Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 22 Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Kini Hani gugup ketika berhadapan dengan Abhiyasa. Dia merasa bingung akan menyampaikan yang mana dulu. Menyampaikan kegalauannya tentang hubungan mereka yang akhirnya mau dibawa ke mana. Atau menyampaikan alasannya tidak berpindah tempat ketika makan tadi. 


Ditambah lagi cara bertanya Abhiyasa yang seolah bertanya pada orang yang melakukan kesalahan.


Terlebih tatapan mata Abhiyasa yang membuat degup jantungnya semakin cepat, sehingga Hani bertambah gugup saat ini.


"Hani, apa ada yang mau kamu katakan padaku?" tanya kembali Abhiyasa yang masih menatap intens manik mata kekasihnya.


"Hani! Hani! Ayo, cepatlah! Jam istirahat kita akan segera berakhir!" 


Tiba-tiba terdengar suara Lia yang memanggilnya semakin lama semakin dekat.


Sontak saja Abhiyasa melepaskan tangan Hani. Dan Hani merasa sangat kehilangan Abhiyasa ketika tangan Abhiyasa melepaskan tangannya.


Hani menatap nanar tangannya dan tangan Abhiyasa yang terasa sangat nyata seperti sebuah perpisahan.


Entah mengapa hati Hani merasa sakit saat ini. Dia merasa sedih seperti benar-benar kehilangan sosok Abhiyasa yang biasanya menggandeng tangannya.


"Hani, kenapa masih berdiri di sini?" tanya Lia ketika sudah berada di hadapan Hani.


Lia menoleh ke arah samping Hani, di mana mata Hani mengarah pada seseorang yang berada tidak jauh darinya. Sayangnya saat itu Abhiyasa memunggungi mereka.


Merasa ada yang aneh dengan tatapan Hani, Lia pun berkata,


"Dia siapa Hani? Apa kamu mengenalnya?" 


Hani tersentak, dia baru sadar jika Lia sudah berada di depannya. Dia kembali gugup dan salah tingkah.


"Mmm… Apa sudah waktunya kita kembali?" tanya Hani pada Lia.


Mendengar Hani mengatakan hal itu, Abhiyasa menghadap ke arah Hani. Dia menatap penuh arti pada Hani.


Hani pun menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Abhiyasa. Mata Hani tampak sedih dan seperti tidak rela. Sayangnya Hani tidak mengatakan apa pun pada Abhiyasa.


Sedangkan Lia, dia menatap kagum pada sosok Abhiyasa. Matanya berbinar melihat ketampanan dan penampilan Abhiyasa yang mampu memikat hatinya.


"Mas, boleh kenalan? Saya Lia," ucap Lia sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Abhiyasa melihat tangan Lia yang diulurkan padanya, kemudian dia menatap Hani yang seolah tidak rela Abhiyasa menjabat tangan Lia. Sehingga dalam beberapa saat tangan Lia hanya bergantung di udara.


"Hani! Lia! Kenapa kalian lama sekali? Ayo kita balik. Jam istirahat sudah hampir selesai," seru Dino yang berjalan bersama Bayu menghampiri mereka.


Seketika Hani menarik tangan Lia yang terulur pada Bayu. Hani menariknya untuk keluar dari resto tersebut.


Abhiyasa kembali kecewa pada sikap Hani. Dia tidak percaya pada sikap Hani yang tiba-tiba berubah sepulang dari reuni semalam.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya ada banyak hal dalam pikirannya," gumam Abhiyasa disertai helaan nafasnya.


Langkah Abhiyasa sangat berat ketika keluar dari resto tersebut. Rasanya dia enggan melakukan apa pun saat ini.


Sama halnya dengan Hani. Dia merasa enggan melangkahkan kakinya meninggalkan Abhiyasa. Dia pun merasakan enggan melakukan apa pun saat ini.


"Hani, laki-laki tadi siapa? Apa kamu kenal?" bisik Lia di telinga Hani sewaktu perjalanan ke kantor mereka.


Hani tersenyum getir mendengar pertanyaan dari Lia. Kemudian dia berbalas bisik pada Lia,


"Memangnya ada apa? Kenapa kamu menanyakan laki-laki itu?"


Lia tersenyum lebar pada Hani setelah mendengar pertanyaan Hani. Kemudian dia berbisik kembali di telinga Hani,


Deg!


Hani merasakan jika dirinya sangat bersalah. Saat itu juga dia merutuki kebodohannya. Dalam hati dia berkata,


Benar apa yang dikatakan oleh Lia. Harusnya aku menjaga hubungan kita yang baru beberapa hari ini. Jika aku menjaga jarak dengannya, sama saja aku memberi kesempatan pada perempuan lain seperti Aulia dan Lia.


Hani kembali tidak fokus dalam bekerja. Dia memikirkan hubungannya dengan Abhiyasa yang baru saja terjalin beberapa hari lalu.


Tiba-tiba saja dia menghentikan kegiatan mengetiknya dan berkata lirih,


"Sepertinya aku akan gila jika terus-terusan seperti ini. Aku harus bisa memperbaiki hubungan kami."


Hani menyusun rencana apa saja yang akan dilakukannya ketika pulang nanti dan apa saja yang akan dibicarakannya ketika bertemu dengan Abhiyasa nanti.


Secercah harapan darinya itu membuat semangat dalam dirinya kembali bangkit. Dia mengerjakan pekerjaannya dengan fokus agar bisa cepat selesai dan pulang ke rumah bertemu dengan Abhiyasa.

__ADS_1


"Yes…! Akhirnya selesai sudah," seru Hani dalam ruangannya sambil tersenyum lebar melihat semua pekerjaannya telah usai dikerjakannya.


Masih dalam posisi duduk, Hani meliuk-liukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Kemudian dia berseru,


"Waktunya pulang!"


Dengan riangnya Hani melangkah keluar dari ruangannya. Langkah kakinya terasa sangat ringan melangkah keluar dari kantornya.


"Malam Mbak Hani," sapa satpam yang berjaga di luar kantor tersebut.


"Malam Pak," jawab Hani sambil tersenyum pada satpam tersebut.


"Tumben Mbak, Mas yang waktu itu tidak ke sini?" ucap satpam tersebut menghentikan langkah kaki Hani yang baru beberapa langkah.


Hani mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan satpam itu. Kemudian dia menoleh ke arah satpam tersebut dan berkata,


"Mas yang mana Pak?"


"Itu loh Mbak, pacarnya Mbak Hani yang waktu itu ke sini jemput Mbak Hani. Mas yang ganteng itu loh Mbak," ucap satpam tersebut sambil tersenyum lebar.


Seketika Hani teringat akan saat-saat Abhiyasa yang selalu memperhatikannya. Kehilangan, rasa itu kini benar-benar dirasakannya. Dia kehilangan sosok Abhiyasa yang selalu ada untuknya dan sosok Abhiyasa yang selalu perhatian padanya.


Hani tersenyum getir menanggapi ucapan dari satpam tersebut. Tanpa mengatakan apapun, Hani masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih.


Tiba di rumahnya, Hani segera menuju rumah Abhiyasa. Dia mengetuk pintu Abhiyasa dengan antusias.


Namun, Abhiyasa tidak kunjung membukakan pintu untuknya. Dia baru sadar jika lampu dalam rumah Abhiyasa tidak menyala. Dia tidak menyadari itu karena lampu luar rumah Abhiyasa menyala seperti biasanya.


"Astaga… aku baru ingat jika dia sedang bekerja sekarang. Apa yang sedang aku pikirkan hingga aku melupakan hal itu? Bodoh… bodoh… bodoh sekali kamu Hani," ucap Hani yang sedang merutuki kebodohannya sambil memukuli kepalanya sendiri.


Dengan langkah malasnya Hani berjalan menuju rumahnya. Semangatnya yang telah tumbuh, kini kembali layu. Rasanya dia tidak sabar menanti esok hari untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


Setelah dia membersihkan badannya, Hani duduk termenung di depan televisi sambil melihat ponselnya. Dia ingin sekali mendengar suara kekasihnya itu.


Tanpa sadar tangannya menyentuh tombol memanggil ketika membuka nomor kontak telepon Abhiyasa.


Lama panggilan telepon itu berdering, Abhiyasa tak kunjung menerimanya. Hingga terdengar suara operator yang menyarankannya untuk meninggalkan pesan.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, jemari lentik Hani menekan tombol untuk merekam pesan pada Abhiyasa.


"Abhi, kamu di mana? Kenapa kamu gak jawab teleponku? Apa kamu tau jika aku sekarang sedang… rindu?"


__ADS_2