
Hani menata makanan yang dimasaknya bersama dengan Umi Halimah di meja makan. Rencananya setelah makan dia akan pulang ke rumahnya.
"Hamzah… Ayo turun. Kita makan bersama," seru Umi Halimah sambil mengetuk pintu kamar Hamzah.
Hamzah yang sedang berbaring di tempat tidurnya, segera beranjak dan berjalan cepat untuk membukakan pintu kamarnya.
"Umi, maaf. Hamzah berbaring sebentar di ranjang. Maklum Umi, Hamzah kangen kamar Hamzah di rumah," ucap Hamzah sambil tersenyum malu pada Umi Halimah.
Umi Halimah mengusap lembut rambut putranya yang lebih tinggi darinya itu dengan penuh kasih sayang seraya berkata,
"Sekarang Hamzah akan tinggal di rumah ini kan? Umi dan Abi merasa kesepian beberapa tahun tanpa adanya Hamzah di rumah ini."
"Insya Allah Hamzah akan menetap di rumah. Hamzah sangat rindu pada Umi dan Abi," tukas Hamzah sambil tersenyum manis pada uminya.
"Ya sudah, sekarang kita turun ke bawah. Makanan sudah siap. Kita makan bersama sekarang," tutur Umi Halimah sambil menarik tangan putranya.
Hamzah mengikuti uminya. Dia berjalan beriringan dengan uminya. Kemudian dia menoleh ke arah uminya dan berkata dengan ragu-ragu,
"Umi, kalau boleh tau… siapa perempuan tadi yang bersama dengan Umi di dapur?"
Umi Halimah tersenyum mendengar pertanyaan dari putranya. Dia menoleh menghadap putranya dan berkata,
"Kenapa? Kamu naksir ya?"
Kekehan Umi Halimah membuat Hamzah merasa malu. Dengan cepatnya dia berkata,
"Bukan begitu Umi. Umi jangan salah sangka dulu. Hamzah hanya heran melihat Umi sangat dekat dengan perempuan itu. Dan apa dia memang tidak memakai hijab?"
Kekehan Umi Halimah lenyap. Kini dia menghentikan langkahnya. Umi Halimah tersenyum dan menatap serius pada putranya seraya berkata,
"Doakan saja agar Hani bisa memakai hijab."
Setelah itu Umi Halimah kembali mengajak Hamzah meneruskan jalannya menuju ruang makan.
Di ruang makan tersebut terlihat Hani yang sedang menata meja makan dan menghidangkan makanan yang akan mereka makan saat ini.
Hamzah tidak bisa membohongi dirinya. Dia menatap kagum pada kecantikan Hani yang sangat natural. Akan tetapi dia sangat menyayangkan Hani yang tidak menutupi bagian kepalanya dengan menggunakan hijab sedangkan bagian tubuh lainnya sudah tertutup dengan baik.
Umi Halimah mengikuti arah pandang Hamzah. Dia menghela nafasnya melihat putranya itu sedang memandang Hani yang sedang sibuk di meja makan.
Umi Halimah mendekatkan bibirnya di telinga putranya dan dia berbisik,
"Jangan berharap terlalu lebih."
Sontak saja Hamzah menoleh ke arah uminya. Umi Halimah tersenyum menggoda putranya. Hamzah tersenyum malu pada uminya.
Umi Halimah berjalan terlebih dahulu meninggalkan putranya yang masih terlihat malu padanya.
__ADS_1
"Hani, apa sudah siap semuanya?" tanya Umi Halimah ketika berada di dekat Hani.
Hani yang masih sibuk menata makanan menoleh ke arah Umi Halimah. Dia tersenyum seraya berkata,
"Sudah hampir selesai Umi. Apa ada yang kurang Umi?"
Umi Halimah melihat semua yang ada di atas meja makan dan berkata,
"Sepertinya sudah lengkap semua. Apa ada sesuatu yang Hani inginkan selain makanan yang ada di sini?"
"Tidak ada Umi. Ini semua sudah cukup. Lagi pula setelah ini Hani pulang," jawab Hani disertai senyuman manisnya.
Hamzah sedikit kaget mendengar jika Hani akan pulang setelah mereka makan bersama. Ada rasa tidak rela membiarkannya pulang, tapi dia sadar jika tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.
"Umi, apa Abi belum kembali?" tanya Hamzah ketika sudah berada di dekat uminya.
Mendengar kata abi membuat Hani rindu pada kekasihnya, Abhiyasa. Dalam hatinya berkata,
Abhi, aku rindu. Kapan kamu kembali?
"Sebentar lagi Abi pasti pulang," jawab Umi Halimah sambil duduk di kursinya.
Hamzah pun mengikuti uminya. Dia duduk di kursi yang ada di hadapan Hani.
"Hani, perkenalkan ini Hamzah, putra Umi. Dia baru pulang dari study nya," ucap Umi Halimah pada Hani.
"Saya Hani."
Namun, uluran tangan Hani tidak disambut oleh Hamzah. Dia hanya menatap tangan Hani itu dan berkata,
"Saya Hamzah. Putra Umi dan Abi."
Hani merasa jika niat baiknya tidak diterima. Dia menarik kembali uluran tangannya yang tidak dijabat oleh Hamzah.
Umi Halimah mengerti raut wajah Hani yang memancarkan kesedihan. Kemudian dia berkata,
"Hani, Hamzah tidak bisa menjabat tangan Hani karena kalian bukan mahram."
Seketika raut wajah Hani terlihat sumringah. Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Oh begitu… Hani mengerti sekarang."
Hamzah tersenyum melihat keluguan Hani. Dia merasa ingin membimbingnya lebih jauh lagi.
"Assalamualaikum…," seru seorang laki-laki dari luar.
"Wa'alaikumussalam…," jawab mereka bertiga secara bersamaan.
__ADS_1
Masuklah seorang pria paruh baya yang tersenyum pada mereka.
"Abi," ucap Hamzah sambil mencium punggung tangan abinya.
Abi Farhan mengusap punggung Hamzah dengan lembut seraya berkata,
"Alhamdulillah kamu sudah pulang. Bagaimana kabarmu Hamzah?"
"Alhamdulillah, Hamzah baik Abi," jawab Hamzah sambil tersenyum pada abinya.
"Kita makan dulu Abi. Bincang-bincangnya dilanjutkan nanti saja, agar tidak terlalu malam. Karena setelah makan Hani akan pulang," sahut Umi Halimah seolah memperingatkan ayah dan anak yang sedang melepaskan rasa rindunya.
Abi Farhan menoleh ke arah Hani. Kemudian dia bertanya padanya.
"Benar itu Hani?"
"Iya Abi. Besok Hani harus bekerja. Jadi Hani harus pulang setelah ini," jawab Hani sambil tersenyum sungkan pada Abi Farhan.
Abi Farhan menganggukkan kepalanya menanggapi jawaban Hani dan dia berkata,
"Sudah selesai mempelajari apa yang ingin kamu ketahui?"
Hani tersenyum lebar pada Abi Farhan. Kemudian dia berkata,
"Untuk saat ini sudah Abi. Lain kali jika ada pertanyaan atau ada yang ingin Hani ketahui, pasti Hani datang ke sini lagi. Jadi… Hani mohon Abi jangan bosan pada kedatangan Hani ke rumah ini."
Abi Farhan tertawa mendengar perkataan Hani. Begitu pula dengan Umi Halimah dan Hamzah. Mereka merasa Hani seperti anggota keluarga termuda di sana, sehingga bisa membuat mereka selalu tertawa dengan perkataannya.
"Tidak mungkin Abi bosan didatangi Hani yang sudah seperti anak bagi Umi dan Abi. Bahkan Umi dan Abi sangat senang ketika Hani menjenguk kami atau pun berkunjung ke rumah ini. Benar kan Umi?" tutur Abi Farhan dan bertanya pada istrinya untuk meminta dukungannya.
"Benar kata Abi. Sering-seringlah Hani datang kemari. Dan sekarang… sebaiknya kita makan dulu," ujar Umi Halimah menanggapi pertanyaan suaminya.
Mereka pun makan bersama layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Sayangnya hubungan mereka tidak seperti itu. Akan tetapi semua itu bisa saja terjadi. Entah apa yang terjadi nanti. Hanya Allah, Tuhan yang maha segalanya lah yang dapat menjawabnya.
Setelah mereka selesai makan malam bersama, Hani membantu Umi Halimah membereskan semuanya. Kemudian dia berpamitan pulang pada mereka semua.
"Umi, Abi, Hani pulang dulu. Terima kasih atas semuanya. Dan maaf atas sikap Hani yang tidak berkenan di hati Abi dan Umi," pamit Hani sambil bergantian mencium punggung tangan Umi Halimah dan Abi Farhan.
Mereka berdua sudah dianggap oleh Hani seperti orang tuanya sendiri. Begitu pula dengan Umi Halimah dan Abi Farhan. Mereka juga menganggap Hani bagian dari keluarga mereka.
Hani hanya menganggukkan kepalanya pada Hamzah untuk berpamitan padanya. Kemudian dia mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Hamzah masih saja memandang mobil Hani hingga mobil tersebut tidak lagi terlihat olehnya. Umi Halimah hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun pada putranya. Dia tidak ingin bertanya pada Hamzah sebelum Hamzah mengatakan padanya.
Namun, Abi Farhan melihat arti pandangan mata Hamzah yang berbeda pada Hani. Kemudian dia bertanya pada putranya itu.
"Hamzah, apa boleh Abi tau apa arti pandangan matamu itu pada Hani?"
__ADS_1