
Hani menghela nafasnya setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Abhiyasa. Dia merasa sedih karena kekasihnya itu tidak pergi bersamanya ke rumah Umi Halimah.
"Abhi kenapa kita harus berangkat sendiri-sendiri? Lagian kamu mau ke sana dengan siapa sih?" gerutu Hani sambil berjalan lemas menuju mobilnya.
Di dalam mobilnya, Hani menghela nafasnya berkali-kali. Dia merasa tidak bersemangat mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di halaman rumah Umi Halimah, Hani menatap rumah tersebut seraya berkata,
"Jangan berpikiran macam-macam Hani, Abhiyasa pasti akan cepat datang kemari untuk menjemputmu."
Di dalam rumahnya, Umi Halimah sedang menunggu kedatangan Hani bersama dengan Abi Farhan dan Hamzah.
"Umi, Abi, Hamzah ingin bicara serius," ucap Hamzah sambil menatap umi dan abinya secara bergantian.
Umi Halimah dan Abi Farhan saling menatap, seolah mereka saling bertanya melalui mata mereka.
"Ada apa Nak?" tanya Umi Halimah dengan rasa ingin tahunya.
Hamzah menghirup udara dalam-dalam, kemudian dia menghelanya perlahan untuk mengurangi rasa grogi yang tiba-tiba menghampirinya. Kemudian dia berkata,
"Tentang Hani. Hamzah ingin menjadikan Hani–"
"Assalamualaikum…," seru seorang perempuan dari luar rumah menghentikan Hamzah yang sedang berbicara.
"Wa'alaikumussalam…," jawab Umi Halimah, Abi Farhan dan Hamzah yang ada di dalam rumah.
"Pasti itu Hani. Umi akan membukakan pintunya," ucap Umi Halimah sambil beranjak dari duduknya.
Hamzah menghela nafasnya kembali. Abi Farhan yang mengetahui perasaan Hamzah, tersenyum sambil tangannya mengusap pundak putranya itu dan berkata,
"Sabar Nak…."
Hamzah menoleh ke arah sampingnya di mana abinya sedang duduk dan tersenyum padanya. Dengan wajah lemasnya itu dia memaksakan senyumnya pada abinya.
"Abi, Hamzah… Hani sudah datang. Ayo kita mulai makan malamnya," ucap Umi Halimah yang sedang berjalan bersama Hani menuju ruang makan.
Abi Farhan dan Hamzah segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara perempuan yang mengucap salam dari luar rumah mereka.
"Assalamu'alaikum…."
"Wa'alaikumussalam…," jawab seorang perempuan dari dalam rumah berjalan mendekati pintu rumah tersebut.
__ADS_1
Pintu pun terbuka. Umi Halimah yang membukakan pintu tersebut memandang ibu Abhiyasa sambil mengerutkan dahinya dan berkata,
"Kalian…."
"Masih ingat kami Umi Halimah?" tanya ibu Abhiyasa sambil tersenyum padanya.
Umi Halimah memperhatikan satu persatu dari mereka untuk mencoba mengingat kembali wajah-wajah yang ada di hadapannya saat ini.
Tiba-tiba Umi Halimah teringat ketika melihat wajah nenek Abhiyasa. Dia mendekati nenek Abhiyasa dan memegang kedua tangannya seraya berkata,
"Ini Ibu? Nenek Yasa?"
Nenek Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Ternyata kamu masih ingat Halimah."
Umi Halimah mencium punggung tangan nenek Abhiyasa. Kemudian dia memeluknya dengan perlahan. Setelah itu dia mengurai pelukannya dan berkata,
"Tentu saja Halimah masih ingat Bu. Hanya saja agak pangling pada semuanya. Maklum sudah puluhan tahun kita semua tidak berjumpa."
"Kita sudah sibuk dengan urusan masing-masing hingga lupa bersilaturahmi. Untung saja saat ini Yasa mengajak kami ke sini," sahut ibu Abhiyasa sambil mendekati umi Halimah dan memeluknya.
Umi Halimah mengurai pelukannya dan tersenyum pada mereka seraya berkata,
"Ini… Yasa?" tanya umi Halimah seolah tidak yakin dengan ingatannya.
"Iya Umi, saya Yasa," ucap Abhiyasa sambil mencium punggung tangan umi Halimah.
"Oh iya, sampai lupa. Mari kita masuk. Kebetulan kami sedang makan malam," ujar umi Halimah sambil meraih pundak nenek Abhiyasa untuk diajak berjalan bersamanya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah mengikuti umi Halimah yang berjalan menuju ruang makan.
"Abi, Hamzah, kalian masih ingat dengan keluarga Yasa?" tanya umi Halimah ketika sudah berada di ruang makan.
Abi Farhan dan Hamzah menoleh ke arah mereka. Hamzah memperhatikan mereka satu persatu seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Sedangkan abi Farhan tersenyum seraya berkata,
"Tentu saja Abi tidak akan lupa dengan teman sekaligus tetangga terbaik kita."
Abi Farhan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati mereka. Dia menyalami ayah Abhiyasa dan berkata,
"Apa kabar teman?"
Ayah Abhiyasa terkekeh mendengar panggilan yang mereka gunakan dari dulu ketika menanyakan kabar. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Alhamdulillah, kami baik semua. Bagaimana kabar kalian semua?"
"Alhamdulillah kami semua juga baik-baik saja," jawab abi Farhan sambil tersenyum lebar pada teman lamanya itu.
"Abhi!" panggil Hani sambil tersenyum menatap kekasihnya yang sedari tadi menatapnya.
"Honey, Ayah, Ibu dan Nenek rindu sama kamu. Mereka ingin bertemu sama calon menantunya," ucap Abhiyasa sambil tersenyum untuk menggoda Hani dengan menyebutnya sebagai calon menantu keluarganya.
"Calon menantu?" celetuk Hamzah sambil memandang Hani dan Abhiyasa secara bergantian, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Abhi? Apa dia Abhi pacarmu yang bertemu dengan Umi di masjid saat itu Hani?" tanya umi Halimah sambil menunjuk Abhiyasa.
Hani tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Iya, benar Umi. Dia Abhiyasa yang Hani perkenalkan pada Umi saat itu."
"Jadi, Yasa adalah Abhi pacarnya Hani?" tanya umi Halimah kembali untuk meyakinkan apa yang sedang dipikirkannya.
"Benar. Abhiyasa adalah Abhinya Hani dan Yasanya kita," sahut ibu Abhiyasa sambil terkekeh.
"Pantas saja Umi tidak asing tadi ketika melihat Yasa di luar tadi," ujar umi Halimah sambil tersenyum menertawakan kebodohan dirinya yang tidak mengenali Abhiyasa.
"Silahkan duduk. Kita makan dulu, setelah itu kita lanjutkan temu kangen kita," tutur abi Farhan mempersilahkan mereka semua.
Semuanya duduk di kursi makan yang ada di sana. Dan tentu saja Abhiyasa duduk di sebelah Hani.
Hal itu tidak lepas dari penglihatan Hamzah. Dia melihat senyum bahagia Hani yang sedang berbicara dengan Abhiyasa. Bahkan Hani mengambilkan nasi dan lauk untuk Abhiyasa.
Hamzah menghela nafasnya yang terasa berat. Dalam hati dia berkata,
Sepertinya aku harus mundur sebelum mengakui perasaanku padanya. Hani terlihat sangat bahagia dengan Yasa. Aku harus menghilangkan rasa yang masih belum terlalu lama ini.
Kebahagiaan Hani bersama dengan Abhiyasa itu tidak hanya dilihat dan dirasakan oleh Hamzah saja, bahkan mereka semua yang ada di sana merasa ikut bahagia melihat pasangan kekasih yang sebentar lagi akan berniat untuk mengikrarkan janji suci mereka.
Setelah acara makan selesai, mereka berpindah tempat di ruang tamu. Di tempat itu Umi Halimah menceritakan pertemuannya bersama dengan Hani. Dia juga menceritakan tentang perjuangan Hani untuk berusaha mencari tahu keinginan hatinya, hingga Hani merasa yakin untuk berpindah keyakinan menjadi mualaf.
Hani juga menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan restu dari kedua orang tuanya untuk berpindah keyakinan.
Semua orang memandang takjub dengan perjuangan Hani. Mereka merasa bangga pada Hani yang mempunyai keinginan kuat untuk mencari kedamaian hatinya, bukan karena semata ingin bersatu dengan Abhiyasa.
"Sebentar lagi kami juga akan berkunjung ke rumah Hani bersama keluarga untuk melamar Hani," ujar ibu Abhiyasa yang terlihat bahagia memberikan kabar bahagia itu pada semua orang.
"Melamar?!"
__ADS_1