Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 54 Seandainya...


__ADS_3

Terkejut? Sudah pasti. Abhiyasa terkejut mendengar Hani sudah menjadi mualaf yang artinya Hani sudah memeluk agama yang sama sepertinya. Kini tidak lagi ada perbedaan keyakinan yang menghalangi cintanya bersama kekasih hatinya. 


"Apa keputusan kamu ini karena terpaksa ingin bersamaku?" tanya Abhiyasa dengan serius menatap manik mata Hani.


Hani menghela nafasnya mendengar pertanyaan kekasihnya yang seolah tidak percaya padanya. Kemudian dia berkata,


"Sudah aku bilang Abhi, bagiku agama tidak untuk main-main. Aku perlu waktu untuk mencari tahu keinginan hatiku. Aku merasa nyaman dan tenang ketika melihat orang sedang shalat. Dan aku merasa sangat nyaman berada di masjid atau pun di musholla. Aku sudah melalui prosesnya sehingga aku yakin jika aku menetapkan pilihan hatiku pada agama islam."


Sontak saja Abhiyas berdiri dari duduknya. Tanpa mengatakan apa pun dia berjalan menuju pintu.


"Abhi! Mau ke mana?" seru Hani yang takut jika Abhiyasa marah padanya.


Abhiyasa menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah belakang di mana Hani sedang menatapnya dengan cemas. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Aku akan mempersiapkan diri untuk melamar kamu."


"A-apa?" celetuk Hani seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Bersiaplah Hani."


Setelah itu Abhiyasa keluar dari rumah Hani meninggalkan Hani yang sedang mematung setelah mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.


Tidak lama kemudian Hani tersenyum malu mengingat perkataan Abhiyasa padanya.


"Menikah? Apa mungkin kita bisa menikah?" tanya Hani diiringi senyum malu-malunya.


Malam ini mata Hani tidak bisa terpejam. Dia selalu terbayang wajah Abhiyasa yang mengatakan akan melamarnya. Bahkan tak henti-hentinya dia tersenyum membayangkan pernikahannya dengan Abhiyasa.


Rasanya tidak sabar untuk menantikan hari bahagia itu. Dia menyentuh dadanya dan berkata,


"Memang benar apa kata hatiku. Sekarang aku merasa sangat bahagia. Dan juga merasa sangat tenang dan nyaman. Semoga perasaan seperti ini selalu aku rasakan hingga akhir hayatku. Amin…."


Di tempat lain, tepatnya di rumah Abhiyasa. Kini Abhiyasa sedang bingung mempersiapkan acara lamarannya pada Hani.


Di dalam kamarnya, Abhiyasa sedang menatap langit-langit kamarnya. Sama seperti Hani, dia pun tidak bisa tidur malam ini. Matanya seolah menolak untuk dipejamkan.

__ADS_1


Bukan hanya itu saja, pikirannya sedang bingung memikirkan sesuatu. Dia pun berkata,


"Kira-kira apa yang harus aku lakukan padanya agar lamaran ini sangat berkesan untuknya ya?"


Berbagai rencana telah dipikirkan oleh Abhiyasa. Banyak sekali yang ingin dia lakukan untuk melamar kekasihnya. Sayangnya dia ragu untuk melakukannya.


"Apa dia akan suka dengan lamaranku itu? Bagaimana jika dia tidak suka?" tanya Abhiyasa yang ragu pada rencananya sendiri.


"Ck, jadi bingung. Besok saja aku akan membicarakannya bersama dengan orang tuaku," ucap Abhiyasa untuk menjawab keraguannya.


Segera dipejamkannya kedua matanya berharap agar bisa segera tertidur dan akan menyambut pagi esok dengan kebahagiaan yang baru.


Hanyut dalam pikirannya, tanpa sadar Abhiyasa pun tertidur. Begitu pula dengan Hani yang tanpa sengaja tertidur dengan sendirinya. 


...----------------...


Matahari pun menyapa. Sinarnya menerobos masuk ke kamar mereka melalui celah gorden yang menutupi jendela kaca. 


Seolah sedang janjian, mata mereka berdua terbuka perlahan secara bersamaan. Mata mereka mengerjap-ngerjap menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


Beberapa detik kemudian mereka tersenyum mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Mereka tersenyum di dalam kamar masing-masing menggambarkan rasa bahagia dalam hati mereka.


"Honey… Honey… Apa kamu sudah siap?" seru Abhiyasa yang masuk begitu saja ke dalam rumah Hani.


"Sebentar lagi Abhi. Tolong ambilkan handukku di kamar. Tadi kelupaan gak aku bawa masuk," seru Hani dari dalam kamar mandi.


Abhiyasa tersenyum mendengar seruan kekasihnya. Dia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengambil handuk yang ada di atas tempat tidur Hani.


Tiba-tiba mata Abhiyasa tertuju pada sebuah gamis warna putih tergantung di tembok kamar Hani.


Tanpa pikir panjang Abhiyasa mendekatinya. Dia memegang gamis putih tersebut dan hijab yang tersampir pada gamis tersebut. Bibirnya melengkung ke atas tatkala membayangkan Hani memakainya.


"Pasti dia sangat cantik memakai ini," ucap Abhiyasa lirih sambil tersenyum melihat gamis tersebut.


"Abhi! Mana handukku?! Kenapa lama sekali?! Handuknya ada di tempat tidurku!" seru Hani dengan suara lebih keras lagi daripada sebelumnya.


Abhiyasa segera keluar dari kamar tersebut dengan membawa handuk yang telah diambilnya dari kamar Hani.

__ADS_1


Tok… tok… tok…


"Hani… Ini handuknya," tukas Abhiyasa sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Krieeet…


Pintu kamar mandi pun terbuka. Keluarlah salah satu tangan Hani yang terulur untuk meminta handuk tersebut pada Abhiyasa.


Abhiyasa tersenyum melihat tangan putih mulus milik kekasihnya yang terulur padanya. Ingin sekali dia menjahilinya, hanya saja dia sadar jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu.


Abhiyasa meletakkan handuk yang diambilnya tadi pada tangan Hani. Merasa handuk tersebut sudah berada di tangannya, Hani segera menarik masuk tangannya dan berkata,


"Terima kasih Abhi."


"Kembali kasih Honey nya Abhi," jawab Abhiyasa sambil tersenyum menggoda Hani.


Di dalam kamar mandi yang terhalangi oleh pintu, Hani tersenyum malu mendengar jawaban ucapan terima kasih darinya. Bahkan wajahnya kini merona malu mendengarnya.


Berbeda dengan Abhiyasa. Dia terkekeh membayangkan wajah Hani yang sedang malu karena digoda olehnya. Dalam hatinya berkata,


Seandainya kita sudah menikah, pasti lain lagi ceritanya. Handuk itu akan aku antar sampai ke dalam kamar mandi. Astaghfirullah hal adzim… Mikir apa sih kamu Abhiyasa?


Abhiyasa duduk di ruang makan sambil menyiapkan makanan yang sudah dibelinya sebelum datang ke rumah Hani. 


Setelah beberapa saat, Hani keluar dari dalam kamar mandi menggunakan bathrobe putih dan handuk yang melingkar di kepalanya.


Lagi-lagi Abhiyasa larut dalam pikirannya. Bahkan dia meneguk ludahnya saat tatapan matanya terkunci pada Hani yang sedang berjalan menuju kamarnya. Dalam hatinya berkata,


Gawat. Godaan di pagi hari. Aku harus cepat-cepat melamarnya dan menyegerakan pernikahan kami. Dari pada nanti lama-lama ada godaan syaiton yang terkutuk kan jadi berabe.


Selang beberapa saat Hani keluar dari kamarnya. Kini dia sudah berpakaian rapi dengan seragam kerjanya.


"Honey… Aku gak sengaja melihat gamis putih yang tergantung di kamarmu. Apa itu milikmu?" tanya Abhiyasa sambil menatap wajah cantik kekasihnya yang sedang duduk di hadapannya.


Tampak Hani terlihat kaget mendengar pertanyaan Abhiyasa mengenai gamis tersebut. Sedetik kemudian dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya Abhi. Itu gamis yang diberikan oleh Umi Halimah ketika aku mengikrarkan dua kalimat syahadat kemarin."

__ADS_1


Senyuman Abhiyasa yang sangat manis menghiasi bibirnya mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Kemudian dia berkata,


"Masya Allah… Kenapa aku tidak melihat kejadian itu? Apa ada rekaman videonya? Aku ingin melihat kamu memakai gamis itu, pasti kamu sangat cantik sekali. Apa bisa kamu memakainya Honey?"


__ADS_2