Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 39 Kekecewaan Hani


__ADS_3

Ucapan Abhiyasa yang terjeda itu membuat Hani menjadi penasaran. Dia sungguh ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Abhiyasa padanya.


"Gak, gak jadi. Aku lupa mau tanya apa," ucap Abhiyasa sambil terkekeh agar Hani percaya padanya.


Memang benar Hani sangat penasaran, tapi dia tidak bisa memaksa Abhiyasa untuk mengatakannya. 


"Ya sudah. Aku selesaikan dulu pekerjaanku," ucap Hani yang sedikit merasa kecewa karena Abhiyasa yang tidak mau mengatakan padanya.


Tanpa menunggu Abhiyasa mengatakan apa pun, Hani segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.


Ada kekecewaan dalam hati Hani saat ini. Hanya saja dia tidak mau menambah kekecewaan itu. 


"Ayo Hani, selesaikan dulu semua pekerjaan ini. Siapa tau Abhiyasa akan mengatakannya nanti," ucap Hani untuk menyemangati dirinya sendiri.


Di sisi lain, Abhiyasa merasa sedikit tidak enak hati karena panggilan teleponnya ditutup begitu saja oleh Hani.


"Apa karena aku tidak jadi ngomong tadi ya? Mulutku ini kenapa bisa keceplosan sih? Gak mungkin aku nanya ke dia ada niatan untuk pindah keyakinan atau tidak. Ck, lebih baik nanti aku harus bisa bikin suasana hatinya membaik," ucap Abhiyasa sambil menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto profil Hani setelah panggilan teleponnya dimatikan.


Abhiyasa memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti ketika bertemu dengan Hani. Dia tidak mau jika hubungannya berakhir begitu saja meskipun belum ada kejelasan tentang kelanjutan hubungan mereka nantinya.


Mengingat akan hal itu membuat Abhiyasa sedih dan berusaha mencari jalan keluarnya. Dia juga tidak henti-hentinya berdoa agar Allah memberikan mereka jalan keluarnya.


"Ck, yang penting kami sudah berusaha untuk memperjuangkan hubungan ini. Aku yakin jika Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak mampu kami lalui. Bismillah… aku yakin kami akan bisa bersatu," ujar Abhiyasa untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Waktu pun berlalu. Kini sudah waktunya Hani membereskan pekerjaannya. Dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. 


Hani menghela nafasnya. Dengan wajah tidak bersemangatnya itu dia berkata,


"Kenapa Abhiyasa belum juga datang? Apa dia gak jadi menjemput ku?" 


Kini semangatnya yang telah ditumbuhkannya setelah kekecewaannya pada Abhiyasa saat siang tadi, perlahan menghilang. Dia merasa kecewa dan tidak bersemangat.


Diambilnya tas dari mejanya dan berjalanlah dia keluar dari ruangannya. Langkahnya terasa berat dan malas. Bahkan rasa lapar yang sedari tadi ditahannya, kini seolah hilang sudah, tidak lagi dirasanya.


Kepalanya tertunduk ketika berjalan, seolah tidak mau melihat apa pun. Hingga dia melewati pintu yang dibukakan oleh satpam di depannya.


"Hati-hati Mbak, terbentur pintu," ucap satpam tersebut ketika membukakan pintu kaca yang hendak dilewati oleh Hani.


"Terima kasih Pak," ucap Hani yang terdengar sangat lemah dan masih saja saja menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba saja kepala Hani yang masih menunduk itu melihat setangkai mawar putih di hadapannya.

__ADS_1


Sontak saja Hani mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memegang mawar putih tersebut.


Seketika bibirnya melengkung ke atas melihat orang yang sedang memegang bunga mawar putih tersebut sedang tersenyum padanya. Tanpa sadar dia pun berkata,


"Abhi?!" 


Abhiyasa tersenyum dan memajukan wajahnya seolah akan mencium Hani. Sontak saja Hani memejamkan matanya. Lagi-lagi dia terbawa situasi.


Abhiyasa menahan tawanya. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Hani dan berkata,


"Honey, ayo kita makan malam. Aku sudah sangat lapar menunggumu sejak satu jam yang lalu."


Seketika mata Hani terbuka dan kini wajahnya tepat berada di depan wajah Abhiyasa. Bahkan mata mereka saling bertatapan. Dia pun berkata,


"Satu jam?"


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya sehingga membuat Hani sadar jika wajah mereka sedang berada pada jarak yang sangat dekat.


Hani segera memundurkan badannya. Kemudian dia berkata,


"Kenapa gak hubungi aku? Kamu tau gak, aku sudah menunggu lama sekali di dalam."


Seketika Abhiyasa terkekeh mendengar omelan Hani. Dia merasa berhasil membuat kekasihnya itu kembali cerewet seperti biasanya.


Hani menjadi salah tingkah. Dia segera mengambil bunga dari tangan Abhiyasa dan berjalan masuk ke dalam mobilnya. 


"Terima kasih Pak!" seru Abhiyasa sambil tersenyum pada satpam tersebut.


Dia bergegas mengikuti Hani masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia duduk di kursi samping pengemudi dan berkata,


"Honey, apa kamu yang akan mengendarainya?"


Hani yang sudah bersiap memegang kemudinya, dengan segera melepaskan sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobilnya. 


Abhiyasa menahan tawanya, dia bertukar tempat dengan Hani yang tadinya duduk di kursi pengemudi.


"Baiklah Nyonya Abhiyasa, akan makan malam di mana kita?" tanya Abhiyasa setelah menyalakan mesin mobil tersebut.


"Mmm… aku ingin makan sushi," ucap Hani dengan mata yang berbinar membayangkan dirinya sedang memakan sushi yang paling digemarinya.


Abhiyasa tersenyum dan mencubit gemas pipi kekasihnya itu seraya berkata,

__ADS_1


"Baik Nyonya. Perintah anda merupakan perintah bagi saya."


Seketika Hani tertawa mendengar perkataan dari Abhiyasa. Kemudian dia berkata,


"Sopir yang baik dan penurut pasti nanti dapat hadiah."


Seketika mata Abhiyasa berbinar. Kejahilannya pun datang saat itu juga. Abhiyasa memajukan bibirnya dan memejamkan matanya seolah memberi kode pada Hani yang mengatakan akan memberinya hadiah.


Sontak saja tangan Hani menjapit bibir Abhiyasa dan berkata,


"Mau ngapain hmmm…."


Mata Abhiyasa terbuka. Dia berpura-pura menatap kesal pada Hani dan melepaskan tangan Hani dari bibirnya. Kemudian dia berkata,


"Baru aja mau usaha."


Hani terkekeh melihat Abhiyasa yang sedang merajuk. Kemudian Abhiyasa menjalankan mobil tersebut. 


Pandangan mata Hani masih saja tertuju pada Abhiyasa. Dia tahu jika seorang Abhiyasa tidak akan menciumnya sebelum mereka sah menjadi suami istri. Dan Hani pun tidak pernah khawatir ketika mereka hanya berdua saja. Karena dia yakin pada Abhiyasa yang memegang teguh prinsipnya.


Tibalah mereka di sebuah restoran sushi yang sangat terkenal. Restoran itu merupakan tempat yang biasanya dikunjungi oleh Hani. 


Mereka memesan hampir semua menu yang ada di sana. Abhiyasa tersenyum senang melihat wajah kekasihnya yang tidak lagi marah padanya. Bahkan terlihat jelas binar kebahagiaan pada wajah kekasih hatinya itu.


"Abhi, sini deh. Kita foto dulu yuk," ajak Hani sambil menarik tangan Abhiyasa agar lebih mendekat kepadanya.


Abhiyasa pun menuruti perintah Hani. Dia duduk di dekat Hani dan berfoto bersama kekasihnya itu.


Memang benar mereka belum memiliki foto bersama dan Abhiyasa tidak menampiknya jika dia ingin mempunyai foto mereka ketika sedang bersama, hanya berdua saja.


Berbagai macam gaya mereka lakukan untuk foto bersama. Bahkan Abhiyasa rela melakukan hal yang sama seperti Hani untuk menambah keseruan foto mereka.


Setelah makanan mereka habis tak tersisa, mereka pun memutuskan untuk keluar dari restoran tersebut.


"Honey, bagaimana jika kita pergi ke taman sebentar?" tanya Abhiyasa pada saat sudah berada di dalam mobil.


"Boleh Abhi. Lagi pula bosan jika hanya di dalam rumah saja setiap pulang kerja," jawab Hani sambil memakai sabuk pengamannya.


"Ok. Kita meluncur sekarang," ujar Abhiyasa sambil menyalakan mesinnya.


Tiba-tiba mobil yang dikendarainya berbelok ke suatu tempat. Bangunan yang sangat khas itu membuat Hani terpanah. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Kenapa kita ke sini Abhi?"


__ADS_2