Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 51 Siap?


__ADS_3

Tak dapat dipungkiri jika Hani sangat senang saat ini. Bahkan wajahnya pun menunjukkan kebahagiaannya.


Seketika dia merasakan kekuatannya kembali. Dia merasa jika badannya sudah pulih saat ini.


Dengan semangatnya Hani beranjak dari tempat tidurnya. Benarlah, kini dia sudah tidak berjalan tertatih-tatih lagi seperti sebelumnya.


Segeralah dia mengambil pakaiannya di lemarinya serta mengganti pakaian yang kini dipakainya. Setelah itu dia merapikan rambut dan penampilannya di depan cermin.


Dia tersenyum bahagia melihat bayangan dirinya yang sudah segar seperti biasanya. Bahkan wajahnya kini sudah tidak tampak pucat lagi. Dalam hatinya dia berkata,


Abhiyasa memang luar biasa. Hanya dengan mendengar kabar kepulangannya saja bisa membuatku langsung sembuh.


Diambilnya tas miliknya yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya. Segera dia berjalan keluar kamarnya untuk meminta ijin pulang pada kedua orang tuanya.


"Ma… Pa… Mama sama Papa ada di mana?" seru Hani sambil berjalan mencari keberadaan kedua orang tuanya.


"Ada apa Hani?" tanya mama Hani sambil berjalan cepat menghampiri putrinya.


"Ma, Hani ijin pulang sekarang ya. Hani sudah sembuh kok. Lihat saja, badan Hani sudah tidak lemas lagi kan?" ucap Hani sambil tersenyum lebar pada mamanya.


Dahi mama Hani mengernyit melihat perubahan suasana hati putrinya. Dia meletakkan telapak tangannya pada dahi putrinya seraya berkata,


"Benar kamu sudah sembuh Hani?"


"Iya Ma. Hani sudah sembuh," jawab Hani dengan sangat antusias.


"Kok bisa secepat itu? Apa obat yang kamu minum tadi sangat cepat efeknya?" tanya mama Hani dengan rasa ingin tahunya.


Hani tersenyum lebar dengan memperlihatkan deretan giginya. Kemudian dia menjawab,


"Abhiyasa baru saja menelepon Hani Ma. Dia saat ini sudah dalam perjalanan pulang. Hani ingin segera bertemu dengannya Ma."


Mama Hani tersenyum melihat binar kebahagiaan yang terlihat jelas pada wajah putrinya. Bahkan matanya berkaca-kaca melihat senyuman lebar putrinya yang sangat bahagia itu.


Papa Hani yang melihat dari jauh segera menghampiri putrinya dan berkata,


"Hati-hati di jalan. Jika terjadi hal apa pun, Hani harus menghubungi Mama dan Papa. Atau perlu diantar pulang?"


Hani menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Hani pulang sendiri saja Pa. Hani sudah sembuh dan badan Hani sudah tidak lemah lagi."


"Ya sudah, hati-hati," tutur papa Hani seraya tersenyum dan menguap lembut kepala putrinya.


Hani meraih tangan mamanya untuk mencium punggung tangannya. Setelah itu dia mencium punggung tangan papanya.

__ADS_1


Hani diantar oleh kedua orang tuanya keluar dari rumah hingga teras rumahnya. Mereka melambaikan tangan ketika Hani membunyikan klakson mobilnya saat mobil tersebut akan keluar dari halaman rumah.


Papa Hani menghela nafasnya melihat kepergian putri tercintanya. Mama Hani melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya yang ada di sampingnya seraya berkata,


"Kekuatan cinta sangat besar efeknya ya Pa. Hani yang tadinya sakit dan sangat lemah, seketika sembuh setelah mendengar suara Abhiyasa."


Papa Hani tersenyum mendengar penuturan istrinya. Dia memandang wajah istrinya dan berkata,


"Begitu pula dengan cinta Tuhan pada umatnya. Hani pasti akan bahagia dengan keyakinannya yang baru, karena dia umat yang sangat taat pada agamanya. Papa yakin itu."


...----------------...


Di lain tempat, tepatnya di rumah Umi Halimah, sedang sibuk menyiapkan kebutuhan Hani untuk berpindah keyakinan setelah Hani menghubunginya.


"Abi, sebentar lagi Hani akan datang. Kita harus membimbingnya agar menjadi muslimah yang solehah dan taat pada agama islam," ucap Umi Halimah pada suaminya.


Abi Farhan tersenyum melihat istrinya yang sangat bahagia dan antusias menyiapkan semuanya. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya Umi sangat senang sekali."


"Tentu saja Abi. Umi sudah sangat dekat dengan Hani. Umi sangat senang akhirnya Hani yakin pada keputusannya untuk menjadi mualaf," tukas Umi Halimah disertai senyuman kebahagiaan.


Ternyata Hamzah mendengar semuanya ketika dia berjalan mendekati kedua orang tuanya.


Benar dugaanku. Dia memang beragama lain. Tapi aku salut dengannya. Selama ini dia mencari tahu tentang agama yang diinginkan hatinya. Dan sekarang dia sudah memutuskannya. Apa ini juga artinya aku harus…, Hamzah berkata dalam hatinya sambil tersenyum di akhir kalimatnya.


Terdengar suara salam dari seorang perempuan yang berseru di depan pintu rumah Umi Halimah.


"Wa'alaikumussalam…," jawab semua orang yang ada di dalam rumah.


"Umi…," sapa Hani yang baru masuk ke dalam rumah sambil mencium punggung tangan Umi Halimah.


"Sudah siap?" tanya Umi Halimah seraya tersenyum pada Hani.


"Siap Umi," jawab Hani dengan sangat antusias.


Umi Halimah terkekeh mendengar jawaban Hani. Dia merangkul pundak Hani dan berkata,


"Mari ikut Umi ke dalam."


Mata Umi Halimah dan Hani terkejut ketika mendapati Hamzah berada di dekat pintu. Hamzah pun demikian. Dia merasa kikuk berhadapan dengan uminya dan Hani.


"Kenapa Hamzah berdiri di sini? Keluarlah, sebentar lagi kita akan membantu Hani untuk menjadi mualaf," ucap Umi Halimah pada putranya.


Setelah mengatakan itu, Umi Halimah segera mengajak Hani masuk ke dalam kamar tamu yang sudah dipersiapkannya sejak tadi. Di dalam kamar tersebut Umi Halimah membimbing Hani untuk melakukan mandi besar.

__ADS_1


"Hani, pakailah ini setelah mandi nanti," tutur Umi Halimah sembari memberikan kain berwarna putih pada Hani.


Hani mengerutkan dahinya. Dia mengambil kain tersebut dari tangan Umi Halimah dan berkata,


"Ini apa Umi?"


"Ini gamis. Pakailah. Umi sengaja menyiapkannya untuk Hani. Semoga Hani suka," jawab Umi Halimah sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut Hani.


Hani melihat gamis tersebut dan ditempelkannya di depan cermin besar yang ada di dalam kamar tersebut seraya berkata,


"Wah… bagus sekali Umi. Hani suka sekali Umi. Terima kasih."


Senyuman lebar Hani itu membuat Umi Halimah sangat bahagia. Dia mempersilahkan Hani mandi sesuai dengan yang diajarkannya.


Setelah beberapa saat, Hani keluar dari kamar mandi dan sudah memakai gamis putih pemberian dari Umi Halimah.


"Sini Umi pakaikan hijabnya," ujar Umi Halimah seraya menarik tangan Hani menuju depan cermin.


Umi Halimah memakaikan hijab pada Hani. Kemudian dia memperlihatkan penampilan Hani saat ini di depan cermin seraya berkata,


"Masya Allah… Lihatlah Hani, kamu sangat cantik sekali."


Hani tersenyum malu mendapat pujian dari Umi Halimah. Dia memandangi cermin dan melihat kagum pada penampilannya sendiri.


Benarkah ini aku? Kenapa aku terlihat berbeda sekali? Hani berkata dalam hatinya sambil memandangi dirinya dari cermin tersebut.


"Kamu sangat cantik dan terlihat anggun berpakaian seperti ini," puji Umi Halimah kembali yang melihat Hani dari cermin.


"Umi, jika Hani tidak memakai pakaian seperti ini…," Hani menggantungkan ucapannya karena ragu dengan apa yang akan disampaikannya.


Umi Halimah tersenyum seraya memegang kedua pundak Hani dan berkata,


"Insya Allah Hani pasti bisa nanti. Hani bisa melakukannya bertahap. Asal Hani tahu aturannya. Umi sudah memberitahu bukan?"


"Iya Umi," jawab Hani sambil tersenyum pada Umi Halimah melalui cermin yang ada di hadapannya.


"Ayo kita keluar sekarang. Abi pasti sudah menunggu Hani," ajak Umi Halimah sambil menggandeng Hani keluar dari kamar tersebut.


Sesampainya di ruangan yang sudah disiapkan oleh Umi Halimah dan Abi Farhan, Hamzah menatap kagum pada Hani yang berpenampilan berbeda dari sebelumnya.


Abi Farhan yang duduk di sebelah Hamzah mengetahui akan pandangan mata putranya itu segera berbisik di telinganya,


"Jaga pandangan matamu wahai anak muda."


Abi Farhan menahan senyumnya melihat Hamzah yang malu dan salah tingkah saat itu. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Sudah siap Hani?" 


__ADS_2