Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 42 Keinginan hati Hani


__ADS_3

Setelah Abhiyasa kembali ke kantornya, Hani pun kembali ke rumah Umi Halimah. Dia merasa tenang di sana. Kawasan pondok pesantren yang dimiliki oleh suami Umi Halimah itu membuat Hani mengetahui banyak hal.


Banyak hal yang dilihatnya di sana. Bahkan hari itu dia menginap di tempat Umi Halimah untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan di pondok pesantren tersebut.


Di tempat itu dia mendapatkan banyak pelajaran yang belum pernah diketahuinya. Bahkan dia sangat bersemangat untuk selalu bertanya pada Umi Halimah tentang apa saja yang belum dimengerti olehnya.


"Umi, sepertinya Hani harus lebih lama lagi tinggal di sini. Jika hanya sehari saja Hani pikir belum cukup," ucap Hani pada Umi Halimah yang sangat sedang memakan kue bersama Hani di teras rumahnya.


Umi Halimah tersenyum padanya. Dia sangat menghargai kemauan dan semangat Hani yang melebihi santri lainnya. Kemudian dia berkata,


"Umi senang jika kamu betah di sini. Umi tidak melarang kamu jika ingin menginap atau tinggal di sini. Kapan saja Hani bisa tinggal atau menginap di sini. Umi menerima dengan tangan terbuka."


Tiba-tiba Hani memeluk tubuh Umi Halimah. Dia sangat senang bisa dekat dengan Umi Halimah.


Dalam posisinya yang memeluk Umi Halimah dengan erat itu dia tersenyum berkata,


"Hani seneng banget bisa dekat dengan Umi. Hani merasa beruntung bisa bertemu dengan Umi saat itu."


Umi Halimah tersenyum. Dia senang mendengar perkataan Hani. Tangannya mengusap lembut rambut hitam nan panjang milik Hani seraya berkata,


"Umi juga sangat senang bertemu dengan gadis cantik yang punya semangat tinggi dalam belajar. Semoga Hani diberi jalan keluar dari setiap permasalahan yang Hani hadapi. Dan semoga Hani bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh Hati Hani."


Banyak pasang mata yang memperhatikan Hani dan Umi Halimah saat berpelukan layaknya seorang ibu dan anak. Mereka memandang heran dengan kehadiran Hani yang tidak menutup auratnya di wilayah pondok pesantren.


Apalagi Hani merupakan tamu dari Umi Halimah, istri dari pemilik pondok pesantren tersebut. Sayangnya mereka hanya bisa saling bertanya di antara para santri saja, mereka tidak berani bertanya pada Umi Halimah secara langsung.


Hani selalu menemani Umi Halimah ke mana pun. Bahkan di saat Umi Halimah mengajar para santri pun Hani tetap berada di sisinya. Dia melihat dan memperhatikan dengan seksama apa yang diajarkan oleh Umi Halimah pada para santri tersebut. 


Semua ajaran dan apa yang disampaikan oleh Umi Halimah pada para santrinya juga disimpan baik-baik oleh Hani dalam memori otaknya. Dia tidak ingin kesempatan belajar itu dilakukan dengan percuma. Dia ingin mendapatkan hasil dari keberadaannya di tempat itu.


Terlihat jelas dari wajah Hani binar kebahagiaan dan semangatnya dalam belajar. Umi Halimah sangat senang sekali melihat keantusiasan Hani saat ini.

__ADS_1


Ingin sekali Umi Halimah menjadikan Hani sebagai santrinya. Akan tetapi dia tidak bisa memaksakan keinginannya itu. Dia sadar akan posisi mereka saat ini. Dan dia hanya berharap agar Hani mendapatkan yang terbaik atas jawaban keinginan hatinya saat ini.


Saat ini Umi Halimah sedang menemani Hani memasak di dapur. Mereka mempraktekkan hasil belajar memasak Hani yang diajarkan oleh Umi Halimah.


 


"Umi, sebelum Hani pulang, Hani ingin mengatakan sesuatu," ucap Hani tanpa keraguan.


Umi Halimah menghentikan kegiatannya untuk mengupas sayuran. Kemudian dia menatap Hani dengan tatapan penuh tanya seraya berkata,


"Ada apa Hani? Katakan saja. Insya Allah Umi akan membantu jika memang Umi bisa melakukannya dan tentu saja jika Allah menghendakinya."


Hani mendekati Umi Halimah dan memegang kedua tangannya. Kemudian dia menatap mata Umi Halimah dan berkata dengan serius,


"Umi, bagaimana jika Hani ingin berpindah keyakinan?"


Seketika Umi Halimah tersenyum dan matanya berkaca-kaca mendengar pertanyaan dari Hani. Hanya mendengar pertanyaan itu saja Umi Halimah merasa tersentuh dan menahan air matanya hingga berkumpul di pelupuk matanya. Bagaimana jika Hani benar-benar berpindah keyakinan? 


"Jika memang iya… bagaimana Umi?" jawab Hani dengan ragu-ragu.


Umi Halimah tersenyum seperti biasanya. Senyumannya itu mampu memenangkan hati Hani yang sedang melihatnya.


"Jika masih ada keraguan, lebih baik jangan, meskipun keraguan itu sangat kecil di hatimu. Cari tahu lagi apa yang diinginkan oleh hatimu. Jangan terburu-buru agar tidak ada penyesalan nantinya," jawab Umi Halimah dengan suaranya yang begitu lembut dan senyumannya yang sangat menenangkan.


Hani tersenyum mendengar jawaban dari Umi Halimah. Dan benar saja, Umi Halimah melihat keraguan pada senyum Hani saat itu.


"Sebaiknya kita selesaikan semua ini sebelum kamu pulang ke rumah," tutur Umi Halimah sambil mengusap halus pundak Hani.


Hani pun menurut. Dia kembali melakukan kegiatan memasaknya. Sayangnya pikirannya tetap memikirkan kegundahan hatinya.


Umi Halimah merasakan kegelisahan hati Hani. Dia mendekati Hani dan mengajaknya berbicara agar kegundahan hatinya itu bisa teralihkan saat ini.

__ADS_1


Terdengar tawa dan canda dari dalam dapur itu. Hani dan Umi Halimah benar-benar menghidupkan suasana di dapur yang biasanya sunyi dan tidak seceria itu.


Suara mereka mampu menarik perhatian Hamza yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah itu. Bahkan salam yang diucapkannya tidak ada yang menjawabnya. Sepertinya Umi Halimah tidak mendengarnya karena sedang asyik dengan kegiatannya saat ini.


Dia mencari sumber suara yang diketahuinya salah satu dari suara tersebut adalah suara Uminya.


Langkah kakinya membawanya mendekati suara tersebut dan berakhirlah langkah kaki itu di depan dapur. Dia melihat Uminya sedang tertawa dan bercanda dengan seorang perempuan cantik yang tidak menutupi bagian kepalanya dengan hijab.


Pemandangan itu sangat langka bagi Hamza. Bahkan dia tidak pernah melihatnya. Tawa Uminya itu serasa mahal jika bersama dengan orang lain selain keluarganya. Dan kini dia menyaksikan hal yang berbeda.


Siapa perempuan itu? Kenapa Umi bisa begitu dekat dengannya? Dan kenapa dia tidak memakai hijab? Hamza bertanya-tanya dalam hatinya.


Hamzah masih saja berdiri di depan dapur memperhatikan apa yang sedang dilakukan Umi Halimah bersama dengan Hani. Bahkan Hani memeluk tubuh Umi Halimah ketika dia merasa malu menanggapi Umi Halimah yang sedang menggodanya.


Merasa ada yang memperhatikan, Umi Halimah menoleh ke arah Hamzah berada. Dia tersenyum ketika melihat putranya itu sedang berdiri memperhatikannya.


"Sudah pulang Hamzah?" tanya Umi Halimah yang berjalan menghampiri putranya itu.


Hamzah mencium punggung tangan Umi Halimah, kemudian dia berkata,


"Sudah Umi. Abi di mana?"


"Abi ada di pondok. Oh iya, letakkan barang-barang mu di kamar. Setelah itu turunlah, kita akan makan bersama," tutur Umi Halimah sambil mengusap lembut pundak putranya.


"Baik Umi," tukas Hamzah sebelum beranjak dari tempatnya.


Tatapan mata Hamzah kembali tertuju pada Hani yang sedang melihatnya bersama dengan Umi Halimah. Dan hal itu diketahui oleh Umi Halimah.


Dengan segera Umi Halimah merangkul Hani untuk mengajaknya kembali menyelesaikan kegiatan masak mereka. Dan Hamzah pun berjalan menuju kamarnya.


Masuk ke dalam kamarnya, Hamzah meletakkan tas yang dibawanya di sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Dia membaringkan badannya di tempat tidurnya dan menatap langit-langit kamarnya. Selang beberapa detik dia berkata,

__ADS_1


"Siapa sebenarnya perempuan itu?" 


__ADS_2