Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 40 Bisakah?


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Abhiyasa berbelok ke sebuah bangunan yang terlihat sangat khas. Hani terlihat bingung. Dia pun berkata,


"Kenapa kita ke sini Abhi?"


Abhiyasa melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian dia menoleh ke arah Hani dan berkata,


"Tunggu sebentar, aku mau ibadah dulu."


Setelah itu Abhiyasa turun dari mobilnya. Hani yang masih merasa penasaran pun ikut keluar dari mobil tersebut. Dia berjalan mengikuti Abhiyasa.


Merasa ada yang mengikutinya, Abhiyasa pun menoleh ke belakang. Dia terkejut melihat kekasihnya itu sedang berjalan di belakangnya.


"Kenapa turun?" tanya Abhiyasa dengan senyumnya yang mengembang.


"Rasanya sesak saja di dalam mobil. Aku akan menunggumu di luar sini. Bolehkan?" tanya Hani sambil tersenyum lebar pada Abhiyasa.


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Boleh. Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana. Aku gak mau sampai kehilangan kamu "


Ucapan Abhiyasa itu membuat Hani merasa sangat senang dan berarti. Hatinya serasa ditumbuhi berjuta-juta bunga yang bermekaran saat ini.


Abhiyasa meninggalkan Hani yang sedang terlihat malu-malu. Dia berjalan menuju tempat wudhu khusus untuk laki-laki.


Hani berada di tempat wudhu perempuan. Dia ragu untuk masuk ke dalam tempat tersebut. Dari tempatnya saat ini dia melihat seorang wanita yang sedang berwudhu. 


Rasa keingintahuannya itu sangat besar hingga membuatnya tidak sadar menjadi seperti seorang mata-mata yang sedang memperhatikan seseorang.


Wanita tersebut menoleh pada Hani setelah selesai berwudhu. Dan dia tersenyum pada ketika berpapasan dengannya.


Hani membalas senyumnya dan menganggukkan kepalanya untuk menghormati wanita paruh baya tersebut.


Setelah itu dia meninggalkan tempat tersebut untuk mengikuti wanita paruh baya itu. Karena rasa penasarannya, dia melihat apa saja yang dilakukan wanita paruh baya itu. Mulai dari caranya memakai mukena hingga apa saja yang dilakukan wanita tersebut ketika sedang melaksanakan shalat.


Dia memperhatikan semua gerakan shalat dari wanita tersebut dengan sangat fokus, tidak mau tertinggal sedetik pun.


Setelah melakukan shalat, wanita paruh baya tersebut menoleh ke arah Hani yang masih saja melihatnya. Wanita paruh baya tersebut tersenyum pada Hani. Kemudian dia melepas mukena bagian bawahnya dan berjalan menghampiri Hani.


"Assalamualaikum…," sapa wanita paruh baya tersebut pada Hani yang masih saja melihatnya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.


"Waalaikumussalam…," jawab Hani sambil menatap wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu menatap lembut pada Hani disertai senyumannya yang bisa menenangkan hati Hani. Kemudian dia berkata,


"Perkenalkan, saya Umi Halimah. Nama Mbak siapa?"


"Saya Hani," jawab Hani sambil tersenyum memperkenalkan dirinya.


"Mbak Hani tidak sholat?" tanya Umi Halimah sambil tersenyum pada Hani.


"Tidak Umi," jawab Hani sambil tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya.


"Lagi berhalangan ya?" tanya Umi Halimah kembali dengan suara lembutnya.


Hani gugup. Dia merasa seperti seorang tamu yang tidak diundang saat ini. Dia takut ketika akan menjawab yang sebenarnya.


Umi Halimah tersenyum dan memeluk Hani yang berada di depannya. Kemudian dia berkata,


"Jika kamu mau, kamu bisa bercerita dengan Umi tentang permasalahan yang sedang kamu hadapi saat ini. Umi tau sekarang kami sedang menghadapi masalah."


Seketika mata Hani terbelalak. Dia merasa malu pada Umi Halimah yang tau akan isi hatinya saat ini.


Umi Halimah mengurai pelukannya. Dia menatap Hani dengan tatapan lembutnya dan tersenyum seraya berkata,


Tanpa sadar Hani pun tersenyum dan berkata,


"Apa Hani bisa bertanya apa pun pada Umi?"


Umi Halimah mengerutkan dahinya. Dia menatap heran pada Hani. Kemudian dia berkata,


"Kenapa tidak? Selama Umi bisa menjawabnya pasti Umi akan menjawabnya. Jika Umi tidak bisa menjawabnya, kita tanyakan pada suami Umi. Dia ulama di sini. Insya Allah dia bisa membantu Hani."


Mata Hani berbinar seolah dia menemukan jalan keluar untuk permasalahannya. Dia memegang tangan Umi Halimah seraya berkata,


"Apa boleh Umi? Hani punya banyak pertanyaan yang ingin Hani tanyakan tentang agama islam."


Umi Halimah tersenyum. Dia mengerti arti ucapan dari Hani. Kemudian dia berkata,


"Jika itu memang murni dari lubuk hati kamu yang paling dalam dan tidak ada paksaan, Umi sangat senang sekali membantumu mengenal tentang agama islam."


"Hani benar-benar ingin tau Umi. Dan tidak ada yang memaksa Hani untuk mencari tau tentang agama islam. Apa Umi bisa membantu Hani?" tanya Hani dengan tatapan penuh harap pada Umi Halimah.


Umi Halimah tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia mengusap lembut pundak Hani dan berkata,

__ADS_1


"Kapan pun Hani mau, silahkan temui Umi. Rumah Umi ada di belakang masjid ini. Atau jika Hani berkenan, boleh simpan nomor Umi. Hubungi Umi kapan pun jika Hani ingin berkunjung."


Mata Hani kembali berbinar. Bahkan senyumnya seketika merekah hingga membuat wajahnya terlihat bahagia saat ini.


Dengan segera dia mengambil ponsel dari sakunya. Kemudian mencatat nomor ponsel Umi Halimah sesuai dengan yang disampaikannya.


Abhiyasa yang sudah selesai melaksanakan sholatnya berjalan keluar masjid tersebut. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Hani sedang berbincang dengan seorang wanita yang masih memakai mukena bagian atas dengan sangat akrab.


Abgiyasa berjalan mendekati mereka dan berkata,


"Hani, ada apa?"


Umi Halimah dan Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang sudah berdiri di sebelah mereka. Hani tersenyum dan berkata,


"Sudah selesai shalatnya Abhi?"


Umi Halimah tersenyum. Dia sedikit mengerti akan situasi saat ini. Kemudian dia berkata,


"Apa dia pacarmu Hani?"


Hani tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Umi Halimah padanya.


Umi Halimah pun tersenyum mendapatkan jawaban dari Hani. Kemudian dia berkata,


"Kalian cocok. Ganteng dan cantik. Semoga kalian berdua berjodoh. Umi sangat senang berkenalan dengan Hani. Umi ke dalam dulu ya."


Seketika Hani dan Abhiyasa saling menatap. Mereka saling memberikan senyumnya setelah mendengar perkataan dari Umi Halimah. Mereka malu mendengar pujian Umi Halimah, akan tetapi mereka sangat senang mendengar Umi Halimah mendoakan mereka berjodoh.


Umi Halimah pun masuk ke dalam masjid setelah Hani dan Abhiyasa mempersilahkannya.


Sedangkan Hani dan Abhiyasa kembali ke dalam mobilnya untuk meneruskan perjalanannya menuju taman yang akan mereka kunjungi.


Di taman tersebut tidak hanya mereka saja yang berada di sana. Ada beberapa keluarga yang membawa anak mereka bermain di sana. Ada juga muda-mudi yang menghabiskan waktu mereka di tempat itu.


Mata Hani tidak lepas memandang seorang anak kecil yang bermain bola bersama dengan kedua orang tuanya. Terlihat sekali dia tertarik dengan tingkah lucu anak tersebut. Hingga dia ikut tertawa melihat kelucuan dari anak itu ketika bermain bola.


Abhiyasa memperhatikan wajah Hani yang sedang tertawa. Dia juga memperhatikan apa yang sedang diperhatikan oleh Hani saat ini. Dalam hatinya berkata,


Apa kita bisa seperti itu Hani? Aku ingin mempunyai keluarga yang bahagia denganmu dan anak kita nanti.


"Abhi, apa kita bisa seperti mereka nanti?" tanya Hani tanpa menoleh ke arah Abhiyasa, dia masih saja memperhatikan keluarga tersebut.

__ADS_1


__ADS_2