Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Lebih menyakitkan


__ADS_3

"Emang permintaan lo apa??." sambung Bian.


"Ehh..emmm." Lisa menggaruk lututnya yang tidak gatal.


Hadugghh bilang sekarang atau nanti??.


Batin Lisa.


"Okey permintaan pertama Lisa adalah Kak Bian sekarang ikut Lisa ke Dokter Anya dan yah kak Bian nggak boleh nolak titik nggak pake koma!!!!." Jelas Lisa dalam satu tarikan nafas.Tangan Bian mengepal erat matanya juga memerah.


Bian melangkah mendahului Lisa begitu saja tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.Lisa dibuat bingung, sampai Lisa mengahadang tepat didepan Bian.


"Kak Bian mau kemana sih main tinggal, Kak Bian nggak nolak kan??inget loh ya kak Bian udah...."


Lisa tersentak kaget ucapannya dipotong Bian.Seperti petir di siang bolong hatinya terasa tersengat mendengar ucapan Bian.


"Cukup!!! lo nggak tau apa apa tentang gue, Lo itu cuma bisanya suruh gue terapy terapy dan terapy tapi apa lo bisa rasain apa yang gue rasa??nggak kan??? jadi jangan sesekali lo minta gue ke tempat itu!!!."


Ucap Bian dengan nada tinggi. Baru pertama kali Lisa melihat ekspresi Bian tapi yang dia lihat malah membuat hatinya terasa sesak.


Banyak mahasiswa menatap sekilas kearah Bian.Lisa terdiam ditempat mencerna ucapan Bian yang membuatnya membeku.Tangan Bian masih mencekal sampai terlihat otot ototnya.


"Gue antar lo pulang!!." Bian berjalan mendahului Lisa.Entah sejak kapan keluar buliran bening dari pelupuk matanya.Tapi Lisa tidak akan menyerah begitu saja sampai Bian sadar dia akan selalu berada disisinya.


"Kak Bian ternyata pengecut ya." Ucapan Lisa berhasil menghentikan langkah Bian.


"Iyah gue emang pengecut, dan lo udah tahu bukan??jadi setelah lo tau gue pengecut masih mau deket sama gue?? tinggal kita lihat kapan lo jauhi gue setelah lo tahu kehancuran apa yang gue alami." Kali ini Bian benar benar membentak Lisa dan membuatnya tidak tahan membendung air matanya.


"Sampai kapan pun itu Lisa nggak akan pergi ninggalin kak Bian sendiri, pegang omongan Lisa kak." Ucap Lisa sesegukan.


Lisa meninggalkan Bian dengan deraian air mata tak henti henti keluar. Bian melanjutkan langkahnya ketempat pakir tanpa peduli kepergian Lisa.


********



Lisa Pov


Kenapa dada ini sesak mendengar ucapan kak Bian??. Gue nggak nyangka respon kak Bian semarah ini, gue kira kak Bian nggak bisa bentak bentak kayak tadi. Tapi apa??sekali bicara panjang lebar malah membuat sesak.


Kenapa rasa sakit ini lebih menyakitkan dari masalah gue sama Rasyad kemarin. Apa gue sesalah itu dimata kak Bian?? gue bener bener tulus lakuin itu kak. Biarpun tante Luna suruh Lisa tapi dari lubuk hati gue bener pengen ada buat lo kak.


Gue nggak tahu harus kemana, kenapa juga gue nangis dipinggir jalan nggak jelas kayak gini. Ucapan kak Bian masih terngiang dikepala, mengingatnya hanya menambah sakit dan sesak yang gue rasa.


Bukankah kata dokter Anya kak Bian susah mengekspresikan ekspresinya?? tapi apa yang gue lihat tadi kak Bian marah marah dan wajahnya itu benar benar membuat orang serasa mati membeku.


Rasyad saja tidak pernah membentak gue. Lama lama menangis membuat kepala ini pusing.


******

__ADS_1



Bian Pov


Bodoh banget lo Bi..kenapa gue tadi bentak bentak Lisa?? dan lagi lagi gue nggak bisa ngontrol emosi. Hanya emosi yang nggak bisa gue tahan. Sekarang apa yang harus gue buat?? gue menyesal udah lakuin itu sama lo Lis.


Lo nggak tau Lis apa yang gue rasa saat diruangan serba putih itu. Apa Lisa udah sampai rumah??.Yang gue pikirin sekarang cari Lisa, gue nggak mau kehilangan lo Lis. Entah kenapa gue nyaman sama lo.


Lisa selalu bisa membuatku tahu ekspresinya, dia tidak pernah menyembunyikan apa yang dirasa. Lisa selau mengungkapkan suasana hatinya, itu yang membuat gue nyaman setiap didekatnya karena gue nggak perlu susah susah menebak ekspresi yang ditunjukkan.


Gue sampai dedapan rumah Lisa, semoga aja dia mau maafin gue.


"Assalamualaikum." Dion membukakan pintu masih menggunakan seragam SMA, mungkin dia baru pulang.


"Waalaikumsalam, eh kak Bian..emm kak Lisa mana kak??."Dion malah menanyakan kepada ku padahal gue kesini mau cari Lisa. Berarti Lisa belum pulang. Kemana dia??.


"Lisa belum pulang??. "


"Loh gimana sih kak kok malah balik tanya, bukannya Kak Lisa bareng kak Bian ya tadi."


Sekarang gue harus cari Lisa kemana.Gue benar benar merasa seperti pengecut, seharusnya tadi gue kejar Lisa.Gue yang antar dia tadi dan seharusnya dia juga gue antar pulang.


"Yaudah kak Bian pergi dulu."


"Loh loh kak kok main pergi terus kak Lisanya mana??."


"Ini mau jemput Lisa."


*******


Bian telah sampai disuatu tempat dimana ia pikir Lisa ada disitu. Dan benar Bian melihat Lisa dari kejahuan.Segera Bian menghampiri Lisa.


"Ternyata lo disini." Ucap Bian membuyarkan lamunan Lisa.Yah Lisa ada ditempat yang ditemukan Bian.


"Ngapain kakak kesini." Judes Lisa memalingkan wajahnya.


"Gue mau jemput lo." Lisa menoleh menyipitkan matanya,Lisa pikir seenaknya aja Bian menjemputnya setelah apa yang dilakukan kepada dirinya.


"Cckk nggak usah urusin Lisa, bukannya tadi kak Bian nggak mau deket sama Lisa lagi??."


"Emang lo lupa ya kalau lo mau ajak gue ke suatu tempat??." Lisa menautkan alisnya bingung apa arti ucapan Bian.


" Makhsud kakak??."


"Kita pergi sekarang atau nggak sama sekali." Ucap Bian berlalu pergi kearah motornya terpakir.Lisa masih mencerna makhsud perkataan Bian.


Suatu tempat?? Dokter Anya?? Pergi atau nggak sama sekali??,, batin Lisa berfikir dengan ucapan Bian tadi.


"Oowwhh kak Bian mau ke Dokter Anya??." Teriak Lisa spontan setelah menangkap ucapan Bian. Bian sudah menyalakan motor dan dengan segera Lisa ikut naik.

__ADS_1


Tanpa sadar Lisa memeluk erat Bian dan tersenyum lebar.Rencananya tidak gagal walau ada sedikit drama yang harus dia lewati.


"Makasih ya kak." Ucap Lisa setelah motor melaju.


Sesampainya didepan rumah Dokter Anya mereka berdua langsung disambut hangat para asisten Dokter Anya. Mereka langsung diantar keruang Dikter Anya karena sedari tadi Dokter Anya menunggu mereka diruangnya.


"Maaf Dok kita telat datangnya." Ucap Lisa setelah duduk disofa yang ada diruangan itu.


"Saya mengerti." Dokter Anya tersenyum menatap Lisa seolah dia tahu drama Bian sebelum mau diajak kesini.


Bian hanya diam menatap peremouan didepannya sedang asyik berbincang ringan.


"Bian sudah siap??." Tanya Dokter Anya dibalas anggukan dari Bian .


"Kita langsung keruang sebelah ya!!."


Mereka bertiga keruangan serba putih, ruangannya tidak terlalu besar hanya ada satu ranjang pasien.Bian membaringkan tubuhnya keranjang itu.


Tempatnya kok serba putih ya,, kenapa gue jadi deg deg an .Kak Bian mau di apain yah.


Batin Lisa.


"Emm..yaudah Dok saya keluar biar Dokter bisa langsung..."


"Ehh kamu disini aja Lisa , sini disamping Bian ya." Ucap Dokter Anya memotong ucapan Lisa. Lisa menurut dan berjalan mendekati mereka berdua.


"Sekarang kita mulai ya!!." Lisa mengangguk sambil menatap Bian tersenyum.


"Tenang kak ada Lisa disini." Lisa menggenggam tangan Bian. Dokter Anya tersenyum melihat mereka berdua.


"Sekarang tarik nafas kamu dalam dalam tiga kali dan konsentrasi ya!!!." Dokter Anya menginstrupsi Bian.Bian mengikuti perintah.


"Tutup mata kamu dan tidurlah!!!." Sambung Dokter Anya.


Lisa dan Anya saling diam melihat Bian yang sudah mulai berkeringat basah, tidurnya juga seperti orang gelisah. Lisa jadi heran apa yang terjadi sama Bian. wajah Bian terlihat panik dalam tidurnya. Keringat dingin bercucuran diwajah juga tangannya.


"Dok Kak Bian kenapa??." Tany Lisa khawatir.


"Tenang ya Bian baik baik aja, nanti setelah selesai saya jelaskan." Dokter Anya tersenyum menenangkan Lisa.


"Bian kamu dengar suara saya??." Tanya Dokter Anya dibalas anggukan Bian dalam tidurnya.


Hahh kok kak Bian bisa respon ya?? ini kak Bian tidur nggak sih??.


Batin Lisa.


"Okey kamu sekarang lagi ada dimana??." Bian tambah gelisah, keningnya semakin berkerut tangannya juga menggenggam erat.


"Bian kamu ada dimana sekarang??." tanya Dokter Anya sekali lagi.

__ADS_1


"Gelap..gelap..gelapp." jawab Bian tetap dengan mata tertutup.



__ADS_2