
Satu hal yang tidak bisa dihindari oleh Hani saat ini. Dia harus menjawab permintaan Aulia.
Jujur saja, siapa yang mau mengijinkan pasangannya selingkuh meskipun masih berpacaran? Hani pun demikian. Alih-alih mengijinkan pacarnya memiliki hubungan dengan perempuan lain, Hani lebih memilih memutuskan hubungan mereka.
"Maaf Mbak, tapi–"
"Kamu egois! Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri! Aku yakin jika kamu berpacaran dengan Abhiyasa karena mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Gak mungkin perempuan sepertimu bisa menyukai seorang polisi biasa," tuduh Aulia dengan sinisnya.
"Cukup! Saya tidak serendah itu!" sahut Hani dengan tegas dan menatap tajam pada Aulia yang menyeringai padanya.
Tanpa mereka berdua sadari, Abhiyasa yang berada di luar toilet tersebut mendengar percakapan mereka mulai awal tadi. Toilet yang memang didesain tanpa pintu seperti layaknya toilet di tempat umum itu dapat dengan mudah didengar dari luar.
Memang sejak awal Abhiyasa berada di sana. Dia tidak mau membiarkan Hani sendirian tanpa dirinya. Dia mengantar kekasih hatinya itu ke toilet dan menunggunya di depan toilet tersebut.
Tidak disangkanya jika firasat buruknya itu terjadi. Tangan Abhiyasa mengepal mendengar semua yang dikatakan oleh Aulia pada Hani.
Namun, dia tidak bisa langsung masuk ke dalam toilet wanita. Daerah itu terlarang untuk kaum pria.
"Jika memang kamu tidak serendah itu, cobalah untuk memberi kesempatan Abhiyasa menjalin hubungan denganku," ujar Aulia dengan tegas seolah menantang Hani.
Deg!
Hati Hani kembali sakit mendengar perkataan Aulia yang tak ubahnya seperti orang tidak waras. Bukannya Hani tidak berani melawannya, dia hanya tidak mau membesar-besarkan sesuatu yang bahkan tidak ada masalah di antara mereka.
"Dasar tidak waras," gumam Abhiyasa dengan mengeratkan gigi-giginya untuk menahan kekesalannya.
Hanya beberapa hari saja mengenal Hani, Abhiyasa tahu jika Hani tidak suka bertengkar dengan orang lain. Jadi bisa dipastikan jika Hani tidak akan membalas perkataan Aulia.
"Hubungan kami gak main-main Mbak. Jadi lebih baik saya mengakhiri hubungan kami daripada mengijinkannya untuk berselingkuh," tegas Hani pada Aulia yang masih saja memaksanya.
"Baguslah. Kalau begitu lebih baik putuskan saja hubungan kalian. Aku yakin Abhiyasa akan lebih bahagia denganku karena aku lebih mengenal dirinya dibandingkan kamu," sahut Aulia dengan seringaiannya.
Cukup, Abhiyasa tidak mau mendengarkan lebih dari itu. Dia juga tidak ingin Hati Hani menjadi sedih karena semua perkataan Aulia padanya.
"Honey! Honey! Di mana kamu Hon?!" seru Abhiyasa yang seolah sedang mencarinya.
"Iya, sebentar!" teriak Hani dari dalam toilet sambil menatap tajam pada Aulia.
"Honey! Kenapa lama sekali? Apa ada masalah?" seru Abhiyasa dari luar toilet.
Hani berjalan keluar dari toilet meninggalkan Aulia yang masih berdiri di sana.
__ADS_1
"Abhi, apa ada toilet yang lain?" tanya Hani pada Abhiyasa ketika sudah berada di depan toilet tersebut.
Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Abhiyasa segera menggandeng Hani menuju ruangannya yang berada di lantai atas.
"Silahkan Honey. Toiletnya ada di sebelah sana," ucap Abhiyasa sambil menunjuk ruangan yang ada di pojok ruangan tersebut.
Abhiyasa menunggu Hani dengan melihat pemandangan sekitar melalui jendela kaca ruangan tersebut.
Hani keluar dari toilet dan berjalan menghampiri Abhiyasa. Dia melihat takjub pada pemandangan kota yang terlihat dari jendela kaca tersebut.
"Ini ruangan kantor kamu?" tanya Hani pada Abhiyasa yang masih menikmati suasana malam kota tersebut.
Abhiyasa menoleh ke arah samping di mana Hani sedang berdiri di sebelahnya. Dia tersenyum dan merangkul pundak Hani seraya berkata,
"Lihatlah pemandangan itu, cantik bukan? Kerlap-kerlip lampu kota ternyata bisa terlihat indah juga dari atas."
Hani tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui perkataan Abhiyasa. Pemandangan kota di malam hari ternyata sangat indah jika dilihat dari tempat yang tepat.
Hani menoleh ke arah Abhiyasa. Dia menatap wajah kekasihnya itu seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun, apa yang ingin ditanyakan olehnya itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Hatinya melarangnya untuk mengatakan hal itu.
"Sudah jangan dipikirkan. Kasihan otak cantikmu ini jika terlalu banyak memikirkan hal yang gak berguna," ujar Abhiyasa sambil mengusap lembut rambut Hani.
Seketika Hani terbelalak mendengar perkataan Abhiyasa padanya. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana kamu bisa tau jika aku sedang memikirkan sesuatu?"
Abhiyasa terkekeh mendengar pertanyaan dari kekasih hatinya itu. Dia mencubit gemas hidung Hani seraya berkata,
"Apa sih yang gak aku ketahui dari kamu?"
Sontak saja Hani menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya seraya menatap Abhiyasa dengan memicingkan matanya dan berkata,
"Jangan bilang kalau kamu tau yang lainnya."
Seketika tawa Abhiyasa pecah. Dia mencubit gemas kedua pipi Hani dan berkata,
"Lucu banget sih kamu."
Hani melepas kedua tangan Abhiyasa dari pipinya seraya berkata,
__ADS_1
"Harusnya aku jadi komedian, bukan jadi banker."
Abhiyasa kembali tertawa mendengar perkataan Hani. Dia benar-benar terhibur dengan adanya Hani dalam kehidupannya.
Tok… tok… tok…
Suara pintu ruangan tersebut diketuk dari luar oleh seseorang.
"Maaf Pak, teman-teman Bapak sedang mencari Bapak."
Terdengar suara manajer restoran yang sedang memanggil Abhiyasa disertai ketukan pintu darinya.
Sontak saja Abhiyasa dan Hani menoleh ke arah pintu tersebut. Kemudian mereka saling menatap dan tersenyum.
"Ayo kita keluar Honey. Ingat, jangan pikirkan hal lain. Kamu hanya boleh memikirkan pacar ganteng mu ini saja," tutur Abhiyasa sambil terkekeh.
Hani pun tersenyum mendengar penuturan Abhiyasa yang membanggakan dirinya sendiri.
Mereka menuruni tangga dengan Abhiyasa yang menggandeng tangan Hani. Semua itu tak luput dari pandangan semua orang yang berada di sana.
Aulia menatap kesal pada Hani. Dia sengaja datang ke acara itu agar bisa berbicara pada Abhiyasa. Sayangnya dengan kehadiran Hani di dekat Abhiyasa membuat rencana Aulia berantakan.
Abhiyasa mengajak Hani berkumpul bersama dengan teman-temannya. Dia tidak mau meninggalkan Hani seorang diri. Apalagi dia melihat Aulia yang sedari tadi memperhatikannya.
Hani benar-benar menjadi tamu agung dalam acara tersebut. Abhiyasa menyiapkan meja sendiri untuk mereka makan berdua.
Setelah mereka selesai makan, Abhiyasa kembali mengajak Hani berkumpul bersama teman-temannya. Mereka mampu membuat Hani menjadi nyaman. Bahkan candaan mereka bisa diikuti Hani tanpa menyinggung siapa pun.
Waktu pun bergulir dengan cepat. Acara pun telah berakhir. Mereka semua meninggalkan restoran itu dengan hati yang gembira. Kecuali Aulia yang tidak merasa senang sama sekali sejak kedatangan Abhiyasa yang menggandeng Hani bergabung bersama dengan mereka.
"Yasa, aku mau bicara."
Terdengar suara perempuan menghentikan Abhiyasa dan Hani yang akan masuk ke dalam mobil.
Hani dan Abhiyasa menoleh ke arah sumber suara. Tidak jauh dari mereka berdirilah Aulia seorang diri.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak pulang bersama dengan yang lain? Pulanglah, hari sudah mulai larut," ujar Abhiyasa yang seolah tidak ingin mendengarkan apa pun dari mulut Aulia.
Aulia berjalan mendekati Abhiyasa tanpa melihat ke arah Hani. Dia pun berkata,
"Yasa, aku mau bicara berdua denganmu."
__ADS_1