Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 49 Perjuangan Hani


__ADS_3

Di dalam kamarnya Hani masih saja dengan kesedihannya. Dia masih berusaha meminta pengertian dari kedua orang tuanya agar bisa merestuinya untuk berpindah keyakinan.


Hani masih saja menangis diiringi kalimat permohonannya pada kedua orang tuanya. Dia tetap berjuang untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Seperti kata Umi Halimah, Hani sendiri juga menginginkan jika kedua orang tuanya meridhoi apa yang dilakukan oleh Hani.


"Hani mohon Ma… Pa… Tolong ijinkan Hani… Restui keinginan Hani…."


Kalimat itu berulang-ulang dikatakan oleh Hani, seolah tidak mengenal lelah dan pantang menyerah.


Tiba-tiba mama Hani masuk ke dalam kamar Hani dengan membawa nampan  Dalam nampan tersebut memuat piring yang berisi makanan dan gelas yang berisi air putih. 


"Makanlah Hani. Dokter mengatakan jika kamu harus beristirahat dan jangan lagi telat makan. Minumlah juga vitamin ini yang diberikan oleh dokter," tutur mama Hani sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja yang berada di dekat tempat tidur Hani.


Hani menatap mamanya dengan wajah memohon dan mata yang berkaca-kaca seraya berkata,


"Terima kasih Ma."


Mama Hani menatap iba pada putrinya. Dia benar-benar tidak tega melihat putrinya menderita seperti itu. Akan tetapi dia tidak bisa menerima keinginan putrinya itu untuk berpisah jalan dengan keluarganya.


Mama dan papa Hani ingin berjalan bersama anak mereka menuju surga. Dan sikap keras mereka pada Hani saat ini merupakan bentuk kasih sayang dan usaha mereka untuk melindungi putrinya.


"Ma… Hani–"


"Makanlah dulu Hani. Jangan membuat kecewa Mama dan Papa," tukas mama Hani dengan tegas seolah tidak ingin dibantah.


Hani pun diam. Dia menuruti perintah mamanya. Dalam hatinya memberontak untuk mengatakan keinginan hatinya, sayangnya itu tidak bisa terjadi. Hani selalu diajarkan untuk sopan pada siapa saja, terutama pada orang yang lebih tua.


Setelah meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman itu, mama Hani keluar dari kamar tersebut.


Hani menatap makanan dan minuman tersebut disertai helaan nafasnya. Bahkan dia tidak memiliki keinginan untuk makan saat ini. 


Hani merasa lelah. Dia merebahkan dirinya di atas ranjangnya, berharap tubuh lelahnya itu bisa segera pulih agar dia bisa kembali berjuang untuk mendapatkan restu kedua orang tuanya.


Hanya beberapa detik saja matanya sudah terpejam kembali. Bahkan makanannya tidak tersentuh sama sekali.


Mama dan papa Hani merasakan sedih yang mendalam melihat keadaan putrinya saat ini. Bahkan air mata mama Hani menetes mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya.

__ADS_1


"Pa, apa Hani pingsan lagi? Kenapa dia tidak bersuara?" tanya mama Hani dengan cemasnya dari luar pintu kamar putrinya.


Papa Hani menghela nafasnya. Dadanya merasa sesak melihat keadaan putri kesayangannya saat ini.


"Mari kita lihat Ma," ucap papa Hani sambil meraih gagang pintu kamar tersebut.


Dibukanya perlahan pintu kamar putrinya itu. Mereka menghela nafasnya lega melihat putrinya sedang tidur.


Berjalanlah mereka mendekati putrinya yang sedang berbaring di tempat tidurnya.


"Abhi… Abhi… Abhi… Tolong aku… Abhi…."


Hani kembali mengigau. Dengan wajahnya yang menyiratkan ketakutan serta keringat yang membanjiri dahi serta pelipisnya, dia memanggil-manggil nama Abhiyasa.


"Pa, Hani kenapa Pa?" tanya mama Hani disertai isakan tangisnya.


Papa Hani segera membawa istrinya mendekati putri mereka. Tangan mama Hani memegang dahi putrinya seraya berkata,


"Badan Hani panas Pa. Bagaimana ini?"


"Sepertinya Hani masih belum makan dan meminum vitaminnya Ma," ucap papa Hani sambil menggerakkan dagunya untuk menunjuk ke arah makanan dan minuman tersebut.


Mama Hani mengikuti arah pandang suaminya. Dia pun menghela nafasnya melihat makanan dan minuman yang dibawanya tadi masih tetap utuh dan tidak tersentuh sedikit pun.


"Abhi… Abhi… Cepat pulang… Aku merindukanmu Abhi…," Hani kembali mengigau.


"Hani… Hani… bangun Sayang… Ini Mama. Bangunlah Hani…," ujar mama Hani yang berderai air mata melihat kondisi putrinya saat ini.


Papa Hani mengambil gelas yang berisi minuman di meja tersebut. Dia menggerakkan kepala Hani agar dalam posisi sedikit duduk.


"Hani… Bangunlah… Minumlah ini," tutur papa Hani sambil mendekatkan gelas yang berisi air putih di depan mulut Hani.


Papa Hani memaksa agar mulut Hani terbuka. Sedikit demi sedikit air minum itu berhasil masuk ke dalam mulut Hani.


Perlahan mata Hani terbuka. Dia memandang mama dan papanya yang ada di dekatnya. Mata Hani terlihat sayu dan wajahnya sedikit pucat. 

__ADS_1


"Mama… Papa…," sapa Hani sambil memaksakan senyumnya.


"Badan Hani panas. Sebaiknya Hani makan dulu, setelah itu minum obatnya," tutur mama Hani sambil membantu Hani duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya.


"Ma… Pa… Apa Papa dan Mama tidak bisa merestui keinginan hati Hani?" tanya Hani dengan suaranya yang lemah dan matanya yang kembali berkaca-kaca.


Mama Hani memandang suaminya yang sedang menghela nafasnya dengan memejamkan matanya. Dia tahu jika suaminya saat ini pasti sangat kesusahan untuk menetapkan pilihannya.


"Apa Hani yakin dengan pilihan hati Hani saat ini?" tanya papa Hani dengan menatap intens manik mata putrinya yang terlihat sayu.


"Hani yakin Pa. Ini kemauan hati Hani. Dan tidak ada yang memaksa Hani untuk mengubah keyakinan Hani," jawab Hani dengan suara lemah disertai anggukan lemah kepalanya.


Papa Hani melihat tidak ada keraguan dari mata putrinya. Dia menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Kemudian dia berkata,


"Baiklah. Papa mengijinkannya."


Seketika mama Hani menoleh ke arah suaminya seraya berkata,


"Pa!"


"Sudahlah Ma. Papa tidak tega melihat putri kita merasa tersiksa seperti ini. Papa hanya berharap jika keputusan Hani memang benar adanya. Papa juga berharap agar Hani selalu mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya," ujar papa Hani dengan berat hati.


Mata Hani yang berkaca-kaca kini mengeluarkan air matanya. Dia menangis bahagia. Perjuangannya untuk mendapatkan restu orang tuanya seakan terbayar sudah.


"Terima kasih Pa," ucap Hani lirih dengan suara yang bergetar dan air matanya yang menetes membasahi pipinya.


Mama Hani menghela nafasnya yang terasa berat di dadanya. Bahkan air matanya kini menetes membasahi pipinya melihat kebahagiaan putrinya di atas kesedihan hati orang tuanya.


Papa Hani yang tidak kuat menahan kesedihannya segera meninggalkan kamar putrinya. Hatinya sangat sakit memberikan ijin pada putrinya untuk berpindah keyakinan yang tidak lagi sama dengannya. Air matanya menetes tatkala merasakan kembali rasa sakit hatinya mengingat keputusannya.


Namun, tak bisa dipungkirinya jika sebagai orang tuanya sekali pun dia tidak bisa memaksa putrinya untuk tetap bersamanya, memeluk agama yang sama dengannya.


"Tuhan… maafkan aku. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk semuanya. Aku harap keputusan Hani memang benar, karena sejatinya tidak ada agama yang mengajarkan buruk pada umatnya. Tolong bantu aku untuk mengikhlaskannya," ucap papa Hani disertai lelehan air mata yang mengalir di pipinya.


Di dalam kamarnya, Hani dengan tertatih-tatih berusaha beranjak dari tempat tidurnya. Mama Hani yang masih berlinang air mata dengan cepatnya memegangi putrinya seraya berkata,

__ADS_1


"Mau ke mana Hani?"


__ADS_2