
"Honey, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Abhiyasa dengan mengalihkan pandangan matanya ke arah lain meskipun wajahnya di tahan oleh Hani agar menghadap kepadanya.
"Meminta sesuatu? Minta apa?" tanya Hani dengan serius pada Abhiyasa.
Abhiyasa melepaskan kedua tangan Hani yang berada di kedua pipinya. Kemudian dia menatap intens manik mata Hani dan berkata,
"Honey, kamu sangat cantik. Aku saja sangat tergoda oleh wajah dan tubuhmu ini. Aku mohon agar kamu jangan berpakaian seperti ini di hadapan orang lain, kecuali suamimu. Aku tidak mau tubuhmu yang bagus dan mulus ini dilihat oleh orang lain. Aku mencintaimu, karena itulah aku ingin menjagamu."
"Berarti tidak boleh juga berpakaian seperti ini di hadapan kamu?" tanya Hani sambil memicingkan matanya menatap Abhiyasa.
"Iya, karena aku belum menjadi suamimu. Aku takut khilaf, maka dari itu lebih baik kamu jangan berpakaian seperti ini di hadapanku," jawab Abhiyasa yang pandangan matanya mengelilingi ruangan tersebut.
Hani mundur satu langkah. Dia menatap Abhiyasa sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Kemudian dia berkata,
"Bukannya sebagai polisi kamu sudah terbiasa melihat perempuan berpakaian seperti ini di mana-mana?"
Abhiyasa mengalihkan pandangannya pada Hani yang juga sedang menatapnya. Dia menatap intens manik mata Hani seraya berkata,
"Memang banyak perempuan di luaran sana yang memakai pakaian terbuka dan minim. Tapi anehnya aku gak pernah tergoda pada mereka. Entah mengapa, sejak pertama kali kita bertemu, aku tergoda ketika melihatmu. Bahkan aku takut khilaf saat itu. Karena itulah aku memberikan jaketku padamu, agar kamu pakai untuk menutupi tubuhmu saat itu."
Ada rasa haru dan bahagia dalam hati Hani saat ini. Dia sangat bersyukur memiliki Abhiyasa sebagai pacarnya. Dalam hati kecilnya, dia berdoa agar hubungan mereka bisa terjalin hingga resmi menjadi pasangan suami istri.
"Apa kamu bersungguh-sungguh?" tanya Hani yang berniat menggoda Abhiyasa.
"Apa kamu meragukanku?" tanya Abhiyasa kembali tanpa menjawab pertanyaan Hani.
Hani merasa Abhiyasa bisa mengalahkannya. Dia kembali duduk di kursinya dan berkata,
"Ayo kita sarapan."
Abhiyasa tersenyum melihat tingkah kekasih hatinya. Dia pun duduk kembali di kursi yang ada di hadapan Hani dan berkata,
"Honey, apa kamu tidak akan memakai kaos?"
Hani melihat ke arah dadanya. Dia tersenyum dan beranjak dari duduknya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kaos.
Setelah beberapa saat, Hani kembali dengan memakai kaos oversize warna putih dan dia sudah tidak lagi memakai handuk di kepalanya.
Abhiyasa tersenyum melihat penampilan Hani saat ini. Baginya Hani tetap cantik dan menarik memakai baju apa pun.
Mereka berdua makan dengan diselingi candaan dari mereka berdua. Hingga tidak terasa semua makanan itu habis dan tidak tersisa.
"Biar aku saja yang membereskan. Lebih baik kamu bersiap-siap untuk berangkat kerja," tutur Abhiyasa sambil membereskan bekas makanan mereka.
"Aku mengambil cuti Abhi. Aku pikir badanku masih lemas, ternyata aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya," ucap Hani sambil terkekeh.
__ADS_1
Abhiyasa menatap Hani dengan mata yang berbinar. Kemudian dia berkata,
"Kebetulan sekali, aku juga mengambil cuti untuk menghadiri acara reuni nanti. Apa kamu mau ikut datang ke acara reuni SMA ku?"
"Apa boleh?" tanya Hani dengan antusias.
Abhiyasa menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Tentu saja boleh. Aku pasti akan senang sekali jika kamu mau datang bersamaku. Rencanaku tadi jika kamu tidak bisa datang bersamaku, aku juga tidak akan datang ke sana. Aku akan menemanimu di rumah untuk beristirahat."
"Ah Abhi so sweet banget sih," ucap Hani sambil bergerak maju mendekati Abhiyasa dan mencubit kedua pipinya menggunakan kedua tangannya.
"Honey, apa kamu sedang balas dendam padaku?" tanya Abhiyasa yang pipinya masih dijadikan mainan oleh tangan Hani.
Hani tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya untuk membenarkan perkataan Abhiyasa.
"Apa sudah cukup?" tanya Abhiyasa pada Hani.
Dengan cepatnya Hani menggelengkan kepalanya. Dia tertawa melihat bibir Abhiyasa yang kali ini mirip seperti bibir ikan ketika tangan Hani menekan kedua pipinya.
"Honey, apa kamu mau dicium?" tanya Abhiyasa yang bermaksud mengancam Hani.
Seketika tawa Hani reda. Bahkan kedua tangan Hani sudah terlepas dari kedua pipi Abhiyasa.
Setelah itu mereka mengobrol dan saling bertukar cerita. Mereka berdua berusaha saling mengenal lebih dekat dan mengetahui tentang pasangan mereka.
Hingga tak terasa waktu pun berlalu. Mereka berpisah untuk bersiap-siap menghadiri acara reuni SMA Abhiyasa.
Abhiyasa tersenyum melihat dirinya sendiri di depan cermin. Dia melihat penampilannya dari sisi kanan, kiri dan depan melalui cermin besar tersebut.
"Seperti biasa, perfect!" kalimat yang selalu diucapkan oleh Abhiyasa ketika sedang bercermin.
Setelah dia puas dengan penampilannya, Abhiyasa keluar dari rumahnya dan segera menjemput Hani di rumahnya.
"Enaknya punya pacar tetangga sebelah rumah tuh gini, ngirit ongkos kalau ngapel," gumam Abhiyasa sambil terkekeh.
Baru saja Abhiyasa akan mengetuk pintu, tiba-tiba pintu rumah Hani terbuka. Abhiyasa tercengang melihat penampilan Hani yang sangat sempurna.
Pandangan mata Abhiyasa tidak bisa dialihkan. Dia terpanah melihat sosok gadis yang ada di hadapannya.
Hani memakai dress selutut yang terlihat sangat cantik dan elegan. Apalagi dress tersebut berwarna hitam, kontras sekali dengan kulit Hani yang putih bersih. Dipadu dengan high heels sebagai penunjang penampilannya.
Rambut hitam Hani yang terurai dengan kesan ikal di ujungnya menambah kesan manis tersendiri. Apalagi dengan wajah Hani yang cantik itu memakai riasan yang natural, sehingga tidak menghilangkan kesan cantik alami pada wajahnya.
"Abhi! Abhi, kamu kenapa?" tanya Hani sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan tepat di depan wajah Abhiyasa.
__ADS_1
"Seperti biasa, perfect!" celetuk Abhiyasa seolah mengomentari penampilan Hani.
"Apanya?" tanya Hani dengan memperlihatkan wajah herannya.
"Kamu. Perfect!" jawab Abhiyasa sambil mengacungkan jempolnya pada Hani.
Hani terkekeh melihat tingkah Abhiyasa yang menurutnya lucu. Dia benar-benar terhibur dengan adanya Abhiyasa yang kini selalu ada pada hari-harinya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Hani sambil melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
Abhiyasa mengangguk dan menarik tangan Hani seraya berkata,
"Yuk berangkat."
Abhiyasa membawa Hani ke rumahnya. Dia membuka garasi rumahnya untuk mengambil kendaraan yang akan dipakainya bersama dengan Hani.
"Hani, kamu mau naik apa? Motor apa mobil? Tapi aku kira sebaiknya kita naik mobil saja, karena kamu memakai dress saat ini," ucap Abhiyasa setelah membawa Hani masuk ke dalam garasinya.
Hani memandang takjub pada isi garasi tersebut. Dia tidak mengira jika Abhiyasa mempunyai berbagai macam jenis kendaraan. Yang dia tahu hanyalah motor sport biasanya dipakai oleh Abhiyasa.
"Wah… kamu punya sepeda juga Abhi? Kapan-kapan kita bersepeda bareng ya. Dulu, sebelum aku pindah, setiap minggu aku selalu menyempatkan diri untuk bersepeda," tukas Hani sambil melihat-lihat sepeda milik Abhiyasa yang ada di garasi tersebut.
"Boleh. Kita atur saja waktunya. Masuklah, kita berangkat sekarang," ujar Abhiyasa sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah Hani masuk ke dalam mobilnya, Abhiyasa mengemudikan mobilnya keluar dari garasi rumahnya.
Pintu garasi dan pagar halaman rumah Abhiyasa menutup dengan sendirinya setelah mereka keluar dari tempat itu.
Di dalam mobil Abhiyasa, kini dia tidak merasa kesepian. Biasanya dia lebih menyukai memakai motor karena merasa sepi jika menaiki mobil tanpa ada yang duduk di sebelahnya. Kini sudah ada pemilik kursi itu yang selalu menemaninya, sehingga dia tidak akan kesepian lagi di dalam mobil itu.
Setelah beberapa saat, mereka sudah sampai di sebuah restoran yang tidak asing bagi Hani.
"Bukannya ini restoran yang kita datangi waktu itu Abhi?" tanya Hani pada Abhiyasa sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Abhiyasa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia keluar dari mobilnya terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Hani.
"Silahkan Honey," ucap Abhiyasa sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hani keluar dari mobil tersebut.
Hani menyambut uluran tangan Abhiyasa. Kemudian tangannya melingkar pada lengan Abhiyasa ketika mereka berjalan memasuki restoran tersebut.
Semua pasang mata melihat ke arah Abhiyasa yang menggandeng perempuan cantik ke dalam restoran tersebut.
"Kenapa dia ada di sini bersama Abhiyasa?"
__ADS_1