
Kini Hamzah harus mengikhlaskan rasa yang dimilikinya untuk Hani, gadis yang menarik perhatiannya pada awal pertemuan mereka.
Untung saja tadi belum mengatakan niatku untuk meminang Hani pada Umi dan Abi, Hamzah berkata dalam hatinya.
Abi Farhan dan Umi Halimah tersenyum mengantarkan kepergian keluarga Abhiyasa di halaman rumah mereka.
Sedangkan Abhiyasa pulang bersama dengan Hani menggunakan mobil milik Hani.
Abhiyasa membukakan pintu mobil untuk Hani pada bagian kursi penumpang yang ada di sebelah pengemudi.
"Silahkan Honey nya Abhi," ucap Abhiyasa sambil tersenyum manis pada kekasih hatinya.
Hani menahan senyum malunya meskipun terdapat semburat merah pada wajahnya. Kemudian dia berkata,
"Lalu, yang menyetir siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Abhi mu ini? Bisa-bisa kamu sindir habis-habisan kalau aku jadi penumpang," jawab Abhiyasa sambil terkekeh dan mencubit gemas hidung Hani.
Hani melepaskan tangan Abhiyasa dari hidungnya dan berkata,
"Issshhh… Kapan aku menyindir?"
"Hmmm… Giliran diingetin aja ngelak. Siapa dulu yang bilang, bukannya laki-laki yang harus menyetir? Kenapa aku yang perempuan harus menyetir sekarang? Ingat gak?" ucap Abhiyasa menirukan cara bicara Hani.
Hani tersenyum lebar memperlihatkan giginya karena merasa malu pada Abhiyasa yang mengingat semuanya. Dengan segera dia masuk ke dalam mobil agar kekasihnya itu tidak lagi meledeknya.
Dari teras rumahnya, umi Halimah, abi Farhan dan Hamzah berdiri memperhatikan pasangan kekasih tersebut untuk mengantarkan kepergian mereka.
Umi Halimah dan abi Farhan terkekeh melihat tingkah sepasang kekasih itu. Berbeda dengan kedua orang tuanya, Hamzah menatap sedih sepasang kekasih yang telah mematahkan hatinya. Dia merasa kehilangan sesuatu dalam hatinya.
"Abi, Umi, Mas Hamzah, kami pulang dahulu. Assalamualaikum…," tukas Abhiyasa pada abi Farhan, umi Halimah dan Hamzah yang berdiri mengantar kepergian mereka.
"Wa'alaikumussalam…," jawab mereka bertiga sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Abhiyasa.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah mobil yang dikendarai oleh Abhiyasa hilang dari pandangan mereka.
Umi Halimah mengusap punggung Hamzah sambil tersenyum padanya. Meskipun tanpa berkata-kata, Hamzah tahu jika uminya itu mencoba menguatkannya. Hamzah memaksakan senyumnya dengan hati yang terasa hancur.
Abi Farhan merangkul pundak Hamzah dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam rumah mereka.
Di dalam mobil, Hani hanya diam saja. Dia malu pada Abhiyasa yang sedari tadi tersenyum sambil mengemudikan mobil tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Abhiyasa, dia tersenyum seolah mengejek kekasihnya itu. Bukan benar-benar mengejeknya, dia hanya menggoda Hani karena senang melihat wajah merona Hani yang membuatnya gemas padanya.
"Honey, tadi Ayah dan Ibu menyuruhku bertanya padamu, kapan keluargaku bisa datang ke rumah orang tuamu untuk melamar kamu?" tanya Abhiyasa sambil fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
Sontak saja Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang sedang fokus mengemudi.
"A-apa? Melamar? Jadi… yang tadi itu beneran?" tanya Hani gugup dan terlihat tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Abhiyasa melirik Hani sekilas. Kemudian dia fokus tersenyum dan kembali fokus dengan kemudinya.
"Kenapa? Sudah gak sabar ya?" tanya Abhiyasa sambil tersenyum menggoda Hani.
"Ih Abhi… Bukannya malah terlalu cepat ya?" tanya Hani dengan gaya merajuknya.
"Ck, niat baik gak boleh ditunda-tunda. Kalau bisa nih, besok kita lamaran, lusa kita menikah. Gimana?" sahut Abhiyasa sambil terkekeh.
"Itu sih maunya kamu Abhi," ucap Hani sambil memukuli lengan Abhiyasa untuk menutupi rasa malunya.
Abhiyasa tetap mengemudikan mobilnya. Dia hanya tertawa mendapatkan pukulan di lengannya. Kemudian dia berkata,
"Oh jadi yang ingin menikah cuma aku saja? Kamu gak ingin nikah sama aku?"
"Ehemmm... Aku akan mengatakan pada Mama dan Papa jika kamu dan kedua orang tuamu akan datang menemui mereka besok."
Tiba-tiba Abhiyasa menghentikan mobilnya secara mendadak dan bibir Abhiyasa melengkung ke atas mendengar ucapan Hani yang memutuskan besok untuk Abhiyasa melamarnya.
Beruntung sekali jalanan tersebut bukan jalan utama dan kebetulan sekali dalam keadaan sepi sehingga tidak ada yang terganggu dengan ulah Abhiyasa yang secara tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Besok? Beneran?" tanya Abhiyasa sambil menatap Hani seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Hani menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada kekasihnya itu seraya berkata,
"Iya Abhi, benar. Besok kamu dan kedua orang tuamu bisa datang ke rumah untuk menemui kedua orang tuaku."
"Yes! Akhirnya aku akan menikah dengan Hani!" seru Abhiyasa seolah sedang melakukan selebrasi kemenangannya.
Hani tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya yang mirip seperti seorang bocah yang memenangkan hadiah.
Abhiyasa benar-benar bisa menghidupkan suasana. Kesunyian yang dirasakan mereka berdua di dalam mobil tersebut seketika lenyap karena tingkah Abhiyasa yang membuat Hani tertawa terbahak-bahak.
Selang beberapa saat kemudian, mobil Hani yang dikendarai oleh Abhiyasa masuk ke dalam halaman rumah Hani.
__ADS_1
Hani menengadahkan tangannya di hadapan Abhiyasa. Dahi Abhiyasa mengernyit, dia tidak mengerti arti dari uluran tangan Hani padanya.
Namun, dengan percaya dirinya Abhiyasa meletakkan tangannya pada tangan Hani yang menengadah.
Seketika Hani melepaskan tangan Abhiyasa yang ada pada telapak tangannya seraya berkata,
"Kunci mobil."
"Ck, kirain ingin gandeng tangan aku," ucap Abhiyasa sambil tersenyum.
"Gak usah ngada-ngada deh. Sudah malam, bisa-bisa digrebek warga dan dinikahkan sekarang juga," ujar Hani sambil meraih kunci mobilnya dari tangan Abhiyasa.
"Eh iya ya. Kenapa gak kepikiran. Aku di sini aja deh, biar kita dinikahkan sama mereka sekarang juga," tukas Abhiyasa disertai senyuman lebarnya.
Dengan segera Hani lari masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Abhiyasa yang masih saja menggodanya.
Tawa Abhiyasa semakin tidak bisa ditahannya. Dia berjalan menuju rumahnya dengan diiringi tawanya yang belum bisa dihentikannya karena terbayang tingkah lucu kekasihnya.
Di dalam rumahnya, Hani tersenyum-senyum sendiri mengingat tingkah mereka berdua.
"Ternyata seindah ini rasanya mencintai dan dicintai. Rasanya sangat indah dan sangat membahagiakan. Semoga kebahagiaan selalu menyertai hubungan kita Abhi…," ucap Hani sambil berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.
Seketika Hani beranjak dari tidurnya. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu dan berkata,
"Gawat! Aku lupa memberitahu Mama dan Papa. Untung saja aku ingat sekarang."
Dengan segera Hani mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya.
Berkali-kali Hani menghubungi mamanya, sayangnya panggilan teleponnya itu tidak diangkat oleh mamanya.
"Ck! Sudah jam segini. Pasti Mama sama Papa sudah tidur," gerutu Hani sambil memandang layar ponselnya yang panggilan teleponnya sudah menjadi panggilan tidak terjawab.
"Sekali lagi deh, siapa tau yang terakhir ini diangkat teleponnya sama Mama," ucap Hani sambil melakukan panggilan telepon kembali pada nomor ponsel mamanya.
Halo…, terdengar suara mama Hani yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Seketika senyum Hani merekah mendengar suara mamanya yang menjawab panggilan teleponnya.
"Mama, Hani sama Abhiyasa sudah–"
Kenapa? Apa yang kalian lakukan?
__ADS_1