
Perasaan Abhiyasa terasa tidak nyaman. Dia merasa ada yang hilang darinya. Dia sendiri tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.
"Ada apa dengan hatiku? Kenapa perasaanku tidak nyaman begini? Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya," gumam Abhiyasa sambil memegang dadanya.
Saat ini dia sedang singgah ke restorannya. Dia berada di kantornya untuk memeriksa laporan keuangan restoran tersebut. Tapi nyatanya, hatinya menjadi gundah, sehingga dia tidak bisa mengerjakan apa pun. Bahkan tidur pun dia tidak bisa nyenyak.
Abhiyasa menutup kembali laporan tersebut. Dia beranjak dari kursinya seraya berkata,
"Percuma saja jika aku gak bisa fokus memeriksanya."
Dia meletakkan kembali laporan keuangan tersebut di atas mejanya dan keluar dari ruangannya.
"Pak, tolong laporannya kirim ke email saya saja. Saya tidak bisa memeriksanya sekarang," perintah Abhiyasa pada manajer restoran tersebut.
"Baik Pak, akan segera saya kirimkan," ucap manajer restoran tersebut sambil menundukkan kepalanya pada Abhiyasa yang berjalan meninggalkannya.
"Huuufffttt… apa ini yang namanya galau? Jenis makanan apa ini?" tanya Abhiyasa sambil terkekeh.
Setelah itu dia memakai helm full face miliknya dan mengendarai motor sport nya itu meninggalkan restoran tersebut.
Sama halnya dengan Hani. Dia merasa tidak nyaman. Hatinya merasa tidak tenang. Bahkan dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa perasaanku tidak nyaman dan tidak tenang seperti ini? Huffffttt… Ayolah Hani, jika terus seperti ini, kapan pekerjaanmu bisa selesai?" gerutu Hani sambil memijat pelipisnya.
Hani tetap memaksakan dirinya untuk mengerjakan pekerjaannya. Dia tidak ingin lembur hingga larut malam hanya karena tidak bisa fokus bekerja saat ini.
Tibalah saat makan siang. Hani beserta seorang teman perempuannya dan dua orang teman laki-lakinya keluar kantor untuk makan siang bersama. Mereka berencana untuk makan siang di resto yang baru saja buka sekitar kantor mereka.
"Ramai banget… Lebih baik kita cari tempat lain aja yuk," ucap Hani ketika akan masuk resto tersebut.
Lia, teman Hani menarik tangan Hani untuk masuk ke dalam resto tersebut menyusul Dion dan juga Bayu yang sudah masuk ke dalam resto tersebut.
"Sudah sampai sini, nanggung," tukas Lia sambil menarik tangan Hani.
__ADS_1
Dengan terpaksa Hani berjalan mengikuti Lia yang masih saja menarik tangannya untuk masuk ke dalam resto tersebut.
Mereka duduk satu meja berempat. Saling bercanda dan tertawa bersama. Mereka melakukan hal yang tidak bisa mereka lakukan di saat jam kerja.
Di saat jam kerja mereka harus fokus dan serius agar tidak terjadi kesalahan pada pekerjaannya. Dan itu pun membantu agar pekerjaan mereka bisa cepat selesai nantinya.
Tiba-tiba tawa Hani memudar ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Orang tersebut duduk di meja yang berhadapan dengannya.
Mata mereka saling beradu. Bahkan orang tersebut tersenyum padanya. Hani terdiam, dia hanya menatap orang tersebut seolah sedang menikmati pemandangan yang indah tersuguh di hadapannya.
"Hani, kamu kenapa?" tanya Lia sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Hani.
Hani tersadar, dia gelagapan dan salah tingkah di hadapan teman-temannya. Bahkan orang yang membuatnya seperti itu pun tersenyum seolah menertawakannya.
"Eh… eh ti-tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Hani dengan gugup dan salah tingkah.
"Ada apa sih Hani? Kamu gugup ya karena duduk di hadapan Aa'?" tanya Dion sambil menggerak-gerakkan alisnya untuk menggoda Hani.
Sontak saja tangan Hani meraih tisu dan menyumpalkannya ke dalam mulut Dion yang ikut terkekeh bersama Lia dan Bayu.
"Hani gak boleh gitu sama Aa'. Dosa tau…."
Seketika Lia dan Bayu kembali tertawa. Inilah hiburan mereka jika mereka sedang makan bersama. Di saat jam istirahat mereka, saat itu pula mereka makan dan menghibur diri dengan candaan-candaan mereka semua.
Hani memandang ke arah Abhiyasa yang masih memandang ke arahnya. Hani bisa merasakan jika tatapan mata Abhiyasa seolah ingin bertanya padanya.
Namun, Hani tidak bisa mengatakannya. Dia tidak ingin meninggalkan teman-temannya untuk makan bersama dengan Abhiyasa.
Bukan karena dia malu memperkenalkan Abhiyasa pada teman-temannya, justru dia sangat bangga bisa memperkenalkan Abhiyasa pada teman-temannya. Hanya saja, dia enggan menjadi bulan-bulanan teman-temannya sebagai bahan candaan mereka di kantor.
Sial, saat perut lagi lapar pun tidak bisa nyaman dan enak menyantap makanan. Hani juga, kenapa dia gak nyanperin aku? Kenapa dia cuekin aku seolah dia gak kenal sama aku? Apa karena laki-laki di hadapannya yang menywbut dirinya sebagai Aa' tadi? Sebenarnya apa hubungan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa ditanyakan oleh Abhiyasa dalam hatinya. Ingin sekali dia menanyakan itu pada Hani, tapi tidak untuk sekarang. Dia ingin Hani menjelaskan sendiri pada dirinya.
__ADS_1
Walaupun merasa tidak nyaman, Abhiyasa masih saja memaksakan makanan itu masuk ke dalam perutnya.
Meskipun mulut tidak bisa merasakan, aku harus tetap makan agar aku kuat dalam menghadapi kenyataan, Abhiyasa berkata dalam hatinya sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Pandangan matanya masih saja menatap Hani yang sedang makan dengan tidak nyaman. Bahkan senyum Hani kaku ketika teman-temannya mengeluarkan candaannya.
Sebenarnya kamu kenapa Hani? Kenapa kamu jadi seperti ini padaku? Abhiyasa bertanya-tanya dalam hatinya.
Hani merasa jika Abhiyasa sedari tadi menatapnya. Dia tidak berani menatap ke arah Abhiyasa. Bahkan melirik pun dia tidak berani melakukannya.
Nanti Abhi, aku akan menjelaskan padamu nanti. Jangan sekarang, Hani berkata dalam hatinya sambil melihat makanannya dan mengaduk-aduknya.
Hati Abhiyasa sangat kesal. Dia merasa diacuhkan oleh Hani. Belum hilang kegalauannya karena sikap Hani semalam padanya, kini dia disuguhkan dengan pemandangan yang membuat dirinya semakin kesal.
Abhiyasa mencoba bertahan di sana untuk menunggu Hani keluar dari resto tersebut. Dia ingin menanyakan semua pertanyaan yang ada di benaknya semenjak tadi.
Tibalah saatnya Abhiyasa beraksi. Dia berdiri ketika Hani sudah beranjak dari kursinya.
"Aku ke toilet dulu," ucap Hani pasa teman-temannya ketika mereka senua hendak berjalan meninggalkan meja tersebut.
"Oke, jangan lama-lama ya Hani," tukas Lia menanggapi perkataan Hani.
"Aa' tunggu di depan ya Hani," sahut Dion sambil tersenyum.
Sedangkan Bayu, dia terkekeh sambil merangkul pundak Dion dan menariknya agar cepat berjalan keluar dari resto tersebut.
Hani sengaja pergi ke toilet ketika teman-temannya sudah beranjak dari duduknya. Dia ingin agar teman-temannya keluar terlebih dahulu agar dia bisa berbicara dengan Abhiyasa.
Dan firasatnya benar, kini Abhiyasa ikut berdiri ketika dia beranjak dari duduknya.
Tangan Abhiyasa menarik tangan Hani untuk membawanya jauh dari penglihatan teman-temannya.
Abhiyasa menatap intens manik mata Hani dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan Hani, dia gugup ditatap seperti itu oleh Abhiyasa.
__ADS_1
"Apa ada yang mau kamu katakan padaku Hani?" tanya Abhiyasa yang masih menatap mata Hani dengan intens.