Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 50 Keikhlasan


__ADS_3

Hani sangat bahagia mendapatkan restu dari papanya. Dan itu berarti mamanya pun ikut merestuinya. Dia mengetahui kesedihan papa dan mamanya ketika memutuskan untuk mengijinkannya berpindah keyakinan.


Namun, Hani hanya bisa merasa bersalah saja. Dia tidak mau menambah kesedihan kedua orang tuanya dengan mengucapkan kata-kata yang bertambah menyedihkan hati kedua orang tuanya.


Dia merasa sedih, hatinya terasa tersayat melihat mamanya yang berada di hadapannya berlinang air mata menerima keputusan dari papa Hani.


Hani tahu jika mereka merasa terpisah dengan anaknya ketika keyakinan mereka tak lagi sama, meskipun pada hakikatnya mereka tetap bertemu dan berhubungan baik. Tapi ini masalah hati dan keyakinan yang mereka miliki semenjak mereka dilahirkan. Dan keyakinan itu telah dipegang teguh oleh mereka.


Jujur saja Hani tidak tega melihat kedua orang tuanya menangis sedih karenanya. Dengan sekuat tenaganya Hani berusaha beranjak dari tidurnya. 


"Mau ke mana Hani?" tanya mama Hani dengan suara seraknya, kaget melihat putrinya berusaha beranjak dari tempat tidurnya


Hani tersenyum melihat mamanya yang berlinang air mata itu masih peduli padanya. Kemudian dia berkata,


"Hani akan pulang Ma. Hati Hani sudah tenang sekarang. Mama jangan menangis lagi. Hani bahagia dan Mama juga harus bahagia. Hani mohon jangan tumpahkan air mata Mama lagi untuk Hani, karena Hani akan sedih melihatnya."


Seketika mama Hani beranjak dari duduknya. Dia meraih tubuh putrinya yang masih lemah itu dalam pelukannya. Air matanya kembali tumpah merasakan tubuh putrinya berada dalam pelukannya.


Begitu pula dengan Hani. Air matanya pun kembali menetes tatkala berada dalam pelukan mamanya yang sedang berlinang air mata karenanya. Dia merasa sangat sedih, akan tetapi dia sadar jika harus ada yang dikorbankan untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan hatinya.


"Ma… Jangan menangis," ucap Hani dengan suara yang tercekat dan bergetar menahan tangisnya yang sudah diiringi air mata mengalir di pipinya.


Mama Hani menghapus air matanya. Dengan sekuat tenaga dia menghentikan tangisnya dan berusaha tersenyum pada putrinya.


Diurainya pelukan itu dan dilihatnya wajah putrinya yang sangat disayanginya. Kemudian dia berkata,


"Kamu masih lemah Hani. Lebih baik kamu makan dulu, minum vitamin dan obatnya. Setelah keadaanmu sudah lebih baik, kami tidak akan menghalangi mu pulang."


Hani menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan mamanya yang menatapnya dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Hati seorang anak mana yang tega melihat ibunya memohon padanya seperti itu. Begitu pula dengan Hani yang sangat tidak tega melihat mamanya memohon padanya. Terlebih lagi melihat bercak air mata di pelupuk mata dan pipi mamanya yang dikarenakan olehnya.


Senyuman yang menghiasi wajah sedikit pucat itu membuat mama Hani semakin sedih. Mama Hani memperhatikan putrinya yang sedang makan dan dalam hatinya berkata,


Mungkin benar yang dikatakan Papa. Kebahagiaan Hani merupakan keberhasilan kita dalam menjaganya. Semoga saja kebahagiaan akan selalu menyertainya. 


Mama Hani segera mengambil alih sendok dari tangan Hani. Dengan penuh kasih sayangnya, dia menyuapkan makanan tersebut secara perlahan pada putrinya.


Sesuap demi sesuap makanan itu telah masuk ke dalam mulut Hani. Dia memaksakan menelannya meskipun terasa tidak enak di lidahnya. Wajar saja lidah orang sakit pasti terasa seperti itu, pikirnya. 


Dia menelannya seolah merasa baik-baik saja untuk menyenangkan hati mamanya. Sehingga makanan tersebut habis tanpa sisa dan berpindah semua dalam perut Hani.


"Minumlah obat ini agar demamnya segera turun. Dan minumlah vitamin ini agar kesehatanmu cepat pulih kembali," tutur mama Hani sambil memberikan obat serta vitamin tersebut pada putrinya.


Hani menerima obat dan vitamin tersebut dan segera meminumnya. Dia tersenyum pada mamanya seraya berkata,


Mama Hani menghela nafasnya. Dia merasakan kembali sikap keras kepala putrinya itu meskipun wajahnya masih terlihat sedikit pucat.


"Kenapa kamu masih saja memaksa pulang dengan keadaanmu yang lemah ini Hani? Bagaimana jika terjadi apa-apa di jalan? Bagaimana jika kamu butuh sesuatu ketika berada di rumah dan tidak ada orang sama sekali yang membantumu? Mengertilah Hani… kami khawatir padamu. Beristirahatlah di sini hingga keadaanmu pulih kembali. Setelah itu kami akan pulang," tutur mama Hani disertai helaan nafasnya.


Dengan terpaksa Hani kembali berbaring di tempat tidurnya. Dia berusaha memejamkan matanya agar badannya cepat pulih kembali.


Setelah merasa putrinya sudah tertidur, mama Hani keluar dari kamar tersebut. Dia mencari suaminya untuk melihat keadaannya. Dia yakin jika suaminya itu sedang teramat sangat bersedih dengan keputusannya tadi.


Dibukanya pintu kamar mereka. Dan benar saja, suaminya itu sedang termenung menghadap ke jendela. 


Mama Hani berjalan mendekati suaminya. Dia memeluk suaminya dari belakang seraya berkata,


"Papa hebat. Papa memberikan keputusan yang sangat sulit untuk Papa katakan. Sebenarnya Mama juga tidak bisa menerimanya. Akan tetapi Mama bisa mengetahui alasan Papa ketika menyetujui keinginan Hani. Melihat wajah putri kita yang sangat bahagia itu membuat Mama harus mengikhlaskannya. Mama harap Papa juga bisa begitu."

__ADS_1


Papa Hani melepaskan tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya. Dia menghadap ke belakang untuk berhadapan dengan istrinya. Kemudian dia berkata,


"Kita harus tetap mendoakannya agar putri kita itu bahagia dengan keputusannya."


Mama Hani mengangguk setuju dengan penuturan dari suaminya. Dia memeluk erat tubuh suaminya dan papa Hani pun melakukan hal yang sama. Mereka saling menguatkan untuk menghadapi semua yang terjadi, karena mereka adalah sepasang suami istri.


Setelah beberapa saat berlalu, Hani terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


"Eeehhh…," Hani melenguh seraya bergerak duduk di ranjangnya.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Segera diraihnya tas yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya dan diambilnya ponsel dari dalam tas tersebut.


Dia berniat menghubungi Umi Halimah untuk memberikan kabar atas restu kedua orang tuanya yang mengijinkan Hani untuk berpindah keyakinan.


Namun, matanya seketika terbelalak ketika melihat nama Abhiyasa tertera di layar ponselnya. Kekasihnya itu telah menghubunginya selama berpuluh-puluh kali dan juga mengirimkan banyak pesan padanya.


Bibir Hani melengkung ke atas membaca semua pesan dari kekasihnya itu. Terlihat jelas jika Abhiyasa sangat mencemaskannya. Dengan segera dia membalas pesan tersebut dengan harapan kekasihnya itu segera menghubunginya.


"Pantas saja aku gak dengar kalau ada telepon, ternyata masih dalam keadaan senyap. Bodohnya kamu Hani…," gerutu Hani merutuki kebodohan dirinya.


Setelah itu dia segera menghubungi Umi Halimah dan mengabarkan padanya. Tentu saja berita itu sangat membahagiakan bagi Umi Halimah. Dia pun mengatakan jika akan segera menemui Umi Halimah setelah kesehatannya sudah pulih kembali.


Beberapa saat setelah panggilan teleponnya berakhir dengan Umi Halimah, ponsel Hani kembali berdering.


Kali ini hatinya sangat gembira. Senyumannya pun merekah hingga membuat wajah pucatnya tidak terlihat lagi.


"Abhi… Bagaimana kabarmu?Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatirkan a–"


"Benarkah?!"

__ADS_1


__ADS_2