Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 13 Cinta


__ADS_3

Abhiyasa masuk ke dalam ruangan VIP dan mendudukkan Hani di kursi seraya berkata,


"Duduklah di sini dengan nyaman."


Hani yang masih menatap Abhiyasa seolah terhipnotis oleh senyumannya. Dia hanya patuh dan menganggukkan kepalanya, tanpa mengatakan apa pun.


Abhiyasa pun duduk di kursi depan Hani. Dia mengambil ponselnya dan selama beberapa detik dia sibuk dengan ponselnya.


Setelah itu dia meletakkan ponselnya di atas meja dan menopang dagunya dengan kedua tangannya seolah tidak bosan memandangi gadis yang ada di hadapannya.


Selama beberapa menit, Abhiyasa masih saja memandangi Hani dengan senyumnya yang tidak pernah pudar.


Hal itu membuat Hani menjadi gugup dan malu. Dia bingung menyembunyikan wajahnya dengan menoleh ke arah lain.


Tok… tok… tok…


Pintu ruangan tersebut diketuk dari luar. Sontak saja Hani menoleh ke arah pintu. Sedangkan Abhiyasa, dia masih enggan mengalihkan pandangannya dari Hani. Dia merasa senang menggoda Hani yang terlihat gugup dan malu-malu.


"Masuk!" seru Abhiyasa sambil menatap Hani.


Pintu ruangan itu pun terbuka. Terlihat seorang waiter masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa troli dorong yang berisi beberapa makanan dan minuman.


Waiter tersebut memindahkan makanan dan minuman yang berada di troli pada meja di hadapan Abhiyasa dan Hani.


"Silahkan Pak, Bu," ucap waiter tersebut sambil tersenyum pada mereka.


Setelah itu waiter tersebut keluar dari ruangan itu dengan membawa kembali troli makanannya.


"Makanlah selagi masih hangat," tutur Abhiyasa sambil tersenyum manis pada Hani yang terlihat heran memandang semua makanan dan minuman yang ada di meja.


"Abhi, kapan kamu memesan semua ini? Dari tadi gak ada waiter ataupun waitress yang masuk ke dalam ruangan ini untuk mencatat pesanan makanan kita," tanya Hani dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


Abhiyasa tersenyum dan mulai menyendok makanannya seraya berkata,


"Gak usah dipikirkan, nanti kamu juga bakalan tau. Sekarang makan saja makanannya agar kamu cepat sembuh."


Hani masih saja menatap Abhiyasa seolah tidak puas dengan jawabannya. 


"Kenapa? Apa mau aku suapi?" tanya Abhiyasa sambil tersenyum menggoda Hani.


Seketika tangan Hani bergerak untuk menyendokkan bubur yang ada di hadapannya masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Abhiyasa terkekeh melihat tingkah Hani yang sesuai dengan prediksinya. Karena tingkah Hani yang seperti itulah membuat Abhiyasa suka menggoda dan menjahilinya.


Setelah beberapa saat, makanan mereka sudah habis tak bersisa. 


"Rupanya kamu sangat lapar meskipun tidak bernapsu makan," sindir Abhiyasa sambil terkekeh.


Hani meletakkan gelasnya setelah meneguk minumannya. Kemudian dia berkata,


"Kamu lapar apa doyan? Makanan segitu banyaknya bisa habis semua."


"Aku sangat lapar setelah menggendong seseorang," jawab Abhiyasa dengan santainya.


"Ck, salah sendiri sok banget jadi pahlawan. Kalau memang gak kuat, gak usah sok kuat deh," cibir Hani dengan kesalnya.


Seketika Abhiyasa tertawa. Dia beranjak dari duduknya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hani. Kemudian dia berkata,


"Tapi aku tidak akan pernah keberatan untuk menggendong gadis cantik seperti kamu."


Semburat merah menghiasi wajah Hani saat ini. Seketika lidahnya keluh dan tidak bisa berkata-kata. Dia menghindari tatapan mata Abhiyasa dengan menoleh ke samping.


Dengan cepatnya Abhiyasa sudah berdiri di sebelah Hani dan menggendong tubuh Hani kembali.


Hani yang kaget karena tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Abhiyasa, dengan refleknya kedua tangannya melingkar pada leher Abhiyasa dan menatap wajah Abhiyasa yang sedang melihat ke arah depan.


"Abhi, kenapa mereka semua hormat padamu?" tanya Hani dengan menatap heran pada Abhiyasa.


Abhiyasa tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Hani. Dia masih saja menatap lurus ke depan sambil berjalan menuju mobilnya.


"Abhi, kenapa kamu tidak membayar makanan yang kita makan? Kenapa kamu langsung pulang?" tanya Hani yang masih penasaran pada Abhiyasa.


Abhiyasa tersenyum dan menatap Hani seraya berkata,


"Diamlah. Atau ku cium nanti."


Seketika bibir Hani mengatup. Dia tidak berani membuka bibirnya setelah mendengar ancaman dari Abhiyasa yang masih menggendongnya sambil berjalan menuju mobilnya.


Kini mereka sudah duduk di dalam mobil. Hani masih saja menutup rapat bibirnya sambil menatap Abhiyasa yang sedang menyalakan mesin mobilnya.


Ingin sekali Hani menuntaskan rasa ingin tahunya dengan bertanya pada Abhiyasa. Sayangnya ancaman Abhiyasa itu membuat Hani sedikit berpikir.


Namun, Hani tidak bisa tenang jika belum mengetahui apa yang terjadi. Dia menutup bibirnya menggunakan tangannya dan berkata,

__ADS_1


"Abhi, bisakah kamu menjelaskannya padaku?"


Abhiyasa yang baru saja menyalakan mesin mobilnya menoleh ke arah Hani. Dia tertawa melihat Hani yang menutup bibirnya dengan tangannya sehingga hanya terlihat bulu matanya yang lentik bergerak naik turun.


"Kalau kamu mau jadi pacarku, pasti akan aku beri tau semuanya. Tentang aku, tentang keluargaku dan tentang apa saja yang ingin kamu ketahui," ujar Abhiyasa sambil tersenyum menggoda Hani.


Abhiyasa mengatakannya seolah menggoda Hani, tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia berkata,


Aku memang menyukainya, rasa cinta itu semakin hari semakin tumbuh dalam hatiku. Aku tau jika ada perbedaan yang menghalangi kita untuk bersatu. Tapi aku tidak akan tau bagaimana nantinya perjalanan hubungan ini jika memang terjadi. Sepertinya tidak masalah jika hanya pacaran saja. Siapa tau nantinya ada jalan yang bisa menyatukan kita.


Apa aku harus menerima Abhiyasa menjadi pacarku? Aku akui memang aku menyukainya. Dan semakin hari aku merasakan perasaan cinta padanya. Apa lebih baik aku jalani saja hubungan ini meskipun perbedaan kita sudah nyata terlihat. Tapi siapa tau akan ada jalan untuk kita bisa bersatu di kemudian hari, Hani berkata dalam hatinya sambil menatap mata Abhiyasa yang juga sedang menatapnya.


Hani melepaskan tangan yang menutupi bibirnya. Kemudian dia berkata,


"Apa kamu mencintaiku?"


Seolah terhipnotis oleh kecantikan mata Hani, Abhiyasa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan Hani padanya.


Hani menghela nafasnya sambil memejamkan matanya. Kemudian dia membuka kembali matanya dan berkata,


"Baiklah, aku mau menjadi pacarmu."


Seketika mata Abhiyasa terbelalak. Dia kaget mendengar perkataan gadis yang namanya sudah mempunyai tempat tersendiri di hatinya.


"A-apa kamu bilang? Kamu… kamu setuju?" tanya Abhiyasa yang seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya, aku setuju menjadi pacarmu."


Sontak saja Abhiyasa memeluk tubuh Hani. Setelah itu dia berkata,


"Maaf, khilaf."


Hani terkekeh mendengar pengakuan Abhiyasa yang kini telah berstatus menjadi pacarnya. 


Abhiyasa pun tersenyum. Dia menatap wajah cantik gadis yang baru saja menjadi pacarnya itu seraya berkata,


"Jadi sekarang kita pacaran?"


"Iya Abhi," jawab Hani sambil menganggukkan kepalanya disertai dengan tawanya.

__ADS_1


Abhiyasa pun ikut tertawa bersama dengan Hani. Kemudian dia berkata,


"Lalu, kapan kita akan menikah Honey?"


__ADS_2