Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 23 Rindu


__ADS_3

"Huuufffttt… Lelah sekali. Tapi lumayanlah daripada bengong mikirin hal yang hanya membuat hatiku jadi galau," gumam Abhiyasa sembari duduk ketika masuk ke dalam ruangannya.


Diambilnya ponsel dari sakunya. Matanya terbelalak ketika melihat nama Hani yang tertera di layar ponselnya sebagai penelepon tak terjawab.


Memang ponsel Abhiyasa dalam keadaan diam saat bertugas. Dia tidak mau terganggu jika sedang melakukan tugasnya, meskipun hanya sebuah getaran dari ponselnya. 


Abhiyasa memeriksa pesan suara yang diterimanya. Dia tersenyum mendengar suara kekasih hatinya yang seharian ini menyita pikirannya.


"Rindu," celetuk Abhiyasa sambil tersenyum memandangi ponselnya.


"Jadi pengen cepet pulang," ucap Abhiyasa sambil terkekeh.


Sayangnya dia tidak bisa pulang saat itu juga. Malam ini dihabiskannya tanpa makan malam bersama Hani, gadis yang beberapa hari ini sudah menjadi pujaan hatinya.


Begitu pula dengan Hani. Dia merasa tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya masih saja tertuju pada Abhiyasa. Laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatinya.


Hani membuka matanya yang sedari tadi belum bisa tidur meskipun sudah dipaksa untuk terpejam.


Tangan Hani meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dekat tempat tidurnya. 


Dia menghela nafasnya ketika melihat ponselnya yang tidak ada telepon ataupun pesan dari Abhiyasa.


Jari lentiknya bergerak lincah di atas layar ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang.


Beberapa detik kemudian terdengar suara dering telepon dari ponselnya. Dengan segera Hani mengangkat panggilan telepon tersebut dan berbicara padanya.


"Halo," sapa Hani pada si penelepon.


Hani, ada apa? Kenapa kamu malam-malam begini mengirim pesan padaku untuk menyuruhku menelepon mu? tanya seseorang di seberang sana yang sedang menelepon Hani.


"Gak ada apa-apa sih Lia. Cuma pengen tau aja, lagi bermasalah gak HP aku ini. Atau mungkin jaringannya yang bermasalah. Soalnya dari tadi gak ada telepon sama pesan yang masuk," jawab Hani dengan santainya.


Ck, dasar kamu ini. Aku kira ada hal penting atau hal yang mendesak. Malah aku takut jika terjadi apa-apa sama kamu, Lia berkata kesal pada Hani.


"Maaf Lia. Maaf sudah ganggu waktu istirahat kamu," ucap Hani sambil terkekeh.


Ya sudah, aku lanjut tidur dulu, Lia mengakhiri panggilan teleponnya.


Hani menghela nafasnya ketika Lia sudah mengakhiri panggilan teleponnya. Dia tidak bisa tidur, dia ingin mengajak Lia mengobrol hingga dia tertidur.

__ADS_1


"Jam berapa sih ini?" ucap Hani sambil melihat jam yang tertera pada layar ponselnya.


"Kenapa Abhi tidak mengabari ku?" tanya Hani dengan suara lesunya.


"Apa aku yang harus menghubunginya?" Hani bermonolog kembali.


"Enggak ah, gengsi dong," sambung Hani kembali.


Dia melihat foto profil Abhiyasa yang ada di layar ponselnya. Kemudian dia berkata,


"Bahkan kita belum pernah foto bersama."


Ada rasa tidak rela dalam hati Hani ketika dia jauh dari Abhiyasa. Hatinya memberontak ingin lari menemui Abhiyasa.


"Apa ini yang dinamakan cinta?" tanya Hani sambil menatap foto Abhiyasa pada layar ponselnya.


Merasa hatinya sangat sepi dan kehilangan sosok Abhiyasa, Hani membawa tidur ponsel tersebut dan mendekap ponselnya yang masih menampilkan foto Abhiyasa di layarnya.


Di sisi lain, Abhiyasa pun demikian. Dia menatap foto profil Hani yang terdapat di layar ponselnya. 


"Hanya foto ini yang bisa aku lihat. Kapan-kapan kita foto bersama ya Hani," gumam Abhiyasa sambil tersenyum melihat foto Hani.


Malam itu pun menjadi malam panjang mereka yang saling merindukan. Hani dengan kegalauannya akan kelanjutan hubungan mereka dan kerinduannya pada sosok Abhiyasa yang selalu membuatnya sangat berarti.


...----------------...


Pagi pun tiba. Hani tidak bersemangat berangkat bekerja. Dia melihat ke arah rumah Abhiyasa yang lampu depannya masih menyala.


"Lampunya masih menyala. Berarti dia belum pulang sekarang," ucap Hani dengan lemas seolah tidak bertenaga.


Dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya tanpa semangat. Hatinya terasa kosong seperti tidak berpenghuni. Nama Abhiyasa yang sudah melekat dalam hatinya, kini membuatnya merasa kehilangan.


Tiba di kantornya, Hani berjalan dengan lemas. Bahkan teman-temannya heran melihatnya.


"Hani, kenapa? Apa kamu sedang sakit?" tanya Lia yang terlihat khawatir padanya.


Hani tersenyum lemah dan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Aku hanya kurang tidur aja."

__ADS_1


Setelah itu Hani berjalan menuju ruangannya. Dia menghela nafasnya yang benar-benar merasa kehilangan dalam hatinya.


Tiba-tiba ada sebuah gelas di atas meja Hani. Dia mendongakkan kepalanya melihat orang yang meletakkan gelas tersebut.


"Lia?!" celetuk Hani ketika mendapati Lia yang meletakkan gelas itu di mejanya.


"Diminum dulu kopinya biar ngantuknya hilang," perintah Lia sambil melepaskan tangannya dari gelas tersebut.


"Terima kasih Lia," ucap Hani menyertai langkah Lia yang telah meninggalkan ruangannya. 


Lia hanya mengacungkan jempolnya ke atas tanpa membalikkan badannya untuk menghadap Hani.


"Huuufffttt… sepertinya aku harus meminum kopi ini dan bekerja, agar pikiranku tidak lagi tertuju padanya," gumam Hani sambil meraih gelas kopi yang ditinggalkan Lia padanya.


Setelah itu dia mulai mencoba fokus pada pekerjaannya. Perasaan seperti ini baru saja dirasakannya ketika dia mengenal Abhiyasa. Dan perasaan cintanya ini membuatnya resah serta gelisah. Cinta pertamanya yang kebetulan memiliki perbedaan sehingga menyita pikirannya.


 


Pagi itu Abhiyasa pulang dengan perasaan rindunya. Rindu pada kekasih hatinya yang tinggal di sebelah rumahnya.


Dia memandang rumah Hani yang memang terlihat sepi layaknya rumah yang tidak berpenghuni. Abhiyasa tahu jika Hani sedang bekerja saat ini. Dan dia sudah memiliki rencana untuk menemuinya.


Selepas dia membersihkan dirinya, Abhiyasa sengaja tidur agar dia terlihat fresh nanti pada jam yang sudah ditentukannya untuk menemui Hani.


"Nah… alarm sudah dinyalakan. Lebih baik aku tidur sekarang," ucap Abhiyasa sambil meletakkan ponselnya di atas meja yang berada di dekat tempat tidurnya.


Selang beberapa saat kemudian, alarm pun berbunyi. Abhiyasa mengusap-usap matanya sambil tangannya meraih ponselnya yang tidak jauh darinya.


Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar tubuhnya kembali segar.


Setelah dia berganti pakaian dan menata rambutnya, dia tersenyum membayangkan jika Hani terkejut akan kedatangannya.


Namun, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari kantornya yang mengharuskannya datang bertugas pada saat itu juga.


Lagi-lagi Abhiyasa harus menahan rindunya. Dia harus menunda pertemuannya bersama dengan Hani, seorang gadis yang namanya sudah tersemat indah dalam hatinya.


Dengan membawa motor sport nya, Abhiyasa berhenti tepat di depan rumah Hani. Wajah yang tertutup helm full face itu memandang rumah tersebut dan berkata,


"Hani, sepertinya kita harus bisa menahan rindu. Aku usahakan agar bisa cepat menemui mu."

__ADS_1


Tiba-tiba Hani tersedak ketika sedang menikmati makan siangnya. Sekelebat ingatan tentang makan siangnya kemarin kembali membayanginya. Dalam hati dia berkata,


"Abhi, sedang apa kamu sekarang? Aku sangat rindu padamu. Apa kamu juga merindukan aku?"


__ADS_2