Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 25 Pacarku


__ADS_3

Hani duduk malu di dalam mobil Abhiyasa. Dia memandang ke arah jendela kaca mobil untuk berpura-pura menikmati pemandangan di luar sana.


Abhiyasa sengaja membawa mobilnya untuk mengajak makan siang Hani saat ini. Dia tidak ingin paha kekasihnya yang putih mulus itu dilihat banyak orang jika dibonceng motor dengannya. Karena Hani masih menggunakan seragam kerjanya dengan rok yang di atas lutut.


Sesekali Abhiyasa tersenyum ketika melirik Hani yang masih saja tidak mau menghadap ke arahnya.


"Honey, kenapa diam saja? Aku kangen Honey ku yang selalu bisa membuat suasana menjadi ceria," ucap Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.


Hani menoleh ke arah Abhiyasa. Dia menatap Abhiyasa selama beberapa detik, kemudian dia berkata,


"Abhi, beberapa hari ini kamu ke mana? Kenapa kamu gak kasih kabar aku sama sekali? Kamu tuh buat aku khawatir tau gak?"


Seketika Abhiyasa terkekeh mendengar semua pertanyaan yang diberikan Hani padanya. Dia senang bisa mendengarkan kembali celotehan dari kekasihnya itu.


"Abhi… kok malah ketawa sih?" tanya Hani sambil memberengut kesal menatap Abhiyasa.


"Bukannya kamu yang gak pengen ketemu sama aku?" tanya Abhiyasa kembali pada Hani tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.


"Aku?" celetuk Hani sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Abhiyasa melihat sekilas ke arah Hani yang ada di sampingnya. Kemudian dia terkekeh dan berkata,


"Masih ingat gak pada saat kita bertemu di resto pada saat makan siang waktu itu?" 


Seketika bibir Hani mengatup. Dia menundukkan kepalanya dan tangannya memainkan ujung bajunya.


Hani merasa sangat bersalah. Dia juga menyadari kebodohannya saat itu. Kini dia ingin mengikuti kata hatinya.


Hatinya memilih Abhiyasa. Perbedaan yang mereka miliki memang membuatnya dilema. Tapi setelah beberapa hari tanpa Abhiyasa, Hani menyadari pentingnya seorang Abhiyasa untuk dirinya.


Dia tidak ingin merasakan siksaan rindu itu lagi. Dan dia juga tidak ingin jauh dari Abhiyasa, seorang laki-laki yang namanya sudah memenuhi hatinya.


"Kenapa gak jawab?" tanya Abhiyasa kembali sambil terkekeh.


"Maaf, waktu itu aku…," Hani menggantungkan ucapannya.


Dia tidak bisa mengatakan alasan sikapnya waktu itu pada Abhiyasa. Dia malu dan belum berani mengatakannya pada kekasihnya itu.


Selama beberapa detik Abhiyasa menunggu Hani menyelesaikan ucapannya. Sayangnya Hani tak kunjung mengatakannya kembali. Dia menggantungkan ucapannya seolah tidak ingin Abhiyasa mengetahuinya.

__ADS_1


Abhiyasa tidak mau memaksa Hani. Dia ingin Hani mengatakan padanya dengan sendirinya, tanpa ada paksaan darinya.


"Untuk apa minta maaf Honey. Aku akan menunggumu untuk mengatakannya sendiri padaku," tutur Abhiyasa sambil tersenyum.


Seketika Hani menoleh ke arah Abhiyasa. Dia menatap.Abhiyasa dengan penuh perasaan. Dalam hatinya berkata,


Kamu sangat baik dan pengertian sekali Abhi. Bagaimana aku bisa rela melepaskan mu? Bisa mendapatkan mu sebagai pacar merupakan suatu anugerah bagiku. Apa mungkin kita bisa bersatu menjadi pasangan suami istri?


"Gak usah diliatin gitu. Aku tau kalau aku ganteng," ujar Abhiyasa sambil terkekeh.


Seketika tangan Hani tanpa sadar memukul lengan Abhiyasa.


"Awww… Honey… Kenapa kamu memukulku?" rengek Abhiyasa yang berusaha menggoda Hani.


Sontak saja tangan Hani bergerak mengusap lengan Abhiyasa seraya berkata,


"Maaf… maaf… kamu sih pede banget."


"Eh yang ngomong gitu kan teman-teman kamu di kantor tadi. Aku hanya mengulanginya saja. Apa aku salah?" tanya Abhiyasa yang tidak mau disalahkan oleh Hani.


Hani berhenti mengusap lengan Abhiyasa. Dia kembali duduk di tempatnya dan hanya diam, memandang lurus ke arah jalanan yang ada di hadapannya. Dalam hatinya berkata,


Abhiyasa melirik Hani yang terlihat sedang melamun. Dalam hatinya berkata,


Kenapa dia diam? Apa ada yang salah dengan ucapanku?


"Honey, kita makan di mana?" tanya Abhiyasa mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba hening.


Seketika mata Hani berbinar mendengar pertanyaan dari Abhiyasa. Tiba-tiba dia teringat tempat yang biasanya didatangi teman-teman kantornya akhir-akhir ini. 


Aku ajak Abhi makan siang di sana saja. Pasti mereka semua ada di sana. Biar mereka tau Abhiyasa ini adalah pacarku, Hani berkata dalam hatinya.


"Abhi, bagaimana kalau kita makan di tempat yang kemarin kita bertemu pada saat makan siang?" tanya Hani dengan senyum manisnya yang mengembang.


Abhiyasa melirik sekilas Hani yang sedang tersenyum dengan antusias. Dia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Baiklah, kita ke sana sekarang."


Abhiyasa memutar balik mobilnya menuju resto tersebut. Dia menuruti semua keinginan Hani, apa pun itu. Tak terkecuali untuk menjauh darinya. Seperti hari-hari yang lalu.

__ADS_1


Bukan karena Abhiyasa tidak mencintai Hani, tapi karena Abhiyasa sangat mencintai Hani dan menghormati semua keputusannya.


Dan terbukti jika Abhiyasa tetap menjaganya dari jauh. Dia tidak bisa melepaskannya begitu saja tanpa pengawasan darinya.


Tibalah di resto tersebut. Abhiyasa menggandeng tangan Hani ketika masuk ke dalam resto itu.


Benarlah dugaan Hani. Banyak teman kerja Hani yang sedang makan siang di sana.


Hani tersenyum bangga berjalan masuk dengan bergandengan tangan bersama Abhiyasa. Mata Hani menelusuri seluruh ruangan untuk mencari teman-temannya.


Namun, yang ada hanya teman-teman lainnya. Lia dan teman-teman dekatnya tidak ada di sana.


Ck, mereka pada ke mana sih? Tumben banget gak makan di sini? Padahal kan aku lagi makan bareng Abhi sekarang, Hani menggerutu dalam hatinya.


Abhiyasa hanya menatap gadis yang duduk di hadapannya itu sambil menopang dagunya menggunakan kedua tangannya dan tersenyum padanya.


Sedangkan Hani masih saja mencari-cari keberadaan teman-teman dekatnya. Dan hasilnya tetap sama, mereka tidak ada di tempat itu.


Datanglah seorang waiter yang mencatat pesanan mereka. Setelah beberapa saat, pesanan mereka tiba. Mereka berdua makan diselingi dengan candaan yang membuat semua mata iri melihatnya.


Kerinduan mereka yang tidak bertemu dan tidak berkomunikasi selama beberapa hari itu membuat mereka berdua semakin dekat. Mereka mengacuhkan orang lain yang sedang memperhatikan mereka. Terlebih teman-teman kerja Hani yang sedang makan di sana dan membicarakan mereka berdua.


Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, Abhiyasa mengulurkan tangannya untuk membantu Hani beranjak dari duduknya. Dan genggaman tangan itu tidaklah terlepas. Abhiyasa tetap menggandeng tangan Hani ketika berjalan keluar dari resto tersebut.


Tiba-tiba langkah kaki Hani berhenti ketika berada di depan pintu resto tersebut. Mereka berdua berhadapan dengan Lia beserta teman-teman dekat Hani lainnya.


"Hani?! Kenapa tidak menunggu kami untuk makan bersama?" tanya Lia dengan senyum lebarnya.


Hani hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang diajukan Lia padanya. 


"Hani makan bersama pacarnya. Ngapain dia nungguin kita?" sahut Dion sambil mengacak-acak rambut Lia.


Seketika mata Lia beralih pada tangan Hani yang bergandengan dengan tangan seseorang. Dan mata Lia terbelalak ketika mengetahui jika tangan yang menggandeng Hani adalah Abhiyasa, laki-laki yang membuatnya jatuh hati ketika pertama kali melihatnya.


"Hani, dia…."


Hani menarik lengan Abhiyasa dan melingkarkan tangannya pada lengan Abhiyasa seraya berkata,


"Perkenalkan, dia pacarku, Abhiyasa, polisi tampan yang datang tempo hari."

__ADS_1


__ADS_2