Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 30 Malu


__ADS_3

Seketika Abhiyasa menoleh ke belakang. Dia baru teringat jika sedang bersama dengan Hani.


"Hani!" teriak Abhiyasa dengan kagetnya setelah mendengar suara Hani yang berteriak memanggilnya disertai suara benda yang tertabrak.


Matanya terbelalak ketika tidak melihat Hani di sekitarnya. Tapi pandangan matanya tertuju pada kumpulan orang-orang yang sedang mengerumuni sesuatu.


Dengan segera Abhiyasa berlari menuju kerumunan orang-orang tersebut. Dipinggirkannya satu demi satu orang yang berkerumun di sana untuk bisa melihat apa yang sedang mereka kerumuni.


"Hani!" seru Abhiyasa ketika melihat Hani sudah terduduk di trotoar dengan luka memar di tangan dan lututnya.


Sepeda Hani menabrak trotoar dan dia jatuh tersungkur di trotoar tersebut. Sedangkan sepeda yang dinaiki Hani bentuknya sudah tidak sama lagi. 


Dengan cepatnya Abhiyasa berada di sisi Hani dan berkata,


"Honey kamu kenapa? Apa ada yang terluka?" 


Terdengar omongan dari orang-orang yang berkerumun di sana. Sekilas Abhiyasa mendengar ada yang menyalahkannya karena meninggalkan Hani jauh berada di belakangnya.


Ada juga yang menyalahkan Hani karena tidak berhati-hati dalam bersepeda. Sehingga Hani merusak beberapa tanaman yang ada di trotoar. Sedangkan sepeda Hani menabrak pohon yang ada di trotoar tersebut.


Hani hanya diam dan menatap Abhiyasa dengan mata yang berkaca-kaca. Seketika Abhiyasa sadar jika dia telah membuat hati kekasihnya menjadi sedih.


"Maafkan aku Honey," ucap Abhiyasa dengan penuh penyesalan.


Setelah itu Abhiyasa segera menghubungi taksi agar segera datang ke lokasi tersebut. Dia juga menghubungi pihak restorannya agar datang ke lokasi tersebut untuk mengambil sepeda miliknya dan milik Hani yang dititipkan di warung di sekitar lokasi tersebut.


"Cepat datang ke lokasi yang sudah saya kirimkan dan bawa dua sepeda yang ada di warung itu ke rumah saya," perintah Abhiyasa melalui telepon pada pihak restoran yang sedang dihubunginya.


Hanya beberapa saat saja taksi yang dipesannya sudah datang. Dengan segera Abhiyasa menggendong Hani masuk ke dalam taksi tersebut.


Sedari tadi Hani hanya diam saja. Dia tidak mengatakan apa pun meskipun Abhiyasa berkali-kali mengatakan permintaan maafnya padanya.


"Honey, maafkan aku. Tadi aku terlalu cemas dengan keadaan Nenek. Jadi aku–"


"Sakit…," rengek Hani dengan matanya yang berkaca-kaca menyela ucapan Abhiyasa.


Seketika Abhiyasa panik dan melihat semua luka di tubuh Hani seraya berkata,


"Apanya yang sakit Honey?"


Hani hanya menatap Abhiyasa dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hatinya berkata,


Aku hanya pura-pura Abhi, agar kamu tidak menyalahkan dirimu sendiri.


"Honey, yang mana yang sakit?" tanya Abhiyasa kembali.

__ADS_1


Tiba-tiba Hani tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya seraya berkata,


"Aku cuma pura-pura Abhi."


Seketika Abhiyasa mencubit gemas hidung Hani dan berkata,


"Nakal kamu ya."


"Aku kan malu sama semua orang," ucap Hani sambil mengerucutkan bibirnya.


Abhiyasa terkekeh mendengar perkataan kekasihnya itu. Dia mengacak-acak rambut Hani seraya berkata,


"Maafkan aku ya Honey."


Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Bagaimana dengan sepedaku Abhi?" 


"Kamu tenang saja. Nanti aku bawa ke bengkel yang biasanya aku datangi," jawab Abhiyasa sambil tersenyum menenangkan Hani.


Tiba-tiba taksi pun berhenti. Hani menatap sekelilingnya. Terlihat jelas bahwa dia sedang bingung saat ini.


"Terima kasih Pak," ucap Abhiyasa sambil memberikan uang untuk ongkos taksinya.


"Abhi, kita di mana?" tanya Hani dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Kita ke rumah orang tuaku. Nenek sudah menunggu kita."


"A-apa? Abhi, aku… penampilanku…," ucap Hani dengan gugup.


Namun, seketika ucapan Hani tidak bisa dilanjutkannya. Kini tubuhnya sudah melayang digendong oleh Abhiyasa.


"Abhi, aku malu. Turunkan aku. Apa kata orang tuamu nanti?" Rengek Hani pada Abhiyasa yang sedang menggendongnya sambil berjalan ke arah pintu rumahnya.


"Diam Honey atau aku cium nanti," ancam Abhiyasa sambil tersenyum tipis dan terus berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Seketika Hani mengatupkan bibirnya. Dia hanya diam dan menuruti perintah Abhiyasa. Dalam hatinya berkata,


Bagaimana ini? Tuhan… aku benar-benar malu. Apa kata keluarganya nanti? Abhi… apa benar kamu ingin memperjuangkan aku sebagai pasanganmu? Bukannya dengan begini keluargamu akan menilai buruk tentang aku?


"Assalamualaikum…," seru Abhiyasa ketika masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikumussalam…."


Terdengar suara salam dari dalam rumah tersebut. 

__ADS_1


Tanpa menunggu mereka keluar dari dalam rumah, Abhiyasa tanpa ragu berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan menggendong Hani ala bridal style.


"Abhi?! Kamu sudah dat–"


"Eh ini siapa? Hani?" tanya ibu Abhiyasa berturut-turut dengan wajah bingungnya menatap Abhiyasa dan Hani secara bergantian.


Abhiyasa menurunkan Hani dengan sangat hati-hati dan berkata,


"Perkenalkan Bu, ini Hani, pacar Abhiyasa. Cantik kan?" 


Seketika rona merah menghiasi wajah Hani. Dia tersipu malu mendengar pujian Abhiyasa padanya.


Ibu Abhiyasa tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Hani seraya berkata,


"Cantik sekali calon mantu ibu."


Perkataan ibu Abhiyasa itu sukses menambah rona di wajah Hani, hingga Hani tidak bisa berkata-kata.


"Jelas cantik dong, pacarnya Abhiyasa…," sahut Abhiyasa dengan bangganya.


Ibu Abhiyasa tertawa mendengar perkataan putranya. Tangannya merangkul pundak Hani dan memeluknya seraya berkata,


"Selamat datang di keluarga kami Hani. Jangan takut dan jangan sungkan pada kami. Anggap saja kami seperti keluargamu sendiri."


Mata Hani kembali berkaca-kaca. Ucapan ibu Abhiyasa itu membuatnya terharu. Dia tidak menyangka jika sambutan ibu kekasihnya yang berbeda keyakinan dengannya itu bisa sehangat mamanya sendiri.


"Terima kasih Bu. Hani sangat senang sekali," ucap Hani dengan suara yang tercekat.


Ibu Abhiyasa mengurai pelukannya. Dia menatap lembut wajah Hani dan tersenyum manis sambil tangannya mengusap lembut rambut Hani.


Tanpa sadar air mata Hani menetes. Dan itu membuat ibu Abhiyasa bingung. 


"Kenapa Hani menangis?" tanya ibu Abhiyasa seraya mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Abhiyasa.


Sontak saja Abhiyasa mendekati Hani. Tangannya terulur akan mengusap air mata kekasihnya itu, sayangnya tangan ibunya terlebih dahulu mengusapnya, sehingga tangan Abhiyasa hanya bisa mengusap lembut pundak Hani dengan penuh kasih sayang.


"Hani bahagia Bu," ucap Hani dengan suara yang bergetar dan air matanya yang kembali menetes di pipinya.


Ibu Abhiyasa mengerti maksud dari perkataan Hani. Dia tersenyum dan kembali memeluk Hani untuk menenangkannya.


"Sudah, jangan menangis lagi," ucap ibu Abhiyasa sambil mengusap-usap dengan lembut punggung Hani.


"Dari tadi Ibu terus yang meluk, giliran aku kapan?" tanya Abhiyasa yang terdengar iri pada ibunya.


Setelah itu ibu Abhiyasa mengurai pelukannya dan menatap wajah Hani dengan senyuman yang mampu menenangkan hati Hani.

__ADS_1


Tiba-tiba ibu Abhiyasa teringat sesuatu. Dia menatap Hani dari atas hingga bawah. Kemudian dia berkata,


"Lalu kenapa Hani digendong sama kamu Abhi?" 


__ADS_2