Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 14 Selalu terbayang


__ADS_3

Mendengar Hani menerimanya untuk menjadi pacarnya, Abhiyasa sangat antusias. Bukannya dia tidak memikirkan perbedaan keyakinan mereka, tapi dia hanya ingin mencoba mewujudkan perasaan sukanya yang setiap hari berkembang menjadi cinta pada Hani, Banker cantik yang berkali-kali bertemu dengannya secara tidak sengaja. Bahkan secara tidak sengaja pula, mereka menjadi tetangga yang rumahnya bersebelahan.


"Lalu, kapan kita akan menikah?" tanya Abhiyasa yang dengan jahilnya menggoda Hani.


"Abhi!" seru Hani sambil memukul lengan Abhiyasa.


Abhiyasa tertawa melihat wajah Hani yang merona karena malu dan memajukan bibirnya karena kesal pada Abhiyasa.


"Baru saja beberapa detik yang lalu kita pacaran, malah sekarang tanya kapan nikahnya. Sepertinya kamu udah ngebet banget pengen nikah," cerocos Hani dengan kesalnya.


"Siapa sih yang gak pengen cepet nikah kalau pacarnya secantik ini?" sahut Abhiyasa sambil tersenyum bermaksud menggoda Hani.


Dan perkataan Abhiyasa itu sukses membuat wajah Hani kembali merona karena malu. Bahkan dia gugup saat ini sehingga tidak bisa berkata-kata.


Melihat Hani yang sedang salah tingkah, Abhiyasa tidak tega menggodanya lagi. Dia lebih memilih menyudahi obrolan mereka dan mengendarai mobilnya menuju rumahnya agar Hani bisa cepat beristirahat di rumah.


"Mau aku pakaikan sabuk pengamannya?" tanya Abhiyasa pada Hani seolah menyindirnya agar segera memakai sabuk pengamannya.


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Abhiyasa. Dengan gerakan cepatnya Hani segera memakai sabuk pengamannya agar tidak dipasangkan oleh Abhiyasa. Dia takut jika jantungnya kembali berdegup dengan sangat kencang jika Abhiyasa memakaikan sabuk pengamannya seperti waktu itu.


Abhiyasa menahan tawanya. Dia mengemudikan mobilnya dengan hati yang berbunga-bunga. 


Sekilas dia melirik ke arah sampingnya di mana Hani telah duduk dan menoleh ke arah jendela seolah sedang menikmati pemandangan di luar mobil.


Untuk sekarang ini Abhiyasa tidak mau merusak suasana dengan menjahili atau menggoda Hani. Dia ingin Hani merasa nyaman di dekatnya saat ini.


Beberapa saat perjalanan mereka hanya ditemani keheningan. Tapi, setelah itu Hani menyalakan musik sehingga suasana dalam mobil itu tidak lagi hening.


Lantunan musik dari lagu yang sedang mereka dengar seolah mewakili apa yang mereka rasakan saat ini.


Lagu bertemakan cinta itu membuat mereka berdua terhanyut oleh setiap lirik yang mereka dengarkan. Memang setiap kata yang terucap dari lirik lagu tersebut sama dengan apa yang mereka rasakan saat ini. Mereka hanya tersenyum mendengar lagu tersebut seolah mewakili perasaan mereka.


Sesampainya di rumah, Abhiyasa memapah Hani karena Hani menolak untuk digendong masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Abhiyasa membantu Hani tidur di ranjangnya. Setelah itu dia menyelimutinya dan berkata,


"Tidurlah. Aku akan menunggumu di sini."


"Gak usah Abhi. Lebih baik kamu pulang saja. Jika aku membutuhkan sesuatu, aku pasti menghubungimu. Jadi bersiap-siaplah untuk aku repotin," sahut Hani sambil terkekeh di akhir perkataannya.


Abhiyasa tersenyum dan mencubit gemas hidung gadis yang kini sudah menjadi pacarnya itu, seraya berkata,


"Kamu boleh merepotkanku kapan pun kamu mau. Aku gak akan keberatan jika direpotkan oleh perempuan cantik seperti kamu."


Seketika terdapat semburat merah pada wajah Hani. Dia kembali malu mendengar perkataan Abhiyasa yang ditujukan padanya.


"Apaan sih Abhi?! Udah ih pulang sana," seru Hani sambil mendorong-dorong tubuh Abhiyasa agar menjauh darinya.


"Baiklah, aku pulang sekarang. Jangan kangen ya Honey," ucap Abhiyasa sambil terkekeh.


Hani tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya tersenyum mendengar perkataan pacarnya itu. Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, seketika Hani merasa kesepian. Dan Hani kembali merasakan rasa tidak nyaman pada perutnya.


Tiba-tiba Hani kembali mendengar suara pintu rumahnya terbuka. Dia kembali duduk dari tidurnya.


Hani menghela nafasnya dan tersenyum ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Abhiyasa. Kemudian dia berkata,


"Aku lupa jika harus mengunci pintu."


Setelah itu Hani menyibak selimutnya dan bergerak akan turun dari ranjangnya.


Namun, dengan segera Abhiyasa melarangnya. Dia merebahkan kembali tubuh Hani dan menyelimutinya seraya berkata,


"Biar aku bawa kunci cadangannya. Kamu bawa kunci utamanya."


Hani pun mengangguk setuju dengan perkataan pacarnya itu. Dia pun berkata,


"Kamu bawa saja kuncinya. Biar aku memakai kunci cadangannya."

__ADS_1


Abhiyasa pun mengangguk setuju. Dia tidak mau Hani turun dari ranjangnya untuk mengambilkan kunci cadangan rumahnya.


"Baiklah, aku bawa kunci yang ada di pintu. Jika kamu butuh sesuatu, cepatlah hubungi aku. Pacarmu ini akan siap sedia dua puluh empat jam untukmu," ujar Abhiyasa dengan percaya dirinya.


Hani tertawa mendengar perkataan Abhiyasa. Dia merasa benar-benar terhibur oleh sosok laki-laki yang kini sudah berstatuskan menjadi pacarnya.


Matanya pun kembali terpejam setelah mendengar suara pintu yang terkunci dari luar. Kini dia merasa beruntung mempunyai seseorang yang benar-benar bisa menjaganya.


Kehadiran Abhiyasa untuk Hani membawa ketenangan baginya. Bahkan sakit yang dirasakannya tidak sesakit sebelumnya. Memang sering sekali Hani merasakan sakit yang seperti ini. Hanya saja kali ini berbeda. Dia merasa lebih terlindungi dan sangat nyaman dengan adanya Abhiyasa di sisinya.


Kini Hani pun bisa tidur dengan nyenyak. Dia tetap merasa terlindungi meskipun Abhiyasa berada di rumahnya yang terletak persis di sebelah rumahnya.


Berbeda dengan Hani. Abhiyasa tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia merasa khawatir dengan keadaan Hani saat ini.


Setiap dia akan memejamkan matanya, dia terbayang akan wajah Hani ketika kesakitan menahan rasa sakit pada perutnya.


Saat itu juga dia melihat ponselnya. Tapi tidak ada tanda-tanda Hani menghubunginya.


"Ck, apa dia sudah tidur? Kenapa dia gak menghubungiku?" tanya Abhiyasa sambil melihat layar ponselnya.


Masih dengan menatap layar ponselnya, Abhiyasa beranjak duduk dari tidurnya dan berkata,


"Kata yang lainnya, saat mereka baru jadian, pasti mereka gak bisa tidur karena telepon-teleponan. Nah ini kok dia anteng-anteng aja? Apa dia benar-benar suka sama aku? Cinta sama aku? Gak mungkin lah dia gak suka sama cowok keren kayak aku gini."


Setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya dan menyelimuti badannya seraya berkata,


"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja. Besok pagi aku harus kerja."


Dengan memaksakan matanya terpejam, Abhiyasa berusaha keras agar bisa tidur dengan nyenyak. Sayangnya setiap dia memejamkan matanya, dia selalu terbayang wajah dan senyuman Hani yang mampu membuatnya betah untuk melihatnya.


Tangan Abhiyasa meraih bantal yang ada di sampingnya dan menutupkannya pada wajahnya berharap agar dia bisa tidur tanpa terbayang wajah Hani yang sangat menyiksanya.


Abhiyasa sungguh merasa tersiksa melihat bayangan wajah Hani yang membuatnya ingin selalu bertemu dengannya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Dengan segera Abhiyasa bangun dari tidurnya dan meraih ponselnya untuk melihatnya.


"Apa-apaan ini?" 


__ADS_2