
Langkah kaki Abhiyasa dan Hani terasa berbeda kali ini. Mereka yang sedang merasakan jatuh cinta itu, merasa langkah kaki mereka sangat ringan dengan berjalan bersama serta bergandengan tangan memasuki restoran tersebut.
Seperti biasanya, Abhiyasa disambut hangat oleh waiter dan waitress di sana. Bahkan seorang laki-laki yang memakai name tag bertuliskan manajer di jasnya, ikut menyambut Abhiyasa.
Hani sedikit merasa heran dengan perlakuan mereka, tapi segera dienyahkannya perasaannya itu.
Mungkin karena kami adalah tamu acara ini, Hani berkata dalam hatinya.
Semua pasang mata yang ada di dalam restoran itu memandang ke arah Abhiyasa dan Hani. Mereka menatap kagum pada sepasang kekasih itu.
Namun, ada sepasang mata yang menatap kesal pada mereka. Dalam hatinya berkata,
"Kenapa dia ada di sini bersama Abhiyasa?"
"Eh siapa perempuan yang datang bersama dengan Abhiyasa?" tanya salah satu dari mereka.
"Gak tau. Tapi cantik banget ya. Jarang-jarang loh Abhiyasa gandeng perempuan. Pasti perempuan itu pacarnya," jawab yang lainnya.
"Aulia, apa kamu tau siapa perempuan itu?" tanya teman yang lainnya pada Aulia yang sedang menatap kesal pada Abhiyasa.
"Gak. Aku gak tau," jawab Aulia dengan sinisnya.
"Kamu kan lebih dekat dengan Abhiyasa. Kamu sendiri bilang kalau hampir setiap hari kalian selalu ngobrol melalui chat," sahut teman yang lainnya.
Aulia menatap sinis pada mereka. Kemudian dia berkata,
"Kalau aku bilang gak tau ya gak tau!"
Seketika mereka yang ada di dekat Aulia terkejut mendengar perkataan Aulia. Mereka tidak biasa melihat Aulia yang lemah lembut berubah menjadi kesal dan sinis pada mereka.
Mereka saling berbisik membicarakan Aulia. Ada yang mengatakan jika Aulia cemburu dan iri pada perempuan yang sedang digandeng oleh Abhiyasa.
Bahkan mereka mengatakan jika mereka lebih memilih perempuan yang sedang digandeng Abhiyasa daripada Aulia yang ternyata tidak seperti perkiraan mereka.
Image lemah lembut Aulia kini hancur karena sikapnya sendiri. Mereka masih saja membicarakan Aulia yang seolah mempunyai dua sisi. Dan mereka menyebutnya bermuka dua.
Abhiyasa berjalan mendatangi mereka. Dengan senyum menawannya itu, dia menyapa teman-temannya dengan candaan khasnya,
__ADS_1
"Hai semua, maaf kita datangnya terlambat. Tapi perasaan... aku datang tepat waktu. Sepertinya kalian saja yang datang terlalu cepat."
Mereka semua terkekeh mendengar candaan Abhiyasa. Teman mereka satu itu selalu bisa membangkitkan suasana. Sayangnya dia selalu cuek dengan perempuan. Tak terkecuali teman perempuan mereka. Dia hanya menjawab seperlunya saja apabila teman perempuannya bertanya padanya. Begitu pula saat dia harus bertanya atau berbicara dengan teman perempuannya. Dia hanya mengatakan seperlunya saja.
"Abhiyasa… Abhiyasa… Tidak akan ada yang menyalahkan mu meskipun kamu terlambat berjam-jam, karena kamu pemilik tempat ini. Kamu yang menjadi sponsor utama kita sehingga acara ini bisa terselenggara tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun dari kami semua," ujar Anton, teman dekat Abhiyasa yang dulunya menjadi ketua kelas mereka.
Seketika mata Hani terbelalak mendengar bahwa Abhiyasa merupakan pemilik restoran tersebut. Dalam hatinya berkata,
Pantas saja semua orang di tempat ini tunduk padanya. Pantas saja dia hafal tempat ini. Pantas saja waktu itu makanan dan minuman datang ke ruangan kami tanpa ada waiter atau waitress yang mencatat pesanan kami.
"Abhi, jadi restoran ini milikmu?" bisik Hani di telinga Abhiyasa.
Abhiyasa tersenyum mendengar pertanyaan yang dibisikkan Hani padanya. Kemudian dia mendekatkan bibirnya pada telinga Hani untuk membalas berbisik padanya.
"Bukan milikku. Restoran ini milik kakekku yang diberikan padaku."
Aulia bertambah kesal melihat Abhiyasa yang terlihat begitu mesra dengan Hani. Dia iri melihat kedekatan mereka berdua.
Padahal selama ini aku yang selalu mendekatinya, kenapa bisa dia yang lebih dekat dengan Abhiyasa? Aulia bertanya dengan kesal dalam hatinya.
"Honey, duduklah sini," ucap Abhiyasa sambil menarik kursi untuk mempersilahkan Hani duduk di kursi tersebut.
"Terima kasih."
Abhiyasa membalas senyuman Hani dan duduk di sebelahnya.
Pemandangan yang sangat indah itu membuat teman-teman Abhiyasa tersenyum dan menggodanya.
"Apa aku harus cuek pada perempuan seperti Abiyasa ya, agar bisa mendapatkan pacar cantik?" goda Anton sambil tersenyum pada Abhiyasa.
Teman yang lainnya pun menimpalinya. Mereka bersahut-sahutan menggoda Abhiyasa, hingga Hani tersenyum malu-malu menanggapi candaan mereka semua.
"Kata siapa Abhiyasa cuek sama perempuan? Dulu, hampir setiap hari dia menjadi imamku ketika kami shalat bersama. Benar kan Yasa?"
Tiba-tiba Aulia menyela candaan mereka. Suasana yang tadinya ramai, kini menjadi hening. Bahkan Hani terlihat kaget mendengarnya.
Sontak saja Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang ada di sampingnya. Dia menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya dan berkata dalam hatinya,
Apa memang benar ada hubungan di antara mereka berdua?
__ADS_1
Abhiyasa menatap Hani dan tersenyum manis padanya. Dia tau Arti dari tatapan mata kekasihnya itu. Tangannya menggenggam tangan Hani untuk menenangkannya.
"Itu karena kamu selalu menungguku di mushola sekolah dan kamu selalu memintaku untuk sholat bersamamu. Dan kamu tau jika aku tidak akan bisa menolak karena akan dosa nantinya," ujar Abhiyasa yang kini menatap Aulia seolah mempermalukannya.
Seketika semua mata tertuju pada Aulia. Mereka menatap Aulia seolah menertawakannya. Aulia pun tidak mau tinggal diam. Dia menatap Hani dengan kesal saat ini. Sayangnya Hani sedang sibuk dirayu oleh Abhiyasa.
Saat ini Abhiyasa menggoda Hani dengan kejahilannya seperti biasanya. Hal itu membuat Aulia semakin geram. Dia semakin benci pada Hani yang menurutnya menghalangi kedekatan hubungannya bersama Abhiyasa.
Aulia tidak tahan lagi menjadi bahan gunjingan teman-temannya. Dia segera meninggalkan tempat itu dengan dalih untuk pergi ke toilet.
Di dalam toilet, dia sibuk mencari cara agar bisa berbicara berdua dengan Abhiyasa. Seperti rencananya semula, dia ingin menyatakan perasaannya pada Abhiyasa.
Setelah beberapa saat Aulia berada di toilet, tiba-tiba saja dia kaget ketika Hani masuk ke dalam toilet tersebut.
Begitu pula dengan Hani, dia terkejut mendapati Aulia berada di depan wastafel toilet wanita itu.
"Apa kalian benar-benar pacaran?" tanya Aulia pada Hani yang akan masuk ke dalam bilik toilet.
"Maaf, saya rasa Mbak gak perlu tau," jawab Hani singkat.
Mendengar jawaban dari Hani yang seolah mengacuhkannya, sontak saja Aulia membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Hani.
"Apa kamu sadar jika kamu melukai perasaan sesama perempuan?" tanya Aulia kembali dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat mata Aulia yang sedang berkaca-kaca, membuat Hani merasa iba padanya.
"Maksud Mbak apa?" tanya Hani dengan lembut sambil memegang tangan Aulia.
Aulia menatap Hani dengan tatapan mengiba padanya seraya berkata,
"Dari dulu aku sangat mencintai Abhiyasa. Bahkan hingga detik ini rasa cintaku padanya semakin bertambah. Apa salah jika aku meminta kesempatan untuk menjadi pacarnya?"
Deg!
Seketika hati Hani terasa sakit. Dia tidak menyangka jika akan dihadapkan dengan situasi yang seperti saat ini.
"Berilah aku kesempatan untuk berhubungan dengan Abhiyasa. Setelah dalam jangka waktu yang ditentukan, biarlah dia memilih untuk bersamaku atau kembali bersamamu. Aku mohon," pinta Aulia dengan memegang tangan Hani serta menatapnya dengan raut wajah sedihnya dan matanya yang berkaca-kaca.
Tuhan… apa yang harus aku lakukan? Hani bertanya dalam hatinya.
__ADS_1