
"Nenek kenapa? Bukannya Nenek rajin periksa kesehatan? Kenapa Nenek bisa tiba-tiba sakit?" tanya Abhiyasa pada neneknya sambil memegang tangan neneknya yang sudah mulai tampak keriput.
Nenek Abhiyasa tersenyum padanya. Dia memegang tangan cucu kesayangannya itu dan meraih tangan Hani yang ada di sebelahnya untuk disatukan dengan tangan Abhiyasa. Kemudian dia berkata,
"Nenek tidak apa-apa. Nenek hanya kelelahan saja. Kalian kapan menikah? Nenek ingin menyaksikan pernikahan kalian."
Mendengar keinginan nenek dari Abhiyasa membuat Hani merasa sedih. Matanya kembali berkaca-kaca dan dia merasa bahagia mendapat sambutan hangat dari keluarga Abhiyasa.
"Kalian dengar kan keinginan Nenek? Kalian harus sering-sering datang ke sini agar Nenek tidak sedih," ucap ibu Abhiyasa sambil mengusap punggung putranya dan juga punggung Hani.
Abhiyasa melihat ke arah Hani untuk mengetahui reaksinya. Dan Hani tersenyum pada Abhiyasa seraya menganggukkan kepalanya.
Abhiyasa tersenyum lega melihat keluarganya dan keluarga Hani menerima hubungan mereka. Akan tetapi dia dan Hani harus memecahkan hal yang sangat penting di antara mereka. Perbedaan mereka itu harus segera disatukan, agar tidak ada lagi perbedaan yang akan menghalangi bersatunya mereka.
Di luar kamar nenek Abhiyasa masih saja ada Aulia yang berdiri di sana untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Dia semakin bertambah marah dan kesal mendengar keinginan nenek Abhiyasa yang mengisyaratkan agar Abhiyasa dan Hani secepatnya melangsungkan pernikahan.
Merasa sudah tidak tahan lagi dengan apa yang didengarnya, Aulia segera berjalan masuk ke dalam kamar tersebut untuk berpura-pura memeriksa keadaan nenek Abhiyasa.
"Maaf mengganggu. Bagaimana keadaan Nenek sekarang? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Aulia dengan sangat sopan dan tersenyum manis pada Nenek Abhiyasa.
Abhiyasa tidak merespon sama sekali. Dia mengacuhkan keberadaan Aulia. Bahkan genggaman tangannya pada Hani semakin erat, seolah tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
Ibu Abhiyasa mengerti akan situasi saat ini. Dia memperhatikan Aulia yang sesekali mencuri pandang pada Abhiyasa. Sayangnya Abhiyasa sama sekali tidak menganggapnya ada di dalam ruangan tersebut. Kemudian dia berkata,
"Sebaiknya Nenek diperiksa saja lagi. Setelah itu dokter pulang saja, sudah di luar jam praktek soalnya."
Seketika senyuman Aulia pudar. Dalam hatinya dia berkata,
Kenapa jadi seperti ini? Bukan ini yang aku inginkan. Harusnya mereka mengajakku untuk bergabung di sini, berbicara bersama dengan mereka.
"Silahkan dok, periksa keadaan saya," ucap nenek Abhiyasa dengan senyumnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Aulia berjalan mendekat ke arah tempat tidur nenek Abhiyasa yang sedang terbaring di sana.
Seketika Abhiyasa beranjak dari duduknya dan menggendong Hani untuk berpindah ke sofa yang ada di dalam ruangan tersebut saat Aulia sudah berada di dekat mereka.
Ibu Abhiyasa terkekeh melihat apa yang dilakukan Abhiyasa pada Hani. Dia teringat akan sikap suaminya yang sama persis seperti putranya.
Sedangkan Aulia, sangat terlihat jelas di wajahnya jika saat ini dia sedang kesal dan marah dengan apa yang terjadi di ruangan itu.
Semuanya tidak seperti yang diharapkannya. Bahkan rencananya untuk mendekati nenek Abhiyasa pun gagal sebelum dia menjadi dekat dengannya.
"Ada yang merasa sakit Nek?" tanya Aulia sesopan mungkin pada nenek Abhiyasa.
"Tidak. Nenek sudah merasa lebih baik," jawab nenek Abhiyasa sambil memandang wajah Aulia.
"Nenek harus tetap banyak istirahat dan harus ada yang menjaga di sini," tutur Aulia yang mempunyai maksud tertentu dengan ucapannya.
Dia berencana untuk bisa menjaga nenek Abhiyasa dan lebih dekat lagi dengannya agar bisa mengambil hatinya.
"Tapi, jika Ibu sedang–"
"Ada Abhiyasa dan Hani di sini dok. Mereka juga sangat menyayangi Nenek. Jadi tidak mungkin mereka akan meninggalkan Nenek jika Nenek sedang sakit," sahut ibu Abhiyasa yang menyela perkataan Aulia.
Lagi-lagi Aulia gagal dalam rencananya. Dia tidak berhasil mengelabuhi keluarga Abhiyasa dengan berbagai rencananya itu.
Abhiyasa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Dia merasa jika ibunya tidak berubah. Dari dulu hingga sekarang ibunya itu selalu tahu apa yang diinginkan oleh putranya. Dan dia selalu mendukung penuh keinginan putranya itu.
Berbeda dengan Hani, dia merasa tidak enak dengan Aulia. Tatapan Aulia padanya mengisyaratkan hal lain. Dan Hani tahu jika Aulia sangat kesal padanya.
Dengan langkah kakinya yang berat, Aulia keluar dari kamar nenek Abhiyasa setelah berpamitan pada mereka.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut tahu jika pandangan mata Aulia tidak tulus ketika tersenyum dan bersalaman dengan Hani pada saat akan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Namun, pandangan matanya berbeda ketika bersalaman dengan Abhiyasa. Tatapan mata Aulia penuh harap pada Abhiyasa. Dan itu membuat Abhiyasa menjadi risih, sehingga dia segera melepaskan tangan Aulia.
Situasi itu membuat Abhiyasa terlihat jahat padanya, beruntungnya semua orang di ruangan itu tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Ibu, kenapa bisa dia yang memeriksa Nenek? Bukannya dokter Anisa yang harus merawat Nenek?" tanya Abhiyasa dengan kesal setelah Aulia keluar dari ruangan tersebut.
Ibu Abhiyasa duduk di kursi yang ada di samping putranya itu. Kemudian dia berkata,
"Ibu memang menghubungi dokter Anisa saat Nenek mengeluh kepalanya sangat pusing. Tapi pada saat datang ke sini, ibu bingung karena malah dia yang datang. Pada saat ibu tanya keberadaan dokter Anisa, dia mengatakan jika dokter Anisa masih ada di ruang operasi, jadi dia yang datang untuk menggantikan dokter Anisa."
Abhiyasa menghela nafasnya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri neneknya. Kemudian dia berkata,
"Syukurlah Nenek baik-baik saja. Sebaiknya Ibu bicara pada dokter Anisa, jika harus dia yang memeriksa Nenek. Dan apabila ada halangan sehingga dokter Anisa tidak bisa datang, dia harus mengirim dokter yang sama hebatnya dengan dia. Jangan mengirimkan dokter model Aulia yang hanya bisa menyakiti hati orang lain."
"Abhi…," sahut Hani dengan lembut untuk menghentikan ucapan Abhiyasa.
Abhiyasa menoleh ke arah Hani. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Hani seraya berkata,
"Yang aku bicarakan semuanya fakta Honey. Aku tau jika pada saat kamu menjauh dariku itu karena apa yang dikatakannya padamu. Benar bukan?"
Seketika mata Hani terbelalak. Dalam hatinya berkata,
Bagaimana dia bisa tau? Padahal aku belum pernah sama sekali mengatakan padanya. Apa dia menemui Aulia?
"Bagaimana kamu bisa tau Abhi? Apa kamu menemuinya ketika kita tidak saling bertemu waktu itu?" tanya Hani dengan rasa ingin tahunya.
Abhiyasa terkekeh mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu. Kemudian dia berkata,
"Buat apa aku menemui perempuan yang membuat hati kekasihku terluka? Aku tau semua yang kamu pikirkan Honey. Jadi… jangan lagi menyembunyikan sesuatu dariku."
Nenek dan ibu Abhiyasa menyimak pembicaraan mereka. Dari situ mereka tahu apa yang dilakukan oleh Aulia pada mereka berdua.
__ADS_1
"Jadi, apa benar Aulia melakukan semua itu untuk menghancurkan hubungan kalian?" tanya ibu Abhiyasa seolah sedang menyelidik.