
Semua pekerjaan Hani telah usai. Dia bisa menyelesaikan semuanya sebelum jam pulangnya yang tergolong malam untuk pekerja lainnya.
Tiba-tiba saja mobilnya berhenti di suatu tempat yang berhasil menyita perhatiannya.
Sebuah bangunan besar di pinggir jalan yang mempunyai bentuk ciri khas tersendiri itu seolah berhasil menghipnotis Hani agar berhenti di tempat itu.
'Masjid Al-Hidayah'
Tatapan Hani kini beralih pada tulisan besar yang terdapat pada bangunan tersebut.
Layaknya orang yang terhipnotis, Hani ingin mendekati masjid tersebut dan melihatnya lebih dekat lagi.
Turunlah Hani dari mobilnya. Dia memandang kagum pada bangunan besar yang bertuliskan masjid tersebut.
Bahkan dia mendekat untuk melihat kemegahan masjid tersebut. Matanya tidak berhenti menatap kagum pada masjid tersebut. Bahkan hatinya merasa sangat bahagia berada di tempat itu.
Hani memegang dadanya yang terasa berdetak sangat cepat. Dia merasakan seolah dia sedang berdekatan dengan Abhiyasa, laki-laki yang sangat dicintainya.
"Apa aku sedang jatuh cinta pada… tempat ini?" tanya Hani dengan menatap masjid yang ada di hadapannya dan memegang dadanya dengan tangan kanannya.
Setelah itu matanya tertuju pada seorang perempuan yang berhijab dan berjalan melewati Hani.
Entah apa yang dipikirkan Hani hingga larut dalam pikirannya ketika melihat perempuan itu hingga masuk ke dalam masjid tersebut.
Setelah itu dia tersadar dan kembali ke dalam mobilnya yang diparkirkan di wilayah parkiran masjid tersebut.
Hani mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi salah satu nomor yang ada di dalam kontaknya.
Assalamualaikum…, sapa seseorang dari seberang sana.
"Wa'alaikumussalam…," jawab Hani dari telepon tersebut.
Hani, ada apa? Apa Hani mau datang ke sini? tanya orang tersebut pada Hani.
"Umi, sepertinya Hani sudah memutuskan," jawab Hani dengan tegas tanpa terdengar ada keraguan sedikit pun.
Maksud Hani…, Umi Halimah menggantungkan ucapannya.
"Tunggu Hani Umi. Hani akan ke sana sekarang," ucap Hani sebelum dia mengakhiri panggilan teleponnya tanpa disertai salam ketika mengakhirinya.
Dengan segera Hani melajukan mobilnya meninggalkan parkiran masjid tersebut menuju rumah Umi Halimah.
__ADS_1
Entah mengapa Hani merasa sangat senang saat ini. Bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum meskipun hanya seorang diri mengendarai mobilnya.
Hingga beberapa menit berlalu sampailah dia di sebuah gerbang yang bertuliskan 'Pondok Pesantren Al-Mukmin'.
Masuklah mobil Hani setelah gerbang tersebut dibuka oleh penjaga keamanan yang sudah mengenal Hani. Mereka mempersilahkan Hani masuk sebagai tamu dari Umi Halimah dan Abi Farhan.
Tampaknya kedatangan Hani sudah ditunggu oleh Umi Halimah. Di teras rumahnya, Umi Halimah berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan Hani di rumahnya.
"Umi…," ucap Hani sambil berlari kecil menghampiri Umi Halimah.
Umi Halimah tersenyum mendapatkan pelukan dari Hani. Tangan Umi Halimah pun membalas pelukan Hani seraya berkata,
"Assalamualaikum…."
Hani mengurai sedikit pelukannya sambil tersenyum lebar pada Umi Halimah. Kemudian dia berkata,
"Wa'alaikumussalam… Maaf Umi, Hani lupa."
"Kebiasaan kamu ini. Ayo kita masuk ke dalam," ucap Umi Halimah sambil merangkul pundak Hani mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Hani menghentikan langkahnya ketika akan masuk ke dalam rumah. Dia menatap kursi yang ada di teras rumah tersebut dan berkata,
"Lebih baik kita berbicara di sini saja Umi."
"Sebentar Hani, Umi akan ambilkan minuman dan kue dulu ya," ucap Umi Halimah sambil beranjak dari duduknya.
Hani memegang tangan Umi Halimah untuk menghentikannya seraya berkata,
"Tidak usah Umi. Hani hanya sebentar. Hani hanya ingin menanyakan sesuatu pada Umi."
Umi Halimah pun duduk kembali. Dia menatap Hani dengan tatapan lembutnya dan berkata,
"Ada apa Hani? Sepertinya sangat penting sekali."
Hani menghirup nafasnya, kemudian perlahan mengeluarkannya. Setelah itu dia berkata,
"Umi, apa boleh Hani tau apa saja syarat jika Hani ingin berpindah keyakinan?"
Umi Halimah tersenyum mendengar pertanyaan dari Hani. Tangan Umi Halimah mengusap lembut rambut indah Hani seraya berkata,
"Apa Hani sudah yakin?"
__ADS_1
Hani menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Umi Halimah padanya.
"Apa keluarga Hani tau tentang ini?" tanya Umi Halimah kembali pada Hani.
Hani menggelengkan kepalanya tanpa menjawab dengan kata-kata pertanyaan dari Umi Halimah padanya.
"Apa kedua orang tua Hani setuju dengan keputusan Hani untuk berpindah keyakinan?" tanya Umi Halimah kembali pada Hani.
"Belum Umi. Mereka belum mengetahui apa pun. Bahkan mereka tidak mengetahui tentang apa yang Hani lakukan akhir-akhir ini. Tadi Hani tiba-tiba saja mendapatkan jawaban dari hati Hani. Karena itulah Hani menghubungi Umi tadi," jawab Hani disertai gelengan kepalanya ketika awal dia menjawab pertanyaan Umi Halimah.
Umi Halimah kembali tersenyum padanya. Tangan Umi Halimah mengusap lembut tangan Hani. Dia menatap mata Hani dan tersenyum padanya seraya berkata,
"Coba bicarakan dulu dengan keluarga Hani. Katakan keinginan hati Hani yang sebenarnya. Umi yakin jika kedua orang tua Hani pasti akan menerima dengan baik keputusan Hani. Umi tidak ingin keridhoan dari orang tua Hani tidak menyertai keinginan baik Hani saat ini."
Seketika raut wajah Hani berubah menjadi sedih. Dari wajahnya itu Umi Halimah bisa melihat rasa takut, ragu-ragu dan tidak yakin.
"Percayalah Hani, semua orang tua selalu menginginkan anaknya bahagia. Mereka pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pula dengan kedua orang tua Hani. Mereka pasti akan mendukung keputusan Hani karena mereka ingin melihat Hani bahagia," tutur Umi Halimah pada Hani yang sedang menundukkan kepalanya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Umi Halimah, seketika kepala Hani mendongak melihat ke arah Umi Halimah yang sedang tersenyum padanya.
"Apa Umi yakin mereka akan menyetujuinya?" tanya Hani dengan ragu-ragu.
Umi Halimah tersenyum serta menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Hani. Dia pun berkata,
"Jika mereka sudah menyetujuinya, datanglah kemari, Umi akan membantumu untuk berpindah keyakinan."
"Tapi Umi, bagaimana jika mereka tidak akan pernah menyetujuinya? Apa yang harus Hani lakukan?" tanya Hani dengan sangat antusias.
"Yakinkan mereka jika pilihanmu saat ini adalah keyakinan hatimu sendiri, bukan karena hal lainnya. Umi yakin Allah akan membantu Hani menyelesaikan semua masalah yang sedang Hani hadapi," jawab Umi Halimah.
"Jika masih saja mereka menentang kemauan Hani, apa boleh Hani tetap dengan keinginan Hani untuk berpindah keyakinan?" tanya Hani kembali pada Umi Halimah.
Umi Halimah tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Jika memang keinginan hati Hani tetap teguh dan tidak akan berubah lagi, datanglah kemari, Umi akan membantumu. Dan ingat Hani, agama bukan untuk dibuat mainan."
"Hani tau itu Umi. Doakan Hani agar Hani mendapatkan restu dari keluarga Hani, terutama kedua orang tua Hani," ucap Hani sambil memegang kedua tangan Umi Halimah.
"Pasti Hani. Umi selalu mendoakan yang terbaik untuk Hani," tukas Umi Halimah sambil tersenyum pada Hani.
Setelah itu Hani berpamitan pada Umi Halimah dan meninggalkan tempat itu dengan iringan doa dari Umi Halimah.
__ADS_1
Ternyata dari dalam rumah tersebut ada seseorang yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Dalam hati dia berkata,
Jadi dia…