
Abhiyasa masih saja menggoda Hani. Dia merasa ekspresi Hani ketika kesal sangatlah lucu dan celotehan serta omelannya itu membuat Abhiyasa semakin gemas padanya.
Seperti saat ini. Dia sengaja membuat Hani kaget atas ajakannya.
"Kita berpacaran saja," ujar Abhiyasa seolah tanpa beban.
Byuuur!
Hani menyemburkan minumannya tepat pada wajah Abhiyasa yang berada di hadapannya. Dia terkejut mendengar perkataan Abhiyasa yang mengajaknya untuk berpacaran.
Abhiyasa terkejut dengan serangan mendadak yang diberikan oleh Hani padanya. Dia tidak bisa berkata-kata, karena wajahnya basah kuyup oleh minuman manis yang dingin keluar dari mulut Hani.
Sontak saja Hani segera mengambil tisu dan mengusapkan dengan sangat hati-hati pada wajah Abhiyasa.
Usapan tangannya sangat lembut dan hati-hati. Bahkan dia merasa sangat bersalah pada Abhiyasa yang tersembur olehnya.
"Ma-maaf," ucap Abiyasa sambil menyeka wajah Abhiyasa menggunakan tisu.
Abhiyasa menahan senyumnya karena lagi-lagi dia menggoda Hani yang sedang merasa bersalah padanya.
"Kamu tega sekali padaku Honey," ucap Abhiyasa kembali menggoda Hani.
Apa aku tidak salah dengar? Benarkah tadi dia memanggilku Honey? Apa hanya aku saja yang salah dengar? Hani bertanya-tanya dalam hatinya.
Semburat merah tiba-tiba terlihat pada wajah Hani. Sekuat tenaga dia menutupi perasaan malunya karena ucapan dari Abhiyasa.
"Kenapa Honey, kamu malu padaku ya?" tanya Abhiyasa kembali yang berniat menggoda Hani.
"Tidak," sahut Hani dengan gugup.
Abhiyasa terkekeh melihat gadis yang ada di hadapannya itu sedang gugup karena malu padanya. Dan dia benar-benar puas menggoda Hani saat ini.
Hani meletakkan tisu pada tangan Abhiyasa seraya berkata,
"Lebih baik kamu teruskan sendiri."
Abhiyasa tersenyum dan berpura-pura sedih karenanya. Bahkan dia tidak mengelap wajahnya menggunakan tisu yang diberikan oleh Hani padanya. Dia meletakkan tisu tersebut di atas meja dengan berpura-pura kesal karena tidak diperhatikan oleh Hani.
Hani mencoba mengacuhkan Abhiyasa. Dia memakan nasi goreng pesanannya seolah tidak terganggu oleh hal apa pun.
Abhiyasa masih memperhatikan Hani dengan intens. Dia meletakkan kedua tangannya pada dagunya dan menatap Hani yang sedang makan dengan lahapnya.
__ADS_1
Selama beberapa saat Abhiyasa memperhatikan gadis yang ada di depannya itu. Sayang sekali Hani tetap mengacuhkannya dan menganggapnya seolah tidak ada di depannya.
Kenapa dia begini? Kenapa dia melakukan ini padaku? Aku mohon jangan menatapku seperti itu, Hani berkata dalam hatinya sambil mengunyah makanannya.
Merasa diacuhkan oleh Hani, Abhiyasa mencebik kesal. Setelah itu dia memakan makanannya dengan memasang wajah kesalnya.
Kenapa suasananya jadi canggung begini? Semua ini karena ucapan Abhiyasa yang tidak bertanggung jawab itu, Hani menggerutu dalam hatinya.
Hani meletakkan sendok dan garpunya menyilang di atas piringnya. Kemudian dia meneguk minumannya.
"Abhi, sepertinya kita hanya bisa berteman saja. Banyak sekali perbedaan yang akan menghalangi hubungan kita nantinya," ucap Hani sambil menatap serius pada Abhiyasa.
Abhiyasa menghentikan makannya yang memang sudah menjadi suapan terakhirnya.
"Aku sudah tau itu Hani. Karena itulah aku tidak begitu berharap. Aku takut jika terlalu mengharapkan hal yang tidak pasti," ucap Abhiyasa setelah menelan makanannya.
Deg!
Seketika hati Hani merasa ditusuk. Hatinya merasa sakit mendengar ucapan Abhiyasa yang terdengar sedih pada saat mengatakannya.
Abhiyasa tersenyum melihat Hani yang menatapnya dengan perasaan bersalah. Kemudian dia berkata,
"Lupakan perkataanku tadi Hani. Anggap saja aku sedang bercanda. Anggap saja aku sedang menggoda mu."
Bagaimana bisa aku menganggapnya sebagai candaan biasa? Kamu benar-benar mengobrak-abrik perasaanku Abhi.
Abhiyasa dan Hani saling menatap seolah sedang menyelami perasaan masing-masing. Dalam hati Abhiyasa berkata,
Aku memang benar-benar menyukaimu Hani, tapi aku sadar itu tidak akan terjadi. Dan maaf karena aku telah menggoda mu dengan mengajak mu berpacaran.
"Ehemmm… Sekarang kita akan pergi ke mana?" tanya Abhiyasa untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku ingin pulang saja Abhi. Aku belum menata semua barang-barang ku. Aku tidak bisa tidur nyenyak melihat semua barang ku masih di dalam box," jawab Hani sambil terkekeh.
Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Baiklah. Lebih baik kita pulang saja sekarang."
Mereka berdua pun beranjak dari duduknya dan keluar dari tempat itu setelah Hani membayar makanan mereka.
Abhiyasa menyambar kunci mobil dari tangan Hani ketika mereka berjalan menuju mobil.
__ADS_1
"Aku laki-laki sejati yang tidak membiarkan seorang perempuan mengemudikan mobilnya sementara aku sebagai laki-laki duduk bersantai di sebelahnya," ujar Abhiyasa sambil menunjukkan kunci mobil yang ada di tangannya.
Hani terkekeh mendengar perkataan Abhiyasa yang merupakan sindiran darinya ketika berangkat tadi. Mereka pun masuk ke dalam mobil dengan bertukar tempat duduk.
Kini Abhiyasa duduk di belakang kemudi, sedangkan Hani duduk di sampingnya sebagai penumpang.
Perjalanan kali ini berbeda dengan pada saat berangkat tadi. Tidak ada musik yang menemani mereka kali ini. Tapi mereka menggantinya dengan obrolan ringan seputar kehidupan mereka.
Mereka berdua saling bertanya tentang kehidupan masing-masing. Sehingga sekarang mereka dapat mengetahui tentang kepribadian, kehidupan dan keluarga dari masing-masing.
Mereka memang tidak berpacaran, tapi dengan cara saling mengenal kehidupan satu sama lainnya ini membuat mereka lebih dekat dan lebih mengenal.
Tiba di rumah mereka, Abhiyasa memarkirkan mobil Hani tepat di rumahnya.
"Apa kamu memerlukan bantuanku wahai tetangga baruku?" tanya Abhiyasa dengan gaya pujangganya.
Hani terkekeh mendengar pertanyaan Abhiyasa yang ditanyakan padanya. Setelah itu dia berkata,
"Gak usah. Lebih baik kamu segera pulang dan beristirahat. Aku gak mau kamu meminta imbalan yang lebih sulit lagi nanti."
Seketika Abhiyasa tertawa mendengar jawaban dari Hani.
"Bagaimana kamu bisa tau? Padahal aku akan meminta imbalan ciuman darimu," ucap Abhiyasa di sela tawanya.
Seketika Hani menutup bibirnya dan berkata,
"Dasar mesum."
Setelah mengatakan itu, Hani segera berlari masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya dengan sangat keras.
Abhiyasa tertawa melihat tingkah Hani yang berhasil digodanya. Bagaimanapun Abhiyasa menggoda Hani, dia hanya berucap saja. Dia tidak mungkin akan melakukan hal itu ketika dia belum menikahi perempuan yang akan diciumnya.
"Hani! Panggil aku jika kamu butuh bantuanku! Aku akan siap dua puluh empat jam untuk membantumu! Ingat, rumahku ada di sebelahmu!" seru Abhiyasa dari balik pintu rumah Hani.
Setelah mengatakan hal itu, Abhiyasa masuk ke dalam mobil pick up nya dan mengendarainya menuju tempat di mana dia meminjamnya.
Selang beberapa saat, Abhiyasa kembali menggunakan motor sport miliknya. Sebelum dia turun dari motornya, dia memperhatikan rumah Hani yang berada tepat di sebelahnya.
Pintu rumah tersebut masih tertutup dengan lampu yang menyala di dalam dan luar rumahnya.
"Apa dia sudah tidur?" gumam Abhiyasa sambil tersenyum tipis melihat rumah Hani.
__ADS_1
"Abhi…! Tolong aku!"