
Abi Farhan memandang Hani dan tersenyum padanya seraya berkata,
"Sudah siap Hani?"
"Siap Abi," jawab Hani dengan mantap dan terlihat sangat yakin.
Umi Halimah membimbing Hani duduk di hadapan Abi Farhan. Kini, Hani merasa gugup ketika sudah berada di hadapan Abi Farhan. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk menghilangkan kegugupannya.
Bagi Hani, agama bukan hal yang main-main. Agama dan keyakinan yang dianutnya merupakan pondasi hidup baginya. Karena itulah dia melakukan proses pencarian tahu tentang keinginan hatinya dan tentang agama tersebut. Kini, Hani memilih untuk menjadi mualaf karena murni dari keinginan hatinya. Bukan karena Abhiyasa atau pun yang lainnya.
"Bisa kita mulai sekarang Hani?" tanya Abi Farhan pada Hani yang sudah duduk di hadapannya.
Hani menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Hani siap Abi."
Abi Farhan mulai membimbing Hani untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat dan berniat dari hatinya.
Hani merasakan hal yang aneh dalam dirinya ketika mengikrarkan dua kalimat syahadat. Tanpa terasa air matanya menetes merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam dari dalam hatinya.
Setelah proses tersebut selesai, Umi Halimah membimbing Hani untuk melaksanakan shalat.
Sungguh Hani merasakan hal yang luar biasa dalam dirinya. Air matanya tidak berhenti mengalir ketika dia melaksanakan shalat bersama dengan Umi Halimah.
Dia merasakan ketenangan dalam hatinya saat ini. Dan rasa bahagia itu benar-benar dirasakannya dalam hatinya. Hatinya terasa lega dan tidak ada beban yang dirasakan dalam hatinya.
"Umi… Terima kasih atas semua bimbingan yang Umi berikan pada Hani," ucap Hani sambil tersenyum diiringi air mata kebahagiaannya.
Umi Halimah mengusap lembut air mata Hani. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Umi akan selalu membimbing Hani selama Umi masih mampu melakukannya. Jangan sungkan bertanya atau datang pada Umi untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang agama islam. Insya Allah Umi dan Abi akan membantu Hani."
"Terima kasih Umi," tukas Hani sambil memeluk Umi Halimah.
Tidak terasa air mata Hani menetes kembali ketika memeluk Umi Halimah. Tangisan bahagia itu sungguh indah.
Abi Farhan dan Hamzah tersenyum melihat Umi Halimah dan Hani yang sedang berpelukan di sebelah mobil Hani. Umi Halimah mengantar kepergian Hani layaknya putri kandungnya sendiri. Dan Hani merasakan kasih sayang Umi Halimah padanya. Dia sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Umi Halimah pada saat itu.
Pikirannya menerawang jauh membayangkan awal pertemuannya dengan Umi Halimah di Masjid ketika menunggu Abhiyasa yang sedang melaksanakan shalat. Tiba-tiba dia teringat akan kekasihnya yang sedang dalam perjalanan pulang itu.
__ADS_1
"Aku harus cepat pulang. Abhiyasa pasti akan sampai sebentar lagi," ucap Hani sambil menyalakan mesin mobilnya.
Mobil Hani pun bergerak meninggalkan halaman rumah Umi Halimah dan keluar dari gerbang pondok pesantren milik Abi Farhan.
Dia mengemudikan mobilnya dengan perasaan bahagia. Sungguh hari yang sangat indah bagi Hani saat ini. Hingga senyumannya tidak pernah pudar dari bibirnya.
Sampai di halaman rumahnya, Hani segera turun dari mobilnya. Masuklah dia ke dalam rumahnya yang sejak kemarin tidak dihuni olehnya.
Langkahnya terhenti ketika melihat bayangannya di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Dia berdiri tepat di hadapan cermin tersebut. Bibirnya melengkung ke atas melihat penampilannya saat ini pada cermin yang ada di hadapannya.
"Aku sangat terlihat berbeda sekali menggunakan ini. Umi Halimah sangat baik dan pengertian padaku. Dia membelikan ku gamis yang tepat," ujar Hani sambil tersenyum memandang dirinya pada cermin tersebut.
"Abhi… aku sangat merindukanmu," ucapnya lirih membayangkan wajah Abhiyasa yang kaget karena mengetahui agama yang dianut oleh Hani saat ini.
"Sepertinya Abhi masih lama. Lebih baik aku mengganti pakaianku saja dulu dan menyiapkan makanan yang sudah aku beli tadi," sambung Hani kembali.
Hani merasa sangat gerah saat itu. Dia mengganti pakaiannya dengan memakai tank top bertali spaghetti dan celana pendek sepaha.
"Pakai ini saja, kan gak ada orang di rumah ini selain aku," ucap Hani sambil memperhatikan penampilannya pada cermin tersebut.
Setelah itu Hani keluar dari kamarnya dan menyiapkan makanan yang telah dibelinya untuk makan bersama dengan kekasihnya nanti.
Selama berjam-jam Hani menunggu kabar dari kekasihnya itu. Sayangnya Abhiyasa tidak memberi kabar padanya.
Merasa bosan dengan tayangan televisi yang dilihatnya, dia mengganti-ganti chanel televisi untuk mencari tayangan yang bisa mengurangi kebosanannya ketika menunggu kekasihnya.
"Ck, gak ada yang bagus sih tayangannya. Udah… ini aja daripada sepi," gerutu Hani kembali.
Tanpa sadar Hani memejamkan matanya dan tertidur di sofa dengan bertemankan suara televisi yang seolah sedang membacakan cerita dongeng untuknya.
Selang beberapa saat kemudian, pintu rumah Hani diketuk oleh seseorang.
"Hani… Hani… Buka pintunya," terdengar suara Abhiyasa yang memanggil-manggil nama Hani sambil mengetuk-ketuk pintunya.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah tersebut. Abhiyasa semakin cemas pada kekasihnya itu setelah mendengar bahwa dia jatuh pingsan kemarin malam.
Abhiyasa tidak bisa tinggal diam. Dia segera berlari pulang untuk mengambil kunci rumah Hani dan dengan cepatnya dia kembali membawa kunci pintu rumah kekasihnya itu.
Dengan tidak sabaran Abhiyasa membuka pintu kamar tersebut dan berseru,
__ADS_1
"Honey… Honey… di mana kamu?! Aku sudah dat–"
Seruan Abhiyasa terhenti ketika melihat kekasih hatinya sedang tidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Bahkan kekasihnya itu tersenyum dalam tidurnya.
Abhiyasa mendekatinya dan tersenyum melihat wajah cantik kekasihnya yang sedang tersenyum dengan memejamkan matanya. Kemudian dia berkata,
"Sepertinya dia sedang bermimpi indah."
Abhiyasa melihat jam yang tergantung di di dinding. Dia pun berkata,
"Sudah malam. Lebih baik aku pindahkan saja dia ke kamarnya."
Abhiyasa mematikan televisi yang sedari tadi menemani tidur Hani. Kemudian dia menggendong Hani ala bridal style untuk memindahkannya ke ranjang empuk miliknya.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Tiba-tiba terdengar suara seruan yang tegas dari seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam rumah Hani.
Ada dua orang laki-laki yang sangat dikenal oleh Abhiyasa. Kedua orang tersebut adalah tetangga mereka yang juga bertugas untuk menjaga keamanan wilayah mereka.
"Selamat malam Pak. Saya hanya akan memindahkan Hani di kamarnya saja Pak," jawab Abhiyasa jujur tanpa ada pikiran lain.
"Apa? Kamar? Kamu akan melakukan hal yang tidak senonoh pada perempuan ini?" tanya salah satu laki-laki tersebut pada Abhiyasa dengan memelototkan matanya.
Tiba-tiba Hani bergerak. Matanya terbuka ketika mendengar suara seruan laki-laki tersebut yang terdengar sangat keras di telinganya.
Pandangan mata Hani terkunci pada wajah Abhiyasa yang sangat dekat dengannya.
"Abhi… Kamu sudah pulang?" tanya Hani sambil tersenyum melihat wajah kekasihnya.
Abhiyasa yang akan menjawab tuduhan dari tetangganya itu seketika mengurungkan niatnya. Dia menoleh ke arah Hani yang ada dalam gendongannya dan tersenyum padanya.
"Hani, kamu sudah bangun?" tanya Abhiyasa sambil tersenyum pada kekasih hatinya.
Abhiyasa tidak mengacuhkan kedua tetangganya itu. Dia hanya sedang melepaskan kerinduannya pada kekasihnya saat ini. Dan tanpa sadar pun dia melupakan kehadiran kedua laki-laki tersebut yang ada di sana.
"Sepertinya kalian harus menikah," ucap salah satu dari laki-laki tersebut.
Sontak saja Abhiyasa dan Hani menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka pun berkata secara bersamaan.
__ADS_1
"A-apa?"
"Menikah?"