
Perkataan Aulia kembali terngiang di telinga Hani. Meskipun kini dia sedang berada di dekat Abhiyasa, tetap saja perkataan Aulia masih saja mengganggunya.
Terkadang Hani terbawa oleh pikirannya, sehingga ketika Abhiyasa mengajaknya berbicara, dia hanya diam seolah tidak mendengarnya.
"Honey… Honey… Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.
Seketika Hani tersadar dari lamunannya. Dia salah tingkah dan gugup menanggapi pertanyaan dari Abhiyasa.
"A-apa? Tadi kamu ngomong apa Abhi?" tanya Hani dengan gugup.
Abhiyasa sedikit melirik kekasihnya yang duduk di sampingnya. Dia menyadari ada yang berbeda dengan sikapnya sesudah pulang dari panti asuhan itu.
Dia meminggirkan mobilnya dan berhenti di tepi jalan. Tangannya memegang kedua pipi Hani dan dia menatap intens manik mata kekasihnya itu seraya berkata,
"Ada apa Honey? Apa ada yang kamu pikirkan? Apa ada masalah di panti asuhan tadi?"
Sama seperti Abhiyasa. Hani pun menatap intens manik mata laki-laki yang dicintainya itu. Dia merasakan perasaan cinta yang mendalam dari dalam matanya. Dan dia tidak mau melepaskan laki-laki yang begitu mencintainya.
Dia tidak rela kehilangan sosok laki-laki yang sangat berharga baginya. Terlebih perasaan cintanya yang sangat besar untuknya.
"Honey, katakan ada apa? Jangan buat aku jadi khawatir," sambung Abhiyasa yang terlihat sangat khawatir padanya.
Hani menghela nafasnya. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan semua itu pada Abhiyasa, tapi dia juga tidak bisa begitu saja mengabaikan permasalahan itu sehingga membuatnya selalu bertanya-tanya akan kelanjutan hubungan mereka berdua.
"Abhi, apa menurutmu keluarga kita akan menerima hubungan kita?" tanya Hani pada Abhiyasa yang masih menatapnya dengan intens.
Seketika raut wajah Abhiyasa berbeda. Dia mengerti akan apa yang sedang dipikirkan oleh Hani saat ini. Dia pun demikian. Setiap hari dia selalu memikirkan hubungan mereka.
Namun, Abhiyasa hanya bisa berdoa. Dan dia yakin jika Allah akan memberikannya jalan yang terbaik untuk hubungan mereka.
Abhiyasa tersenyum untuk menenangkan hati kekasihnya. Kemudian dia berkata,
"Yakinlah dengan perasaan kita. Jangan biarkan pikiran buruk itu mengganggu perasaan kita."
Hani tersenyum menanggapi perkataan Abhiyasa. Sayangnya senyum Hani itu terlihat beda di mata Abhiyasa. Dia melihat keterpaksaan dari senyuman itu. Dan dia juga tahu jika sebenarnya Hani masih saja memikirkannya. Semua itu terlihat dengan jelas pada wajah Hani.
"Abhi, apa aku boleh bertanya?" tanya Hani dengan ragu-ragu.
Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Mau tanya apa hmmm?"
Hani ragu untuk menanyakannya. Tapi dia juga ingin mengetahui yang sebenarnya. Dia pun memantapkan dirinya untuk bertanya pada Abhiyasa.
__ADS_1
"Apa… keluarga besar mu sangat taat pada agama mereka?" tanya Hani dengan ragu-ragu.
Dahi Abhiyasa mengernyit mendengar pertanyaan dari Hani. Dia pun berkata,
"Maksud kamu apa?"
Hani menghela nafasnya. Dia merutuki kebodohannya yang bertanya dengan pertanyaan yang tidak jelas.
"Kata Aulia, keluarga besar kamu sangat patuh pada agama. Dan dia yakin jika mereka tidak akan bisa menerimaku menjadi pasanganmu," jawab Hani dengan menundukkan pandangannya.
Dia tidak berani melihat Abhiyasa yang wajahnya saat ini sangat dekat darinya. Bukan hanya itu saja. Dia sangat sedih ketika mengatakan hal itu. Kalimat yang diucapkan oleh Aulia dan masih selalu terngiang di telinganya.
Abhiyasa memejamkan matanya. Terlihat jelas saat ini dia sangat marah dan dia berusaha keras untuk menahannya.
Dia membuka matanya dan kembali menatap Hani seraya berkata,
"Kapan dia menemui mu?"
Hani enggan menjawab pertanyaan Abhiyasa karena dia takut jika akan menyulut kemarahannya.
"Hani, jawab. Kapan dia menemui mu?" tanya Abhiyasa dengan tegas dan menatapnya dengan tatapan serius.
Dia pasti sangat marah padaku. Bahkan dia tidak lagi memanggilku Honey. Dia memanggil namaku saat ini. Apalagi mata dan wajahnya yang terlihat sangat marah saat ini. Aku harus jujur padanya. Jika tidak, dia pasti akan bertambah marah padaku, Hani berkata dalam hatinya.
Abhiyasa kembali duduk dengan benar dan menghadap lurus ke arah jalan yang ada di hadapannya seraya berkata,
"Sial! Kenapa dia masih saja mengganggu hubungan kita? Berani sekali dia mencampuri urusan kita. Aku tidak bisa mendiamkannya lagi. Aku harus memperingatkannya agar dia tidak lagi mengganggumu dengan kata-katanya yang tidak berarti itu."
Dengan cepatnya Hani memegang tangan Abhiyasa dan berkata,
"Abhi, tolong jangan besarkan masalah ini. Jika kamu menemuinya, maka dia akan sangat senang sekali. Karena itulah yang diinginkannya."
Seketika amarah Abhiyasa reda. Dia menoleh ke arah Hani dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,
"Kamu tau Honey, hanya kamu yang bisa membuat amarahku reda seketika. Aku harap kamu tidak akan memikirkan hal itu lagi. Kamu harus percaya padaku. Aku pasti akan mencari jalan keluarnya."
Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menggenggam tangan Abhiyasa untuk meyakinkannya dan berkata,
"Aku percaya padamu Abhi."
Setelah itu Abhiyasa melajukan kembali mobilnya menuju rumah mereka. Dalam perjalanan tersebut Hani mencoba mengeluarkan candaannya agar Abhiyasa tidak lagi memikirkan hal itu.
Karena Hani tahu jika tanpa dia menanyakan masalah itu pun Abhiyasa pasti juga memikirkannya, sama seperti dirinya yang selalu memikirkan hal itu. Dan dia tidak boleh menambah beban pikiran Abhiyasa lagi dengan kekhawatirannya pada kelanjutan hubungan mereka.
__ADS_1
...----------------...
Hari berganti hari sejak kejadian di panti asuhan itu. Hubungan Hani dan Abhiyasa semakin dekat dan membuat mereka semakin bahagia.
Sedangkan Aulia, dia masih belum mengetahui perkembangan hubungan Hani dan Abhiyasa. Dalam benaknya, hubungan Hani dan Abhiyasa pasti akan renggang dengan sendirinya karena perbedaan yang mereka miliki.
Namun, waktunya tidak dapat ditentukan. Bahkan Aulia sendiri tidak bisa memastikannya.
Hari ini seperti biasa, sesuai jadwalnya Aulia membantu dokter senior yang sedang praktek.
Tiba-tiba mata Aulia berbinar dan bibirnya melengkung ke atas ketika melihat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan dokter tersebut bersama dengan wanita yang sudah tua.
"Maaf Bu, apa benar Ibu ini Ibunya Abhiyasa? Dan Nenek ini Neneknya Abhiyasa?" tanya Aulia ketika kedua wanita tersebut duduk berhadapan dengan dokter pemilik ruangan tersebut.
"Ehemmm… dokter Aulia, sepertinya sangat mengenal ibu-ibu ini," sahut dokter tersebut seolah memperingatkan Aulia agar lebih sopan pada pasien yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Eh iya dok, maaf," ucap Aulia yang terlihat sangat sungkan pada dokter tersebut dan kedua wanita yang berstatus pasien itu.
"Tidak apa dok. Memang saya ibunya Abhiyasa. Dan ini neneknya Abhiyasa. Dokter juga tau itu kan?" ujar ibu Abhiyasa Pada dokter tersebut yang sudah sangat mengenal keluarga mereka.
"Maaf Bu, saya Aulia. Kita pernah bertemu pada saat wisuda di SMA Abhiyasa waktu itu," tukas Aulia yang seolah mengingatkan ibu dan neneknya Abhiyasa akan dirinya.
Ibu Abhiyasa dan nenek Abhiyasa saling menoleh. Kemudian mereka saling tersenyum.
"Jadi kamu teman SMA Abhiyasa ya?" tanya ibu Abhiyasa dan tersenyum ramah pada Aulia.
"Iya Bu benar," jawab Aulia malu-malu.
Ibu dan nenek Abhiyasa tahu jika Abhiyasa sangat cuek pada perempuan. Oleh sebab itu dia mengatakan jika Aulia adalah teman Abhiyasa, karena mereka tahu betul jika Abhiyasa belum memiliki pacar hingga saat ini.
"Dengar-dengar Abhiyasa akan menikah ya Bu?" tanya Aulia pada ibu Abhiyasa.
Terlihat jelas jika ibu dan nenek Abhiyasa sedang bingung. Mereka berdua saling menoleh seolah saling bertanya.
"Sepertinya itu hanya kabar burung," ujar ibu Abhiyasa sambil terkekeh.
"Loh bukannya keluarga Abhiyasa sudah menyetujui hubungannya dengan perempuan yang beda agama itu ya Bu?" tanya Aulia yang semakin gencar menjalankan rencananya.
Sontak saja ibu Abhiyasa dan neneknya saling menoleh dan berkata bersamaan,
"Apa?"
"Beda Agama?"
__ADS_1