
."Gue cabut dulu, takut ada singa bangun" Dito lari kebirit sebelum Lisa menghajarnya. Hhhaahaa...
"Awas lo ya Dit " Teriak Lisa. Devi, Kayla, dan Rian tertawa kecil melihat tingkah temannya yang masih seperti anak SMA.
"Lis BTW bang Deren udah punya pacar belom??." Tanya Devi.
"Ngapain lo tiba tiba nanya Kak Deren??."Tanya Lisa menaikkan alis nya.
"Ckk pake' manggil bang abang lagii." Sahut Rian.
"Yyee biarin suka suka gue lah mau manggil apa." Ujar Devi memanyunkan birbirnya.
"Lo suka yaa sama Kak Deren??." Tebak Kayla menunjuk kan jarinya ke Devi.
"E..ee..eennggak kok, kata siapa gue suka sama bang Deren, gue ogah kali' punya adek ipar kayak Lisa."
"Yaakk gue juga ogah kali' punya kakak ipar kayak loo."
"Ini mbahas apaan sih nggak jelas tau' ." Ujar Rian.
"Lo tuu yang nggak jelas " Ujar Lisa dan Devi.
"Yaahh kompak, udah cocok tuh jadi adik kakak ipar."Ujar Rian Kayla sedari tadi tak hentinya menertawakan mereka.
Kesedihannya teralihkan dengan adanya sahabat yang selalu ada untuknya.
"Mending Lo cari pacar sono yan daripada ngrecokin kita ya nggak Lis."
"Yuppss Jones mulu lo dari dulu, nggak bosen apa." Ketiga cewek itu tertawa melihat ekspresi Rian seolah olah dia benar benar sedih dengan nasibnya,, hahaaahaa...
"Kenapa malah bawa bawa status sih,sedih kan gue." ujar Rian dengan muka sedih yang dibuat buat.
"Nggak cuma lo kok yang Jones, sekarang kan gue juga jones malah gue tersakiti dulu baru jadi ngenesss, hahaa.." Kayla tertawa mendengar ucapannya sendiri.
Lisa,Rian,dan Devi jadi merasa bersalah karena mbahas masalah hatii.
"Kay yang sabar yah, mungkin Ar bukan cowok yang baik buat lo." Ucap Lisa.
"Udah deh nggak usah melow, kita buat pelajaran aja supaya nggak salah milih pasangan ya nggak?." Ujar Rian.
"Lo sahabat gue yang terbaikk." Kayla menepuk nepuk pundak Rian.
"Cckk kalo gini aja baru dianggep." Rian menepis tangan Kayla dari pundaknya.
"Btw thanks ya yan lo udah mukul Ar waktu itu, soalnya gue pengen banget mukul tuh muka,eh udah diwakilin sama lo."
"Santaii Lo nggak perlu ngotorin tangan buat ngehajar cowok br**gs*k itu."
"Kalo gue dikhianatin sampai kayak gitu palingan gue nggak kuat kay, lo hebatt." Ujar Devi.
"Yah palingan lo udah bunuh diri dulu." Ledek Rian.
__ADS_1
"Lo kali' yang gue bunuh duluan." Jawab Devi.
Kayla Lisa pun terkekeh, sesedih sesulit apapun selalu tawa akan hadir diantara mereka.
Memang benar Sahabat adalah wadah yang dapat menampung semua kesedihan dan kesenangan kita.
"Ehh pulang yuk udah sore nih." Ajak Lisa.
"Letss gooo!!!." Ucap Devi.
"Eh bentar, besok kan sabtu kita jalan yuk!! kalo nggak disempetin bakal sibuk kita nanti banyak tugas kan." Ajak Rian.
"Nanti aja bahas di grup." Ujar Kayla.
"Eh gue panggilan alam nih, kalian duluan ajaa, byee." Lisa melambaikan tangan berlari keluar kantin sebelum mereka menjawabnya.
"Yaahh tuh anak kebiasaan." Ujar Kayla.
*********
Saat Lisa keluar kamar mandi kampus sudah terlihat sepi dari lalu lalang mahasiswa.
"Gue lama ya didalem kok udah nggak rame." Lisa bermonolog.
Pantesan sepi udah mau ujan ini mah,, hadughh gak bawa mantel lagi,, batin Lisa
"Yah hujan lagi,nggak mungkin dong gue pulang ujan ujanan."
Lisa melihat diujung lorong seperti orang yang dia kenal, dia berjalan mendekati orang itu dan...
Kak Bian
"Aku samperin nggak ya. Dia masih marah atau nggak yaaaa??." Lagi lagi Lisa bermonolog.
"Ngapain bingung sih samperin samperin aja. Marah atau nggaknya urusan belakang." Lisapun berjalan ketempat Bian duduk.
"Ehhemm.." Lisa berdehem. Bian pun menoleh kearah Lisa yang sudah duduk disampinya.
Lima menit kemudian
Nih orang gagu apa yaa, tanya kek pulang sama siapa??
Basa basi gitu,, gerutu Lisa dalam hati.
"Kak Bian masih marah ya??."
Bian menoleh menatapnya sebentar tanpa memberikan jawaban.
__ADS_1
"Jangan marah ya kak. Nanti gue susah lagi bujuk biar kak Bian mau terapy lagi....Uuppss." Lisa spontan menutup mulutnya.
yahh ini mulut pake keceplosan lagi,, nggak bisa diajak kompromi,, batin Lisa
"Emm makhsud gue kalo kak Bian marah nanti aku nggak bisa jalan jalan kayak dulu kak." Dusta Lisa.
Aduhh Lis ngapain sih lo samperin nih orang, minta maaf lagi lo kan nggak salah apa apa.kenapa gue jadi gini sih
apa gara gara kak Bian itu si gembul , batin Lisa
Bian beranjak dia terus berjalan kearah lapangan yang masih dibasahi hujan,hujan belum juga reda.Lisa mengikuti Bian ,saat merasa diikuti Bian berhenti.
Bbuughh
"Auuhh." Keluh Lisa.
"sakit tau kak, itu punggung apa tembok?."
"Ngapain ngikutin gue?."
Mereka saling tatap dibawah hujan yang masih setia mengguyur bumi.
satu detik
dua detik
tiga detik
empat detik
lima detik
Entah apa yang membuat mereka enggan melepaskan
tatapan itu,sampai Bian melepaskan jaket yang dia pakai dan memasangkannya diatas kepala Lisa.
Astaga...
Batin Lisa.
"Balik neduh!!!." Tunjuk Bian ke tempat duduk mereka tadi dengan wajah khasnnya 'datar'.
"Haahh??." Lisa yang masih bingung dan tanpa sadar mulutnya terbuka sampai sampai Bian sudah menghilang bersama montornya.
"Astagaa apa yang lo pikirin lisa.Nyebelin banget sih tuh orang main tinggal tinggalin aja." Gerutu Lisa ditengah lapangan dengan jaket Bian diatas kepalanya.
************
Haii para readeersss ayookk jangan lupa Like, vote, and komenn....
Ikutin teruss yaa masih banyak kejutan kejutan dari kisah ini😍
__ADS_1