
Senyuman Abhiyasa selalu mengembang. Sepanjang perjalanannya, dia tak henti-hentinya tersenyum, hingga membuat Hani yang duduk di sebelahnya merasa sangat malu atas apa yang dilakukannya.
"Honey, aku seneng banget deh kamu mau mengakui aku sebagai pacar kamu di depan teman-teman kamu. Terima kasih ya Cinta…," ucap Abhiyasa sambil tersenyum mengemudikan mobilnya.
Cinta? Apalagi ini? Honey? Cinta? Rasanya aku akan terbang jika Abhiyasa selalu memperlakukan aku seperti ini, Hani berkata dalam hatinya.
Hani menahan senyumnya dengan wajah meronanya ketika mendengar perkataan Abhiyasa. Dia tidak mengira jika akan sebahagia ini jika mereka saling mengakui perasaan mereka dan keberadaan mereka di hati mereka masing-masing.
Kini Hani akan mengikuti kata hatinya. Dia tidak ingin lagi kehilangan sosok Abhiyasa yang sangat dicintainya.
Hani masih saja malu-malu pada Abhiyasa. Dia masih saja diam di sepanjang perjalanannya, hingga sampailah mereka di kantornya.
"Aku masuk dulu Abhi. Terima kasih atas makan siangnya," ucap Hani dengan malu-malu pada Abhiyasa.
"Bekerjalah dengan baik Honey. Jika rindu, langsung saja hubungi aku," ujar Abhiyasa sambil tersenyum dengan penuh percaya diri.
Hani bertambah malu. Rona merah di wajah Hani semakin terlihat. Dia segera melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil tersebut tanpa mengatakan apa pun pada Abhiyasa.
Abhiyasa terkekeh melihat tingkah gadis pujaan hatinya. Kegalauan beberapa hari yang lalu tidak lagi dirasakannya. Kini dia sangat bahagia dengan hadirnya kembali seorang Hani di sisinya.
Masuk ke dalam kantornya, Hani disambut oleh candaan-candaan dari teman-temannya.
"Cieee… Hani sudah gak jomblo lagi."
"Cieee… Hani sudah punya pacar. Sudah polisi, tampan lagi."
"Mau dong dikenalin yang modelnya kayak gitu."
"Kenalin temennya dong Hani."
"Atau… kenalin pacarmu aja deh Hani. Siapa tau dia berganti haluan."
Candaan-candaan mereka itu diiringi tawa dari semua orang yang ada di ruangan tersebut. Bahkan wajah Hani bertambah merona karena malu digoda oleh teman-temannya.
Hani hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi candaan dari teman-temannya. Dia kembali ke ruangannya diiringi dengan perasaan bahagianya.
Benar saja, kehadiran Abhiyasa sangat berpengaruh padanya. Kini Hani sangat bersemangat dalam bekerja. Bahkan waktu yang beberapa hari ini dikeluhkan berjalan dengan sangat lambat, hari ini dirasanya begitu cepat.
__ADS_1
Hari ini kegalauan hati Hani sudah hilang. Dia sudah tidak merasakannya lagi sejak Abhiyasa datang kembali menemuinya.
Sore itu Hani mendapatkan pesan dari Abhiyasa jika dia tidak bisa menjemputnya. Hani pun mengerti jika pekerjaan Abhiyasa membuatnya tidak bisa selalu ada untuknya.
Namun, bagi Hani itu tidak masalah selama mereka masih tetap berkomunikasi. Lain halnya dengan tempo hari yang tidak ada komunikasi sama sekali di antara mereka, hingga membuat hati mereka benar-benar kehilangan.
...----------------...
Hari pun berganti dengan cepatnya. Hubungan mereka berdua semakin erat. Tidak ada lagi perasaan galau yang menyertai mereka.
Pagi ini, setelah beribadah, Hani dan jamaah lainnya mengadakan bakti sosial di sebuah panti asuhan.
Mereka memberikan beberapa bantuan berupa barang pada panti asuhan tersebut.
Ternyata di tempat yang sama, ada tenda medis yang dihadiri oleh beberapa dokter dari rumah sakit yang bekerja sama dengan tempat ibadah Hani untuk memberikan layanan kesehatan bagi penghuni panti sosial tersebut.
"Hani?!" celetuk seorang dokter ketika melihat Hani masuk ke dalam tenda medis untuk membantu mereka.
Hani menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak mendapati seorang dokter yang memanggil namanya dan dia pun berkata,
"Ternyata kalian sudah saling kenal ya. Baguslah. Lebih baik Hani membantu dokter Aulia saja di sini," ucap panitia bakti sosial tersebut yang kebetulan datang ke tenda tersebut bersama dengan Hani.
Hani merasa tidak nyaman berada di samping Aulia. Bayangan akan perkataan Aulia pada malam itu membuat Hani teringat kembali akan hal yang membuatnya menjauhi Abhiyasa.
"Apa kabar Hani?" tanya Aulia lirih pada Hani tanpa menoleh ke arah Hani.
"Baik dok. Dokter sendiri bagaimana?" tanya Hani dengan senyumnya yang dipaksakan.
Aulia tersenyum getir. Dia masih sibuk menata obat-obatan seraya berkata,
"Aku tidak bisa mengatakan jika aku baik-baik saja sejak malam itu. Dan ternyata Allah kini membuka jalanku. Dia menunjukkan padaku bahwa ada perbedaan yang sangat besar menghalangi hubungan kalian. Aku yakin jika kamu sadar akan hal itu."
Hani tersenyum. Dia tahu ke mana arah pembicaraan Aulia saat ini. Kemudian dia berkata,
"Aku tau itu. Abhiyasa pun juga sudah tau. Bahkan kami berdua tau perbedaan yang menghalangi kami itu sebelum kami memutuskan untuk berpacaran. Jadi, dokter tidak perlu capek-capek mengingatkan tentang perbedaan itu pada kami."
Aulia menoleh ke arah Hani. Dia menyeringai dan berkata,
__ADS_1
"Apa keluarga kalian saling menyetujui? Jika mereka belum tau, lebih baik jangan merasa senang dulu. Aku yakin jika keluarga Abhiyasa tidak akan menyetujuinya."
Perkataan Aulia bagai pisau yang menusuk hati Hani. Memang itu yang membuat Hani menjadi dilema beberapa hari yang lalu, tapi dia tidak mengira jika orang lain pun berpikiran hal yang sama sepertinya.
Dengan sekuat tenaganya Hani menyimpan kesedihannya. Dia tersenyum pada Aulia dan berkata,
"Terima kasih dokter telah mengkhawatirkan hubungan kami. Tapi kami sudah bertemu dengan keluarga masing-masing. Bahkan keluarga kami sudah saling mengenal. Mereka semua menyambut hangat hubungan kami."
Semoga. Semoga ucapanku ini bisa terwujud. Bantu aku Tuhan… berilah petunjuk Mu agar hubungan kami bisa tetap berjalan dengan baik dan tolong restui kami agar bisa menikah dan menjadi suami istri untuk selamanya, Hani berdoa dalam hatinya.
Seketika senyum Aulia menghilang. Dia merasa harapannya sudah sirna karena apa yang dikatakan oleh Hani padanya.
Aulia kembali menatap Hani dan menyeringai seraya berkata,
"Aku tidak percaya jika keluarga besar Abhiyasa bisa menyetujui perbedaan kalian ini. Karena aku tau betul bagaimana taatnya mereka pada agamanya."
Hani merasa pembicaraan mereka semakin melebar. Dia tidak ingin kembali terluka oleh perkataan Aulia. Dan dia juga tidak ingin pendiriannya kembali goyah karena perkataan Aulia padanya.
"Maaf dok, sepertinya kurang tepat jika kita membicarakan masalah ini di tempat ini. Sebaiknya kita lakukan saja apa yang seharusnya kita lakukan sekarang," tutur Hani sambil tersenyum manis pada Aulia.
Aulia merasa malu pada Hani yang seolah mengingatkannya akan tugas-tugasnya. Seketika dia diam dan tidak mengatakan apa pun pada Hani.
Sedangkan Hani, dia beranjak dari duduknya untuk menyambut anak-anak penghuni panti asuhan tersebut yang baru saja datang ke tenda tersebut untuk berbaris dan bergantian diperiksa oleh dokter-dokter yang sudah berada di sana.
Setelah beberapa saat kemudian, acara bakti sosial itu pun berakhir. Aulia beserta yang lainnya membereskan barang-barang mereka.
"Honey."
Tiba-tiba Hani mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Dengan cepatnya dia menoleh ke arah sumber suara dan bibirnya melengkung ke atas ketika mendapati sosok laki-laki yang sangat dicintainya berada di depannya.
"Abhi?!" ucap Hani sambil beranjak menghampiri Abhiyasa.
Hani memeluk Abhiyasa seolah mereka sudah lama tidak berjumpa. Abhiyasa terkekeh mendapatkan pelukan dari kekasihnya. Dengan senangnya tangan Abhiyasa pun membalas pelukan Hani.
Kini mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sekelilingnya. Tak terkecuali Aulia. Dia menatap kesal pada Hani dan Abhiyasa yang seolah memperlihatkan kemesraan mereka padanya. Dalam hatinya berkata,
Kamu jahat Abhiyasa. Lihat saja apa yang akan terjadi jika kalian memaksa untuk bersatu dan melukai hatiku.
__ADS_1