Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 11 Bertemu dengannya


__ADS_3

Beberapa detik setelah Abhiyasa melirik ke arah Hani yang masih terlihat memejamkan mata, terdengar suara rintihan dari Hani. Dia merintih dan memegang perutnya seolah tak tertahankan.


"Awwww…. Awww…."


Sontak saja Abhiyasa menghentikan mobilnya. Dengan paniknya dia mendekati Hani yang sedang merintih kesakitan dan berkata,


"Ada apa? Kamu kenapa Hani?"


"Perutku… sa-kit," jawab Hani dengan menahan sakitnya.


"A-apa? Sakit? Sakit kenapa? Bagaimana bisa? Apanya yang sakit?" tanya Abhiyasa yang sedang panik.


Seketika tangan Hani bergerak menutup bibir Abhiyasa agar tidak bertanya lebih banyak lagi. Kemudian dia berkata dengan sekuat tenaga menahan sakitnya,


"Cepat bawa aku ke dokter."


Abhiyasa menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perintah Hani. Dengan segera dia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di depan rumah sakit, Abhiyasa segera memarkirkan kendaraannya tidak beraturan.


Dia segera turun dari mobil dan menggendong Hani ala bridal style untuk membawanya menuju ruang UGD.


Hani tidak menolak. Dia membiarkan Abhiyasa menggendongnya karena tubuhnya sangat lemas saat ini. Bahkan dia hanya bisa merintih menahan sakitnya saja.


"Tolong dia. Tubuhnya sangat lemah. Dari tadi dia hanya bisa merintih kesakitan pada perutnya," ucap Abhiyasa ketika masuk ke ruang UGD dan meletakkan tubuh Hani pada bed pasien.


Seorang dokter perempuan mendekati mereka dan bersiap memeriksa Hani dengan memasang stetoskop di telinganya.


Namun, mata dokter tersebut beralih pada Abhiyasa yang berdiri dan terlihat panik pada perempuan yang terbaring lemah pada bed pasien.


"Abhiyasa?!" celetuk dokter perempuan tersebut yang tertera nama Aulia pada jas putih yang melekat di badannya.


Abhiyasa yang tadinya hanya menatap Hani dengan tatapan cemas, kini beralih melihat ke arah dokter tersebut. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Tolong obati dia. Aku gak tega melihat dia kesakitan."


Aulia, teman SMA Abhiyasa yang kini menjadi dokter IGD di rumah sakit tersebut merasa heran melihat seorang Abhiyasa yang sangat cuek pada perempuan, kini dia terlihat sangat cemas pada seorang perempuan.


Apa dia pacarnya Abhiyasa? Dia sangat cemas sekali padanya. Bahkan aku tadi melihatnya menggendong perempuan ini masuk ke dalam ruangan ini, Aulia berkata dalam hatinya sambil menempelkan stetoskop pada perut Hani.


"Bagaimana? Dia sakit apa?" tanya Abhiyasa yang terlihat tidak sabar menunggu Aulia menjelaskan padanya.


"Sepertinya dia telat makan. Apa dia memiliki riwayat penyakit lambung?" tanya Aulia pada Abhiyasa.


Abhiyasa menoleh ke arah Hani yang terlihat sedikit pucat. Lalu dia berkata,


"Sepertinya memang benar. Menurut hasil pemeriksaan mu bagaimana?"


Aulia mengernyitkan dahinya, dia menatap heran pada Abhiyasa dan berkata,


"Sepertinya? Bukankah kalian pacaran? Kenapa kamu sampai tidak tau?"


"Karena dia selalu menyembunyikannya dariku. Dia takut jika aku terlalu mengkhawatirkannya," jawab Abhiyasa sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut Hani.


"Cepatlah berikan dia obat agar sakitnya cepat sembuh," tegur Abhiyasa pada Aulia yang tiba-tiba termenung ketika mendengar perkataan Abhiyasa tentang Hani yang dikiranya sebagai pacarnya.


Aulia pun tersadar dan segera memeriksa kembali tubuh Hani dengan seksama. Kemudian dia berkata,


"Saya berikan obat untuk meredakan rasa sakitnya. Tapi lebih baik diperiksakan lebih lanjut agar bisa lebih akurat lagi."


"Diperiksakan lebih lanjut? Maksudnya?" tanya Abhiyasa dengan mengerutkan dahinya.


Aulia tersenyum dan melihat Abhiyasa seraya berkata,


"Periksa di laboratorium untuk lebih detailnya."


Abhiyasa menganggukkan kepalanya menanggapi penjelasan Aulia. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Apa setelah ini dia boleh pulang?" 


"Kenapa? Apa tidak sebaiknya dirawat di sini?" tanya Aulia menyelidik.


"Lebih baik saya pulang saja dok. Saya tidak bisa tidur di rumah sakit," sahut Hani dengan lemah.


"Baiklah, akan saya tuliskan resepnya," ujar Aulia.


Tiba-tiba ada suara yang terdengar dari loudspeaker yang memberikan pengumuman.


"Perhatian, mobil dengan plat nomor XY 1234 XYZ dimohon untuk memarkirkan mobilnya dengan benar."


Hani menarik tangan Abhiyasa dengan lemah seraya berkata,


"Abhi, itu mobilku."


Abhiyasa menganggukkan kepalanya, serta tangannya mengusap lembut rambut Hani seraya mengedipkan  sebelah matanya dan berkata,


"Aku akan mengurus mobilnya. Kamu di sini saja dan jangan ke mana-mana. Tunggu aku Honey."


Hani tersenyum lemah melihat Abhiyasa yang kembali menggodanya. Sayangnya dia tidak mempunyai cukup tenaga untuk menanggapi Abhiyasa yang sedang menggodanya.


Aulia sangat heran melihat sikap Abhiyasa yang berbeda jauh dengan yang diketahuinya. Dia sering sekali bertemu dengan Abhiyasa, tapi sikap yang ditunjukkannya padanya dan teman-teman sekolah mereka masih sama seperti Abhiyasa yang dulu mereka kenal.


Namun, kini di hadapannya, dia melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri sikap Abhiyasa berbeda pada perempuan yang kini sedang diobatinya.


"Sebenarnya apa hubungan kalian?" tanya Aulia pada Hani setelah Abhiyasa keluar dari ruangan tersebut.


Dengan wajah sedikit pucatnya itu Hani menatap Aulia dengan tatapan heran. Kemudian dia berkata,


"Kenapa dok?"


Aulia menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Hani seraya berkata,

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tau saja. Sampai detik ini saya tidak tau perempuan seperti apa yang bisa menaklukan hati seorang Abhiyasa."


"Apa itu berarti dokter juga menaruh hati padanya?" tanya Hani dengan tatapan curiga pada Aulia.


__ADS_2