Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 59 Air mata kebahagiaan


__ADS_3

Hani terkesiap mendengar pertanyaan yang diajukan oleh mamanya melalui telepon. Sejenak dia terdiam, kemudian dia berkata,


"Ma, memangnya Hani lagi ngapain sama Abhiyasa? Hani tidak berbuat macam-macam sama Abhi Ma. Kami hanya–"


Lalu kalian kenapa? Tidak mungkin malam-malam begini hubungi Mama jika bukan hal yang sangat penting, tanya mama Hani yang masih saja menaruh curiga pada Hani dan Abhiyasa.


Hani menghela nafasnya. Dia merasa mamanya sedang salah paham padanya. 


"Ma, sepertinya Mama masih ngantuk ya? Mama itu salah paham sama kita. Hani cuma mau mengatakan jika besok Abhiyasa bersama dengan kedua orang tuanya akan berkunjung ke rumah untuk bertemu Mama dan Papa," jelas Hani dengan perlahan agar mamanya mengerti.


Mereka akan datang ke sini? Maksudnya mereka akan melamar kamu? tanya mama Hani yang terdengar kaget.


"Iya Ma. Besok persiapkan semuanya ya Ma. Calon menantu Mama sama Papa besok akan datang melamar putrimu ini," jawab Hani sambil terkekeh.


Ya sudah, besok Mama akan persiapkan semuanya. Hani tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, tukas mama Hani dari seberang sana.


"Mama memang yang terbaik deh. Hani sayang banget sama Mama dan Papa. Salam sayang Hani buat Papa ya Ma," ucap Hani yang terdengar sangat bahagia.


Tanpa diketahui oleh Hani, air mata Mama Hani menetes karena mendengar suara kebahagiaan Hani yang dapat dirasakannya sebagai seorang ibu.


Hani, sapa mama Hani dengan suara yang sedikit tercekat.


"Iya Ma, ada apa?" tanya Hani yang tiba-tiba serius mendengar suara mamanya memanggil namanya.


Apa Hani bahagia? tanya mama Hani dengan mengusap air matanya yang menetes di pipinya.


"Hani bahagia Ma. Sangat bahagia. Hani harap Mama dan Papa juga bahagia dengan keputusan Hani," jawab Hani dengan serius dan mata yang berkaca-kaca.


Jika Hani bahagia, Mama dan Papa pasti bahagia. Doa kami selalu menyertaimu Hani, ujar mama Hani dengan menahan tangisnya.


Tanpa terasa air mata Hani pun luruh dengan sendirinya. Dia merasa sangat bahagia karena dikaruniai keluarga yang sangat sayang serta pengertian padanya. 


Dia juga sangat bersyukur atas karunia Allah padanya karena telah mempertemukannya dengan sosok Abhiyasa yang sangat perhatian dan sangat sayang padanya. Serta keluarga Abhiyasa yang sangat baik padanya.


"Mama dan Papa sangat berarti bagi Hani. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan rasa sayang serta cinta Mama dan Papa pada Hani. Hani… Hani sangat menyayangi Mama dan Papa…," ujar Hani dengan suara yang bergetar.


Setelah itu mereka sama-sama mengakhiri panggilan telepon tersebut karena merasa sudah tidak bisa menahan tangis kebahagiaan mereka. 


Air mata kebahagiaan Hani masih saja menetes. Bahkan dia tidak bisa menghentikannya saat ini. Diredamnya tangisannya di bawah bantal, hingga tanpa terasa dia tertidur dengan sendirinya.

__ADS_1


...----------------...


Pagi pun menyapa. Wajah Hani terasa lengket karena banyaknya air mata yang dikeluarkannya semalaman. 


"Uuuh… rasanya wajahku lengket sekali," ucap Hani dengan suara seraknya.


Hani beranjak duduk dari tidurnya. Dia terdiam dengan mengerjap-ngerjapkan matanya seolah sedang mengumpulkan ingatannya.


Seketika dia teringat jika semalam dia berbicara dengan mamanya. Dengan segera Hani beranjak dari tempat tidurnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Hari ini dia meminta ijin tidak masuk bekerja dan berniat akan membantu persiapan di rumah orang tuanya.


Hani merasa tidak sabar menunggu nanti malam. Bibirnya tak henti-hentinya menyungingkan senyumannya. 


Kini hatinya sungguh berbunga-bunga. Bahkan tanpa bertanya pun orang akan tahu jika saat ini Hani sedang berbahagia. Senyuman Hani yang tidak pernah luntur itu membuat binar kebahagiaannya dapat terlihat dengan jelas oleh siapa pun.


Setelah dia bersiap, segeralah Hani mengambil sling bag nya dan membawa tas jinjing besar yang sudah diisinya dengan pakaian serta kebutuhan untuk menunjang penampilannya nanti malam.


Tiba-tiba mata Hani terbelalak ketika keluar dari kamarnya. Dia terkesiap melihat seseorang yang kini sedang berdiri di depan kamarnya sambil tersenyum padanya.


"Abhi?!" celetuk Hani yang terlihat kaget saat ini.


"Morning Honey," sapa Abhiyasa sambil tersenyum manis padanya.


Abhiyasa bergerak maju mendekati Hani. Kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri seraya berkata,


"Honey! Kamu baik-baik saja?" 


Sontak saja Hani tersadar. Dengan canggungnya dia berkata,


"A-Abhi, kamu… kamu kenapa bisa ada di sini?" 


Hani salah tingkah ketika Abhiyasa terkekeh melihat kegugupannya. 


"Ya aku masuk seperti biasanya. Masuk lewat pintu," ucap Abhiyasa di sela kekehannya.


"Kok bisa? Bukannya aku belum membukanya?" tanya Hani dengan antusias.


Abhiyasa tersenyum mendengar pertanyaan kekasihnya yang menurutnya sangat lucu karena tidak mengingat jika Abhiyasa mempunyai akses tersendiri agar bisa masuk ke dalam rumah Hani.

__ADS_1


Abhiyasa mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan menunjukkan benda tersebut pada Hani seraya berkata,


"Kamu lupa jika aku mempunyai ini?"


Seketika Hani mencebik kesal. Dia memicingkan matanya menatap Abhiyasa dan berkata,


"Ck, curang sekali kamu Abhi. Kamu sengaja ya, gak balikin kunci rumahku agar kamu bisa masuk ke dalam rumahku kapan saja?"


Abhiyasa menatap bingung pada kekasihnya yang saat ini sedang merajuk padanya. Dia pun berkata,


"Curang? Curang kenapa?"


"Ya curang, karena hanya kamu saja yang mempunyai kunci rumahku. Sedangkan aku… aku gak punya kunci rumahmu," ucap Hani sambil menundukkan kepalanya.


Abhiyasa terkekeh mendengar jawaban dari Hani. Apa lagi saat ini Hani sedang menundukkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya dan memainkan kakinya dengan bergerak-gerak membentuk pola abstrak di lantai.


"Hani, kamu tau gak sih?" tanya Abhiyasa di sela kekehannya.


Hani mendongakkan kepalanya untuk menatap Abhiyasa dan berkata,


"Apa?"


Abhiyasa menengadahkan wajahnya dan mencubit kedua pipi Hani seraya berkata,


"Kamu itu sangat menggemaskan…."


Seketika semburat merah terlihat di wajah Hani. Lagi-lagi dia malu hanya karena Abhiyasa memperlakukannya seperti itu.


Hani melepaskan kedua tangan Abhiyasa yang ada pada kedua pipinya. Kemudian dia berkata,


"Iiih… Abhi, kebiasaan deh. Kan sakit pipi Hani. Kalau sampai merah gimana? Padahal nanti malam kan Hani mau…," Hani menggantungkan ucapannya. 


Dia merasa malu pada Abhiyasa yang sedang tersenyum mendengar ocehannya dan dia merasa keceplosan seolah memberitahukan jika dia sedang menantikan dan mempersiapkan untuk acara malam nanti.


"Kenapa Hani? Memangnya ada apa dengan nanti malam?" tanya Abhiyasa yang berniat menggoda kekasih hatinya itu.


Hani bertambah malu. Kini dia menghadap ke arah lain karena salah tingkah ketika bertatap mata dengan kekasihnya itu.


"Udahlah. Aku mau berangkat dulu," ujar Hani untuk menutupi kegugupannya dan rasa malunya karena sedang digoda oleh Abhiyasa.

__ADS_1


Abhiyasa menatap heran pada tas besar yang dijinjing oleh Hani saat ini. Kemudian dia memegang tangan kanan Hanin yang sedang menjinjing tas tersebut seraya berkata,


"Ini apa Hani? Kamu mau ke mana?"


__ADS_2