Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 24 Pacar?


__ADS_3

Abhiyasa dan Hani sepertinya harus benar-benar menahan rindunya. Malam ini pun mereka tidak bisa bertemu dikarenakan Abhiyasa yang tiba-tiba mendapatkan tugas bersama timnya.


Hani semakin merasa kesepian dan kehilangan. Dia tidak mendapatkan pesan atau kabar apa pun dari Abhiyasa.


"Apa dia benar-benar marah padaku?" gumam Hani sambil memandang rumah Abhiyasa ketika turun dari mobilnya.


Hani berjalan lemas masuk ke dalam rumahnya. Dia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang sangat tidak bersemangat hanya karena seorang Abhiyasa.


Sepertinya pengaruh Abhiyasa memang besar dalam kehidupan Hani. Hanya beberapa jam tidak bertemu saja, mood Hani berubah drastis. Bahkan dia tidak berselera makan saat ini.


Kebiasaan beberapa hari bersama Abhiyasa membuatnya rindu akan hari-hari itu. Saat-saat bersamanya dan candaan darinya. Semua itu membuat Hani merasa lebih bersemangat.


Dan malam ini pun Hani kembali galau. Dia tidak ingin makan apa pun. Dia hanya memandangi ponselnya, berharap mendapatkan pesan atau dihubungi oleh Abhiyasa.


Berbeda dengan Abhiyasa yang sedang sibuk dengan tugasnya. Dia sama sekali tidak ada waktu untuk memegang ponselnya. Apalagi untuk memikirkan Hani. Saat ini dia benar-benar fokus akan tugasnya bersama dengan timnya.


Menjelang pagi, Abhiyasa pulang dari tugasnya. Dia tersenyum ketika memperhatikan lampu rumah Hani yang menyala saat sudah berada di halaman rumahnya. 


"Sebaiknya aku beristirahat sebentar sebelum adzan subuh berkumandang," ucap Abhiyasa sambil memasukkan motornya ke dalam garasi rumahnya.


Pagi harinya, seperti pagi kemarin, Hani tidak bersemangat berangkat kerja. Wajahnya tampak lesu dan langkah kakinya terasa berat menuju mobilnya.


Abhiyasa memperhatikan Hani dari arah lain. Dia tersenyum melihat gadisnya itu memandang ke arah rumahnya dengan tatapan kehilangan.


"Kamu pasti merindukanku kan Honey?" gumam Abhiyasa dari persembunyiannya.


Hani benar-benar merasakan apa yang dikatakan oleh Abhiyasa. Dunianya seolah runtuh karena kehilangan seorang Abhiyasa yang telah mencuri hatinya.


Dia pun berangkat bekerja dalam keadaan galau, sama seperti hari sebelumnya.


Abhiyasa memakai motor matic nya untuk mengikuti Hani di belakangnya. Dia tidak mau Hani tahu jika dirinya sedang mengikutinya.


Dia masih ingin menjalankan rencananya kemarin yang sempat tertunda. Entah mengapa Abhiyasa sangat ingin sekali membuat Hani terkesan padanya. Dia ingin memberikan kejutan seperti hari-hari sebelumnya. Dan tanpa diketahui oleh Abhiyasa, hal itulah yang membuat Hani tidak bisa melupakannya. 


Sesampainya Hani di parkiran kantornya, Abhiyasa segera melajukan motornya agar tidak diketahui oleh Hani. Dia kini mirip sekali dengan seorang stalker yang membuntuti Hani tanpa ingin diketahui oleh siapa pun.


Hani kembali menjadi perhatian teman-temannya. Dia mirip sekali dengan seseorang yang sedang patah hati.


"Han, Hani… Kamu gak lagi patah hati kan? Semua orang bilang kamu seperti orang yang sedang patah hati. Tapi, apa benar kamu sudah berpacaran dengan polisi ganteng waktu itu? Kok kalian sepertinya gak pernah jalan?" 


Lia memberondong Hani dengan banyak pertanyaan setelah Hani duduk di kursinya.

__ADS_1


Hani memandang Lia dengan lesu. Kemudian dia berkata,


"Terserah kalian mau bilang apa."


Hani meletakkan kepalanya di atas mejanya. Dia malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya. Dan hal inilah yang membuat Hani merahasiakan hubungannya bersama Abhiyasa dari teman-temannya. Dia tidak mau jika mereka terlalu ingin tahu tentang hubungannya bersama dengan Abhiyasa.


Merasa diacuhkan oleh Hani, Lia pun pergi keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan bersalah.


Sedangkan Hani, dia mengerjakan pekerjaannya dengan sangat malas. Tidak ada semangat dan tidak ada tenaga. Dia hanya menghela nafasnya melihat pekerjaan yang harus dikerjakannya.


Tibalah saat jam makan siang. Hani enggan keluar dari ruangannya. Waktu pun terasa sangat lama menurutnya.


Tok… tok… tok…


Pintu ruangan Hani diketuk dari luar oleh seseorang. Dan terbukalah pintu tersebut.


Hani hanya menoleh ke arah pintu tersebut tanpa berkata apa pun. 


"Mbak Hani, ada yang mau ketemu di luar," ucap satpam yang sedang berjaga hari itu.


"Siapa Pak?" tanya Hani dengan lesu seolah tidak berminat.


"Laki-laki ganteng Mbak. Katanya pacarnya Mbak Hani," jawab satpam tersebut sambil tersenyum.


"Terima kasih Pak," ucap Hani pada satpam tersebut.


"Sama-sama Mbak. Buruan keluar Mbak, kasihan Masnya diliatin sama Mbak-Mbak yang lainnya," tukas satpam tersebut sambil terkekeh.


"Apa dia Abhiyasa? Tapi tidak mungkin dia tiba-tiba datang ke sini. Sedangkan sejak kemarin saja dia mendiamkan aku," gumam Hani setelah satpam tersebut meninggalkannya.


"Ah sudahlah, lebih baik aku lihat saja keluar," ucap Hani sambil beranjak dari duduknya.


Dengan hati yang berdebar Hani keluar dari ruangannya. Matanya terbelalak dan bibirnya melengkung ke atas ketika melihat sosok laki-laki yang sangat dirindukannya.


"Abhi?!" celetuk Hani dengan mata yang berbinar.


Abhiyasa tersenyum manis padanya seraya melambaikan tangannya dan berkata,


"Hai Honey."


Seketika Hani berlari kecil menghampiri Abhiyasa dan memeluknya. Abhiyasa terkejut menerima pelukan Hani yang tiba-tiba itu. Apalagi mereka masih berada di tempat kerjanya. 

__ADS_1


Beruntung sekali saat itu sedang tidak ada customer karena sedang jam istirahat, sehingga tidak ada orang luar yang tahu adegan tersebut.


Tidak hanya Abhiyasa saja yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Hani saat ini. Semua teman Hani yang berada di sana sama terkejutnya dengan Abhiyasa. Bahkan banyak dari mereka menunda makan siangnya untuk melihat kebenaran ucapan Abhiyasa yang memperkenalkan dirinya sebagai pacar dari Hani.


Mereka semua melongo melihat Hani yang tanpa basa-basi memeluk Abhiyasa seperti sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Abhi… aku rindu," ucap Hani lirih.


Abhiyasa tersenyum mendengarnya. Kemudian dia berkata,


"Aku juga kangen banget sama kamu Honey."


Mereka berdua seolah lupa jika sedang menjadi tontonan teman-teman kerja Hani. Hingga Dion, teman laki-laki Hani yang sering menggoda Hani pun bereaksi.


"Ehemmm… masih banyak orang di sini," seru Dion sambil menahan tawanya.


Sontak saja Hani melepaskan pelukannya. Dia merasa malu pada Abhiyasa dan teman-temannya. Bahkan wajahnya saat ini merona karena malu pada semua orang.


Hani segera menarik Abhiyasa masuk ke dalam ruangannya. Terdengar suara teman-temannya yang meledek Hani hingga terdengar sampai ruangannya.


Abhiyasa menatap Hani dengan senyumnya yang membuat Hani menjadi salah tingkah.


Wajah Hani pun bertambah merona ditatap seperti itu oleh Abhiyasa. Kemudian dia menunduk dan mengalihkan perhatian Abhiyasa dengan bertanya padanya.


"Tumben ke sini?"


Abhiyasa tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu. Kemudian dia berkata,


"Gak boleh ya mau ngajakin makan siang pacar sendiri?"


Seketika Hani melihat ke arah Abhiyasa dengan mata yang berbinar dan senyumnya yang mengembang. Dan dia pun berkata,


"Aku lapar Abhi."


Abhiyasa menarik tangan Hani untuk diajaknya keluar dari ruangan tersebut dan makan siang bersamanya.


Dengan perasaan gembiranya itu Hani meninggalkan ruangannya tanpa membawa dompet dan ponselnya. Dia tidak memikirkan apa pun selain keberadaan Abhiyasa saat ini bersamanya.


Lia yang baru saja kembali dari toilet melihat Hani bergandengan tangan dengan Abhiyasa keluar dari ruangan Hani. Kemudian dia berkata,


"Itu kan laki-laki yang waktu itu. Kenapa dia bisa bersama dengan Hani? Gandengan tangan pula? Apa dia saudara Hani? Atau mungkin kakaknya Hani?"

__ADS_1


"Laki-laki itu pacarnya Hani. Kamu gak tau sih tadi gimana senengnya Hani waktu tau pacarnya itu datang menjemputnya untuk makan siang bersama," sahut Bayu yang tiba-tiba ada di sebelah Lia. 


"Apa? Pacar?" seru Lia dengan ekspresi terkejutnya.


__ADS_2