Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 61 Terima atau tidak?


__ADS_3

"Sudah selesai," ucap ibu Abhiyasa sambil tersenyum lega melihat semua barang yang sudah berjajar rapi.


"Ayo Bu kita bersiap-siap sekarang," ajak ayah Abhiyasa sambil mengulurkan tangannya pada istrinya.


Ibu Abhiyasa menerima uluran tangan suaminya yang membantunya untuk bangun dari duduknya. Mereka berjalan masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri sebelum datang ke rumah orang tua Hani.


Selang beberapa saat, mereka sudah siap dan segera keluar dari kamarnya. 


"Di mana mereka berada? Kenapa sangat sepi sekali? Apa jangan-jangan mereka meninggalkanku?"


Suara Abhiyasa yang sedang menggerutu membuat ibu dan ayahnya saling menatap dan menahan tawanya.


"Eh tapi ini barang-barangnya masih di sini. Gak mungkin kan kalau mereka sudah berangkat?" ucap Abhiyasa sambil berdiri di depan barang-barang yang akan mereka bawa nanti ketika datang ke rumah Hani.


Tiba-tiba mata Abhiyasa terbelalak dan badannya mematung ketika ada yang memegang pundaknya dari belakang.


Abhiyasa sudah memasang ancang-ancang. Dalam hatinya dia mulai menghitung untuk menyerang orang tersebut.


"Yasa, jadi berangkat tidak?" tanya ibu Abhiyasa yang berada di belakangnya.


Abhiyasa menghela nafasnya dengan lega ketika mendengar suara ibunya. Dia memutar badannya ke belakang dan ternyata tangan yang berada di pundaknya adalah tangan ayahnya.


"Ayah ngagetin aja deh. Kirain siapa yang berani memegang Yasa dari belakang. Mana keadaan rumah lagi sepi," gerutu Abhiyasa yang mencebik kesal pada ayahnya.


Ayah dan ibu Abhiyasa tertawa melihat putranya yang sedang merajuk. Hal itu mengingatkan mereka pada Abhiyasa kecil yang sedang meminta mainan.


"Lagian kamu itu lucu. Yang mau melamar Hani itu kamu. Mana mungkin Ibu sama Ayah datang ke rumah orang tua Hani tanpa kamu," ujar ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


Tiba-tiba Abhiyasa tersenyum lebar dan menggaruk tengkuknya karena merasa malu pada ayah dan ibunya yang ternyata mendengarkannya sejak tadi.


"Ckckck… Yasa… Yasa… Ternyata kamu bisa juga kekanak-kanakan seperti ini," ujar ayah Abhiyasa sambil terkekeh.


Abhiyasa tidak bisa berkata-kata lagi. Dia benar-benar malu di hadapan kedua orang tuanya.


"Ini semua dibawa ke mobil kan Bu?" tanya Abhiyasa untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Ayah dan ibu Abhiyasa kembali terkekeh melihat Abhiyasa yang salah tingkah di hadapan mereka.

__ADS_1


"Bawa semuanya ke mobil yang besar, biar bisa muat semuanya," ujar ayah Abhiyasa mengiringi langkah kaki Abhiyasa menuju garasi mobil.


Dimasukkannya semua barang bawaan untuk lamarannya nanti ke dalam mobil Alphard hitam yang terparkir di dalam garasi.


Berkali-kali dia berjalan bolak-balik dari ruang tengah hingga garasi mobil untuk memasukkan semua barang bawaannya yang berjumlah lebih dari dua puluh kotak hantaran.


"Huuuffffttt… Akhirnya selesai juga," ucap Abhiyasa dengan senyuman lebarnya menatap semua barang-barang tersebut.


"Ayo kita berangkat," ajak ayah Abhiyasa sambil menepuk perlahan pundak putranya.


"Apa kamu sangat senang Yasa?" 


Suara lembut dan khas nenek-nenek membuat Abhiyasa menoleh ke arah sumber suara.


"Nenek?!" celetuk Abhiyasa sambil tersenyum lebar menghampiri neneknya yang sedang duduk di atas kursi roda.


Abhiyasa berjongkok di hadapan neneknya dan mencium tangan neneknya.


Nenek Abhiyasa tersenyum sambil mengusap lembut rambut cucu kesayangannya itu seraya berkata,


"Apa Yasa senang dengan acara lamaran ini?" 


"Sangat Nek. Yasa sangat bahagia sekali. Kalau bisa hari ini lamaran, terus… besok kita langsung nikah. Bisa kan Nek?" 


"Seenaknya aja kamu ini Yasa… Yasa…," sahut ibu Abhiyasa yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


Nenek Abhiyasa terkekeh mendengar candaan anak, menantu dan cucunya itu. 


"Jadi berangkat gak nih? Kalau gak jadi, Mama mau melihat-lihat keadaan butik," tukas ibu Abhiyasa yang berniat mengingatkan keberangkatan mereka ke rumah orang tua Hani.


Tanpa berkata-kata, Abhiyasa membopong tubuh neneknya untuk dipindahkan ke dalam mobil yang akan mereka pakai nanti ke rumah Hani.


Ayah dan ibu Abhiyasa mengikuti di belakang putranya. Mereka bangga pada putra semata wayang mereka yang sangat berbakti pada neneknya.


Ayah Abhiyasa segera membukakan pintu mobil di bagian penumpang untuk nenek Abhiyasa. Setelah mendudukkan neneknya di kursi penumpang, Abhiyasa segera duduk di kursi pengemudi. Kali ini dia yang mengemudikan mobil tersebut tanpa sopir keluarga mereka.


Mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang. Dia harus berhati-hati mengemudikannya karena membawa neneknya bersamanya saat ini.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu kemudian, mobil yang dikendarai Abhiyasa masuk ke dalam halaman rumah Hani.


Abhiyasa segera keluar dari mobilnya dan kembali membopong neneknya keluar dari mobil tersebut.


Tampak Hani berdiri di depan teras setelah mendengar suara deru mobil yang terdengar di indera pendengarannya.


Jantung Hani berdebar dengan sangat kencang ketika melihat sosok Abhiyasa yang berpakaian sangat rapi malam ini, berbeda sekali dengan biasanya yang selalu tampak casual dan keren bak anak remaja.


Langkah Abhiyasa terhenti ketika berada tepat di hadapan kekasihnya. Wajah cantik dengan rambut hitam panjang terurai dan sedikit ditata ikal di bagian ujung bawahnya itu menjadi kesan tersendiri pada penampilan Hani malam ini.


Gadis cantik itu terlihat sangat anggun dan mempesona dengan menggunakan setelan kebaya warna krem dan terlihat pas dengan warna kulit Hani yang putih dan mulus.


"Yasa, bisa kamu turunkan nenek sekarang?" tanya nenek Abhiyasa yang berniat menyadarkan cucunya dari kekagumannya pada sosok calon istrinya.


Seketika Abhiyasa tersadar. Dia malu pada neneknya dan Hani yang sedang menahan tawanya.


Abhiyasa segera mendudukkan neneknya di ruang tamu yang sudah ada mama serta papa Hani di sana.


Setelah itu Abhiyasa membantu ibu dan ayahnya mengambil semua barang yang ada di dalam mobil mereka. Satu per satu barang-barang yang dibawanya untuk acara lamaran tersebut telah diletakkan di ruang tamu tempat mereka berkumpul sekarang ini.


Mama dan papa Hani heran melihat semua barang bawaan yang dibawa oleh Abhiyasa dan kedua orang tuanya untuk acara lamaran mereka malam ini.


"Ini… Apa semua barang ini Abhiyasa?" tanya papa Hani sambil memandang heran pada semua barang tersebut.


"Itu semua untuk Hani, Pa," jawab Abhiyasa sambil tersenyum pada calon papa mertuanya.


"Tapi kenapa sebanyak ini?" tanya papa Hani yang masih terlihat heran menatap semua barang-barang tersebut.


"Tidak apa-apa Pa. Malah seharusnya saya memberikan lebih dari ini untuk calon istri saya," jawab Abhiyasa sambil melirik Hani yang tersipu malu mendengar perkataan calon suaminya.


Papa dan mama Hani tersenyum lega mendengar jawaban dari calon menantunya yang terlihat jelas sangat mencintai putrinya.


"Pa, Ma, malam ini saya bersama dengan kedua orang tua saya dan nenek saya akan melamar Hani sebagai istri saya," ucap Abhiyasa dengan sangat mantap.


"Bagaimana Hani, apa kamu menerima lamaran Abhiyasa?" tanya papa Hani sambil menatap intens mata putrinya.


Hani menghirup dalam-dalam nafasnya dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian dia menutup matanya seraya berkata,

__ADS_1


"Tidak."


__ADS_2