Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 28 Bertemu mereka


__ADS_3

Aulia tersenyum puas melihat reaksi dari ibu serta neneknya Abhiyasa yang mendengar tentang perbedaan agama Abhiyasa dengan pacarnya.


Dia merasa jika nantinya pasti keluarga Abhiyasa akan menentang hubungan Abhiyasa dengan Hani.


Sesampainya di rumah, Nenek dan ibu Abhiyasa secara langsung menyuruh Abhiyasa untuk segera menemui mereka. 


"Yasa, apa kamu berpacaran dengan perempuan yang mempunyai keyakinan berbeda dengan kita?" tanya ibu Abhiyasa pada Abhiyasa yang baru saja duduk di hadapannya.


Deg! 


Mata Abhiyasa terbelalak mendengar pertanyaan dari ibunya. Dan juga sorot mata nenek serta ayahnya membuatnya seperti menjadi terdakwa.


"Abhiyasa, kenapa tidak menjawab?" tanya ayah Abhiyasa dengan tegas.


Abhiyasa menghela nafasnya. Dia tidak menduga jika secepat ini hubungan mereka bisa diketahui oleh keluarganya.


"Maaf Ayah, Ibu, Nenek. Rencananya minggu besok Yasa akan membawanya ke rumah ini untuk menemui kalian," tukas Abhiyasa sambil tersenyum untuk mencoba meluluhkan hati mereka.


"Ibu jadi penasaran, perempuan mana yang bisa meluluhkan hati putra ibu yang sangat sulit tersentuh oleh perempuan mana pun," ujar ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


Ayah dan nenek Abhiyasa pun ikut terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Abhiyasa."


"Tapi Yasa, untuk perbedaan kalian… kamu pasti tau kan?" tanya ayah Abhiyasa sambil menatap putranya.


Abhiyasa kembali menghela nafasnya. Setelah itu dia tersenyum dan berkata,


"Yasa tau Pa. Kami berdua juga sudah tau hal itu."


"Baiklah, Nenek sangat menantikan kedatangannya di rumah ini," ucap nenek Abhiyasa sambil tersenyum menenangkan hati Abhiyasa.


Abhiyasa memeluk tubuh neneknya dengan penuh kasih sayang seraya berkata,


"Terima kasih Nek. Yasa jamin, Nenek pasti akan suka sama Hani."


"Oh… jadi namanya Hani?" ucap ibu Abhiyasa sambil tersenyum menggoda putranya.


Ayah Abhiyasa dan nenek Abhiyasa pun ikut tersenyum menggodanya. Hal ini membuat Abhiyasa sedikit lega. Tapi dia masih memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka.


Aku pernah mengatakan pada Hani agar tidak memikirkannya, tapi aku sendiri memikirkannya, Abhiyasa berkata dalam hatinya sambil tersenyum menertawakan dirinya sendiri.


"Untung tadi dokter Aulia yang teman kamu SMA itu memberi tahu ibu dan nenek tentang hal ini. Jika tidak, pasti kami tidak akan tau," tukas ibu Abhiyasa seolah menyindir putranya.

__ADS_1


Sontak saja Abhiyasa menoleh ke arah ibunya. Dia terkejut ketika mendengar nama Aulia kembali mencoba menghancurkan hubungannya dengan Hani.


"Kapan Ibu ketemu dengannya?" tanya Abhiyasa menyelidik.


"Tadi, kita bertemu dengan dokter Aulia sewaktu mengantar Nenek periksa rutin di dokter Anisa. Ternyata dokter Aulia membantu dokter Anisa di sana. Dia juga bilang, katanya kamu akan menikah dengan pacar kamu yang berbeda keyakinan. Maka dari itu kami segera memanggilmu untuk datang ke sini," jawab ibu Abhiyasa sambil terkekeh mengingat kekagetan mereka tadi pada saat Aulia memberitahukan pada mereka.


Abhiyasa hanya tersenyum tanpa menanggapi perkataan ibunya dengan kata-kata. Bahkan kini pikirannya sedang tertuju pada Aulia. Bukan karena dia memikirkannya seperti memikirkan Hani, tapi dia mengutuk apa yang dilakukan Aulia untuk menghancurkan hubungannya dengan Hani.


Keterlaluan sekali dia. Kenapa dia sampai melibatkan keluargaku? Sepertinya dia benar-benar ingin menghancurkan hubunganku dengan Hani, Abhiyasa menggerutu dalam hatinya.


Sepulang dari rumah orang tuanya, Abhiyasa segera pulang ke rumahnya. Dia menatap rumah Hani yang terlihat sudah sangat sepi.


"Mungkin dia sudah tidur saat ini," gumam Abhiyasa sambil tersenyum membayangkan wajah Hani yang sedang tersenyum padanya.


...----------------...


Keesokan harinya, tepatnya hari sabtu, Hani yang sedang libur bekerja bisa merasakan sarapan bersama dengan Abhiyasa yang juga kebetulan hari itu baru saja pulang dari bekerja.


Pagi itu Abhiyasa membawa makanan untuk dimakan bersama dengan Hani di rumah kekasihnya itu.


"Sepagi ini kamu beli makanan di mana Abhi?" tanya Hani sambil memindahkan makanan-makanan yang dibawa Abhi tadi pada piring-piring kosong yang baru saja diambilnya dari dapur.


"Di depan pasar jam segini banyak yang jual," jawab Abhiyasa sambil menyiapkan minuman untuk mereka.


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Hani yang terlihat sangat tertarik dengan perkataannya.


"Lain kali ajak aku ke sana ya," pinta Hani dengan wajah memohonnya.


Seketika Abhiyasa teringat sesuatu. Dia meletakkan gelas-gelas yang disiapkannya dan beralih menatap kekasihnya itu seraya berkata,


"Bagaimana jika besok pagi kita bersepeda?"


Hani pun menganggukkan kepalanya dengan antusias dan berkata,


"Mauuuu…."


Abhiyasa terkekeh melihat kekasih hatinya itu sangat antusias dan terlihat sangat senang dengan ajakannya.


"Lalu, kamu mau memakai sepeda apa? Apa mau beli sepeda dulu setelah kita sarapan?" tanya Abhiyasa sambil terkekeh.


Seketika senyum Hani pudar. Dia lupa satu hal, sepedanya tidak bersama dengannya di rumah itu.

__ADS_1


"Aku lupa jika sepedaku masih berada di rumah orang tuaku," jawab Hani sambil tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.


"Lalu… bagaimana?" tanya Abhiyasa sambil mengernyitkan dahinya.


Hani mendekati Abhiyasa, menarik tangannya dan mendudukkannya di kursi yang ada di hadapannya. Kemudian dia berkata,


"Setelah makan, tolong antarkan aku mengambil sepeda di rumah orang tuaku."


Abhiyasa pun mengangguk setuju. Dalam hatinya berkata,


Mungkin inilah saatnya aku bertemu dengan keluarga Hani, sebelum Hani bertemu dengan keluargaku besok.


"Hani, besok sore ikut aku ya," ajak Abhiyasa sambil memegang tangan Hani.


"Ke mana?" tanya Hani dengan rasa ingin tahunya.


"Ke rumah orang tuaku. Kita makan malam bersama di sana" jawab Abhiyasa sambil menggenggam erat tangan Hani untuk meyakinkannya.


Hani menatap ragu pada Abhiyasa dan berkata,


"Abhi, aku takut. Apa mereka mau menerimaku? Sedangkan kata Auli–"


"Jangan percaya ucapannya. Dia ingin menghancurkan hubungan kita berdua. Percayalah padaku, keluargaku ingin mengenalmu. Dan mereka sudah tidak sabar ingin berkenalan denganmu," sahut Abhiyasa yang menyela perkataan Hani.


Dia masih menggenggam tangan Hani dan menatap matanya untuk meyakinkannya bahwa dirinya tidak sendirian. Dan akan ada Abhiyasa yang selalu bersamanya.


Hani menatap mata Abhiyasa dan dari mata Abhiyasa itu dia bisa yakin jika laki-laki yang ada di hadapannya berstatus pacarnya itu memang bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.


Hani pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kini dia meyakinkan dirinya untuk lebih percaya pada perasaannya dan pada Abhiyasa daripada percaya dengan perkataan Aulia.


"Baiklah, sekarang kita sarapan dulu. Setelah ini kita akan ke rumah orang tuamu," ucap Abhiyasa sambil mencubit gemas hidung Hani.


Setelah mereka usai sarapan, kini mereka sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Hani.


Abhiyasa benar-benar menyiapkan dirinya agar kedua orang tua Hani mau menerima hubungan mereka.


"Mama… Papa… Hani pulang…!" seru Hani sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Abhiyasa memegang tangan Hani untuk menghentikan langkahnya. Kemudian dia berkata lirih padanya,


"Honey, jangan teriak-teriak."

__ADS_1


Keluarlah seorang wanita paruh baya dan pria paruh baya menghampiri mereka. Pria paruh baya itu menatap Abhiyasa dan berkata,


"Siapa laki-laki ini Hani?"


__ADS_2