Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
8.Alexithymia


__ADS_3

"Iyah dok kak Bian aneh orangnya,, setiap bicara nggak pernah tuk kelihat ekspresinya selalu datar." ucap ku. Ternyata itu alasannya kenapa sikap kak Bian dingin.


"Yah itu yang dialami Bian selama ini ketidak pekaannya mengungkap kan emosi."


"Kenapa Kak Bian mengalami penyakit itu dok?.Apa bawaan sejak lahir??. " Tanyaku.


"Bukan, penyebab Alexithimia ini disebabkan oleh adanya trauma fisik, trauma verbal, trauma emosional,dan pelecehan seksual.Seseorang dengan alexithymia ini akan sulit membedakan antara emosi Yang dirasakan dengan emosi yang diekspresikan." Jelas dokter anya panjang lebar.


"Jadi apa kak Bian mengalami Trauma??." Tanyaku.


"Betul sekali. Bian mengalami Trauma dimasa kecilnya dulu."


"Trauma apa itu dok??. "


"Sudah siap kembali kemasa lalu Bian??. " Tanya dokter anya aku pun mengangguk.


Flasback on


Dulu saat Bian naik TK B umur 6 tahun dia dititipkan neneknya Yang ada di Semarang. Karena urusan pekerjaan mama Dan papanya.Bian sangat menyayangi nenek imah dia juga memiliki banyak teman disana.


Sudah beberapa bulan Bian kecil tinggal dengan neneknya sampai kejadian itu terjadi. Malam hari Bian membangunkan nenek imah untuk buang air kecil, tapi saat membuka pintu.


Ceklek ceklek


terdengar suara dari pintu utama dibuka. Nenek imah Dan Bian masih mengintip dari balik pintu.


"Aman Boss." Ucap Salah satu laki laki bertopeng yang menyelinap ke dalam rumah.


"Ambil semua barang Yang berharga." Ucap pria Yang dipanggil bos itu.


"Nenek meraka siapa??. " Tanya Bian kecil.


"Tsuuttt Bian masuk kedalam lemari ya." Ucap nenek imah sambil membawa bian masuk kedalam lemari.


"Bian takut nek." Ucap Bian terisak.


"Nggak usah takut kan ada nenek." Nenek imah tersenyum mengelus puncak kepala Bian.


"Nenek mau minta pertolongan dulu. Bian janji jangan keluar ya."Ucap nenek imah lalu menutup pintu almari.


Beberapa menit kenudian terdengar jeritan nenek imah, Bian pun keluar dari lemari.Betapa terkejutnya Bian saat melihat neneknya sudah tergeletak bersimpah darah. Bian mengintip dari balik pintu kamar dengan air mata Yang terus mengalir melihar sosok nenek Yang ia sayangi sudah tak bernyawa.


Bian melihat dengan mata kepala nya sendiri pembunuhan sadis Yang dilakukan para laki laki bertopeng itu. Mereka tetap menusuk bagian bagian tubuh nenek imah.


Jleebb

__ADS_1


jleebb


Jlleebb


"Sudah hentikan dia sudah tiada." Perintah boss mereka.


"sudah kalian ambil semuanya?. " Tanya Salah satu laki laki bertopeng itu.


"Tenang sudah beres semuanya." jawab Salah satu diantara mereka.


"Kita pergi sekarang, jangan tinggalkan jejak." Akhirnya mereka keluar tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Bian Yang sedari tadi gematar dibalik pintu.


"Nenek." Lirihnya terisak


Bian kecil sudah melihat pembunuhan sadis itu yang seharusnya tidak patut untuk disaksikannya. Nenek Yang akhir akhir ini menjadi sumber kebahagiaannya telah pergi selamanya didepan matanya sendiri.


Flasback Off


********


"Astaghfirullah." Tak terasa bulir bening mengalir dipipiku.


"Sekiranya itu Yang membuat Bian menjadi seperti ini." Ucap Dokter anya . Ternyata sejak kepergian kak gembul dia dipindahkan kerumah nenek imah.Sampai kejadian itu terjadi.


"Bisa, asalkan dia mau rutin melakukan pengobatan Dan mau berusaha." Terdengar nada berat dari dokter anya.


"Emang kak Bian nggak rutin terapi?."


"Sudah lima bulanan dia tidak mau melakukan pengobatan lagi."


"Kenapa kak Bian nggak mau dok?? ." Tanya ku.


" Karena menurutnya semua ini sia sia, sudah Lama dia melakukannya tapi hasilnya tetap saja." Dokter Anya menghembuskan nafas panjang, seperti sudah lelah dengan kondisi ini.Apalagi kak Bian Yang selama ini menjalaninya.


"Kita pulang!!. "


"Astagaa." Kaget ku. Orang ini baru bangun saja buat jengkel, huufft.


"Heii Bian sudah bangun?. " Tanya dokter anya.Yyaah cuma basa basi lah ngadepin kak Bian. Percuma saja dianya aja nggak ngrespon langsung keluar tanpa pamit, dasarr!!!.


"Ya sudah dok makasih banyak udah mau cerita." Ucapku sambil menjabat tangan dokter anya.


"Sama sama.Oh ya Lisa kamu bantu bujuk Bian biar mau terapi lagi."


"Inshaallah dok Lisa usaha in." Ucapku.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan hanya alunan musik Yang memecah keheningan ini. Kak Bian sedari tadi lempeng mulu tuh muka.


Sampai didepan rumah.


"Kak Bian marah ya??. " Tanyaku.


Dan apa Yang kudapat?? dia turun dari mobil tanpa menjawab, menolehpun tidak, dasarr!!.


********


Kota Berlin, Jerman


Sore hari Yang cerah banyak para mahasiswa berlalu lalang disepanjang jalan. Ada Yang sedang menunggu bis terutama Rasyad.


"Rasyad." Rasyad pun menoleh melambaikan tangan pada Adeline.


"Haii, Lagi nunggu bis??. " Tanya adeline


"Iyah, kamu sendiri?? ."


" Sebenernya aku mau ketemu kamu." Ucap adeline.


"Ada apa??. "


"Lagi sibuk nggak??. "


"Nggak kok, mau ke perpus lagi??. "


" Eh enggak, kalau nggak sibuk ikut aku yuk!! ." Tanpa jawaban dari Rasyad Adeline langsung menariknya menuju mobil.


"Emangnya mau kemana sih? ." Tanya Rasya saat mobil mulai melaju membelah kota Berlin.


" Nanti kamu juga akan tahu sendiri."


Tigapuluh menit kemudian


"Rumah sakit??. " Tanya Rasyad.


"Ja Krankenhaus, lass uns rein gehen!! ." Adeline turun memasuki rumah sakit itu diikuti Rasyad.


(Ya rumahsakit, kita masuk yuk!! ").


Di depan ruangan bertuliskan ' Psychische strourungen'


Kenapa Adeline membawaku ke ruangan gangguan jiwa?? batin Rasyad.

__ADS_1


__ADS_2