
Dengan keyakinan hatinya itu, Hani segera menuju ke rumah orang tuanya. Dalam hatinya dia berdoa agar Tuhan membantunya dan memberikan jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapinya.
Di sinilah sekarang Hani berada. Di depan rumah orang tuanya yang sudah beberapa minggu tidak dikunjunginya.
Hani menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian dia berkata,
"Ayo Hani, semangat. Kamu pasti bisa meyakinkan mereka."
Namun, baru saja kakinya melangkah, dia kembali menghentikan langkahnya. Keraguan kembali datang menghampirinya. Tiba-tiba dia merasa takut masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Balik aja deh. Aku ragu mereka mau mengijinkan aku menuruti keinginan hatiku," ucap Hani yang tiba-tiba merasa takut bertemu dengan kedua orang tuanya.
Hani pun membalikkan badannya hendak berjalan menuju mobilnya.
Namun, langkahnya kembali berhenti. Dia pun berkata,
"Tapi sampai kapan aku begini? Aku sudah niat dan ingin segera mendalami agamaku yang baru. Aku harus bertemu dengan mereka sekarang juga. Aku harus bisa meminta restu mereka."
Hani kembali membalikkan badannya. Dia kembali memantapkan hatinya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Mama… Papa… Hani pulang…," seru Hani sambil mengetuk pintu rumahnya.
Berkali-kali Hani memanggil mama dan papanya sambil mengetuk pintu rumahnya, sayangnya pintu itu belum juga terbuka.
"Mama sama Papa ke mana sih? Kenapa gak dibuka-buka pintunya?" gerutu Hani yang kesal pada dirinya sendiri karena tidak membawa kunci rumah orang tuanya.
"Mama… Papa… Buka pintunya… Hani pulang…" seru Hani kembali sambil mengetuk pintu rumah tersebut.
"Mama… Pa–"
Tiba-tiba pintu tersebut terbuka sehingga tangan Hani menggantung di udara.
"Hani, kenapa teriak-teriak?" tanya Mama Hani yang membuka pintu rumah tersebut.
Hani tersenyum lebar menampakkan deretan giginya. Kemudian dia berkata,
"Habisnya Mama lama sih buka pintunya."
Mama Hani menarik tangan putrinya itu agar masuk ke dalam rumah seraya berkata,
"Lagian kamu tumben banget pulang ke sini malam-malam. Mau ambil barang atau mau menginap di sini?"
__ADS_1
Seketika senyum Hani pudar. Dia menatap serius pada mamanya dan mengajaknya duduk di kursi ruang tamu.
"Ma, Papa ada kan? Hani ingin membicarakan sesuatu dengan Mama dan Papa," ucap Hani ketika duduk di samping mamanya.
"Ada, sebentar Mama akan panggilkan Papa dulu di ruang makan. Hani sudah makan? Apa mau makan bersama sekalian," tukas mama Hani sambil berdiri dari duduknya.
"Hani belum makan Ma. Hani ikut makan sekalian deh," ujar Hani sambil beranjak dari duduknya.
Hani pun berjalan menuju ruang makan bersama dengan mamanya. Seperti biasanya, Hani bergelayut manja pada lengan mamanya.
"Ternyata memang benar-benar Hani ya Ma yang datang?" ucap Papa Hani menyambut kedatangan Hani di meja makan tersebut.
"Iya Pa. Anak kesayangan Papa ini mau makan bersama kita sekarang," jawab mama Hani sambil terkekeh.
"Hani kangen sama Mama dan Papa. Dan juga Hani ke sini karena ingin membicarakan sesuatu pada Mama dan Papa," ucap Hani menanggapi pembicaraan mama dan papanya.
"Baiklah. Sebaiknya kita makan dulu. Setelah itu baru kita bicarakan bersama," tutur papa Hani sambil meneruskan makannya.
Setelah beberapa saat, makan malam keluarga Hani pun selesai. Mereka berganti tempat di ruang keluarga untuk berbicara bertiga, sesuai dengan keinginan Hani yang berniat berbicara pada kedua orang tuanya.
Hani terlihat tegang di hadapan kedua orang tuanya. Hal itu dirasakan oleh mama dan papanya.
"Ada apa Hani? Apa ada hal yang penting?" tanya papa Hani menyelidik.
"Ma, Pa, Hani ingin berpindah keyakinan," ucap Hani tegas sambil menatap mama dan papanya secara bergantian.
"A-apa?!"
"Apa?!"
Mama dan papa Hani secara bersamaan mengatakan dengan ekspresi kagetnya mendengar keinginan hati Hani.
"Maaf, Pa, Ma. Hani sudah memikirkannya baik-baik dan ini memang murni dari keinginan hati Hani. Jadi… Hani mohon doa restunya dari Mama dan Papa," ucap Hani sambil menatap kedua orang tuanya dengan tatapan memohon.
Papa dan mama Hani saling menoleh. Mereka saling menatap seolah berbicara dan saling bertanya menggunakan mata mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi Hani? Kenapa kamu tiba-tiba mempunyai keinginan seperti itu?" tanya mama Hani dengan rasa ingin tahunya.
Hani menghela nafasnya. Tangannya mencengkeram ujung bajunya. Kemudian dia berkata,
"Sebenarnya tidak tiba-tiba Ma. Sudah sejak lama hal ini mengganggu Hani. Dan butuh waktu lama bagi Hani untuk mencari tahu keinginan hati Hani yang sebenarnya."
__ADS_1
"Lalu, apa ini keputusanmu?" tanya papa Hani dengan menatap tegas putrinya.
"Iya Pa. Hani merasa lebih tenang dan nyaman dari sebelumnya. Perasaan itu belum pernah Hani rasakan selama hidup Hani," jawab Hani dengan yakin.
Sontak saja papa Hani beranjak dari duduknya setelah mendengar jawaban dari Hani. Dia berjalan meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan kecewa pada putrinya.
Mama Hani pun beranjak dari duduknya dan mengikuti suaminya meninggalkan Hani yang masih berada di tempat tersebut.
Mama Hani pun merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya. Mereka berdua merasa kecewa pada putri mereka.
Hani segera beranjak dari duduknya. Dia memegang tangan papa dan mamanya seraya berkata,
"Ma, Pa, tolong restui keinginan Hani."
Papa Hani menatap Hani. Terlihat jelas pada wajahnya rasa amarah dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Kemudian dia berkata,
"Apa yang mendasari keinginanmu ini?"
"Ini kemauan hati Hani Pa. Hani tidak bisa mengubahnya dan mengabaikannya. Hani merasa lebih–"
"Pulanglah. Hari sudah sangat malam. Jangan keluar rumah terlalu larut," sahut papa Hani memotong pembicaraan Hani.
Hani tahu jika papanya dan mamanya tidak akan begitu saja menyetujui dan mengijinkan keinginannya untuk merubah keyakinannya dalam beragama. Akan tetapi dia harus berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya akan pilihannya saat ini.
"Pa, Ma, Hani mohon. Dengarkan Hani terlebih dahulu. Banyak cerita perjalanan Hani untuk yakin dengan keputusan Hani saat ini. Hani ingin Mama dan Papa mengetahuinya," ucap Hani yang masih saja berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.
"Jangan memaksa Hani. Kamu tau bukan siapa Papamu?" tukas mama Hani yang berusaha menghentikan keinginan Hani untuk membicarakannya kembali.
"Hani tau Ma. Sangat tau sekali. Papa adalah pemuka agama yang sangat disegani oleh jamaahnya. Karena itulah Hani yakin jika Papa bisa memahami keinginan hati Hani," jawab Hani dengan sangat yakin.
Sontak saja papa Hani menoleh ke arah Hani. Dia menatap Hani dengan tatapan penuh amarah seraya berkata,
"Kamu pikir ini main-main?"
"Tidak Pa, Hani tidak pernah membuat mainan agama mana pun. Hani hanya ingin mengubah keyakinan Hani sesuai dengan keinginan hati Hani," jawab Hani dengan mata yang berkaca-kaca dan menatap papanya dengan tatapan memohon.
Namun, papa Hani masih belum bisa menerimanya. Dia melepaskan tangan Hani dan berjalan meninggalkan tempat itu bersama dengan mama Hani yang mengikuti di belakangnya.
Dengan segera Hani berlari kecil mengejar papanya. Dia tidak patah semangat untuk mencari restu kedua orang tuanya.
Tiba-tiba saja langkah kaki papa Hani terhenti ketika mendapati Hani duduk bersimpuh di hadapannya seraya berkata,
__ADS_1
"Hani mohon Pa, Ma…."
"Hani!"