
"Dokter kenal dengan Hani, anak saya?" tanya papa Hani yang kaget mendengar pertanyaan dari dokter tersebut.
Dokter perempuan tersebut tersenyum dan berkata,
"Kebetulan saya adalah teman dekat Abhiyasa, pacar Hani."
"Oh… jadi temannya Abhiyasa. Saya kira dokter temannya Hani," ucap mama Hani sambil tersenyum.
"Silahkan diperiksa dok," sahut papa Hani seolah mengingatkan tujuan dokter tersebut ke rumah itu.
"Sebentar Pak, saya periksa dulu," ujar dokter tersebut yang ternyata adalah Aulia.
Dia mengambil stetoskop dari dalam tasnya dan memeriksa Hani.
"Hani hanya pingsan saja Pak. Mungkin dia kelelahan dan belum makan. Saya berikan resep vitamin dan biarkan Hani untuk beristirahat serta berikan makanan yang bergizi," tutur Aulia sambil memasukkan kembali stetoskopnya ke dalam tas yang dibawanya.
Kemudian dia menuliskan resep dan diberikan pada mama Hani seraya berkata,
"Ini resepnya Bu."
"Terima kasih dok," ujar mama Hani ketika menerima kertas resep dari Aulia.
Aulia tersenyum menanggapi ucapan terima kasih mama Hani padanya. Kemudian pandangan matanya menyusuri ruangan tersebut. Dan dia pun berkata,
"Abhiyasa ke mana ya Pak, Bu? Apa dia tidak ada di sini?"
Mama dan papa Hani saling menoleh seolah saling bertanya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Aulia pada mereka.
"Kebetulan Hani tadi ke sini seorang diri. Mungkin Abhiyasa sedang bekerja," jawab papa Hani dengan penuturan bijaknya.
"Oh… saya kira Abhiyasa sedang berada di masjid sekitar sini. Karena saya tau jika dia sangat taat beribadah," ucap Aulia sambil tersenyum pada kedua orang tua Hani.
Deg!
Seketika mama dan papa Hani saling menoleh. Mereka saling menatap dengan tatapan tidak percaya.
Melihat ekspresi kedua orang tua Hani, Aulia merasa jika apa yang direncanakannya sudah berhasil. Dia pun segera berpamitan.
"Saya pamit terlebih dahulu Pak, Bu," ucap Aulia seraya membawa tasnya.
"Saya antar dok," tukas mama Hani sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Aulia berjalan beriringan dengan mama Hani hingga sampai di teras rumah. Setelah itu mama Hani kembali ke kamar Hani.
Dia melihat suaminya yang sedang duduk di samping Hani sambil menatap putrinya itu dengan tatapan penuh kesedihan.
"Pa, apa mungkin ini semua karena Abhiyasa?" tanya mama Hani yang sudah berada di dekat suaminya.
Papa Hani menghela nafasnya. Dia merasa dirinya sedang dalam dilema saat ini. Kini dia dihadapkan dengan dua hal yang sangat penting baginya. Keyakinan dan putrinya.
Merasa ingin berpikir dan membutuhkan tempat untuk menyendiri, papa Hani beranjak dari duduknya berniat untuk berpikir di tempat lain.
"Mmm… Abhi… Kamu di mana? Abhi… Apa kamu sudah pulang? Abhi… Abhi…."
Terdengar suara igauan dari Hani yang masih memejamkan matanya.
Mama Hani bergegas duduk di samping Hani untuk mencoba menyadarkannya. Dia mengusap lembut keringat yang ada di pelipis putrinya seraya berkata,
"Hani… Hani… Bangunlah. Ini Mama dan Papa. Cepatlah buka matamu."
Hani yang mendengar suara mamanya, seketika membuka matanya dengan perlahan. Hani menatap mama dan papanya dengan mata yang berkaca-kaca seraya berkata,
"Ma… Pa… Tolong restui keinginan Hani."
"Apa ini semua karena Abhiyasa?" tanya papa Hani tanpa menoleh padanya.
Seketika Hani terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh papanya. Dia tidak mengira jika papanya mengetahui keyakinan yang dianut oleh Abhiyasa.
"Tidak Pa. Itu tidak benar. Tiba-tiba saja hati Hani tergerak dan ingin lebih mengetahui tentang agama itu. Ketika Hani mencari tau dan mempelajarinya, hati Hani terasa nyaman dan ingin mempelajarinya lebih jauh lagi," jawab Hani dengan suara yang bergetar dan matanya yang semakin berkaca-kaca.
Mama Hani memegang tangan Hani dan berkata,
"Apa kamu belajar semua itu dari Abhiyasa?"
Hani menghela nafasnya. Air matanya pun menetes bersamaan dengan helaan nafasnya itu. Kemudian dia berkata,
"Tidak Ma. Bahkan Abhiyasa tidak tau sama sekali jika Hani mempelajari agama ini. Dia tidak pernah menyuruh Hani untuk merubah keyakinan Hani. Dia menghormati agama yang Hani anut seperti dia menghormati Hani."
"Lalu, di mana dia sekarang? Mengapa dia membiarkanmu pergi malam-malam begini sendirian?" tanya papa Hani dengan tegas.
"Abhi sedang bertugas di luar kota Pa. Sudah beberapa hari yang lalu keberangkatannya," jawab Hani sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Pikirkan baik-baik dan jangan sampai ada penyesalan nantinya," tutur papa Hani sambil membalikkan badannya berjalan keluar kamar tersebut.
__ADS_1
"Hani mohon Pa… ijinkan Hani. Hani yakin tidak akan ada penyesalan sampai kapan pun," ucap Hani di sela isakan tangisnya.
Namun, papa Hani masih saja meneruskan jalannya, seolah tidak mendengar apa pun.
Kini pandangan mata Hani beralih pada mamanya yang masih ada bersamanya. Tangan Hani memegang dengan erat kedua tangan mamanya dan menatapnya dengan tatapan penuh harap seraya berkata,
"Hani mohon Ma… Tolong Hani… Hani ingin merasakan ketenangan dalam hati Hani."
Isakan tangis dan wajah penuh air mata putrinya itu membuat mama Hani menjadi sedih.
"Apa karena ingin menikah dengan Abhiyasa, sehingga kamu memutuskan untuk mengikuti kepercayaannya?" tanya mama Hani menyelidik.
"Tidak Ma… Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Abhiyasa meskipun Hani ingin sekali bisa bersatu dalam ikatan pernikahan dengannya. Hanya saja ini masalah hati. Hati Hani mengatakan jika Hani lebih nyaman di sana. Tidak ada yang berbeda Ma. Ajarannya sama-sama mengajarkan kebaikan. Hanya saja hati Hani lebih tenang di sana. Hani mohon Ma… restui keinginan hati Hani," tutur Hani dengan suara seraknya karena tangisannya.
Mama Hani beranjak dari duduknya. Dia merasa kecewa mendengar perkataan putrinya.
"Ma…," ucap Hani dengan tatapan memohonnya di sela isakan tangisnya.
Mama Hani menatap Hani dengan tegas dan berkata,
"Pikirkan semuanya dari awal. Jangan sampai melukai hati Papa dan Mama. Apalagi melukai hati Tuhanmu."
"Tidak Ma. Hani tidak bermain-main dengan agama. Hani hanya ingin meminta restu Mama dan Papa saja. Hani mohon Ma… ijinkan Hani. Restui Hani," sahut Hani menanggapi ucapan mamanya.
Seolah tidak mendengar apa pun, mama Hani meninggalkan kamar itu tanpa menanggapi ucapan dari putrinya.
Tangisan Hani semakin menjadi. Rasa sesak yang ada di dalam dadanya membuat tangisnya terdengar sangat menyedihkan.
"Pa… Bagaimana ini? Apa kita harus merelakan anak kita untuk pisah dari kita?" tanya mama Hani ketika berada di dalam kamar mereka.
Papa Hani hanya menatap kosong pada buku yang dibacanya. Kemudian dia berkata,
"Papa ingin keluarga kita berjalan bergandengan masuk ke dalam surga yang sangat indah bersama."
Sontak saja mama Hani memeluk suaminya itu. Dia merasa sangat beruntung mendapatkannya sebagai suaminya dan kepala keluarga mereka.
"Sepertinya, Papa harus segera memutuskannya Ma," ucap papa Hani sambil meletakkan buku yang ada di tangannya di atas meja yang ada di hadapannya.
Seketika mama Hani merasa heran pada suaminya. Kemudian dia berkata,
"Memutuskan? Memutuskan apa Pa?"
__ADS_1