
Abhiyasa memandang dua sepeda yang ada di halaman rumahnya. Satu sepeda miliknya dan satu sepeda lagi dengan kondisi yang memprihatinkan yaitu milik Hani.
"Sepertinya aku harus segera membawanya ke bengkel," ucap Abhiyasa sambil melihat kondisi sepeda milik Hani.
Dilihatnya semua bagian sepeda itu seperti sedang memeriksanya. Kemudian dia kembali berkata,
"Sebaiknya aku membersihkan badanku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan membawanya ke bengkel."
Setelah itu dia beranjak masuk ke dalam rumahnya untuk membersihkan badannya. Selang beberapa menit, Abhiyasa keluar dari kamar mandi dan bergegas menghubungi seseorang.
"Tolong segera bawa pick up ke rumah saya," perintah Abhiyasa pada seseorang di seberang sana melalui telepon.
Panggilan telepon itu pun segera diakhirinya. Dia segera mempersiapkan dirinya untuk pergi ke luar rumah.
Dengan penampilannya yang sudah terlihat keren dan waist bag yang terselempang di badannya, kini Abhiyasa berjalan keluar rumahnya untuk menunggu orang yang sudah dihubunginya.
Dilihatnya rumah Hani yang pintunya tertutup dengan lampu dalam dan luar rumah yang masih menyala. Kemudian dia tersenyum dan berkata,
"Lebih baik aku gak mengajak dia. Biarlah dia beristirahat dan nantinya akan aku bawakan makanan sepulang dari tempat itu."
Pas sekali pada saat itu terlihat pick up milik restorannya sudah datang. Abhiyasa segera mengangkat sepeda milik Hani untuk dibawa menggunakan pick up tersebut.
Setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi. Kemudian dia berkata,
"Pak, tolong antar ke bengkel tempat saya biasanya menservis sepeda saya ya."
"Baik Pak," ucap sopir tersebut yang merupakan sopir restorannya.
Tau gitu tadi sekalian saja Pak saya bawa sepedanya ke bengkel daripada bolak-balik seperti ini, gerutu sopir tersebut dalam hatinya.
Mobil itu meninggalkan rumah Abhiyasa tanpa diketahui oleh Hani yang masih sibuk di dalam rumahnya.
Hanya selang beberapa menit saja mobil tersebut sampai di bengkel yang sudah menjadi tempat kepercayaan Abhiyasa untuk merawat sepeda kesayangannya.
"Wah Mas… kalau ini ya harus ditinggal saja. Gak bisa langsung. Lagian sekarang sudah malam," ucap pemilik bengkel yang selalu mengerjakan sepeda milik Abhiyasa.
"Ya sudah Pak, sepedanya saya tinggal di sini saja. Tolong Bapak saja yang mengerjakannya, seperti sepeda saya yang satunya. Jangan sampai dikerjakan orang lain ya Pak," tukas Abhiyasa menanggapi ucapan pemilik bengkel tersebut.
"Siap Pak," sahut pemilik bengkel tersebut sambil meletakkan tangannya di pelipis, layaknya sedang memberi hormat.
Abhiyasa terkekeh mendengar jawaban dari pemilik bengkel tersebut. Setelah itu dia meninggalkan bengkel itu dan mempercayakan sepeda milik Hani pada pemilik bengkel tersebut.
"Ke restoran ya Pak," ucap Abhiyasa memerintah sopir tersebut.
Dia berniat untuk membeli makanan di restoran milik kakeknya yang telah diberikan padanya dan akan membawa makanan itu pulang agar bisa dimakan bersama dengan Hani.
Namun, pada saat dia melewati jalanan yang berderet warung tenda kaki lima, dia melihat mobil Hani terparkir di sana.
Sepertinya itu mobil Hani. Iya benar, aku hafal plat nomornya, Abhiyasa berkata dalam hatinya dengan pandangan matanya yang tertuju pada sebuah mobil warna merah yang ada di tepi jalan.
__ADS_1
"Pak, berhenti di sini saja," perintah Abhiyasa pada sopir tersebut.
Sopir itu pun menepikan mobilnya dan berhenti tepat di depan mobil Hani.
Abhiyasa terburu-buru melepaskan sabuk pengamannya seraya berkata,
"Bapak kembali saja ke restoran. Terima kasih."
Setelah itu dia turun dari mobilnya dan segera mencari keberadaan Hani. Dia mencarinya dari tenda satu ke tenda yang lainnya.
"Ke mana dia? Kenapa dia gak ngomong sama aku?" gerutu Abhiyasa sambil berjalan mencari kekasihnya.
Bibirnya melengkung ke atas tatkala melihat sosok perempuan yang sedang dicarinya. Hani, pemilik nama yang sudah bersarang di hatinya itu sedang duduk di tempat yang tidak asing baginya.
"Ternyata kamu ada di sini Honey," ucap Abhiyasa lirih sambil tersenyum lega melihat kekasih hatinya.
Tak bisa dipungkiri jika bayangan Abhiyasa selalu ada bersamanya. Seperti saat ini. Di warung tenda yang pernah didatanginya bersama dengan Abhiyasa, Hani duduk di tempat yang sama seperti saat itu ketika bersamanya.
Entah mengapa dia selalu memikirkan Abhiyasa. Di mana pun dan kapan pun itu. Bahkan dia memilih tempat duduk yang sama seperti saat makan di tempat itu bersamanya.
"Hani?!"
Seketika Hani menoleh setelah mendengar suara yang tidak asing di telinganya sedang memanggil namanya.
"Abhi?!" celetuk Hani yang terlihat kaget melihat Abhiyasa sudah berdiri di dekatnya.
Abhiyasa tersenyum melihat reaksi Hani yang kaget ketika melihatnya. Dia berjalan ke arah penjual dan memesan makanan yang sama seperti dipesan oleh Hani. Setelah itu dia duduk di dekat kekasihnya itu.
"Tutup mulutnya Honey... Atau nanti dimasukin lalat," ucap Abhiyasa sambil terkekeh dan tangannya menjapit bibir atas dan bibir bawah Hani agar menutup.
Seketika wajah Hani berubah menjadi kesal. Dia melepaskan tangan Abhiyasa dari bibirnya dan berkata,
"Kok kamu bisa ada di sini? Apa ini juga kebetulan?"
Abhiyasa tersenyum sambil mengedikkan bahunya. Kemudian dia menatap lekat manik mata kekasihnya itu seraya berkata,
"Kenapa kamu bisa ada di sini sendirian? Kenapa gak ngomong sama aku?"
Saat itu juga bibir Hani mengatup. Dalam hatinya berkata,
Sepertinya aku yang salah. Aku harus mencari alasan agar Abhi percaya padaku.
"Aku lapar Abhi," jawab Hani sambil tersenyum lebar, berharap Abhiyasa akan percaya padanya dan luluh dengan senyumannya.
Dahi Abhiyasa mengernyit. Dia menatap curiga pada gadis yang dicintainya itu dan berkata,
"Kenapa gak minta aku untuk mengantarmu? Kenapa sendirian Honey? Ingat, kamu sudah memiliki aku dan aku siap mengantarkan kamu ke mana saja."
Hani menghela nafasnya. Dengan raut wajah penyesalannya dia menatap Abhiyasa dan berkata,
__ADS_1
"Maaf Abhi. Aku takut merepotkan kamu. Pasti kamu sangat kelelahan hari ini."
"Ingat Honey. Aku gak akan menerima alasan seperti itu lagi. Aku takut jika terjadi apa-apa padamu. Apa lagi ini sudah malam," ujar Abhiyasa dengan menatap lekat pada mata kekasihnya.
Hani terkekeh mendengar perkataan Abhiyasa. Bukan karena lucu, Hani menganggap jika Abhiyasa sangat keterlaluan mengkhawatirkannya.
"Abhi, aku sudah sering keluar sendiri dari rumah sebelum bertemu denganmu. Kamu gak perlu khawatir padaku," ucap Hani di sela kekehannya.
Abhiyasa menghela nafasnya mendengar ucapan gadisnya yang menurutnya sangat menyepelehkan keselamatannya. Tangan Abhiyasa memegang kedua pundak kekasihnya itu seraya berkata,
"Honey, itu dulu. Sekarang sudah ada aku. Dan aku gak mau kamu pergi ke mana-mana tanpa sepengetahuanku."
"Ck, posesif sekali ternyata pacarku ini," ucap Hani yang berpura-pura mencebik kesal pada Abhiyasa, padahal dalam hatinya dia sangat bersyukur mempunyai pacar seperti Abhiyasa.
"Bukannya posesif Honey… Aku gak mau jika terjadi apa-apa padamu dan aku gak tau kamu berada di mana. Kamu mengerti maksudku kan?" tanya Abhiyasa dengan tatapan matanya yang bersungguh-sungguh.
Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Abhiyasa padanya.
Saat itu juga pembicaraan mereka terhenti karena makanan pesanan mereka sudah tersaji di hadapan mereka.
Mereka makan sambil berbincang diselingi dengan candaan yang membuat hati mereka sangat bahagia.
Setelah makanan mereka habis, mereka pun keluar dari tenda tersebut setelah Abhiyasa membayar makanan mereka.
"Abhi, mobil kamu di mana?" tanya Hani sambil mencari mobil Abhiyasa di sekitar mobilnya.
"Aku gak bawa mobil Honey," jawab Abhiyasa dengan santainya.
Hani menghadap ke arah Abhiyasa dan bertanya padanya,
"Motor?"
Dengan gaya cueknya Abhiyasa menggelengkan kepalanya.
Hani mengerutkan dahinya. Kemudian dia bertanya kembali pada Abhiyasa,
"Lalu naik apa?"
Abhiyasa menyambar kunci mobil yang dipegang oleh Hani dan masuk ke dalam mobil tersebut di bagian pengemudi.
Dari dalam mobil Abhiyasa mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil tersebut dan berkata,
"Aku akan menjadi sopir mu Honey."
Hani pun segera masuk ke dalam mobilnya. Dia membuka pintu mobil yang ada di bagian kursi dekat pengemudi.
Sontak saja matanya terbelalak ketika melihat dua kantong plastik besar belanjaannya berada di kursi tersebut.
Tangan Abhiyasa bergerak untuk menyentuh kantong plastik tersebut. Sayangnya dengan cepatnya Hani meraihnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Abhiyasa mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh Hani saat ini. Kemudian dia berkata,
"Apa itu Honey? Kamu habis belanja?"