Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 44 Gundah


__ADS_3

Hani kembali ke rumahnya. Dia menatap rumah Abhiyasa yang masih saja sepi, seperti tidak berpenghuni.


Dia berjalan dengan lemas masuk ke dalam rumahnya. Pandangan matanya menyusuri seisi ruangan rumahnya.


Sepi. Hani merasa sangat kesepian saat ini. Kekasihnya yang selama ini menemaninya, kini hanya beberapa kali saja menghubunginya jika ada waktu.


Tugas Abhiyasa membuat Hani merasa rindu akan kehadiran kekasihnya itu. Dia ingin sekali menghubunginya. Sayangnya dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa menahan kerinduannya itu.


"Kalau begini, aku malah lebih nyaman tinggal di rumah Umi Halimah. Di sana banyak santri, jadi gak sesepi ini. Mungkin jika aku sudah menikah tidak akan kesepian seperti ini," ucap Hani disertai helaan nafasnya yang sangat menyesakkan dadanya.


Setelah dia membersihkan badannya. Dia malas beranjak ke mana pun. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah dua hari tidak ditempatinya.


Namun, matanya tertuju pada tumpukan buku-buku yang dibelinya waktu itu. Masih ada beberapa buku yang belum dibacanya. 


Diambilnya buku tersebut dan dibacanya dengan perlahan. Fokus untuk mencerna setiap kata yang tertera pada tiap halaman buku tersebut.


"Dari pada aku merasa semakin rindu pada Abhi, mendingan aku baca aja buku-buku ini," ucap Hani sambil membuka buku-buku tersebut untuk mencari buku mana yang akan dibaca selanjutnya.


Benar saja, Hani tidak merasa kesepian dan memikirkan kerinduannya lagi pada Abhiyasa ketika dia fokus pada buku yang sedang dibacanya.


Dan hal yang sama pun berulang kembali. Hani membaca buku-buku tersebut hingga tidak terasa dia tertidur dengan ditemani buku yang masih terbuka.


Kriiiiiing!!!


Terdengar suara alarm yang sangat nyaring dari jam bekernya. Tangan Hani terulur untuk menggapai jam beker tersebut dan mematikannya.


"Mmm… jam berapa sih?" tanya Hani dengan suara malasnya dan matanya masih saja terpejam.


Mata Hani perlahan terbuka, dia mengerjap-ngerjap melihat jarum jam pada jam beker yang ada di tangannya.


Seketika dia bangun dari tidurnya. Dia mengusap-usap matanya dan memperlebar matanya agar bisa melihat dengan jelas angka yang ditunjuk oleh jarum jam tersebut.


"Hah, jam segini?! Gawat! Aku bisa telat!" seru Hani dengan mata yang terbelalak melihat jam beker yang ada di tangannya.


Dilemparkannya jam beker tersebut di atas tempat tidurnya. Dengan segera Hani masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan badannya dalam waktu yang tergolong cepat baginya.


Setelah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, Hani segera duduk di depan cermin untuk mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


Setelah rambut panjangnya itu dikeringkan dengan menggunakan hairdryer, Hani segera memoles wajahnya dengan make up seperti biasanya ketika dia berangkat bekerja.


"Anting sudah, make up sudah. Apa lagi ya? Ah sudahlah, aku akan berangkat sekarang agar tidak terjebak macet," ucap Hani sambil melihat penampilannya di depan cermin.


Setelah mengunci pintunya, dia segera masuk ke dalam mobilnya. Tapi entah mengapa matanya tertuju pada rumah Abhiyasa.


Rumah itu terlihat sangat sepi dan memperlihatkan kerinduan pada pemiliknya. 


"Abhi… kapan kamu pulang? Aku sangat rindu padamu," ucap Hani lirih sambil memandang rumah Abhiyasa dengan tatapan kerinduan.


"Ah gawat, aku harus cepat berangkat sekarang," sambung Hani sambil memakai sabuk pengamannya.


Dengan cepatnya mobil Hani meninggalkan halaman rumahnya. Benar saja, sekarang ini dia sedang terjebak oleh keruwetan lalu lintas pagi. 


Setelah beberapa saat, Hani bisa terbebas dari kemacetan. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tidak terlambat datang ke kantornya.


"Aman…," ucap Hani sambil tersenyum lebar duduk di kursi kerjanya.


Dia mengambil ponsel dalam tasnya untuk diletakkan di atas meja agar dia bisa cepat mengangkat telepon Abhiyasa ketika kekasihnya itu menghubunginya.


"Abhi… kenapa kamu meneleponku di saat aku tidur?" tanya Hani dengan ekspresi sedihnya ketika mengetahui waktu telepon Abhiyasa.


"Ini salahku, kenapa aku harus tertidur? Seharusnya aku tetap terjaga karena Abhiyasa tidak bisa kapan saja menghubungiku. Aku yang harus menunggunya. Bodohnya aku…," keluh Hani pada dirinya sendiri.


Dia hendak menghubungi Abhiyasa kembali, tapi segera diurungkannya niatnya tersebut. Perkataan Abhiyasa yang mengatakan padanya tidak bisa menghubunginya setiap saat membuatnya sadar jika dia harus menahan kembali kerinduannya itu.


Hani meletakkan ponselnya di atas mejanya. Dia menatap nanar ponsel tersebut seolah tidak terima jika panggilan telepon Abhiyasa dilewatkannya begitu saja.


Helaan nafas Hani terdengar sangat menyedihkan. Dia pun berkata,


"Sudahlah Hani, tahan dulu rindumu. Lebih baik sekarang kerjakan semua pekerjaan ini. Harus tetap fokus agar semua pekerjaan ini bisa cepat selesai,"


Hani pun segera mengerjakan pekerjaannya. Dia berusaha dengan keras agar bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik.


Usaha kerasnya untuk fokus pada pekerjaannya berhasil. Di jam istirahat makan siangnya ini, Hani keluar ruangannya dengan tepat waktu.


"Ternyata Abhi sangat berpengaruh padaku dan pekerjaanku," ucap Hani sambil tersenyum ketika beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Hani melihat teman yang lainnya sudah tidak ada di tempatnya. Dengan langkah enggannya dia berjalan menuju kantin dekat kantornya.


"Padahal aku ingin makan di cafe seberang jalan. Kenapa mereka semua tidak menungguku?" gerutu Hani mengiringi langkahnya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan mushola yang ada di sebelah kantin tersebut. Hani memperhatikan mereka yang sedang melaksanakan sholat di mushola itu.


"Kenapa hatiku merasa aneh? Apa artinya ini?" ucap Hani lirih yang masih menatap ke arah mushola tersebut.


Hani masih saja berdiri di depan mushola tersebut sambil memperhatikan semua gerakan mereka. 


Setelah orang-orang yang diperhatikan itu selesai melakukan ibadah mereka, Hani segera berjalan menuju kantin.


"Hani!" seru teman-teman Hani sambil melambaikan tangannya pada Hani agar bergabung bersama dengan mereka.


Hani pun segera menghampiri mereka. Dia memesan makanannya dan larut dalam obrolan mereka semua.


"Kenapa kalian semua meninggalkanku?" tanya Hani pada mereka semua seolah tidak terima karena ditinggal oleh teman-temannya.


"Ya maaf Hani. Kami kira kamu akan pergi makan siang bersama polisi ganteng itu. Kita gak mau mengganggu kalian berdua. Yang ada kita malah iri nanti melihat keromantisan kalian berdua," jawab Lia setelah menelan makanannya.


Perkataan Lia kembali mengingatkan Hani akan kekasihnya. Tiba-tiba Hani terdiam. Rasa rindu itu kembali dirasanya. 


Lia menatap heran pada Hani yang tiba-tiba saja terlihat sedih. Dia memegang tangan Hani dan berkata,


"Kenapa Hani, kalian tidak putus kan?" 


Dengan cepatnya Hani menghempaskan tangan Lia seraya berkata dengan tegas,


"Enak saja. Dan itu gak akan terjadi. Jadi urungkan saja niatmu untuk mendapatkannya."


Semua teman kerja mereka berdua yang berada satu meja dengan mereka tertawa mendengar ucapan Hani. Mereka saling bercanda untuk menghibur Lia yang berpura-pura sedang patah hati mendengar perkataan Hani padanya.


Sepulang dari bekerja, Hani berhenti di suatu tempat yang tiba-tiba menarik perhatiannya.


Dia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan segera menghubungi nomor ponsel seseorang.


"Umi, Hani sudah memutuskan."

__ADS_1


__ADS_2