Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 15 Cobaan di pagi hari


__ADS_3

Abhiyasa sangat antusias mengambil ponselnya ketika mendengar suara notifikasi pesan dari ponselnya yang tergeletak di atas meja di dekat tempat tidurnya.


Senyumnya merekah berharap yang mengirim pesan padanya adalah kekasih hatinya. 


Namun, seketika senyumnya memudar tatkala membaca pesan tersebut seraya berkata,


"Apa-apaan ini?" 


Setelah itu dia meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. 


Sayangnya matanya tidak mau kembali terpejam. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Hani.


Sudah berkali-kali dia menghubungi nomor ponsel Hani, sayangnya semua panggilan teleponnya itu hanya menjadi panggilan tak terjawab saja. Hani sama sekali tidak menjawab panggilan teleponnya.


Abhiyasa melihat layar ponselnya yang menampilkan foto profil Hani seraya berkata,


"Kenapa gak kamu angkat teleponnya Honey? Apa kamu sedang tidur? Kamu baik-baik saja kan?"


Abhiyasa menghela nafasnya karena kerinduannya pada kekasih hatinya itu tidak terobati.


Raut wajahnya berubah menjadi kesal ketika ada notifikasi pesan yang menghalangi penglihatannya untuk menikmati wajah cantik pujaan hatinya.


"Kenapa dia mengirim pesan lagi sih?" gumam Abhiyasa dengan kesalnya.


Abhiyasa membaca pesan tersebut, tapi dia tidak membalasnya. Pesan-pesan itu dikirimkan oleh Aulia. Dia menanyakan banyak hal pada Abhiyasa. Sayangnya semua pertanyaannya itu tidak ada yang dijawab olehnya.


Bukannya dia bermaksud untuk mengacuhkan Aulia, hanya saja dia tidak sedang ingin membalasnya. 


Sering sekali Aulia mengirim pesan pada Abhiyasa. Dan tidak semua pesan itu dibalas olehnya. Dia hanya membalas yang sekiranya penting saja dan jika dia ada waktu untuk membalasnya.


Berbeda dengan pesan Hani yang selalu diresponnya. Bagaimana tidak jika wajah Hani selalu terbayang di pelupuk matanya. Terlebih lagi status Hani sekarang telah menjadi pacarnya. Sudah sepatutnya dia selalu memprioritaskan pacarnya dibandingkan perempuan lainnya yang hanya berstatus teman biasa.


Abhiyasa mencoba memejamkan matanya kembali. Dia berusaha keras agar bisa tertidur dan berharap agar pagi cepat datang, sehingga dia bisa bertemu dengan gadis yang sudah menyita semua pikirannya saat ini.


...----------------...


Di tempat lain, Aulia yang masih berjaga di IGD merasa cemas menunggu balasan pesan dari Abhiyasa.


"Kenapa dia hanya membacanya saja? Kenapa dia tidak membalasnya? Apa mungkin perempuan tadi itu yang membaca pesanku? Tapi ini sudah sangat larut sekali, tidak seharusnya mereka bersama. Rasanya aku bisa gila menunggu balasan pesan dari Abhiyasa," gumam Aulia sambil memandangi layar ponselnya.


Dia duduk di kursi taman merasakan semilirnya angin malam yang menemani malamnya.


Dia tidak heran jika Abhiyasa tidak membalas pesannya. Bahkan sudah biasa baginya. Tapi ada rasa ingin untuk lebih akrab dengan sosok laki-laki yang selama ini disukainya.


Aulia hanya bisa berharap. Dia tidak bisa memaksakan keinginannya pada Abhiyasa. Bagaimanapun dia ingin terlihat baik di hadapan Abhiyasa. Dia tidak mau Abhiyasa melihatnya bersikap buruk ataupun tidak menyenangkan.


"Lebih baik aku beristirahat sebentar selagi suasana masih tenang," gumam Aulia sambil beranjak dari duduknya.


Dia berjalan menuju tempat untuk biasanya beristirahat. Hingga dia akan memejamkan matanya pun Abhiyasa tidak membalas pesannya. 

__ADS_1


"Sudahlah, mungkin dia sedang sibuk. Lebih baik aku beristirahat sekarang," gumam Aulia sambil meletakkan ponselnya dalam sakunya.


...----------------...


Alarm ponsel Abhiyasa berdering. Terdengar suara adzan subuh di telinganya. Abhiyasa bergegas bangun dari tidurnya dan segera membersihkan badannya sebelum melaksanakan shalat subuh.


Setelah melaksanakan shalat subuh, Abhiyasa keluar dari rumahnya. Dia memandang rumah Hani yang masih terlihat sepi.


"Sepertinya dia belum bangun," ucap Abhiyasa lirih.


Dia membuka garasi rumahnya dan menaiki motor matic nya meninggalkan rumahnya.


Setelah beberapa saat, Abhiyasa kembali dengan beberapa kantong plastik yang berisi beberapa makanan.


Tanpa menuju rumahnya, dia menghentikan motornya di depan rumah Hani. Dengan wajah sumringahnya dia mengetuk pintu Hani.


Setelah beberapa lama dia mengetuk pintu, tidak ada tanda-tanda pintu tersebut terbuka. Hingga dia menempelkan telinganya pada pintu, berharap mendengar langkah kaki Hani yang akan membukakan pintu tersebut.


Namun, tidak ada tanda-tanda apa pun. Dia juga tidak mendengar apa pun di sana.


Dengan terpaksa Abhiyasa kembali menaiki motornya untuk kembali ke rumahnya dan mengambil kunci rumah Hani yang semalam dibawanya.


Abhiyasa segera kembali ke rumah Hani dengan berjalan cepat dan diselingi dengan berlari kecil. Sesampainya di depan pintu rumah Hani, dia segera membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam rumah itu.


"Honey… Honey… Apa kamu sudah bangun? Di mana kamu Hon–"


"Abhi?! Kok kamu bisa masuk ke dalam rumahku?" tanya Hani yang terkejut melihat Abhiyasa berada di hadapannya.


Abhiyasa menghela nafasnya dengan lega. Dia tersenyum dan memperlihatkan kunci rumah Hani yang semalam dibawanya seraya berkata,


"Kamu lupa jika semalam aku membawanya?"


Hani terlihat mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian dia tersenyum lebar dan berkata,


"Maaf, aku lupa."


Dengan cepatnya tangan Abhiyasa mendarat di hidung mancung Hani. Dia mencubit gemas hidung Hani seraya berkata,


"Kamu tuh ya bikin orang khawatir aja. Dari semalam aku gak bisa tidur karena khawatir sama kamu. Aku takut perut kamu masih sakit."


Hani menyingkirkan tangan Abhiyasa yang masih betah memainkan hidungnya. Kemudian dia berkata,


"Cieee yang khawatir."


"Jelas dong, kamu kan pacar aku, ujar Abhiyasa dengan bangganya.


Seketika wajah Hani bersemu merah. Dia salah tingkah di hadapan Abhiyasa.


Mengetahui hal itu, Abhiyasa tidak tega untuk menggodanya lagi. Dia menarik tangan Hani dan mendudukkannya di kursi makan.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu," ajak Abhiyasa sambil mengeluarkan beberapa bungkusan makanan dari kantong plastik yang dibawanya.


Hani terbelalak melihat beberapa makanan yang ada di hadapannya. Kemudian dia berkata,


"Abhi, apa makanan ini semua untuk kita makan?" 


Abhiyasa mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Hani dan berkata,


"Iya. Memangnya kenapa? Apa ada yang kurang?"


"Kurang bagaimana? Ini malah terlalu banyak untuk kita Abhi," tukas Hani sambil terkekeh.


Abhiyasa tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Dia melihat semua makanan yang ada di hadapannya dan dia menyetujui perkataan Hani.


"Sepertinya iya. Tapi, aku membeli semua ini karena memikirkan kamu. Aku gak mau kamu telat makan dan sakit kembali seperti kemarin," ujar Abhiyasa sambil tersenyum pada Hani.


Hani menatap Abhiyasa dengan penuh rasa syukur. Kemudian dia berkata,


"Terima kasih Abhi. Aku sangat bersyukur ada kamu di dekatku saat ini."


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi meja makan tersebut.


"Abhi, kamu mau ke mana?" tanya Hani yang berhasil menghentikan langkah kaki Abhiyasa yang baru beberapa langkah.


Abhiyasa pun menghentikan langkahnya. Dia menghadap ke arah Hani dan berkata,


"Aku akan mengambil piring dan sendok."


"Kamu duduk saja, biar aku yang mengambilnya," sahut Hani dan dengan gerakan cepatnya dia berjalan menuju dapur.


Abhiyasa tertegun melihat Hani yang berjalan menjauhinya. Dia mengusap-usap dadanya seraya berkata,


"Cobaan di pagi hari."


"Kenapa Abhi? Apa dada kamu sakit?" tanya Hani yang berjalan membawa piring dan sendok untuk mereka berdua.


"Eh, ti-tidak. Hanya saja…."


Abhiyasa mengalihkan pandangannya dari Hani yang ada di hadapannya. Bahkan dia tidak bisa meneruskan perkataannya. 


Hani benar-benar menggoda imanku, Abhiyasa berkata dalam hatinya.


"Abhi, kamu kenapa?" tanya Hani cemas pada Abhiyasa.


"Aku baik-baik saja," jawab Abhiyasa tanpa menoleh ke arah Hani.


Seketika wajah Abhiyasa menoleh ke arah Hani karena kedua tangan Hani berada di pipi Abhiyasa dan mengarahkannya agar mau memandang ke arahnya.


"Lalu kenapa kamu tidak mau memandangku?" 

__ADS_1


__ADS_2