu dengan tatapan tidak percaya. Dia bahagia, sangat bahagia. Akan tetapi dia takut jika kebahagiaan itu semu.


Hani beranjak dari duduknya dan menarik tangan Abhiyasa menuju ruang makan. Hani mengambilkan nasi untuk Abhiyasa. Semua yang dilakukan Hani seperti Mama Hani yang sedang menyiapkan makan untuk papa Hani.


Abhiyasa hanya menatap heran dan tidak percaya pada Hani saat ini. Bahkan ketika sedang makan pun pandangan matanya tidak lepas dari wajah kekasihnya yang memancarkan kebahagiaan.


Setelah mereka makan, Abhiyasa mengajak Hani untuk berbicara di ruang tamu. 


"Honey. Aku masih belum mengerti. Apa bisa kamu menjelaskan padaku apa yang terjadi?" tanya Abhiyasa dengan rasa ingin tahunya.


Hani menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian dia menghembuskannya perlahan. Setelah itu dia tersenyum pada Abhiyasa dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa saja yang dilakukannya tanpa sepengetahuan kekasihnya itu.


"Honey… jadi selama ini kamu…."


Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang ada dipikiran Abhiyasa saat ini.


Sontak saja Abhiyas berdiri dari duduknya. Tanpa mengatakan apa pun dia berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Abhi! Mau ke mana?"


__ADS_2