
Seperti biasanya, Hani berangkat kerja dengan menggunakan mobilnya dan Abhiyasa mengikutinya dari belakang.
Di dalam mobilnya itu dia teringat akan apa yang dilakukan oleh Abhiyasa.
"Menyiapkan makanan ketika aku sedang mandi. Abhi so sweet banget sih… Dia benar-benar suami idaman banget. Sepertinya aku memang gak boleh melepaskan dia. Bagaimana pun Abhiyasa adalah cinta pertamaku dan semoga saja kita bisa menjadi pasangan suami istri," ucap Hani sambil mengemudikan mobilnya.
Abhiyasa masih saja mengikutinya di belakang mobil Hani hingga mobil tersebut masuk ke dalam parkiran kantor sebuah bank swasta yang merupakan tempat kerja Hani.
Kali ini Abhiyasa tidak melihat Hani dari tempat biasanya. Dia mengikuti Hani hingga masuk ke dalam parkiran kantor tersebut.
Abhiyasa melepas helmnya dan turun dari motornya untuk menunggu pujaan hatinya yang turun dari mobilnya.
Hani keluar dari mobilnya dengan senyumnya yang merekah. Terlihat sekali jika Hani sedang bahagia saat ini.
Bahagia? Salah. Dia tidak hanya bahagia. Bahkan dia merasa sangat bahagia sekali saat ini. Dalam hidupnya, baru kali ini dia merasa sebahagia ini.
Lalu, bagaimana jika Hani menikah dan memiliki keturunan? Tentu saja dia teramat sangat bahagia. Bahkan saat-saat itulah yang sangat dinantikan olehnya.
Hani berjalan mendekati Abhiyasa dengan senyumnya yang tidak luntur semenjak tadi. Abhiyasa pun menyambutnya dengan senyuman manisnya yang selalu mampu membuat jantung Hani berdebar kencang.
"Setelah ini kamu mau ke mana Abhi?" tanya Hani seolah tidak rela ditinggalkan oleh Abhiyasa.
"Kebetulan kami yang bertugas kemarin itu mendapatkan libur satu minggu. Setelah ini aku akan ke rumah orang tuaku untuk mengatakan pada mereka bahwa aku akan melamar kamu…," jawab Abhiyasa sambil tersenyum padanya.
"A-apa? Melamar aku?" tanya Hani seolah dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Abhiyasa terkekeh dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Secepatnya."
Semburat merah seketika menghiasi wajah Hani. Dia malu mendengar ucapan Abhiyasa yang mengatakan akan melamarnya secepatnya.
"Emmm… Aku masuk dulu. Bye Abhi…," ucap Hani gugup sambil berjalan dan melambaikan tangannya pada Abhiyasa.
"Assalamualaikum…," sahut Abhiyasa mengiringi kepergian Hani.
Sontak saja langkah kaki Hani terhenti. Dia menoleh ke belakang di mana Abhiyasa masih berdiri dan tersenyum padanya. Kemudian dia membalas senyum kekasihnya itu seraya berkata,
"Wa'alaikumussalam…."
Setelah mengatakan itu, Hani segera berlari kecil masuk ke dalam kantornya. Dia malu pada Abhiyasa yang mengingatkannya terlebih dahulu untuk mengucapkan salam, seperti Umi Halimah ketika mengingatkannya.
__ADS_1
Namun, hati Hani merasa sangat senang. Dengan begitu dia merasakan jika memang saat ini keyakinan mereka sudah sama. Dan tidak ada lagi yang menjadi penghalang untuk mereka bersatu.
Abhiyasa meninggalkan tempat tersebut setelah Hani masuk ke dalam kantornya. Dia masih saja terkekeh dalam helm full faced nya mengingat tingkah Hani yang sedang malu padanya.
Motor sport Abhiyasa melaju meninggalkan tempat tersebut menuju rumah kedua orang tuanya.
Hanya dalam beberapa menit saja Abhiyasa sudah sampai di rumah orang tuanya. Dengan langkah ringannya diiringi senyuman bahagianya, dia masuk ke dalam rumah itu.
"Assalamualaikum… Ibu… Ayah… Nenek… Yasa pulang…," seru Abhiyasa ketika masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam…," jawab ibu Abhiyasa dari dalam rumahnya sambil berjalan terburu-buru.
Abhiyasa segera mencium telapak tangan ibunya dan berkata,
"Apa kabar Bu? Sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat Yasa. Kamu sendiri bagaimana sepulang dari tugas kemarin?" tanya ibu Abhiyasa sambil mengusap punggung putranya.
Abhiyasa menuntun ibunya untuk duduk di sofa seraya berkata,
"Alhamdulillah, Yasa baik Bu. Emmm… Yasa ke sini juga membawa kabar baik Bu."
"Oh ya? Kabar baik apa?" tanya ibu Abhiyasa dengan sangat antusias.
"Ayah masih belum pulang. Sedangkan Nenek baru saja tidur di kamarnya. Ada kabar baik apa sih? Ibu jadi penasaran," jawab ibu Abhiyasa sambil terkekeh di akhir ucapannya.
Abhiyasa memegang kedua tangan ibunya. Dia menatap mata ibunya dan tersenyum padanya. Kemudian dengan mantapnya dia berkata,
"Yasa akan melamar Hani Bu."
"Apa? Melamar Hani?" tanya ibu Abhiyasa yang kaget mendengar ucapan dari putranya.
"Iya Bu. Yasa ingin melamar Hani secepatnya agar kita bisa secepatnya menikah," ujar Abhiyasa sambil tersenyum.
"Tapi Yasa, Hani kan–"
"Hani sudah menjadi mualaf Bu," sahut Abhiyasa menyela perkataan ibunya.
"Apa? Sejak kapan?" tanya ibu Abhiyasa yang sangat terkejut mendengar ucapan putranya.
Abhiyasa menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Sebenarnya Yasa juga tidak tau Bu. Tiba-tiba saja Yasa diberitahu olehnya jika sebelum aku pulang, dia baru saja mengikrarkan dua kalimat syahadat."
Ibu Abhiyasa memicingkan matanya menatap penuh curiga padanya seraya berkata,
"Dia mualaf bukan karena terpaksa kan?"
"Maksud Ibu Yasa yang memaksanya?" tanya Abhiyasa yang merasa tidak terima dituduh oleh ibunya sendiri.
"Kebanyakan mereka berpindah keyakinan karena ingin menikah dan setelah itu tidak bertanggung jawab dengan agama yang dianutnya. Bahkan banyak juga yang berpindah kembali ke agamanya yang semula setelah mereka menikah atau setelah mereka bercerai," ujar ibu Abhiyasa yang berniat untuk mengingatkan putranya.
"Astaghfirullahaladzim… Hani tidak seperti itu Bu. Abhiyasa tau sendiri bagaimana perjuangan dia mencari tau tentang keinginan hatinya sejak dia menunggu Yasa ketika melaksanakan sholat di Masjid. Dia bercerita banyak pada Yasa. Jika Ibu ingin mengetahuinya, Ibu bisa bertanya padanya. Dan Ibu juga bisa bertanya pada Umi Halimah yang selama ini membimbingnya," tutur Abhiyasa dengan tegas membela kekasihnya.
"Apa maksud kamu Umi Halimah yang ada di Pondok Pesantren Al-Mukmin?" tanya ibu Abhiyasa yang terlihat kaget mendengar nama umi Halimah.
"Menurut cerita Hani sih iya Bu. Apa Ibu mengenalnya?" tanya Abhiyasa dengan penasaran.
Ibu Abhiyasa mengangguk dengan antusias dan berkata,
"Umi Halimah adalah sahabat Ibu sejak dulu. Dulu ketika kamu masih kecil sering sekali bertemu dengannya. Mungkin sekarang kamu lupa."
Abhiyasa hanya tersenyum lebar menanggapi perkataan ibunya. Memang benar dia tidak mengingat apa pun tentang Umi Halimah. Dan dia tidak mengingkarinya.
"Ya sudah. Aturlah waktu agar kita bisa berkunjung ke rumah Umi Halimah bersama dengan Hani," ujar ibu Abhiyasa yang terlihat sangat senang saat ini.
Abhiyasa kembali memegang kedua tangan ibunya. Kemudian dia berkata,
"Lalu Bu, kapan melamarnya?"
"Kamu yakin kan Hani benar-benar niat dari hati menjadi mualaf?" tanya ibu Abhiyasa seolah tidak percaya pada putranya.
"Yassalam Ibu… Sejak kapan Yasa bisa berbohong pada Ibu? Bahkan Yasa tidak pernah menyinggung masalah perbedaan keyakinan Hani dengan Yasa. Tiba-tiba saja Yasa mendapat kabar jika Hani sudah menjadi mualaf karena keinginan hatinya sendiri dan asalkan Ibu tau begitu sulitnya dia meyakinkan kedua orang tuanya agar bisa merestui keinginan Hani untuk menjadi mualaf," tutur Abhiyasa pada ibunya.
Ibu Abhiyasa tersenyum dan mengusap pundak putranya seraya berkata,
"Kamu beruntung. Semoga kalian berjodoh. Dan tuntunlah Hani agar menjadi wanita dan istri yang solehah."
"Amin… Pasti itu Bu," sahut Abhiyasa dengan sangat antusias.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Abhiyasa. Dengan segera dia mengambil ponsel dari saku celananya.
Bibirnya melengkung ke atas ketika tertera nama kekasihnya yang mengirim pesan padanya. Dibukalah pesan tersebut dengan hati yang bahagia.
__ADS_1
Seketika mata Abhiyasa terbelalak melihat layar ponsel yang menampilkan pesan dari Hani. Dia pun berkata,
"Masya Allah Tabarakallah…."