Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 38 Penasaran


__ADS_3

Abhiyasa mengikuti Hani di belakang mobilnya. Seperti biasanya, mereka berangkat bekerja bersama-sama dengan mengendarai kendaraannya masing-masing.


Hani bingung ketika melihat Abhiyasa tidak berada di belakangnya. Dia merasa cemas dan khawatir jika terjadi sesuatu dengan Abhiyasa.


"Abhi… di mana kamu?"


Terlihat jelas dari wajahnya jika saat itu Hani sangat panik. Dia masih mencari tempat yang aman untuk berhenti. Sayangnya saat ini posisi mobilnya sedang berada di tengah-tengah jalanan dengan kemacetan lalu lintas yang terjadi di pagi hari.


Terlebih lagi Hani terjebak dengan lampu lalu lintas yang berwarna merah, sehingga dia harus berhenti saat itu juga.


Matanya menyusuri sekitarnya untuk mencari Abhiyasa yang tiba-tiba menghilang di belakangnya.


Tiba-tiba saja terdengar suara motor yang berada di sebelah mobilnya dan berhasil menyita perhatian Hani. Pengendara motor itu membuka kaca helm full face yang menutupi seluruh wajahnya dan mengetuk jendela kaca mobil Hani. 


Seketika bibir Hani melengkung ke atas melihat sosok yang dicarinya kini berada di sampingnya. 


"Abhi?!" celetuk Hani sambil tersenyum melihat kekasihnya.


Abhiyasa tersenyum di balik helm yang menutupi wajahnya itu. Kemudian dia memberi kode pada Hani agar berjalan terlebih dahulu karena lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau.


Hani tersenyum dan mengangguk pada Abhiyasa. Dia melajukan mobilnya terlebih dahulu dan Abhiyasa kembali mengikutinya di belakang mobilnya.


Berkali-kali Hani melirik ke arah kaca spionnya untuk mengetahui keberadaan Abhiyasa. Dia takut jika Abhiyasa kembali menghilang seperti tadi.


Seolah mengetahui kecemasan hati kekasihnya itu, Abhiyasa kini berkendara tepat di samping mobil Hani. Tepatnya dia berada di sisi Hani mengemudi.


Tentu saja Hani sangat senang. Wajahnya yang sumringah kini menyuarakan isi hatinya. Senyumnya selalu mengembang  hingga mereka sudah sampai di kantornya.


Abhiyasa menghentikan motornya tepat di tempat biasanya dia berhenti serta melihat Hani yang terkadang tidak menyadari akan kehadiran Abhiyasa di sana, seperti saat mereka sedang berjauhan kala itu.


Hani keluar dari mobilnya. Dia melihat ke arah Abhiyasa yang sudah membuka kaca helmnya. Hani tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Abhiyasa.


Abhiyasa pun demikian. Dia tersenyum di balik helm full face nya. Dan memberikan kode pada Hani agar segera masuk ke dalam kantornya.


Kemudian Abhiyasa segera melajukan motornya meninggalkan tempat itu setelah melihat Hani masuk ke dalam kantornya.


Senyuman Hani tidak pernah luntur meskipun sudah memasuki kantornya. Bahkan semua orang bisa melihat jika dirinya sedang bahagia saat ini.


Jam makan siang telah tiba. Dia bersama temannya makan siang di kantin sebelah kantornya.

__ADS_1


"Hani, aku tinggal shalat sebentar ya," ucap Kia, teman Hani setelah memesan makanan bersama dengan Hani.


Hani menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Jangan lama-lama ya. Aku tunggu di sini."


Kia tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Hani seraya berkata,


"Ok."


Berjalanlah Kia menuju mushola kecil yang disediakan untuk pengunjung dan terletak tidak jauh dari tempat tersebut.


Hani hanya memperhatikan dari tempat duduknya sembari menunggu pesanan makanannya datang.


"Aduh… kebelet pipis lagi. Aku tinggal ke toilet dulu deh," ucap Hani sambil beranjak dari duduknya.


"Bu… saya tinggal ke toilet sebentar ya," seru Hani pada penjual makanan yang telah dipesannya.


Ibu penjual makanan tersebut menganggukkan kepalanya. Dan menunda untuk mengantar makanan pesanan Hani dan Kia hingga mereka kembali duduk di tempatnya.


Hani segera berlari kecil menuju toilet yang kebetulan berdekatan dengan mushola tersebut. Hanya sebentar saja dia sudah kembali keluar dari toilet tersebut.


Kenapa aku merasa tenang melihat Kia sedang melakukan ibadahnya?


Hani masih saja memperhatikan Kia sampai akhir dia melakukan ibadahnya. Rasa ingin tahunya membuatnya ingin mengetahui, melihat dan mempelajarinya.


"Hani?!" celetuk Kia saat kaget melihat Hani berdiri sambil memperhatikannya.


Hani tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada Kia yang tidak jauh darinya.


"Ngapain berdiri di situ? Makanannya sudah datang?" tanya Kia sambil berjalan menghampiri Hani.


"Tadi aku ke toilet dan aku melihatmu sedang beribadah. Jadi… aku ingin melihatnya," jawab Hani sambil tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.


Kia terkekeh mendengar jawaban Hani. Dia menggandeng tangan Hani untuk berjalan bersama menuju kantin seraya berkata,


"Kenapa tiba-tiba ingin melihat? Apa kamu tertarik ingin pindah agama?" 


Sontak saja Hani menoleh ke arah Kia yang berjalan di sampingnya. Pertanyaan itu lah yang mengganggu hatinya mulai dari kemarin malam.

__ADS_1


"Bukannya begitu, aku hanya ingin tau saja," jawab Hani sambil tersenyum manis pada Kia.


"Oh.. aku kira kamu akan pindah agama," sahut Kia sambil terkekeh.


Hani mengerutkan dahinya seraya berkata,


"Memangnya kenapa Kia?"


Kia menatap serius pada Hani. Kemudian dia tersenyum padanya dan berkata,


"Gak kenapa-kenapa sih. Hanya saja aku mungkin bisa membantumu jika kamu butuh sesuatu."


Mereka duduk berhadapan di tempat yang mereka tempati tadi. Saat itu pula, makanan mereka datang.


Di sela makannya, Hani terngiang perkataan Kia. Semua perkataan Kia itu mengganggunya dan membuatnya tidak tenang. Seolah dia ingin mencari tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya. Dia ingin mencari tahu apa yang diinginkan hatinya.


Setelah makan siang mereka selesai, mereka kembali ke kantornya. Sebenarnya ada banyak hal yang mengganggu Hani. Dia ingin bertanya pada Kia, sayangnya dia masih ragu. Dia takut jika Kia mengatakan pada orang lain dan berakhir menjadi gosip di kantornya.


Sejak siang itu pikiran Hani menjadi tidak tenang. Dia ingin sekali mencari jawaban akan semua pertanyaan yang ada di benaknya. 


"Pasti jawabannya ada di buku-buku yang aku beli kemarin. Tapi… jika tidak ada, aku harus bertanya pada siapa?" tanya Hani pada dirinya sendiri.


Dia menghela nafasnya melihat semua pekerjaannya yang belum selesai karena kegalauan hatinya.


Tiba-tiba saja ponsel yang diletakkannya di atas mejanya bergetar. Dengan segera dia melihat ponsel tersebut dan senyumnya mengembang tatkala melihat nama Abhiyasa terdapat pada layar ponselnya.


"Halo, Abhi," sapa Hani mengawali percakapan mereka di telepon.


Honey, nanti aku jemput ya. Tunggu aku. Kita pulang bersama sekalian makan di luar, ucap Abhiyasa dari seberang sana.


Hani menahan senyumnya. Entah mengapa hanya mendengar Abhiyasa mengajaknya pulang dan makan bersama saja membuat hatinya sangat senang sekali seperti ada banyak bunga bermekaran di hatinya.


"Aku akan menunggumu Abhi," ucap Hani lirih dengan rona malunya yang tersirat di wajahnya.


Abhiyasa tersenyum di sana. Dia membayangkan wajah kekasihnya yang sedang malu padanya. Dia tahu jika saat ini kekasihnya itu sedang malu, terdengar jelas dari suaranya.


Hani, apa kamu ingin…, Abhiyasa menjeda perkataannya seolah ragu untuk mengatakannya.


"Kenapa Abhi? Aku ingin apa?" tanya Hani yang sangat penasaran akan kelanjutan pertanyaan dari Abhiyasa.

__ADS_1


__ADS_2