Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 29 Perkenalan


__ADS_3

Hani tidak mendengarkan Abhiyasa yang melarangnya untuk berteriak di dalam rumah memanggil mama dan papanya.


Dia tidak bisa menahan kerinduannya pada kedua orang tuanya yang sudah beberapa minggu tidak ditemuinya.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah yang berjalan mendekat ke arah Hani dan Abhiyasa yang sedang berada di ruang tamu.


"Hani, siapa laki-laki ini?" 


Terdengar suara laki-laki paruh baya yang mengalihkan perhatian Hani dan Abhiyasa yang masih berdiri di ruang tamu.


Sontak saja mereka berdua menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seketika bibir Hani melengkung ke atas dan dia berhambur memeluk laki-laki paruh baya itu.


"Papa…!" seru Hani sambil memeluk tubuh papanya.


"Mam...!" seru Hani sambil berganti memeluk tubuh mamanya yang asa di sebelah papanya.


"Hani, kamu ini baru pulang langsung bikin ramai seisi rumah. Dari mana saja tidak pernah menjenguk Mama dan Papa?" tanya papa Hani sambil mengusap lembut rambut putrinya.


"Rencananya Mama dan Papa akan menjenguk mu besok jika kamu tidak ke sini hari ini. Ternyata kamu lebih dulu datang kemari," sahut mama Hani sambil tersenyum dan mencubit pipi Hani.


Hani mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesakitan karena cubitan di pipinya dari mamanya.


"Kan Hani sudah bilang sama Mama dan Papa. Hani sibuk habis pindahan. Mama sama Papa juga katanya mau ke sana, lihat rumah Hani yang baru. Sampai sekarang juga gak ke sana," ucap Hani yang berpura-pura kesal pada kedua orang tuanya.


Mama dan papa Hani tidak menjawab. Mereka hanya tertawa menanggapi putrinya yang sedang kesal.


Abhiyasa pun tersenyum melihat keharmonisan keluarga Hani. Dalam hati dia berkata,


Pantas saja Hani sangat ceria dan sikapnya sangat hangat. Ternyata keluarganya sangat harmonis dan hangat.


Pandangan mata Abhiyasa tertuju pada sebuah foto keluarga yang terpajang dengan indahnya di tembok ruang tamu tersebut.


Tampak dalam foto tersebut papa Hani sedang memakai baju kebesarannya bersama dengan Hani dan mamanya di depan tempat ibadah mereka.


Seketika kaki Abhiyasa terasa lemas. Dia merasa jika nantinya akan lebih sulit lagi untuk kelanjutan hubungan mereka.

__ADS_1


Bagaimana ini? Aku sangat mencintai Hani. Dan aku yakin jika Hani juga mempunyai rasa yang sama padaku. Ya Allah… tolong bantu kami. Persatukan kami dalam ikatan pernikahan yang engkau kehendaki, Abhiyasa berdoa dalam hatinya.


"Hani, siapa laki-laki ini? Apa dia pacarmu?" tanya papa Hani yang tidak lagi sungkan menyebut kata pacar untuk mempertanyakan hubungan mereka.


Sontak saja Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang ada di belakangnya. Dia segera berjalan menghampiri Abhiyasa dan menarik tangannya.


"Pa, Ma, kenalkan, ini Abhiyasa," ucap Hani sambil tersenyum memperkenalkan Abhiyasa di hadapan kedua orang tuanya.


Abhiyasa mengulurkan tangannya pada papa Hani. Dan dia mencium punggung tangan papa Hani setelah beliau menjabat tangannya.


Hal yang sama pun dilakukan Abhiyasa pada mama Hani. Terlihat jelas senyuman bahagia dari kedua orang tua Hani. Mereka berdua senang melihat kesopanan yang dimiliki oleh Abhiyasa.


Setelah itu mereka mengobrol sambil menikmati kue dan teh di ruang tamu tersebut.


Obrolan mereka sangat nyaman dan begitu hangat hingga Abhiyasa tidak lagi gugup berhadapan dengan mereka.


Namun, kedua orang tua Hani belum mengetahui perihal perbedaan keyakinan antara Hani dan Abhiyasa. Mereka hanya menyambut hangat Abhiyasa sebagai pacar putri mereka.


Hari sudah semakin sore. Hani mengajak Abhiyasa pulang dengan membawa sepedanya menggunakan mobil pick up yang dibawa oleh Abhiyasa.


"Sepedamu masih sangat bagus dan terawat Honey. Apa kamu selalu merawatnya?" tanya Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.


"Papaku yang merawat sepedaku ketika aku tidak ada di rumah. Karena Papa tau jika sepeda itu satu-satunya benda kesayanganku yang ada di rumah. Mungkin Papa melepaskan kerinduannya padaku dengan cara merawat sepedaku," jawab Hani sambil tersenyum lebar pada Abhiyasa.


Abhiyasa tersenyum mendengar cerita Hani. Sekarang dia bertambah yakin jika Hani dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang hangat. Dan kini dia juga bertambah yakin jika Hani akan menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik serta hangat dalam keluarga mereka kelak.


Tangan kiri Abhiyasa memegang tangan Hani. Dia menggenggam dengan erat tangan kekasihnya itu seolah takut akan kehilangannya.


Hani menatap ke arah Abhiyasa yang sedang mengemudikan mobil sambil memegang tangannya. Dia merasakan cinta dari tangan kekasihnya itu.


Sore hingga malam hari itu pun dihabiskan oleh mereka dengan berjalan-jalan di taman yang dipadati oleh para remaja yang berpasangan.


...----------------...


Keesokan harinya, mereka berdua sudah bersiap untuk bersepeda bersama. Abhiyasa benar-benar menjaga Hani. Dia tidak membiarkan Hani lepas dari jangkauannya.

__ADS_1


Bahkan ke mana pun Hani pergi, dia selalu menyertainya, layaknya pengawal yang selalu siap melindunginya.


Kini mereka sedang duduk di taman kota. Mereka sedang beristirahat dan menikmati suasana minggu di taman tersebut.


"Honey, jangan lupa nanti sore kita ke rumah orang tuaku ya," ucap Abhiyasa setelah meneguk minumannya.


Hani menoleh pada Abhiyasa. Dari matanya tersirat kekhawatiran yang mendalam. Dia benar-benar takut jika keluarga Abhiyasa tidak bisa menerima hubungan mereka seperti yang dikatakan oleh Aulia.


Merasa Hani sedang menatapnya, Abhiyasa menoleh ke arah Hani yang sedang duduk di sampingnya. Dia tersenyum dan berkata,


"Aku tau apa yang kamu pikirkan. Dan aku harap kamu buang jauh-jauh pikiran itu."


Hani pun mengangguk setuju. Dia tersenyum untuk meyakinkan Abhiyasa jika dia sudah tidak memikirkan hal itu lagi.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Abhiyasa. Dengan segera dia mengambil ponsel dari sakunya. 


"Ibu?" celetuk Abhiyasa ketika melihat nama mamanya pada layar ponselnya sebagai penelepon.


Seketika wajah Hani menegang ketika mendengar Abhiyasa menyebut nama ibunya ketika melihat nama di layar ponselnya.


Yasa, cepat pulang ke rumah. Kondisi Nenek tiba-tiba drop. Nenek menyuruhmu untuk cepat datang ke rumah, suara ibu Abhiyasa terdengar panik di telinganya.


Seketika Abhiyasa mematikan ponselnya. Dia panik dan menarik tangan Hani untuk segera ikut dengannya.


Jelas saja Abhiyasa sangat panik. Belum juga dia menyapa ibunya pada saat mengangkat teleponnya, ibunya itu sudah mengatakan dengan suara paniknya mengabarkan kondisi neneknya saat ini.


Hani yang tidak tahu apa-apa ikut merasa panik mengikuti Abhiyasa mengayuh sepedanya dengan sangat cepat, hingga Hani merasa sangat kelelahan mengikuti Abhiyasa yang sudah berada jauh di depannya.


"Abhi… tunggu!" teriak Hani dengan sekuat tenaganya yang sudah ngos-ngosan seolah kehabisan tenaga.


Abhiyasa seakan lupa jika dia sedang bersama dengan Hani. Pikirannya hanya tertuju pada keadaan neneknya. Hingga dia tidak mendengar suara Hani yang sedang berteriak memanggilnya.


"Abhi… tunggu!"


Braaak….

__ADS_1


 


__ADS_2