Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 9 Makan siang spesial


__ADS_3

Entahlah apa yang ada dipikiran Hani saat ini. Dia ingin sekali diantarkan oleh Abhiyasa, tapi dia merasa tidak pantas dan juga dia sangat malu mendapatkan perhatian yang berlebihan dari Abhiyasa.


Dia melirik pada kaca spion mobilnya, berharap ada Abhiyasa yang benar-benar mengawalnya.


"Apa dia mengikuti ku?" gumam Hani sambil melihat kaca spionnya.


Dia menghela nafasnya, terlihat sekali dia sedang kecewa ketika tidak mendapati Abhiyasa di belakang mobilnya.


Namun, beberapa detik kemudian bibirnya melengkung ke atas ketika sosok yang dikenalnya itu berada di sampingnya sambil mengegas motornya.


Tidak bisa dipungkiri jika Hani sangat senang melihat Abhiyasa yang benar-benar mengawalnya. Senyuman kebahagiaannya itu tidak bisa disembunyikan lagi. 


Dia melajukan mobilnya dengan riang hati menuju kantornya. Sesampainya di kantornya, Hani memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan segera keluar dari mobilnya sambil membawa tasnya.


Dia melihat ke arah Abhiyasa yang berhenti tidak jauh darinya. Abhiyasa masih dalam posisi siap untuk melajukan motornya, dia pun melihat ke arah Hani.


Hani melambaikan tangannya pada Abhiyasa seraya mengucapkan kata terima kasih dengan jelas tanpa bersuara padanya.


Abhiyasa tersenyum dari dalam helm full face yang menutupi seluruh wajahnya seraya mengacungkan jempolnya pada Hani sebagai jawaban dari ucapan terima kasihnya.


Dia pun melajukan motor sport nya setelah mendapatkan anggukan disertai senyuman dari Hani.


Mereka berdua mengawali hari dengan sangat manis, berharap hari-harinya akan indah dengan hubungan pertemanan serta tetanggaan mereka.


Jam makan siang akan segera berlalu. Tapi Hani masih saja sibuk dengan pekerjaannya di dalam kantornya. Dia tidak lagi menjadi customer service karena pada saat itu dia hanya menggantikan seorang customer service yang sedang sakit. Kini dia kembali pada pekerjaannya sendiri.


"Huuufffttt… lelah sekali. Mana perut juga laper banget lagi," gumam Hani sambil meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara bergantian.


Kemudian matanya tertuju pada beberapa map yang masih harus dikerjakannya.


"Kenapa masih banyak yang harus aku kerjakan? Kapan selesainya? Hayati lelah Bang…," ucap Hani sambil memperlihatkan wajah sedihnya.


Tiba-tiba saja ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Segera diraihnya dan dilihatnya.


Seketika senyumnya merekah melihat nama Abhiyasa yang tertera pada layar ponselnya sebagai pengirim pesan.


Segera dibukanya pesan tersebut dan dibacanya. Bibirnya mengerucut tatkala dia membaca pesan yang dikirim oleh Abhiyasa padanya.


Datanglah ke resto XYZ. Aku akan mentraktir mu sampai kamu kekenyangan.

__ADS_1


Hani kembali melihat pada tumpukan map yang ada di atas mejanya. Dia menghela nafasnya seraya berkata,


"Aku mau Abhi, aku lapar. Tapi bagaimana dengan ini semua?"


Seketika Hani mendapatkan ide. Dia membalas pesan Abhiyasa dan memintanya untuk mengirim makanan padanya.


Mata Hani selalu melirik ke arah ponselnya yang diletakkan di atas mejanya. Dia merasa cemas karena Abhiyasa tidak juga membalas pesannya.


"Maunya apa sih? Niat traktir gak sih? Kenapa gak di balas?" gerutu Hani sambil melihat ke arah ponselnya.


Kini Hani tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Di samping dia sedang lapar, dia juga menunggu balasan pesan dari Abhiyasa.


"Mbak Hani, ada polisi ganteng mau ketemu sama Mbak Hani di luar," ucap office boy yang sudah ada di depan Hani dan berhasil mengagetkan Hani dari lamunannya.


Seketika Hani tersadar dari lamunannya. Hatinya sungguh berbunga-bunga mendengar kata polisi ganteng dari mulut office boy tersebut.


Dengan segera dia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Matanya berbinar dan senyumnya merekah tatkala matanya menemukan sosok yang sedari tadi berada dalam pikirannya.


"Abhi! Kenapa gak ngabarin kalau mau datang ke sini?" tanya Hani sambil tersenyum dan berjalan menghampiri Abhiyasa.


Senyuman Hani menular pada Abhiyasa. Dia membalas senyum Hani dan menunjukkan kantong plastik yang berisi box makanan pada Hani.


Abhiyasa menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis sebagai jawaban dari pertanyaan Hani.


Seketika Hani tersenyum lebar dan berkata,


"Terima kasih. Abhi baik banget deh."


Sontak saja kejahilan Abhiyasa timbul begitu saja. Dia menunjuk pipinya sebagai tanda ucapan terima kasihnya.


Hani mencebik kesal melihat permintaan Abhiyasa padanya. Dia meraih kantong plastik itu, tapi gerakannya dapat dengan mudah diketahui oleh Abhiyasa, sehingga Abhiyasa menarik kantong tersebut menjauh dari Hani.


Hani menatap kesal padanya dan berkata,


"Kalau gak niat ngasih gak usah ke sini deh."


Setelah itu dia membalikkan badannya dan bersiap melangkah untuk pergi dari tempat itu.


Namun, tangan Abhiyasa menghalangi langkah kaki Hani. Abhiyasa menarik tangan Hani agar dia tidak pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Abhiyasa memberikan kantong plastik yang berisi box makanan tersebut di tangan Hani. Kemudian dia berbisik,


"Jangan marah, nanti cepat tua."


Setelah membisikkan kalimat tersebut, Abhiyasa segera pergi meninggalkan Hani yang masih mematung dan menatap kesal padanya.


Abhiyasa terkekeh teringat ekspresi kesal Hani yang disebabkan olehnya. Bahkan ketika dia mengendarai motornya, dia masih saja tersenyum jika teringat kejahilannya pada Hani.


Sedangkan Hani, mendapatkan seruan dari temannya. Mereka melihat tingkah Hani dan Abhiyasa yang terlihat lucu serta menarik sebagai pasangan.


"Cieee Hani… ngakunya gak punya pacar, ternyata pacarnya polisi, ganteng lagi. Jadi iri kan aku yang jomblo ini," ucap salah satu teman Hani.


"Sweet banget sih pakai ngirimin makan siang segala. Takut pacarnya kelaparan ya," sahut teman Hani yang lainnya.


"Kalian pasangan yang serasi. Ganteng dan cantik. Pasti anaknya nanti lebih ganteng dan lebih cantik dari mama papanya," tukas teman Hani yang lainnya.


Wajah Hani merona. Dia tersenyum malu-malu masuk ke dalam ruangannya sambil membawa kantong plastik makanan yang diberikan Abhiyasa padanya.


"Abhi… Abhi… kenapa kamu membuat kehebohan di kantorku," gumam Hani sambil tersenyum senang melihat kantong makanan yang diletakkannya di atas mejanya.


Segera dibukanya kantong plastik tersebut dan dia tersenyum lebar melihat makanan yang ada dalam box makanan itu.


"Abhi… kamu memang tau seleraku," ucapnya lirih sambil melihat makanan tersebut.


Tiba-tiba ponsel Hani bergetar ketika Hani akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kenapa ada saja penghalang ketika aku akan makan?" gerutu Hani disertai helaan nafasnya.


Diletakkannya kembali sendok tersebut dalam box makanannya. Kemudian dia mengambil ponsel yang ada di mejanya.


Dahinya mengerut ketika melihat nama Abhiyasa yang mengirim pesan padanya.


"Kenapa dia mengirim pesan padaku padahal kita baru saja bertemu. Apa dia mau mengucapkan selamat makan padaku?" gumam Hani sambil tersipu malu.


Segera dibukanya pesan dari Abhiyasa itu dan dibacanya.


Jangan memakan makanan itu!


Seketika Hani membelalakkan matanya setelah membaca pesan tersebut. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Apa maksudnya pesan ini?"


__ADS_2