Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 63 Jagoan tampan


__ADS_3

"A-aku… Aku gak bisa menggapai resleting gaunku yang ada di punggung," ucap Hani lirih dan terlihat malu-malu.


Seketika wajah panik Abhiyasa memudar. Kini senyuman Abhiyasa menghiasi bibirnya. Dalam hatinya berkata,


Akhirnya ada jalan tol bebas hambatan yang menuntunku menuju harapanku.


"Sini, aku bantu bukakan resletingnya," tukas Abhiyasa dengan sangat lembut dan tersenyum pada istrinya.


Namun, Hani mundur ke belakang ketika suaminya mendekatinya. Abhiyasa maju selangkah lagi, dan Hani pun mundur kembali. Begitu seterusnya hingga punggung Hani terbentur oleh tembok, sehingga dia tidak bisa memundurkan badannya lagi.


Tangan kanan Abhiyasa berada di tembok dan tangan kirinya berada di pinggang istrinya. Ditariknya pinggang istrinya itu hingga tubuh bagian depan mereka saling menempel.


Tatapan mata mereka saling beradu. Bahkan mata mereka saling terkunci hingga tidak melihat ke lain arah.


Tanpa disadari oleh Hani, tangan Abhiyasa meraih resleting yang ada di punggungnya. Dibukanya resleting tersebut secara perlahan. Dan dibukanya secara hati-hati baju yang menutupi bahunya.


Glek!


Abhiyasa menelan ludahnya melihat kulit bahu istrinya yang putih mulus. Tanpa sadar tangannya mengusap lembut bahu istrinya hingga istrinya itu terkesiap.


"Honey, aku ingin malam ini kita saling memiliki," ucap Abhiyasa lirih dengan tatapan mata penuh minat pada istrinya.


Seolah terhipnotis oleh mata suaminya, Hani menganggukkan kepalanya dengan malu-malu menyetujui keinginan suaminya.


Tanpa menunggu lama, Abhiyasa meraup bibir istrinya dan menciumnya dengan penuh perasaan. Hani pun mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya. 


Merasa Hani menyambut dan membalas ciumannya, Abhiyasa bertambah semangat. Ciumannya semakin panas dan menuntut, hingga tangannya tidak bisa dikendalikan.


Tangan Abhiyasa membuka perlahan gaun pengantin yang melekat pada tubuh istrinya. Begitu pula dengan Hani. Tangannya tidak menganggur, dia pun mengikuti Abhiyasa untuk membuka baju suaminya itu.


Di kamar mandi tersebut, mereka melakukan pemanasan sebelum melakukan kegiatan malam pengantin mereka. Di tempat itulah suara Hani menggema diiringi dengan suara gemericik air dari shower yang mereka nyalakan.


Merasa sudah puas bermain-main di dalam kamar mandi, Abhiyasa menggendong tubuh istrinya itu menuju ranjang.


Ranjang yang penuh akan bunga mawar merah itu menjadi saksi malam pengantin mereka. Aroma therapy yang dihasilkan oleh lilin yang menyala di kamar itu membuat mereka semakin relax.


Abhiyasa mulai mengecup bibir Hani dengan perlahan, merasakan kelembutan yang selalu membuatnya terbuai.


Perlahan namun pasti, ciuman Abhiyasa terasa semakin menuntut. ia mengikuti naluri dan gairaah yang mulai menguasainya.


Abhiyasa mengecup leher Hani dengan lembut dan mulai menyentuh beberapa titik sensitif sang istri.

__ADS_1


"Akh!" suara Hani mulai terdengar mendayu ketika Abhiyasa dengan agresif memainkan bunga telang yang melambai-lambai, seakan menggoda untuk disentuh.


Abhiyasa tersenyum manis dengan nafas yang mulai memburu, ia menatap Hani yang mulai frustasi dengan apa yang tengah ia lakukan.


"Sayang, aku..., aku..., Akh!" ucap Hani dengan suara yang tercekat ketika ia mencapai puncak pertama.


Tubuhnya menggelinjang diiringi rembesan cairan yang begitu hangat. Abhiyasa semakin bersemangat untuk melanjutkan kegiatannya.


"Kenapa begitu cepat, Sayang? Padahal aku belum melakukan apapun!" ucap Abhiyasa dengan suara beratnya sambil tersenyum puas.


Dia mengecup  dengan lembut dan mengigitnya dengan gemas dua aset kembar yang menjadi tempat di mana dia bisa bermain dengan bebas tanpa penghalang.


Lidah Abhiyasa bermain dengan penuh semangat, sehingga membuat Hani mulai mengeluarkan suara-suara yang begitu merdu, memenuhi ruangan itu.


"Sayang, akh..., aku gak kuat!" ucap Hani melenguh.


Abhiyasa tersenyum mendengar ucapan istrinya yang membuatnya semakin bersemangat.


Tanpa aba-aba, dia langsung memasukkan pisang laras panjangnya ke dalam surga dunia sang istri.


Dia memacu dengan berirama, diiringi decapan yang begitu mengganggu bagi orang lain, akan tetapi terdengar sangat nikmat bagi mereka.


Hani membusungkan dada ketika merasakan sensasi yang tidak bisa dikendalikannya. Hasrat yang sudah menguasai tubuhnya, membuat dia pasrah dibawah kungkungan Abhiyasa.


Ranjang yang semula rapi, kini terlihat berantakan. Tak cukup satu tempat dan satu gerakan, Abhiyasa membimbing Hani menuju sofa yang ada di kamar itu.


"Ayo, Sayang. Puaskan aku!" Ucap Abhiyasa dengan nakal.


Dia berbaring di atas sofa, membimbing Hani untuk bergerak di atasnya.


Dengan agresif, Hani  menghentakkan tubuhnya di atas tubuh Abhiyasa. Suara lenguhan semakin terdengar kuat dan tidak bisa ditahan.


Sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Abhiyasa mampu membuat Hani kembali merasa mabuk kepayang. Bahkan kamar yang tadinya begitu tenang, kini dipenuhi dengan suara lenguhan dan desisan dari bibir Hani.


Abhiyasa menggendong tubuh istrinya untuk kembali ke ranjang. Di ranjang itulah mereka kembali merajut kasih dan cinta mereka untuk mendapatkan buah hati dari cinta mereka. 


Ranjang yang tadinya tertata rapi dengan taburan bunga mawar yang ditata dengan indah itu, kini berubah menjadi kusut dan bercampur peluh mereka berdua.


Malam semakin larut, membawa sepasang sejoli itu kepada puncak kenikmatan dunia. Abhiyasa melenguh dan menumpahkan benihnya dengan baik. Dengan membawa harapan mereka bisa berjuang di dalam agar bisa tumbuh menjadi seorang bayi yang bisa merasakan cinta dari mereka berdua.


...----------------...

__ADS_1


Hampir dua bulan mereka menikah. Rumah mereka kini sudah direnovasi dengan menggabungkan dua rumah menjadi satu. Seperti hati mereka yang kini sudah menjadi satu. Bahkan kabar gembira yang diberikan oleh Hani beberapa minggu yang lalu mampu membuat Abhiyasa melakukan sujud syukur pada saat itu juga.


Hari berlalu dengan cepatnya, saat ini kehamilan Hani yang sudah jalan empat minggu itu merupakan kebahagiaan bagi Abhiyasa dan keluarga besar mereka.


Kini Hani menjadi ratu di rumah tersebut. Abhiyasa tidak memperbolehkan Hani untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Bahkan dia melarang Hani untuk memasak.


...----------------...


Hari ini, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Abhiyasa dan keluarga besarnya. Mereka semua datang untuk menemani Abhiyasa menyambut kedatangan buah hatinya bersama dengan Hani.


Kini Hani telah berada di ruang persalinan. Dia berjuang untuk melahirkan jagoan yang ada di dalam kandungannya.


Abhiyasa terlihat sangat panik saat ini. Dia menemani istrinya yang sedang memperjuangkan hidup dan matinya bersama dengan bayi yang ada dalam kandungannya.


"Sayang, aku ada di sini bersamamu. Berusahalah dan tetaplah sadar," bisik Abhiyasa di telinga istrinya.


Dengan merapal doa-doa yang sudah dipelajarinya dari Umi Halimah, Hani mengerahkan seluruh tenaganya untuk melahirkan bayinya ketika bayi tersebut sudah terasa ingin keluar dari perutnya.


Tangisan bayi yang lantang terdengar menggema di dalam ruangan tersebut. Abhiyasa segera mengucapkan bacaan adzan di telinga sebelah kanan dan bacaan iqomah pada telinga sebelah kiri.


"Sayang, lihatlah jagoan kita. Dia sangat tampan. Wajahnya mirip sekali denganmu," ucap Abhiyasa sambil memperlihatkan bayi laki-laki mungil yang sangat tampan dalam gendongannya itu pada istrinya.


Hani tersenyum melihat buah hati mereka. Bahkan air matanya menetes melihat bayi tersebut yang berhasil dilahirkannya dengan penuh perjuangan.


Digendongnya bayi mungil tersebut untuk diberikan ASI setelah dimandikan. Tiada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan dan rasa syukurnya pada Allah atas semua karunianya.


Hani merasa sangat bahagia dan berlimpah rahmat saat ini. Dia berulang kali mengungkapkan rasa syukurnya pada sang kuasa dan berdoa untuk kehidupan mereka kedepannya.


"Tampan sekali anak kalian," ujar mama Hani ketika menggendong bayi mungil tersebut.


"Ibu yakin jika putra kalian ini bayi paling tampan di kota ini," ucap ibu Abhiyasa ketika bergantian menggendong bayi tersebut.


Semua orang tertawa bahagia menyambut kelahiran bayi tampan dalam keluarga besar mereka.


"Siapa nama bayi tampan ini?" tanya ayah Abhiyasa disertai anggukan kepala dari papa Hani yang juga ingin mengetahui nama cucu mereka.


Abhiyasa dan Hani saling menatap. Mereka saling memberikan senyumnya. Dan Abhiyasa pun berkata,


"Nama bayi tampan ini adalah Aksa Nareswara."


Semua orang yang ada di sana tersenyum dan memanjatkan doa untuk bayi tampan tersebut. Mereka berharap agar Aksa Nareswara bisa menjadi sosok laki-laki yang sehat, kuat dan bertanggung jawab seperti Abhiyasa.

__ADS_1


Kini Hani dan Abhiyasa merasa bahagia dengan adanya buat hati mereka yang melengkapi kehidupan rumah tangga mereka.


...TAMAT...


__ADS_2