Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 31 Kesal


__ADS_3

Hani tersenyum lebar menampakkan deretan giginya ketika ibu Abhiyasa bertanya padanya. Dia malu saat akan menjawab pertanyaan dari ibu Abhiyasa.


"Ini semua salahku Bu. Hani terjatuh dari sepeda karena aku terlalu cepat mengayuh sepedaku, sehingga meninggalkannya jauh di belakangku," ucap Abhiyasa dengan memperlihatkan wajah menyesalnya.


"Yasa, kenapa kamu seperti itu? Ibu tidak habis pikir jika kamu bisa meninggalkan gadis yang kamu cintai seperti sedang berlomba dengannya? Bahkan jika kamu sedang berlomba dengannya, sudah seharusnya kamu mengalah dan tetap menjaga di belakangnya," tutur ibu Abhiyasa sambil menatap putranya itu seolah memarahinya.


Abhiyasa menghela nafasnya, dia sangat menyesali perbuatannya. Apa lagi hingga membuat kekasih hatinya itu terjatuh karena keteledorannya. Kemudian dia berkata,


"Yasa tau Bu. Cuma saat itu pikiran Yasa sedang dipenuhi dengan keadaan Nenek. Yasa takut jika… Eh iya, bagaimana keadaan Nenek Bu?"


Abhiyasa baru teringat tentang neneknya. Seketika dia berjalan masuk ke dalam kamar neneknya. Dan lagi-lagi dia meninggalkan Hani karena rasa khawatirnya pada neneknya yang sangat disayanginya.


Ibu Abhiyasa menggelengkan kepalanya melihat putranya yang kembali melupakan kehadiran gadis yang dicintainya karena kekhawatirannya pada neneknya.


"Maklumi saja Hani. Abhiyasa memang cucu kesayangan Nenek. Dari dulu mereka sangat dekat sekali. Jangan sakit hati ya…," ucap ibu Abhiyasa sambil mengusap pundak Hani dan tersenyum padanya.


"Saya juga sangat dekat dengan Nenek saya. Jadi… saya tau bagaimana perasaan Abhiyasa saat ini," tukas Hani sambil tersenyum manis pada ibu Abhiyasa.


Ibu Abhiyasa menatap kagum pada Hani dan dia tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


"Kamu memang baik Hani. Tidak salah Yasa memilihmu untuk menjadi belahan hatinya."


Hani tersenyum malu hingga tidak bisa berkata-kata. Dia juga tidak tau harus bagaimana saat ini. Dalam hatinya dia memanggil Abhiyasa agar mau menjemputnya dan membawanya ke mana pun dia pergi. 


"Ayo kita ke sana. Kita temui Nenek kesayangan pacarmu itu," ajak ibu Abhiyasa sambil menggandeng Hani menuju kamar nenek Abhiyasa.


Hani pun menurut. Dia berjalan dengan dipapah oleh ibu Abhiyasa.


"Hati-hati jalannya. Kalau sampai kamu terjatuh, bisa-bisa Ibu dimarahi Yasa" tukas ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


"Ibu…," ucap Hani yang sedang tersipu malu.


Tiba-tiba obrolan Hani dan ibu Abhiyasa terhenti. Mereka heran melihat Abhiyasa yang sedang berdiri di depan pintu masuk kamar neneknya. 


Mereka berdua saling memandang seolah bertanya melalui mata mereka tentang Abhiyasa yang berdiri di depan pintu kamar neneknya padahal pintu tersebut sudah terbuka.

__ADS_1


"Yasa, kenapa tidak masuk?" tanya ibu Abhiyasa sambil berjalan ke arahnya bersama dengan Hani.


Abhiyasa menoleh ke arah ibunya setelah mendengar suara ibunya yang sedang bertanya padanya. Seketika dia tergesa-gesa mendekati Hani dan merangkul pundaknya.


"Biar Yasa saja yang membantunya berjalan Bu," ucap Abhiyasa yang sudah merangkul pundak Hani.


Ibu Abhiyasa pun melepaskan lengan Hani seraya berkata,


"Kebiasaan kamu ini, pasti semua kamu lupakan jika khawatir sama Nenek."


Abhiyasa tersenyum lebar menanggapi ucapan ibunya seraya berkata,


"Maafin Yasa Bu."


Setelah itu dia beralih menatap Hani yang berada di sampingnya. Dia menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan dan berkata,


"Maaf ya Honey."


Hani tersenyum manis pada kekasihnya itu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Abhiyasa dan dia tidak mau menyalahkannya.


"Lalu, kenapa kamu tidak masuk ke kamar Nenek?" tanya Ibu Abhiyasa dengan rasa ingin tahunya.


Sontak saja Abhiyasa dan Hani kaget ketika menoleh ke arah kamar neneknya yang sudah ada Aulia sedang berjalan dari dalam kamar nenek menuju ke arah mereka. 


Sedangkan ibu Abhiyasa tidak terlihat kaget sama sekali. Dia menoleh ke arah Aulia dan berkata,


"Ada apa? Apa ada masalah?"


Aulia tersenyum manis pada ibu Abhi seraya berkata,


"Tidak Bu. Nenek hanya ingin ditemani Ibu dan Yasa saja."


"Yuk Honey kita masuk," ajak Abhiyasa sambil merangkul pundak Hani dan memapahnya untuk berjalan masuk ke dalam kamar neneknya.


"Tapi Nenek hanya ingin bertemu dengan ibu dan kamu," sahut Aulia seolah memberi isyarat bahwa Hani tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Seketika langkah kaki Abhiyasa terhenti. Hani pun ikut menghentikan langkahnya. Abhiyasa menoleh ke arah belakang di mana Aulia masih berdiri dengan menatapnya. Kemudian dia berkata,


"Apa maksudmu Hani tidak boleh masuk? Dia calon istriku dan dia harus masuk ke dalam bersamaku untuk menemui nenek. Dan yang tidak ada hubungan dengan keluarga kami hanya kamu. Sebaiknya kamu tidak berada di sini."


"Tapi aku dokter yang menangani Nenek saat ini," tukas Aulia tidak terima.


Abhiyasa menyeringai. Dia menatap tajam pada Aulia seraya berkata,


"Kalau begitu lakukan saja tugasmu dan tidak usah masuk ke dalam kamar jika tidak dibutuhkan."


"Tidak bisa begitu. Aku harus–"


"Akan aku ganti dokternya," sahut Abhiyasa dengan tegas.


Kemudian dia kembali merangkul pundak Hani dan memapahnya masuk ke dalam kamar neneknya.


Hani hanya diam saja. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dalam hatinya dia sangat senang karena Abhiyasa memihak padanya. Tapi di sisi lain dia juga kasihan pada Aulia yang berusaha untuk mendekati keluarga Abhiyasa.


Ibu Abhiyasa menatap Aulia dengan tatapan kecewa. Dia tersenyum pada Aulia. Sayangnya senyuman ibu Abhiyasa itu berbeda dengan senyumannya pada Hani. Dia merasa kecewa pada Aulia yang dengan terpaksa dipilihnya menjadi dokter nenek Abhiyasa tadi.


Ibu Abhiyasa berjalan meninggalkan Aulia tanpa mengatakan apa pun padanya. Dalam hatinya berkata,


Pantas saja Yasa tidak suka denganmu. Ternyata kamu sangat licik. Bahkan Hani tidak mengatakan apa pun untuk melawan mu.


Aulia kini berdiri sendirian di sana. Bahkan dia tidak tahu harus berbuat apa. Jika dia mendekati kamar nenek Abhiyasa, pasti Abhiyasa akan marah padanya. Tapi dia juga tidak ingin hanya berdiam saja di luar kamar nenek Abhiyasa dan mendengar tawa Hani beserta yang lainnya dari kamar tersebut.


Akhirnya dia hanya berdiri di samping pintu kamar nenek Abhiyasa untuk mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan di dalam sana.


Harusnya aku yang ada di sana dan bercanda bersama mereka, bukan Hani, Aulia menggerutu dalam hatinya dengan kesalnya.


Terdengar tawa canda dari dalam kamar nenek Abhiyasa. Bahkan nenek Abhiyasa menyambut hangat dan memuji kecantikan Hani. 


Itu semua membuat Aulia sangat kesal ketika mendengarnya. Apa lagi saat nenek Abhiyasa menceritakan masa-masa kecil Abhiyasa pada Hani, dia ingin sekali menggantikan Hani untuk berada di dalam sana.


"Kamu sangat cantik sekali Hani. Pantas saja Yasa sangat mencintaimu. Baru kali ini dia mempunyai pacar. Dan kami tau seberapa cintanya Yasa padamu," tutur nenek Abhiyasa sambil memegang tangan Hani dan menatapnya sambil tersenyum sangat menenangkan hati Hani ketika melihatnya.

__ADS_1


Semua perkataan nenek Abhiyasa itu membuat Aulia menjadi kesal. Tangannya mengepal dan tatapan matanya penuh dengan kekesalan ketika menggerutu dalam hatinya.


Kurang ajar kamu Hani. Kenapa kamu merampas yang seharusnya menjadi milikku? Aku tidak terima. Aku harus mendapatkan apa yang harus ku miliki.


__ADS_2