Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 47 Upaya


__ADS_3

Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Hani membuat papa dan mamanya meradang. Mereka tidak menyangka jika putri kesayangannya bisa bertindak seperti itu.


Apa lagi sekarang putri kesayangan mereka sedang duduk bersimpuh di hadapan mereka untuk memperoleh restu akan keinginan hatinya.


"Hani!" seru mama Hani ketika melihat putrinya sedang memohon dengan bersimpuh di hadapan mereka.


Hati papa Hani merasa sakit melihat putrinya melakukan hal itu. Akan tetapi dia juga merasa sakit hati dengan keinginan putrinya itu.


"Hani mohon Ma, Pa. Restui keinginan hati Hani," ucap Hani dengan diiringi deraian air matanya memohon pada kedua orang tuanya.


Papa Hani berjalan melewati Hani yang masih duduk bersimpuh dengan diiringi deraian air matanya. Mama Hani pun menguatkan hatinya agar tidak memeluk putrinya. Dia ingin membuat putrinya itu sadar akan tindakan bodohnya.


Hati orang tua mana yang tega melihat anaknya dalam keadaan seperti itu. Begitu pula dengan mama dan papa Hani. Saat ini mereka sedang dihadapkan dengan persoalan yang lebih penting dibandingkan dengan merestui hubungan Hani dengan kekasihnya.


Hani masih saja duduk bersimpuh dengan deraian air mata yang diiringi dengan isakan tangisnya meskipun kedua orang tuanya sudah tidak berada di tempat itu.


Bahkan suara tangisnya itu dapat didengar oleh kedua orang tuanya yang ada di dalam kamarnya. Suara tangis Hani terdengar sangat menyayat hati di telinga orang yang mendengarnya.


"Pa, bagaimana ini? Mengapa Hani bisa jadi begini? Apa karena dia tidak dalam pengawasan kita?" tanya mama Hani dengan mengusap air mata yang menetes di pipinya mendengar suara tangis putrinya.


Papa Hani menghela nafasnya mendengar suara tangis putrinya yang sangat memilukan hatinya. Dia membawa istrinya dalam pelukannya seraya berkata,


"Kita coba saja beri dia waktu untuk sendiri agar dia menyadari kesalahannya."


"Mengapa ini bisa terjadi Pa? Mengapa kita harus dihadapkan dengan masalah seperti ini?" tanya mama Hani di sela isakan tangisnya yang berada dalam pelukan suaminya.


Papa Hani pun merasakan yang sama dengan yang dirasakan oleh mama Hani. Dia merasa marah dan tidak terima dengan keinginan putrinya. Akan tetapi dia tidak akan mungkin melampiaskan kemarahannya pada putrinya. Dia hanya bisa menyadarkan putrinya dengan memberinya kesempatan untuk berpikir kembali tanpa bisa menemui kedua orang tuanya.


"Kita berdoa saja Ma agar Hani tidak akan tersesat dan bisa kembali ke jalan yang benar seperti semula," tutur papa Hani sambil mengusap lembut punggung istrinya.


Hani masih saja dengan posisinya yang sama seperti tadi. Dia tetap duduk bersimpuh sambil mengatakan permohonannya pada kedua orang tuanya diiringi dengan tangisannya.

__ADS_1


Hingga beberapa jam berlalu, dia masih saja seperti itu. Bahkan mama dan papanya yang ada di dalam kamar merasa sangat khawatir padanya.


Hani masih saja bersikeras dengan keinginannya. Begitu pula dengan kedua orang tuanya. Mereka juga tetap bersikeras dengan keyakinan mereka.


"Ma… Pa… Hani mohon… Tolong restui keinginan hati Hani… Ijinkan Hani untuk memenuhi keinginan hati Hani… Tolong bantu Hani memperoleh ketenangan hati Hani… Hani janji tidak akan menyesal dan tetap rajin beribadah sesuai keyakinan Hani… Hani tidak akan bermain-main dengan keyakinan Hani Ma, Pa… Tolong Hani… Tolong putrimu ini…," pinta Hani dengan suara seraknya yang bergetar diiringi dengan isakan tangisnya.


Setelah beberapa jam Hani berusaha meyakinkan kedua orang tuanya dengan memohon pada mereka, tiba-tiba saja suara tangis dan suara permohonannya tidak lagi terdengar. Suara Hani seolah lenyap ditelan keheningan malam.


"Pa, kenapa Hani tidak bersuara? Apa dia–"


"Pasti dia kelelahan dan tertidur Ma. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak," jawab papa Hani yang mencoba menutupi kekhawatirannya agar istrinya tidak bertambah khawatir pada putri mereka.


Namun, kegelisahan hati mama Hani semakin bertambah. Dia semakin gelisah memikirkan putrinya yang masih tidak terdengar suaranya di luaran sana.


"Pa, apa tidak lebih baik kita melihatnya?" tanya mama Hani yang terlihat sangat cemas di wajahnya.


Bukan mama Hani saja yang cemas padanya. Papanya pun sama. Dia cemas pada putrinya. Akan tetapi dia tidak memperlihatkannya dengan terang-terangan.


Papa Hani menatap istrinya dan menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan istrinya.


"Hani!" seru mama Hani ketika melihat tubuh Hani tergeletak di lantai.


Dengan segera mama dan papa Hani berlari menghampiri Hani. Diangkatnya tubuh Hani yang lemah itu agar terlentang di pangkuan mamanya yang duduk di lantai tersebut.


"Hani… Hani… Kamu kenapa? Jawab Mama, Hani?!" seru mama Hani diiringi dengan deraian air matanya sambil menggerak-gerakkan badannya.


"Ma… Tenang sedikit. Papa akan panggilkan dokter agar datang ke sini secepatnya," sahut papa Hani mencoba menenangkan istrinya.


Mama Hani menghadap ke arah suaminya dan berkata,


"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja Pa?" 

__ADS_1


"Bukannya Papa tidak mau Ma. Lebih cepat dokternya ke sini karena rumah dokternya hanya beberapa blok dari sini," jawab papa Hani memperjelas ucapannya.


Mama Hani memandang heran pada suaminya yang sedang melakukan panggilan pada dokter yang dimaksudnya. 


"Bukankah dokter Rendra rumahnya di sekitar rumah sakit Pa?" tanya mama Hani yang merasa heran pada suaminya.


"Ini dokter perempuan Ma. Dia datang pada saat bakti sosial bersama dokter lainnya mewakili rumah sakit tempat mereka bekerja," jawab papa Hani sambil memposisikan tangannya untuk mengangkat tubuh Hani.


"Mau dibawa ke mana Pa?" tanya mama Hani yang melihat suaminya sedang berusaha mengangkat tubuh putrinya.


"Kita bawa ke kamarnya saja Ma. Tolong bukakan pintunya," jawab papa Hani seraya mencoba mengangkat tubuh Hani.


"Hati-hati Pa," ujar mama Hani ketika tubuh Hani sudah berhasil diangkat oleh papa Hani.


Papa Hani terkekeh mendengar peringatan dari istrinya. Kemudian dia berkata,


"Papa masih sangat kuat Ma, jangan khawatir."


Dengan sangat hati-hati sekali, papa Hani menggendong tubuh putrinya itu hingga sampai di kamarnya. Diletakkannya secara perlahan tubuh putri kesayangannya itu pada ranjangnya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka berdua sadar jika orang tersebut adalah orang yang sedang mereka nantikan.


"Biar Papa saja yang membukakan pintunya Ma. Mama jaga Hani di sini," ucap papa Hani seraya berjalan keluar kamar tersebut.


"Selamat malam Pak," sapa seorang perempuan sambil tersenyum dengan membawa tas yang berisi peralatannya untuk memeriksa Hani.


"Selamat malam. Silahkan masuk dok. Putri saya tiba-tiba pingsan. Dan sekarang dia ada di dalam kamarnya," tukas papa Hani sambil berjalan memandu dokter tersebut menuju kamar Hani.


Masuklah papa Hani bersama dengan dokter perempuan tersebut menghampiri Hani yang berada di tempat tidurnya masih dalam keadaan belum sadarkan diri.


Mata dokter tersebut terbelalak setelah berada di dekat Hani. Dia pun berkata,

__ADS_1


"Maaf Pak, apa dia benar putri Bapak?" 


 


__ADS_2